Membaca Inception, Nolan, dan Kegemarannya Berbicara Soal Kenangan

Barangkali tidak ada sutradara manapun saat ini yang terpukau teramat akut pada kenangan sebagaimana dialami oleh Christopher Nolan. Untuk pemirsa yang telah menyempatkan diri menyaksikan katalog Nolan sebelumnya, maka adegan-adegan yang dijalin begitu rumit oleh Nolan dalam karya terbarunya, “Inception”, tak lebih dari penegasan bahwa sejauh ini ia hanya menggarap satu tema, satu benang merah, dalam tiap karyanya.

Pesan itu berbunyi cukup jernih tentang luar biasanya kenangan. Menyadari keberadaan konflik yang dibangun dengan melibatkan wacana kenangan, adalah bingkai untuk menikmati film-film garapan Nolan dan menerka pesan yang ingin ia sampaikan.

Saya pribadi belum pernah melihat karya independennya sebelum ia menggarap “Memento”. Untuk itu mohon dimaklumi apabila karya itulah yang saya jadikan acuan pertama untuk memulai upaya penelusuran kembali ini. Lagipula berkat “Memento”-lah Nolan bisa dikenal dalam percaturan sineas dunia. Baiklah, ijinkan saya mengajak anda mengingat lagi “Memento” barang sejenak sebelum beranjak pada pembahasan utama lebih lanjut. Tentu ada yang jauh lebih esensial sehingga ia mau bersusah-susah membuat kronologi mundur bagi kisah orang yang punya masalah hilang ingatan sesaat itu.

Setiap adegan di “Memento” merupakan penggambaran begitu rapuhnya ingatan memberi kesempatan kita berpijak. Kalaupun ada landasan yang bisa menyelematkan kita, maka jawabannya adalah kenangan. Resolusi di klimaks “Memento” yang getir tak lebih dari sebuah penambatan jangkar agar kita (baca: penonton) pada akhirnya mampu menyerap pesan utama di balik rangkaian kilas balik yang kemudian diuputar ulang kembali tersebut.

Untuk kasus “Memento” hal itu cukup jelas terlihat, karena pengaturan sekuens mundur di tiap tahapan plot (yang ironisnya linier) merupakan strategi naratif agar setiap pemirsa langsung mengidentifikasikan diri pada tokoh utama. Agar setiap pemirsa merasakan pedihnya hanya mampu mengingat kejadian dalam beberapa saat saja. Dalam situasi ingatan chaos itu, terbukti hanya kenanganlah yang mampu menyuplai daya hidup bagi si tokoh utama yang diperankan oleh Guy Pearce itu.

Film Nolan berikutnya bahkan bicara dengan lebih lugas dari awal dengan memasang tajuk “Insomnia”. Di drama thriller itu, Al Pacino sebagai tokoh utama berkonfrontasi lebih banyak bukan dengan Robin William, si penjahat yang sedari awal sudah ketahuan dan bertahan hingga klimaks lebih karena licin ditangkap, melainkan pada kenangannya sendiri yang menghantui, ditambah dramatisnya konfrontasi dengan diri sendiri itu, ketika ia tidak mampu tidur di setting noir Alaska.

Dua film soal Batman yang ia garap pun tetap mendukung pola pembangunan kisah yang sama, terutama “Batman Begins” yang dengan sengaja memilih novel grafisnya Frank miller “Year One” – yang intens mengeksplorasi trauma masa kecil Wayne sebagai sumber motivasinya di fase dewasa menjadi Batman – untuk diadaptasi. Trauma Wayne kecil atas pembunuhan orang tuanya dan implikasinya terhadap pilihan-pilihan hidup, termasuk cara pandangnya pada kebaikan dan kejahatan, semuanya merupakan konflik yang dibangun oleh Nolan dari wacana kenangan yang traumatis. Sempat ada alternatif pilihan mengatasi segala dampak yang muncul dari diskursus kenangan, direpresentasikan oleh karakter Joker dengan anarkinya, tapi sampai akhir Nolan lebih condong memihak pada wacana yang selalu ia jadikan pijakan utama tema ceritanya. Bukti argumen tersebut dapat dilihat ketika penumpang dua kapal menolak meledakkan satu sama lain, sesuai scenario anarkis Joker, karena “kenangan kolektif” mereka pada kemanusiaan belum mati.

Jangan lupakan juga persaingan sengit dua pesulap di “The Prestige” yang dimulai dari kenangan pahit Hugh jackman pada kematian sang istri karena kelalaian Christian bale saat menjalankan atraksi sulap berbahaya. Jika boleh dibuat sebuah formula sederhana, cara konflik dibangun oleh Nolan mulai dari “Memento” sampai “The Dark knight” yang khas adalah keberadaan kenangan (yang traumatis) dan hal itu memberi daya hidup bagi sang protanonis untuk bangkit dari trauma itu sendiri. Tapi implikasi adanya daya hidup baru itu adalah terciptanya nemesis (bisa dalam bentuk tokoh antagonis lain, maupun diri sendiri), dari situ kemudian dilema final bakal dihadapi di fase resolusi konflik oleh sang protagonis dalam kisah-kisah bikinan Nolan.

Entah pakem semacam itu muncul dari bawah sadar Nolan atau tidak, yang jelas, ia mempertahankan pakem itu baik-baik dalam “Inception”. Bicara soal konsep “bawah sadar”, plot “Inception” digerakkan dengan memandu penonton menikmati lapis demi lapis wisata ke alam bawah sadar manusia. Secara kasar garis besar kisah “Inception” dapat digambarkan sebagai berikut. Kisah terjadi di sekitar kejadian yang melibatkan sekolompok pencuri mimpi di masa ketika memasuki mimpi milik orang lain bukanlah upaya mustahil, karena dukungan teknologi dan bahan kimia.

Maling-maling mimpi yang aktivitasnya merebut “ide” penting dari seseorang untuk kepentingan orang lain itu kini mendapatkan tantangan baru untuk melakukan sebuah upaya kebalikan dari mencuri (diistilahkan sebagai extraction), melainkan “menanamkan” ide alias inception. Misi berat sebagai plot utama “Inception” adalah menanamkan ide pada seorang calon pewaris perusahaan energi nomor dua dunia agar membatalkan keputusannya mewarisi perusahaan ayahnya, lantas beralih ke jenis usaha lain. Klien yang berkepentingan dengan itu adalah perusahaan energi nomor satu saat ini yang khawatir si pewaris itu nantinya akan mampu menjadi pesaing yang berbahaya.

Anda merasakan aura kombinasi “James Bond” dan “The Matrix”? Ya pada mulanya saya juga berpendapat seperti itu sekilas usai menyaksikan film ini. Namun, jika jeli, konflik tetap berpusat pada protagonis utama, yaitu karakter Dominic Cobb yang diperankan Leonardo DiCaprio. Nolan memberi porsi perkembangan karakter yang signifikan baginya, terutama saat sekuens-sekuens yang menggambarkan kenangan istrinya Mal, kedua anaknya yang tidak ditampakkan wajahnya, hingga kenangan di fase “limbo” yang kaotis dan nihilis itu (berbeda dengan konsep dalam mitologi “The Matrix”, orang yang mati dalam dunia mimpi “Inception” hanya akan terbangun dari tidur, masalah baru muncul jika kematian terjadi dalam dunia rekursif “mimpi dalam mimpi” yang membuat orang tersebut terancam kehilangan memori di dunia nyata usai terbangun karena ia terbuang ke area mimpi bernama limbo, dan mengalami kebingungan abadi dalam menilai mana yang realitas dan mana yang bukan).

Kegigihan Nolan mempertahankan pakem cerita yang harus berpusat pada protagonis utama membuat karakter lain, semisal tokoh Arthur sebagai sidekick Cobb yang diperankan Joseph Gordon-levitt (ia mampu sepanjang film tampil cool, berbeda sekali saat ia tampil sebagai tokoh utama culun di “(500) Days of Summer”) ataupun Ellen Page yang tampil lumayan dalam mengimbangi DiCaprio, tetap tidak berkembang sebagai karakter. Mereka sekadar sketsa tanpa jiwa, dan tampak dihadirkan sekadar untuk menyukseskan aspirasi personal dari konflik internal yang dialami si tokoh utama.

Selain bertebarannya karakter flat yang mengurangi emosi film ini, Nolan juga kurang rapi menyelaraskan aspirasinya untuk menciptakan dunia rekaan yang bisa tanpa masalah diterima penontonnya. Penonton kritis boleh jadi akan mempertanyakan motivasi Nolan harus selalu menampilkan dunia mimpi yang memiliki “seting” yang mendukung terciptanya serangkaian aksi laga yang menghibur mata.
Berbeda dengan “The Matrix”, Nolan tidak memberi justifikasi memadai untuk kehadiran adegan laga di filmnya ini. Seakan banyak orang yang bermimpi di “Inception” sering bermimpi buruk dengan seting kaotis dan penuh ledakan serta mesiu. Saya hanya tersenyum sendiri memikirkan kemungkinan jawabannya, bisa saja “alam bawah sadar” produser Hollywood menuntun Nolan untuk memikirkan juga faktor kesuksesan komersial ketika film ini diluncurkan.

Selain temuan beberapa cacat dalam “Inception” tadi, melalui upaya serupa penelusuran benang merah cerita karya Nolan sebelumnya, saya menemukan kemungkinan aspirasi utama yang menjiwai setiap karyanya sebagaimana terangkum dalam “Inception”. Meminjam konsepsi Gilles Deleuze dari bukunya Cinema vol.2, sutradara macam Nolan adalah pengikut aliran Robert grillet ataupun jean Luc-Godard, yang mengksploitasi “kesalahan analisis awal” para penonton sebagai jalan menyampaikan pesan utamanya. Dalam bahasa Deleuze, hal itu disebut “the power of false”.

Pada hakikatnya setiap langkah menyampaikan narasi adalah mengajak penonton untuk memberikan penilaian (berkaca pada argumen Deleuze bahwa narasi adalah system of judgment). Pihak yang disodori narasi dalam kategori narasi konvensional atau sering disebut truthful narration akan langsung mendapatkan satu perangkat identifikasi untuk menilai tentang apakah tema utama kisah itu sebenarnya.
Sebaliknya, ada kategori narasi lain yang menampilkan gaya falsifying narration, yaitu model penceritaan yang menyamarkan tema utama dengan balutan kisah lain, dengan maksud membebaskan penonton dari sistem yang memaksa mereka menjadi penonton yang murni berada di luar kisah, untuk lebih merasuki pengalaman karakter beserta segala konflik yang mereka hadapi. Dalam model narasi seperti ini, penonton alih-alih melakukan penilaian “film ini bertemakan blab la bla”, mereka akan lebih banyak berada dalam posisi “sesuai yang saya rasakan tema film ini adalah bla bla bla”.

Nolan masuk pada sineas yang menerapkan strategi penceritaan di kategori kedua dengan mengaburkan kisah utama “Inception” yang cukup “sederhana”, yaitu berpusat pada bagaimana DiCaprio berhadapan dengan kenangan traumatis bersama istrinya, terlepas dari balutan kisah sains fiksi soal memasuki dunia mimpi dan intrik antar perusahaan yang melingkupinya. Karakterisasi bikinan Nolan tidak ditujukan agar muncul sebuah karakter yang bulat, yang bisa kita amati dan analisis. Namun lebih agar penonton berada dalam kondisi “I is another”, dimana kesadaran kita selaku penonton kita curahkan pada aspirasi karakter utama yang tampil.

Wacana tentang bagaimana manusia memiliki keterikatan emosional yang akut pada kenangan dan bagaimana mereka membuat pilihan untuk menghadapinya masih saya dapatkan saat membaca katalog Nolan hingga karyanya yang paling anyar ini. Tak peduli latar kisahnya di wilayah sub-urban Amerika, Gotham City, ataupun dunia antah berantah bernama mimpi. “Inception” barangkali akan lebih lengkap jika dibaca melalui perspektif analisis “bawah sadar” ala Freud ataupun skema milik Lacan, bahkan bila perlu melibatkan analisis tentang relativitas waktu Bergsonian yang sayangnya tidak saya kuasai betul.

Tapi kalaulah saya diijinkan menerka-nerka, alasan Nolan mempertahankan skema konflik macam itu bolehlah disebabkan kesamaan visinya dengan Nietzsche yang pernah berucap “(even) the truthful man ends up realizing that he has never stopped lying”. Orang yang paling jujur sekalipun, bisa menipu dirinya sendiri ketika gagal menghadapi sisi gelapnya yang muncul karena kenangan traumatis, jika saya boleh menerjemahkan visi utama dari mayoritas karya-karya Nolan sesuai hasil pembacaan saya.

Untuk keteguhan dan konsistensi itu saya pikir Nolan harus kita akui memiliki integritas, dan walau latar belakang kisahnya beragam dari yang realistis sampai imajinatif, ia konsisten bicara hal-hal yang manusiawi. Pada akhirnya, saya mencuplik adegan memorable dalam “Inception”, yaitu pada dialog yang diucapkan tokoh Ieaham terutama ketika ia mewanti-wanti karakter Saito yang masih awam akan bahaya yang mengancam di balik aktivitas masuk ke dalam dunia mimpi, “this is not the place for the tourist’. Anda tidak menikmati suguhan aksi di dunia mimpi laiknya turis dalam film ini, sebaliknya anda akan menjalani meditasi diri yang intens dan subtil tanpa anda sadari.

Demikian.

Iklan

4 Tanggapan to “Membaca Inception, Nolan, dan Kegemarannya Berbicara Soal Kenangan”

  1. Wah analisis hebat nih, selain itu nolan juga sering membuat film dengan menonjolkan tokoh yang agak kurang baik untuk ditiru.

    Inception=>pencuri
    The prestige=>penipu
    The Dark Knight=>anarki (Joker)
    Insomnia=>penyamaran

    Salam kenal ya n maaf blog ini udah gua link duluan, jujur meski jarang update, blog ini tetep keren..

  2. jujur saya suka liat gimana cara anda mereview film film di blog ini, bahasanya sangat “arty” sekali, hehe, salam kenal, ditunggu review review selanjutnya…

    PS: inception memang keren, dan saya setuju dengan anda, nolan memang gemar “memainkan” kenangan di film filmnya, hehe…

  3. buset, gak ngerti bahasanya nih :p tapi aku suka cara kamu menarik benang merah dari tema film2 Nolan.
    tentang Inception, menurutku agak mbosenin krn penonton gak disisakan apa2… maksudnya gak ada misteri sedikit pun buat dipikirin penonton.
    dan Insomnia… bagusan versi aslinya ya? 😉

  4. gue perlu nonton inception hingga 2 atau 3 kali untuk ngerti alur cerita dan pesan yang ingin disampaikan Nolan. buset deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: