“Batas” Rupanya Hanya Berisi Masalah Demi Masalah

Bila tema-tema seperti lokalitas, multikulturalisme, serta pendidikan sempat terpinggirkan di belantara sinema tanah air yang menggeliat lagi awal tahun 2000-an, maka tak pelak, kita perlu berterima kasih pada Andrea Hirata dan buku fenomenalnya, “Laskar Pelangi”. Tak kurang juga, perlu kita ingat perjuangan Ari Sihasale menguak dunia pendidikan Papua dalam film “Denias: Senandung di Atas Awan” 2006 lampau. Kedua karya tadi berpadu menciptakan momen. Akibatnya jalan menyandingkan tema-tema di atas dengan nalar industri terbuka lebar. Kini, saat seorang sineas ingin bicara perjuangan anak di pedalaman Sumatera misalnya, idenya tak bakal ditampik pemilik modal.

Nah, sejauh ini cukup beragam tafsir muncul menyikapi isu-isu pendidikan, multikulturalisme, maupun lokalitas. Terkhusus poin kedua, sutradara Hanung Bramantyo di awal April tempo hari sudah menyulut perdebatan sengit dari berbagai pihak melalui filmnya “Tanda Tanya”. Tak hanya Hanung sebenarnya, sekira enam film Indonesia sejak 2010 yang saya perhatikan menyoal tema-tema sejenis. Contohnya, pemenang FFI “Tiga Hati, Dua Dunia, Satu Cinta” sampai komedi slapstick “Red Cobex”.

Di sisi lain, kuantitas film dengan tema pendidikan bersubyek anak-anak tak kalah menanjak gaungnya. Sebutlah “Laskar Pelangi”, “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”, atau “Jermal”. Masing-masing menawarkan premis berbeda. “Laskar Pelangi” dan “Sang Pemimpi” oleh Riri Reza menegaskan (atau malah memitoskan?) pendidikan sebagai jalan menuju kesuksesan materiil, titik. Jalan lebih berliku ditempuh

Sebelum sampai pada kesimpulan “pendidikan itu merupakan alat untuk melompat” sebagaimana disampaikan karakter Syamsul (Syahrul Dahlan), pencopet-pencopet cilik kita harus diyakinkan dengan bukti materiil sekaligus simbolik pula, bahwa uang “haram” akan berlipat ganda saat dikelola secara ilmiah, sekaligus memberi jalan mereka memperoleh penghasilan “halal”.

Bersama cerita-cerita muslim kontemporer Indonesia a la Habiburahman El Shirazy, dua tema besar pendidikan dan multikulturalisme menjadi garda depan perspektif kisah-kisah yang dilemparkan ke khalayak penikmat film negara ini, menyela ribuan film horor seksis yang jadi arus utama. Dengan demikian, garapan teranyar Rudi Soedjarwo, “Batas”, tak keliru apabila dikategorikan sebagai kulminasi tema yang menjadi garda depan di Indonesia akhir-akhir ini. Film ini, yang diproduseri sekaligus dibintangi Marcella Zalianty, menyasar tiga buhul tema yang saya sebut di permulaan tulisan.

Cerita Jaleswari (Marcella), si pegawai sebuah perusahaan membereskan pelaksanaan Corporate Social Responsibility lembaganya berupa pendidikan untuk masyarakat terpencil di pedalaman Kalimantan – dengan langkah klise meyakinkan para penduduk akan pentingnya pendidikan – mewakili buhul pertama, yaitu soal pendidikan. Buhul kedua dalam hal multikulturalisme ter-cover saat Jaleswari yang muslim melebur di komunitas Dayak beragama Kristen (dan Kaharingan sepertinya, omong-omong, Rudi memberi keterangan nama desa setting film ini kok, tapi saya lupa, karena informasi itu demikian sumir dan hanya sekali dijelaskan, pokoknya di Kalimantan Barat, hehe).

Meski demikian, buhul kedua ini tak terlalu jadi sorotan. Tegangan cukup dominan terletak di buhul ketiga, yaitu isu-isu mengenai lokalitas. Panglima Adayak (Piet Pagau), kepala desa yang berurusan dengan Jales, kerap kali mencerahaminya agar si pendatang asal Jakarta menghormati adat-adat lokal Dayak. Bahkan secara eksplisit di scene mula-mula, Jales yang bertanya soal makna lukisan Panglima mendapat jawaban ketus: “Lukisanku belum bisa dipahami oleh orang kota sepertimu.”

Tiga buhul tadi coba diikat oleh Slamet Raharjo Djarot selaku penulis skenario pada satu persoalan besar. Mampukah masing-masing karakter melampaui “batas” personalnya saat berurusan dengan tiga pokok persoalan tadi? Batas personal dapat kita artikan sebagai kehilangan. Jaleswari menerima tugas di pedalaman Kalimantan dalam kondisi mengandung, juga baru saja kehilangan suami. Panglima kehilangan anaknya, Nawara (Jajang C. Noer) si empunya rumah tempat Jales tinggal sementara, kehilangan anak sekaligus sosok suami, tak kurang si kanak-kanak Borneo (Alifyandra), sudah bisa ditebak, tidak memiliki patron bernama ayah.

Tak cukup melekatkan lokus kehilangan yang sama persis pada empat karakter tadi, wacana serupa dialami Adeus (Marcell Donitz) si kepala sekolah (atau sarjana pendidikan lulusan IKIP? Entahlah, tidak jelas keterangannya) kampung yang didatangi Jaleswari. Ia kehilangan rasa percaya diri mendidik anak-anak Dayak di kampung halamannya sendiri. Rasa jenuh pada fakta betapa tidak imajinatifnya muasal problem tiap-tiap karakter memuncak saat penonton menyadari adegan cepat saling kejar, di sela-sela opening credit, antara seorang perempuan dengan dua orang lelaki di permulaan film menuntun kita pada karakter (penting?) lainnya, yaitu Ubuh (Ardinia Rasti). Lagi-lagi, tokoh yang diperkenalkan pada penonton ini memiliki basis persoalan serupa, ia kehilangan ingatan sekaligus rasa aman.

Berdasar pola-pola dalam karakterisasinya, itulah “batas” yang coba dihadirkan sebagai katalis konflik dalam film tersebut. Kehilangan, atau mungkin lebih tepat, semacam ziarah ulang alik memeriksa apa saja yang tak lagi dimiliki oleh masing-masing karakter, dan kemudian tertemukan berkat persinggungan mereka di dalam cerita. Berhasilkah premis-premis yang tertambat pada tiga buhul tema tadi terpenuhi? Nah, itu masalahnya. “Batas” entah mengapa melulu berisi kontradiksi yang saling menegasi setiap premisnya.

Misalnya saja saat kita bicara konsistensi penokohan. Masalah jelas terlihat dalam penggambaran Jaleswari. Di awal-awal ia tampak enggan menjalankan tugas ke Kalimantan Barat. Atmosfir itu sudah terdukung dengan mimik suntuk saat mobil yang mengantarnya pecah ban, tak lupa dengan ungkapan klise pelancong setengah niat “masih jauh ga lokasinya pak?”. Tapi, hanya dalam hitungan detik, ia memotret-motret lanskap alam di sekitarnya seakan ia sedang asyik menjalani petualangan bagai traveler sejati. Belum lagi, sesampainya ia di perkampungan, Jaleswari secara ajaib jatuh cinta pada seorang anak yatim bernama Borneo, dan menjadikan bocah itu pengungkit motivasi dalam menyelesaikan persoalan mandegnya CSR perusahaan tempat ia bekerja. Dari ogah-ogahan mendadak sekejap jadi heroik dan mulia.

Tapi baiklah, hal semacam itu masih mungkin terjadi. Sayangnya, fatal lanjutan malah berlanjut akibat adegan flashback Jaleswari sebelum berangkat ke Kalimantan. Digambarkan, untuk menutupi rasa kehilangannya pada mendiang suami, ia bertekad agar tugas yang ia emban dapat terlaksana sepenuhnya. Dualisme kemudian muncul. Citraan mana yang ingin ditampilkan sebagai representasi Jaleswari? Pribadi yang tercerahkan setelah bergumul dengan kearifan lokal dayak dan berniat mengajar anak-anak di sana; atau Jales selaku karakter yang sejak awal sudah berniat mengubah nasib calon klien-kliennya di perbatasan Indonesia-Malaysia.

Saya menyangka inkonsistensi Rudi Soedjarwo-lah dalam menata perpindahan adegan, serta tidak maksimalnya departemen editing jadi penyebab kacaunya karakterisasi Jales. Banyak sekali sebuah scene melompat-lompat, tidak tuntas, bahkan belum sempat bicara. Ehm, saya bilang tadi kelemahan teknis tim produksi merupakan sebab karakter Jales tidak konsisten ya? Saya ralat kalau begitu. Semua karakter mengalaminya. Hal itu akan kentara saat kita bicara soal bidikan “Batas” yang kedua, soal pentingnya pendidikan.

Pertama datang, Jales diam saja diperkenalkan sebagai guru kepada seluruh masyarakat, termasuk Panglima. Setelah tiba saatnya ia diajak Adeus mengajar sungguhan, mengakulah ia. “Kenapa kau tidak bilang sejak awal?” balas Adeus tak kalah emosi. Dijawab cepat Jales, “Kalian tidak pernah memberiku kesempatan bicara.”

“Tak pernah memberiku kesempatan bicara” seperti diungkap Jales, sama sekali tidak tergambar pada scene kedatangan Jales. Ia punya banyak waktu menyanggah pernyataan Adeus ke warga yang memperkenalkannya sebagai “guru kita yang baru”. Inilah gejala akut yang berulang-ulang terjadi sepanjang film “Batas”. Semacam kemalasan dari Rudi memeriksa kembali efektivitas pengadeganannya. Untuk menyiasati (lebih tepat disebut menggampangkan) permasalahan, jalannya kemudian verbalistis.

Ah, bahkan film-film Deddy Mizwar yang verbalistis itu rasanya lebih konsisten menggurui lewat dialog karakter-karaternya, toh, karena sejak awal sudah diniatkan seperti itu.

Seperti penyakit Riri Reza saat di “Sang Pemimpi” memaksa kata “Sorbonne” diulang-ulang Lintang dan Arai, hasilnya kata tersebut berubah nilai seperti merk dagang tertentu. Demikian pula yang dialami Rudi Soedjarwo, ia meneguhkan pentingnya pendidikan tak lewat penggambaran situasi yang meyakinkan penonton. Pendidikan terlihat penting, hanya karena Jaleswari selaku tokoh utama mengatakannya berulang-ulang di banyak adegan. Debatnya dengan Adeus, jadi puncak repetisi “keutamaan pendidikan” nan meletihkan.

Adeus digambarkan memiliki ketidakpercayaan diri untuk mengajar. Ia beralasan, warga Dayak perbatasan merasa sekolah tak penting, karena berladang lebih mendesak. Lagipula jika mereka menginginkan perbaikan nasib, termasuk mendapat fasilitas kesehatan dan pendidikan, mereka cukup menyeberang ke Serawak. Jaleswari pun memenangi silang pendapat tersebut dengan mudahnya, cukup berkata: “Ya walaupun di sana (Serawak-red) seperti surga, kampungmu ini lebih penting, pendidikan itu dibutuhkan oleh anak-anak di sini.” Film “Batas” jadi sedemikian dangkal pada titik itu.

Walaupun demikian, perdebatan Adeus dan Jales membuka jalan pada lokalitas bicara mewakili dirinya sendiri. Momen itu muncul berkilau saat Jales berbusa-busa meyakinkan penduduk agar mau mengirim anaknya ke sekolah, “Nanti anak ibu bisa jadi seperti Pak Adeus ini”. Seorang ibu anonim menjawab tangkas, “Kami tak mau anak-anak jadi seperti Adeus, ia tidak becus berladang, juga tak bisa mengasah mandau.”

Sayangnya, film ini seperti sudah diarahkan untuk mementingkan poin pendidikan itu. Lagi-lagi penggambaran Rudi bermasalah. Jales berhasil merebut hati masyarakat hanya dengan mengajari mereka, ehm, pengetahuan soal gravitasi bumi, serta sesekali menemani mereka berburu.

Film ini pun jadi bermasalah secara ideologis bagi saya, karena ia sepertinya sadar apa problem yang bisa disasar untuk menjelaskan beragam ketimpangan sosial dalam settingnya. Yaitu penetrasi industri yang tidak bertanggung jawab, selain ketiadaan peran negara. Itupun hanya disinggung sedikit di awal, khusus soal industri, saat Jales mengomentari lahan-lahan gundul, dan menyebutnya “tindakan rakus”. Pesan “Batas” jadilah berbunyi, selama perusahaan rakus itu melaksanakan CSR, apa masalahnya kemudian?

Penempatan masalah perdagangan manusia di perbatasan jadi sia-sia. Tempelan yang tidak mendukung aspirasi kisahnya menyingkap persoalan di wilayah yang selama ini tidak diketahui mayoritas penduduk negeri ini. Padahal jelas ada akar masalah yang bisa dijelaskan lebih detail.

Tim produksi menyampaikan di web resmi mereka bahwa “Batas” diniatkan sebagai Sebuah film “yang mencoba mengeksplorasi kondisi di sebuah wilayah perbatasan yang selama ini nyaris tak terjangkau radar, serta menjelaskan batas tak hanya bermakna geografis, namun juga psikologis.”

Niat Marcella selaku produser dan pencetus ide cerita barangkali memang tulus, namun kombinasi buruknya penyutradaraan, skenario dari Slamet Rahardjo yang entah kenapa menggampangkan segala sesuatu, menghasilkan tafsiran “Batas” berbeda dari niatan pembuatnya. Narasi “Batas” jadi menyempit hanya mengenai masalah demi masalah di sebuah wilayah perbatasan sebuah negara yang timpang karena akar-akar struktural yang sebenarnya jelas bisa dilacak.

Sayang sekali.

Batas [2011]

Sutradara: Rudi Soedjarwo

Ide cerita: Marcella Zalianty & Lintang Sugianto

Penulis Skenario: Slamet Rahardjo Djarot

Pemain: Marcella Zalianty, Piet Pagau, Jajang C. Noer, Alifyandra, Marcell Domits

Iklan

Satu Tanggapan to ““Batas” Rupanya Hanya Berisi Masalah Demi Masalah”

  1. hhoooo…
    kelihatannya film ini jadi lekat dengan kata ‘inkonsistensi’, ya?

    saia sepakat dengan penulis blog.. bahwa ide ttg film ini sangat bagus sekali…
    hanya terkadang eksekusi nya saja yang tidak berjalan seperti yang diharapkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: