Memandang Cermin, Memandang Diri

Sang peneliti lumba-lumba dari Jakarta bernama Tudo (Reza Rahadian) melontarkan pertanyaan pada Lumo (Eko), si anak lelaki Bajo sembari mereka berdua membersihkan sampah anorganik di salah satu pantai Wakatobi, Sulawesi Tenggara nan elok . Ketika ditanya apakah ia punya impian, dijawablah oleh Lumo, “aku sering bermimpi menjadi penyu!”

Sontak, Tudo dan sebagian besar penonton tertawa. Kebetulan, gaya bicara karakter Lumo ini (sebutan lumba-lumba dalam Bahasa Bajo) memang dibawakan dengan cerkas oleh Eko, tak jarang ia menjadi scene stealer yang mengangkat tensi cerita. Apa alasannya memimpikan penyu? Menurut Lumo: “karena penyu mampu membawa rumahnya kemanapun.” Sepersekian detik setelahnya, saya menyadari bahwa percakapan keduanya merupakan momen paling tulus yang muncul di sepanjang film “The Mirror Never Lies” (selanjutnya akan ditulis ‘Mirror’ saja) besutan sutradara muda Kamila Andini. Apa pasal?

Seselesai Lumo bercerita panjang lebar soal kenapa ia ingin jadi penyu, tak ada sanggahan. Hanya ada afirmasi dalam diam Tudo selaku orang luar Bajo. Baru setelah Lumo membual tentang harapannya membangun rumah di tempat jauh sendirian sebagai penyu, si tokoh utama cerita ini yang sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya, Pakis (diperankan dengan apik oleh Gita Novalista), men-jedot-kan momen puncak itu ke moralitas klise. “Buat apa rumah kalau kau sendirian? Rumah bermakna karena ada ayah, ibu, dan anak-anaknya,” sanggah Pakis.

Impian sebagai representasi aspirasi manusia pada film ini terasa bersetia pada idealisasi nilai lokal warga Bajo. Tidak ada impian “besar” dienyam anak-anak Bajo tersebut. Tidak ada mimpi melanjutkan studi ke Sorbonne, menjadi sukses dalam karier, atau aspirasi personal yang materiil sifatnya sebagaimana kita akrabi selama ini. Yang ada, Lumo sering bermimpi jadi penyu, sementara Pakis kerap kali memimpikan ombak, sebagai dampak rasa kehilangannya yang teramat sangat pada sosok ayah.

Dua contoh imaji tadi, penyu dan ombak, merupakan imaji khas laut. Atau paling tidak, akan logis bila diakrabi oleh mereka yang hidup dan menghidupi laut sekaligus. Itulah alasan film ini tak terlalu membebani dirinya sendiri seperti film-film Indonesia berlatar non-Jawa lainnya, dengan pesan yang biasanya harus universal dan bisa diterima oleh penonton dari latar budaya apapun di negara ini. Namun, tak jarang pula, momen-momen perusak suasana semacam sanggahan Pakis yang menggurui dan verbalistis muncul di banyak scene. Maka tegangan antara bersetia pada penggambaran budaya Bajo apa adanya, dengan nilai-nilai lain yang mungkin ingin dijejalkan oleh tim produksinya mewarnai keseluruhan narasi “Mirror”.

Tentang Cermin, Lokalitas, dan Khilaf Cara Pandang Turis

Secara garis besar, penonton akan bersentuhan dengan kisah dua tokoh utama, Pakis dan ibundanya Tayung (Atiqah Hasiholan). Keduanya sedang dalam masa berkabung. Si ayah sekaligus suami itu hilang saat melaut. Pakis tidak bisa menerima kenyataan tersebut, ia kerap mendatangi paranormal di dusunnya untuk mencari pertanda keberadaan sang ayah lewat ritual menatap cermin. Sementara Tayung berusaha lebih tegar dari darah dagingnya.

Meskipun ia mesti mengenakan semacam bedak putih tebal di wajahnya – pertanda sosial suku Bajo untuk seorang perempuan yang menyandang status janda – Tayung tak banyak mengeluh dan menjalani laku hidup sebagai kepala keluarga baru, entah itu dengan mencari teripang ataupun rumput laut. Perbedaan cara menyikapi kehilangan tadi menimbulkan friksi antara ibu dan anak tersebut. Mengamati bagaimana Pakis dan Tayung memandang cermin akan menjadi krusial untuk memahami problem psikologis keduanya.

Cara Pakis menatap dirinya di cermin coba digambarkan oleh Kamila secara gamang. Dalam beberapa repetisi adegan Pakis menatap cermin, selalu ada getaran. Tanda cermin itu dipegang tak kokoh, belum lagi tatapan mata Pakis menunjukkan tatapan sendu cenderung penasaran. Sementara Tayung tenang memegang cermin, seakan berkata dalam diam yang puitik bahwa cermin itu baginya hanyalah cermin belaka; tak kurang, tak lebih. Tayung sejatinya menyimpan kompleksitas emosi melebihi Pakis. Untunglah, Atiqah menampilkan aktingnya yang paling kuat sejauh ini, walau barangkali, aksen Bajonya bagi orang luar seperti saya, lebih terasa “Batak”.

Karakterisasi yang terkesan pasti dan biner keduanya berubah saat sosok Tudo hadir di antara mereka. Oleh kepala dusun, keluarga Tayung diminta menjamu dan menyediakan segala keperluan si peneliti selama ia berada di Wakatobi mempelajari lumba-lumba. Memang, Tudo pada mulanya tampaknya sosok netral, bahkan cenderung positif diposisikan dalam narasi film ini. Ia baik hati, tidak beraneh-aneh, bahkan bersedia ikut mengajar di SD apung tempat Pakis dan Lumo belajar sehari-hari.

Dapat kita perhatikan, biasanya tokoh dari latar budaya asing menanamkan kesadaran baru pada karakter asli di film-film Indonesia. Satu contohnya adalah guru ayu Ibu Sam Koibur yang diuperankan Marcella Zalianty di film “Denias”. Ia difungsikan laiknya misionaris. Tak jarang, tokoh luar macam ini malah menggerakan cerita, sehingga sudut pandang penonton dipandu mengikuti cara si karakter mengalami lingkungan barunya. Melalui cara seperti itu, narasi film beralih jadi turistik. Penonton tak ubahnya turis yang melihat-lihat sebuah budaya baru, tanpa memiliki kesiapan tulus mempelajarinya sebab kita percaya bahwa cara pikir kita merupakan sebuah kebenaran, dan biasanya terafirmasi pada keberhasilan si pendatang mengubah nasib tokoh-tokoh lokal.

Beruntung, khilaf macam itu tak terjadi pada karakterisasi Tudo. Ia memang beberapa kali digambarkan mengajar, namun aspirasi si pendatang ini jauh dari pretensius, tak jarang dia terlihat melebur dengan komunitas Bajo Wakatobi. Bahkan, sebetulnya sejak Tudo hadir, konflik utama film ini pun dimulai.

Bagi Pakis yang beranjak akhil balig, Tudo merupakan sosok laki-laki dewasa yang bisa ia amati secara menyeluruh. Rasa penasaran alamiahnya sebagai perempuan yang beranjak dewasa termanifestasikan kala ia diam-diam mengintip Tudo mandi dari sebuah lubang kecil di samping kamar mandi rumahnya. Di sisi lain, Tayung serasa mendapatkan sosok pengganti sementara sang suami yang sudah ia anggap mati. Dalam sebuah scene usai ia bercakap-cakap dengan Tudo, Tayung tak lagi menerima cermin hanya sekadar cermin. Ia memandanginya lama-lama, bersolek, bahkan hendak menghapus bedak putih yang menghiasi wajahnya. Walau kemudian, ia sepertinya tersadar, ingat pada konsekuensi-konsekuensi sosial, lantas membedaki kembali wajahnya cepat-cepat.

Kemungkinan Konflik Puncak: Menentukan Identitas

Maka sedikit terang kemudian maksud Kamila bersama partner-nya dalam mengolah scenario, Dirmawan Hatta. Bila kita buka sekilas arsip penelitian tentang Suku Bajo, tercatat tahun 1995 Majalah Kalam memuat esai guru besar antropologi UGM, Heddy Shri Ahimsa Putra bertajuk “Lévi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo”. Telaah itu menyimpulkan, kesadaran sosial Suku Bajo sebagaimana tergambar dalam syair itu adalah tegangan tanpa akhir antara keinginan menetap di daratan, atau meneruskan laku hidup di laut. Merujuk pendapat Heddy, manusia Bajo sebetulnya tak menampik cara hidup menetap di daratan.

Akan tetapi, pada akhirnya mereka meneguhkan hati dan menajamkan identitas mereka sebagai orang laut. Karenanya, cermin adalah manifestasi problem psikologis dalam menentukan identitas bagi Pakis dan Tayung. Pakis belum memiliki keteguhan hati dan selalu gamang menyaksikan cermin. Semacam gambaran bahwa ia belum merasa menjadi gadis Bajo sepenuhnya. Melalui cara pandang itu, seringnya keterpanaan Pakis pada Tudo, dibenturkan dengan narasi off screen dirinya soal sang ayah yang hilang terjelaskan.

Pakis selalu mengatakan “kata ayahku…” ketika menjelaskan beberapa petuah verbalistis macam keberadaan lumba-lumba di perairan Wakatobi sebagai penanda rezeki, ataupun keharusan bagi generasi muda Bajo untuk menetap dan membangun desa. Sosok ayah (atau lebih tepat kita sebut “gambaran naratif ayah”) sama dengan idealisasi sikap hidup Bajo. Tayung pun mengalami hal yang serupa. Memang ia sudah beres dengan identitas ke-Bajo-annya. Ketiadaan sosok suami membuat Ia memandang Tudo sebagai pengganti.

Padahal ia sadar, Tudo yang asal Jakarta sama dengan representasi “rumah beton” dan segala citraan budaya darat. Kedatangan Tudo menguak dua macam problem, sakitnya menempuh fase akhil balig (dalam kasus Pakis), sekaligus kesadaran untuk menegosiasikan ulang identitas asali untuk Tayung. Keyakinan saya bahwa cermin sama dengan laut, agaknya terkonfirmasi dari celoteh Lumo,”aku ingin membangun rumah penyuku di atas cermin”.

Bila cermin merupakan metafora laut, dan sepertinya memang seperti itu, maka impian Lumo adalah penegasan Kamila terhadap simpulan Heddy Shri. Manusia Bajo akan selalu mengidealkan pilihan hidup di laut. Karena itulah, cermin tak pernah berdusta bukan? Mendustai cermin alias meninggalkan identitas kelautan, dapat kita sebut sebagai pengkhianatan pada nilai-nilai fundamental budaya “laut kelahirannya”.

Masalahnya pendapat saya terbentur kenyataan bahwa semua itu baru sekadar asumsi dan alternatif pemaknaan. Karakter Tudo betul-betul datar, cenderung tak tergarap memadai. Akibatnya, konflik yang sepertinya diniatkan sebagai pengungkit alur menuju klimaks, berlangsung datar-datar saja. Sebagai peneliti, meskipun ia kerap mengajak Pakis meneliti lumba-lumba, tidak tampak chemistry memadai antara keduanya. Sementara, walau beberapa kali terlihat tertarik dengan sosok Tayung, Tudo tak banyak melakukan persinggungan dengan janda itu. Ia terlibat, sekaligus tak terlibat dengan problem-problem dua karakter utama cerita ini.

Padahal hemat saya, strategi narasi maupun retorika kamera sineas film ini, yang kebetulan puteri kandung Garin Nugroho, tak menawarkan tafsir pribadi pada cerita “Mirror”. Kamila sepertinya meneguhkan kesimpulan Prof. Heddy mengenai epos paling krusial dan kolosal bagi orang Bajo. Tentang perkara menentukan identitas diri. Sayang, konflik utama urung tergarap karena lemahnya pemosisian si orang darat (tentulah Tudo maksudnya). Film ini jadi terasa tak punya klimaks sama sekali.

Lebih jauh lagi, meski departemen scenario menghindarkan penonton dari pengalaman sekadar sebagai turis, POV kamera malah melulu memanjakan mata ini. Seakan Wakatobi merupakan surga yang sempurna setiap saat, dengan pelangi di ufuk pantai, maupun karang berisi ikan warna-warni. Meski demikian, kecenderungan mengejar visualisasi yang “indah-indah” bisa dipahami, mengingat Pemda Wakatobi turut mendanai produksi film “Mirror”. Transisi dari angle-angle feature menjadi sudut pandang khas dokumenter juga beberapa kali terlalu kentara. Dapat kita simpulkan kalau beberapa momen pemandangan film ini ditambal dengan simpanan shot-shot yang sepertinya sudah ada sebelumnya.

Pada akhirnya, parabel “penyu” mampu beberapa saat menaklukkan ketidaktuntasan cerita, maupun retorika kamera ala turis. Di momen yang sebentar itu, “Mirror” lepas dari segala tendensi, kemungkinan pesan-pesan sponsor, dan idealisasi nilai dari pihak manapun. Ia mewakili obyek yang difilmkan – masyarakat Bajo – lantas mengajak penonton bersikap sumeleh; rendah hati. Fragmen “Penyu” dan “Ombak” tidak berteriak memaksa penonton memahami masyarakat Bajo. Sebaliknya, scene tadi punya tenaga memantik kesadaran penonton untuk tulus memahami “yang lain” dari mereka. Sebagai momen puncak yang hadir hanya sebentar, ia telah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

The Mirror Never Lies [2011]

Sutradara: Kamila Andini

Penulis: Dirmawan Hatta, Kamila Andini

Pemeran: Atiqah Hasiholan, Reza Rahadian, Gita Novalista, Eko, Zainal, Halwiyah, Darsono

Iklan

2 Tanggapan to “Memandang Cermin, Memandang Diri”

  1. […] Gadis Kecil yang ShalihahGRATIS DI RAMAL CINTA primbon, ramalan, ramal, weton, petung, klenik, mistik, hong sui, kepercayaan, tafsir mimpi, soci occultisme, occult, neptu, metafisika, fortune telling, palmistri, palmistry, numerologi, numerology, astrologi, astrology, pamali, shio, zBerbakti Kepada OrangtuaSiapakah Sigmund FreudMemandang Cermin, Memandang Diri […]

  2. keren seperti biasanya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: