Petualangan lewat ribuan aksara

 

Beruntunglah orang-orang yang sejak dini diajak berakrab-akrab dengan aksara. Aku salah satu dari yang sedikit itu di nusantara ini. 

Ibu kerap mengajakku main kartu bergambar, isinya manusia, tumbuhan, serta hewan aneka ragam, beserta deretan huruf yang merangkai nama obyek tersebut. Itu jenis permainan buat mengajari anak membaca. Dwibahasa pula, lumayan mewah untuk ukuran mainan mendidik pada 1993 (sekarang lidah kita lebih gemar menamainya ‘edutainment’ mengikuti kehendak para pemasar).

Makin lama, aku bosan. Membaca sudah mampu, walau terpatah-patah, tapi tak perlu lagi mengeja. Sebuah lemari akhirnya yang membawaku ke petualangan lain.

Lemari milik ayah, diisi ratusan buku, tak semua miliknya. Ada sebagian koleksi ibu, lainnya lagi kepunyaan dua kakak perempuanku.

Status sebagai anak ambtenaar artinya pulang sekolah lebih cepat dibanding orang tua. Ada cukup waktu untuk bersuka ria sendirian di rumah. Lemari itu selalu jadi sasaran, walau aku kadang tak tahu sebetulnya untuk apa keluarga ini menumpuk sedemikian banyak benda bernama buku.

Awalnya cuma memainkan pintu lemari geser dari kaca itu. Buka, tutup lagi. Demikian berulang-ulang. Lama-lama capek juga. Akhirnya aku ambil satu buku, paling besar yang sanggup digapai tanganku yang masih mungil.

“Economics” karangan Paul A. Samuelson, William D. Nordhaus, setelah coba kuingat-ingat lagi. Bah, mengerikan. Kartu bergambar memang kurang menantang, tapi buku itu berisi lebih banyak nama, dan jeleknya, lebih sedikit gambar.

Ada nama yang terlalu banyak harus dihafal. Tidak ada pula bantuan cara baca seperti di kartu. Sudahlah, aku mulai jeri, akhirnya kuambil buku lain.

Macam-macam buku kuseret keluar. Sebagian besar diisi aksara, selebihnya dihiasi gambar. Di kemudian hari, baru aku sadar, koleksi buku di rumah itu penanda keluargaku masuk kelas menengah.

Sampailah kemudian, aku menyadari ada cukup banyak buku diberi bertuliskan “GM” di sudut kiri atas. Perlu beberapa waktu sehingga aku sadar kalau itu adalah logo penerbit Gramedia. Kesadaran ini kira-kira muncul tiga tahun persis, setelah aku hanya bermain-main di lemari tersebut. Di sampul dalam, ada tanda tangan kakak tertuaku, dibaca “private property”.

Pada 1996, menjadi momen perdana aku diajak melakoni ritual yang rupanya disembunyikan keluarga dariku: bertandang ke Toko Buku Gramedia di Solo ketika berulang tahun. Di sana aku dibebaskan memilih buku yang kuinginkan. Tapi aku hanya meminta buku gambar.

Buat apa buku? Aku mau sepatu ATT yang bisa menyala, atau mainan digimon yang jauh lebih keren dibanding gamewatch koboi jadulku. Kawan-kawan di sekolah punya benda-benda menarik itu. Sedangkan aku justru ditawari jilidan kertas berisi aksara dan gambar.

Ah, aku kan sudah bisa membaca.

Meski tak terlalu suka diajak ke toko buku, kebiasaan mengobrak-abrik lemari masih kulakukan. Cuma, membolak-balik halaman buku milik ayah atau kakak akhirnya jadi sama membosankannya seperti menghafal nama-nama benda di kartu bergambar.

Aku lakukan langkah tak terduga. Membaca salah satu buku, acak saja kupilih. Judulnya, “Lima Sekawan: Memburu Kereta Api Hantu”.

Sampulnya sudah lecek, sedikit kusam. Apalagi gambarnya sedikit mengerikan, seorang anak kecil ditemani seekor anjing seperti ketakutan memandang kereta yang melaju di dekatnya.

Di sampul belakang, penjelasan buku tersebut lumayan bikin jeri. “Kereta api hantu di tengah malam! Tanpa masinis, tanpa penumpang, tanpa siapa pun di atasnya. Hanya lampunya yang redup dan suaranya yang mendirikan bulu roma… Kereta itu menghilang di kegelapan ke manakah perginya?”

Wah, seram. Aku takut hantu, buktinya aku selalu menutup mata dan tak bisa tidur setelah menonton serial televisi “Si Manis Jembatan Ancol”.

Kubuka-buka halamannya, ah kecewa. Buku berisi huruf, tak beda dari yang lain. Tapi buku ini seperti membujukku untuk membuka lembar demi lembarnya. Kepalang basah, aku beranikan diri membaca buku yang hanya diselingi sedikit gambar itu.

Saat itu aku sudah lancar membaca. Setelah coba-coba kuikuti paragraf awal, rupanya aku mudah memahaminya. Ini buku dengan cerita soal lima sahabat.

Dari kelima tokoh itu, yang selalu kuingat adalah George, barang tentu lantaran namanya tak lazim. Kubaca ge-or-ge (baru aku tahu, beberapa waktu kemudian dari kakak, bahwa nama itu dilafalkan ‘Jorj’).

Oh iya, ada Dick, Anne, Julian, ada Pak Luffy, dan lain sebagainya. Mereka ini suka sekali piknik. Sempat kubayangkan berpesta di padang rumput sepertiyang mereka lakukan. Tapi kemudian aku ingat, di mana ada padang rumput di kotaku, selain ngebong yang jadi tempat orang sabung ayam.

Sedang asyik membaca, ayah pulang. Artinya aku membaca “Lima Sekawan” lebih dari dua jam. Waktu yang cukup lama untuk aku yang tak pernah benar-benar membaca sebuah buku sebelumnya.

Selanjutnya, aku tak bisa berhenti. Berbeda dari dugaan awal, cerita ini alih-alih mengerikan, lebih tepat disebut bikin penasaran. Kenapa di peternakan biri-biri bisa ada kereta tanpa masinis? Kenapa Anne curiga ada yang tidak beres dari Olly? Apa hubungannya dengan peti berisi teh dan whiski (aku baru tahu apa itu whiski menginjak kelas 6 SD).

Ah, aku ikut bertanya-tanya sepanjang membaca. Aku tak bisa berhenti. Saban pulang sekolah, ajakan main petak umpet bersama teman-teman kulewatkan. Aku mau ke lemari itu, meneruskan baca Lima Sekawan.

Perasaan ini bahkan lebih menyenangkan daripada main air di kali Nagamantaya, dekat pabrik pemecahan batu, setengah kilometer dari rumahku. Semakin mengasyikkan, karena aku cukup duduk di kursi, lalu ikut serta dalam petualangan George dan kawan-kawan.

Enam hari dari pertama kali membuka lembar pertama, petualangan itu berakhir. Tidak ada lagi peternakan yang seakan bisa kucium bau rerumputannya. Tidak ada lagi tawa Julian yang menyebalkan menurutku.

Aku tidak tahan. Kubongkar kembali lemari, hari itu juga selepas aku menamatkan novel pertamaku, buku pertama yang kuanggap sangat berpengaruh dalam hidup. Berkat Lima Sekawan, pada ulang tahun berikutnya, aku yang merengek minta ke toko buku.

Hari-hari berikutnya, aku membaca buku lain, sampai hitungan tak terhingga. Aku selalu tak sabar menikmati petualangan berikutnya lewat ribuan aksara.

 

N.B: Butuh waktu cukup lama, sebelum aku menyadari bahwa Lima Sekawan punya pengarang yang sama, yakni Enid Blyton. Semua karyanya yang ada di rumah kulahap. Sampai sekarang, penilaianku tak berubah. Mohon maaf J.K Rowling, masih butuh berabad-abad bagimu menandingi tulisan Enid yang bersahaja tapi luar biasa mengasyikkan.

 

 

Image

 

Judul               : Lima Sekawan – Memburu Kereta Api Hantu

Tahun Terbit   : 1988

Tebal              : 250 halaman

Penerbit          : Gramedia

 

 

*post-scriptum: Terima kasih buat Irwan Bajang atas gagasan proyek menulis #5bukudalamhidupku. Blog ini sebetulnya khusus untuk film dan musik. Apa lacur, supaya disiplin, memang harus dipaksa menuangkan pikiran. Gila saja, sudah lima bulan blog ini berisi jaring laba-laba. Semoga tulisan lain yang sesuai peruntukkan rumah kecil ini segera kuselesaikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: