Allende dan Dokumenter yang Merayakan Sepenuhnya Nostalgia

Tanggal 11 September harus kita akui, ternyata tidak menyimpan sebuah kenangan pahit bagi bangsa Amerika saja. Jauh sebelumnya, yaitu di tahun 1973, Bangsa Chili juga memiliki trauma kolektif yang terpahat di tanggal tersebut. Laiknya Bangsa Amerika, trauma kolektif Chili ini melibatkan pula peristiwa yang berdarah-darah, pun trauma kolektif Chili tersebut menorehkan luka yang sanggup merubah kultur sebuah negara selaiknya yang terjadi pada rezim Bush pasca runtuhnya gedung kembar WTC. Dari memori getir itu, terpacaklah sebuah nama Salvador Allende.

Salvador Allende adalah figur yang terlupakan, atau dalam bahasa Patricio Guzmán, dilupakan dari arena memori kolektif sebuah bangsa. Akibatnya, kita, manusia yang hidup dalam belahan dunia yang berbeda juga lamat-lamat mendengar nama tersebut. Ketika kita sedang membicarakan figur pemimpin gerakan so-called “kiri” di Amerika Latin, barangkali nama-nama seperti Fidel Castro, Ernesto “Che” Guevara, hingga yang paling kontemporer seperti Evo Morales ataupun Hugo Chavez akan lebih mendominasi topik pembicaraan. Oleh karena itu, ketika seorang sineas eksil asal Chili menyuguhkan pada kita kisah Presiden ke-29 Republik Chili tersebut, saya sebagai seorang yang awam dengan sejarah Amerika Latin mendapatkan sebuah eksplanasi yang cukup berbeda untuk membaca ulang peta pemikiran gerakan kiri Amerika Latin, bahkan dunia pula akhirnya.

Karya dokumenter Guzmán produksi tahun 2004 ini bergerak bagaikan sebuah upaya eskavasi artefak berharga yang lama terkubur. Menilik rekam jejak Guzmán sebagai seorang sineas, ia tidak asing bersinggungan dengan tema dari negerinya sendiri. Bahkan, di medio 1970-an, ia dikenal sebagai sineas dokumenter terpandang karena karya epik-nya “The Battle of Chile”. Terdiri dari tiga seri yang mendokumentasikan secara komprehensif babak besar dalam sejarah bangsa bernama Chili yang mengalami kudeta kekuasaan, dan pada akhirnya, melahirkan pemimpin otoriter yang tentu kita sudah cukup akrab, Jenderal Augusto Pinochet.

Guzmán rupanya tidak puas dengan eksplorasinya terdahulu, dan kini menggeser studinya pada sosok Salvador Allende yang ia posisikan sebagai korban dari konspirasi besar borjuis Chili serta muslihat CIA dalam memanfaatkan militer yang haus kekuasaan. Di awal film, penonton langsung dihadapkan pada gambar-gambar lukisan bernuansa muram dan antik karya artis Chili periode 1960-an. Sebuah upaya yang saya tafsirkan sebagai penegasan atas motivasi Guzmán pribadi bahwa film ini sudah dari awal diniatkan untuk menjadi semacam proyek menggali kembali kenangan yang sudah mengendap di dasar sejarah. Jika “The Battle of Chile” berupaya mendokumentasikan fakta sosio-politis Chile pada masa itu yang teramat kompleks, maka “Salvador Allende” betul-betul fokus pada usaha mengiringi proses kebangkitan hingga kejatuhan Allende, sang presiden.

Baiklah, mari kita berpindah sejenak untuk membahas bagaimana sosok Allende itu sendiri diceritakan, karena saya merasa, bisa jadi ada banyak orang juga yang kurang mengenalnya sebagaimana saya alami pribadi sebelum menyaksikan film ini. Allende adalah presiden Sosialis pertama di Chili yang terpilih dalam sebuah pemilu demokratis. Lahir dari keluarga kelas menengah yang sudah memiliki tradisi untuk terlibat dalam perpolitikan negara tersebut serta bermacam aktivitas liberal lainnya, Allende memiliki, meminjam istilah Bourdieu, kapital budaya untuk turut terlibat dalam kancah politik praktis Chili pada masa mudanya. Gelar sarjana kesehatan tidak mengurangi minatnya untuk melebarkan sayap, dari asal daerahnya Valparaíso – dimana ia menjadi pemimpin partai sosialis Chili –menuju pusat kekuasaan Chili yang terletak di Santiago, sebagai menteri kesehatan, hingga pada akhirnya, maju menjadi kandidat presiden negara tersebut.

Guzmán betul-betul mencurahkan hasratnya untuk menceritakan bagaimana Allende bangkit sebagai seorang pemimpin negara bernama Chili. Melalui gambar-gambar dokumentasi medium shot dan dijalankan secara lambat, momen-momen Allende berjuang menggapai kekuasaan, terutama ketika ia berjuang dalam kampanye. Guzmán secara pas memberikan detail-detail yang dramatis lagi penuh dengan elegi, karena Allende memang hampir 20 tahun lamanya berjuang menggapai tampuk kepresidenan.

Untuk menampilkan perjuangan itu, Guzmán menghadirkan narasumber dan data yang cukup kaya, mulai dari sejarawan hingga narasumber primer yang dahulu mengikuti kampanye Allende di pelosok Chili. Untuk usahanya menampilkan Allende dalam fase pra-kekuasaan, Guzmán cukup berhasil membawa kita untuk menyepakati idenya bahwa rakyat percaya pada Allende, karena ia mau mendengar keluh kesah mereka. Transisi besar kemudian terjadi di fase kedua ketika Allende akhirnya berhasil meraih jabatan sebagai kepala negara, di tahun 1970, sekali lagi saya tekankan seperti yang Guzmán lakukan, setelah 20 tahun berjuang di pemilu secara bersih.

Guzmán yang pada awalnya intens memaparkan detil-detil personal seorang Salvador Allende langung meloncat pada tahapan nostalgia gila-gilaan atas segala kebijakan maupun pemikiran politik Allende. Walau kurang mulus dalam hal transisi dari cara penyampaian narasi sebelumnya, namun bagian ini merupakan tahapan paling penting yang harus kita perhatikan selaku penonton, karena seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, pesan Guzmán yang berapi-api punya potensi bagi kita untuk merubah pemikiran soal gerakan kiri Amerika Selatan.

Diisi dengan banyak wawancara orang-orang tua, sesekali anak muda Chili kekinian, semuanya bercerita dengan fasih bagaimana momen Allende berkuasa merupakan momen dimana hampir semua rakyat Chili terenggut dalam euforia sosialisme demokratis. Itulah momen yang mengikat sebuah generasi untuk mengadopsi mimpi yang serupa, ketika politik dan utopia bisa berjalan bersama-sama laiknya dua kata itu punya makna sinonim. Allende menjanjikan nasionalisasi dan pemakmuran kelas pekerja, dan semua janji itu terpenuhi seketika ia terpilih.

Bagian ini tidak jatuh pada propaganda picisan karena Guzmán mampu mengemas banyak arsip secara pas dan elegan, bahkan dalam beberapa momen terasa sekali penuh getaran yang bisa merambat pada penonton. Gambar-gambar hitam putih ketika pekerja dan muda-mudi Chili berpawai membentuk lautan senyum, kepalan tangan, dan semangat, diimbuhi dengan narasi Guzmán sendiri yang hadir sejak awal film sebagai pemandu kita, menyatu menjadi sebuah paket pesan yang padat dan kuat.

Tapi bagian yang saya pribadi sukai adalah cara Guzmán meyakinkan kita bahwa Allende memiliki ide-ide orisinil jika dikomparasikan dengan pemimpin kiri lainnya. Allende tidak mempercayai revolusi, dan ia percaya hanya melalui fase demokratislah, perubahan nasib kaum proletar bisa terjadi, dan pada awal kepemimpinannya hampir semua narasumber, termasuk pidato Castro yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Chili seakan membenarkan bahwa belum ada kelindan mesra sosialisme dan demokrasi berhasil dijalankan selain di Chili. Dalam tahapan ini Guzmán dengan cermat berusaha menggambarkan bahwa sosok dan pemikiran Allende serupa hantu yang terus bergentayangan di sudut kesadaran masyarakat Chili, dan membentuk karakter Chili sebagai nasion hingga saat ini.

Puncaknya saat Alllende memaparkan pidatonya di PBB pada awal tahun 1973, ketika ia sudah bicara soal bahaya perusahaan multinasional yang berpotensi menghancurkan negara berkembang di seluruh dunia, dan usai ia berpidato, seluruh hadirin di ruang siding PBB memberikan standing ovation nyaris lebih dari dua menit. Rangkaian testimoni masyarakat biasa, pendukungnya, maupun sejarawan, serta asip-arsip Allende pada fase kekuasaan ini sungguh memberi penonton ruang untuk melakukan refleksi yang manusiawi sekaligus historis. Bahwa kiri yang berbeda pernah berhasil terjadi dan bisa diupayakan.

Tapi seiring pucak penyampaian film ini hadir, datanglah akhir yang tragis, termasuk dalam cara bertutur Guzmán. Fatalnya, premis gagasan Guzmán bahwa pemikiran Allende tetap relevan hingga saat ini turut tergerus di babak ini. Fase munculnya ketidakpuasan dari kalangan borjuis Chili, hingga berujung pada serangan militer ke gedung kepresidenan tanggal 11 September 1973 dituturkan dengan mood yang sama, sendu, sesekali malah terasa seperti ratapan. Banyak wawancara melibatkan simpatisan Allende, yang paling memorable tentu saat Guzmán mewawancarai para pendukung Allende di sebuah meja bundar, yang menyesalkan kepengecutan mereka untuk bangkit melawan tentara sebagai penyebab utama Allende takluk atas kudeta.

Tidak ada lagi kekuatan dan getaran seperti di dua bagian awal film. Pada fase tutur ini, semua narasumber dan arsip seakan hanya hidup di masa lalu, bahkan sedikit sekali narasumber masa kontemporer Chili yang diberikan kesempatan berbicara. Bahkan momen rekonstruksi Allende menembak dirinya sendiri untuk menolak meninggalkan gedung kepresidenan atas desakan militer, serta rekaman pidato terakhirnya sebelum mati yang menentang kudeta, muncul tanpa emosi yang cukup. Hal yang aneh, karena sejak awal Guzmán sudah meniatkan film ini dikemas dengan sudut pandang yang subyektif.

Saya menafsirkan bagian ini sebagai upaya Guzmán untuk menegaskan bahwa rezim Pinochet telah secara sistematis menghapus nama dan karisma Allende dari Chili nyaris sepenuhnya. Testimoni dari warga biasa tentang Allende mulai jarang muncul. Yang ada hanyalah rekonstruksi laiknya dokumenter kebanyakan tentang kejatuhan seorang tokoh politik. Sebuah kondisi yang disayangkan Guzmán karena Allende seharusnya tetap diingat oleh banyak orang di Chili.

Tapi gaya tuturnya yang monoton – penuh nostalgia dan penyesalan – menunjukkan, tanpa Guzmán sadari barangkali, bahwa Allende dan segala pemikirannya memang hanya hidup dan relevan di masa lalu. Sedikit penyelamat bagian ini malah wawancara dengan Edward Korry, mantan duta besar Amerika Serikat di Chili sewaktu kudeta terjadi, yang menjelaskan bahwa Amerika berkepentingan menjatuhkan Allende karena kedekatannya dengan Castro, yang tentu tidak diinginkan Amerika karena adanya kepentingan mereka di teluk babi. Wawancara itu, berhasil mengingatkan kita, lepas dari aura nostalgia di sana sini, bahwa Allende adalah figur yang harus diperhitungkan selain pemimpin Kuba ketika bicara gerakan kiri Amerika Latin pada medio 70-an.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Guzmán harus diakui berhasil menuntaskan secara utuh kerinduannya pada tanah kelahirannya melalui upaya yang ia lakukan lewat The Battle of Chile dan Salvador Allende. Kerinduan yang tak terperi karena pengasingan di Perancis pasca Pinochet berkuasa, dan pembahasan yang intens atas tragedi bangsanya, ironisnya, membuat karya Guzmán, terutama Salvador Allende menampilkan bukan sosok Allende secara utuh, tapi lebih pada pola pikir seorang Patricio Guzmán, sang idealis.

Pilihannya untuk tidak masuk ke dalam pembahasan secara spesifik kondisi sosio-politik Chili masa itu, dan pilihannya untuk memilah arsip Allende yang sesuai dengan keinginannya untuk bernostalgia, membuat film dokumenter ini menjadi potret dari sang sineas sendiri. Namun, melalui subyektivitas itu, kita berhasil diajak terlibat dan turut meresapi semangat bernostalgia. Kita yang hidup di dunia yang mungkin berbeda, bisa mahfum dan seakan mengenal sosok Allende, tapi dalam perspektif Guzmán tentunya.

Sayang, Guzmán sepenuhnya membekukan momen itu, dan tidak memuat interpretasi tambahan agar kita bisa memikirkan relevansi pemikiran Allende di masa kini, paling tidak di Chili saat ini. Premis Guzmán di awal film bahwa pemikiran Allende turut membentuk karakter Chili kontemporer, jadi urung terwujud dan meyakinkan penonton di akhir film. Seperti dialog dengan para simpatisan Allende, ataupun pembacaan puisi seorang penyair tentang tragedi kudeta sebagai arsip yang memungkasi film, kata “seandainya” banyak terucap.

Disitulah film ini, dan seluruh wacana yang menyertainya hadir paling utuh. Film dokumenter bernuansa personal yang tidak biasa, dan memuat serta menghidupi kenyataan bahwa utopia tetap menjadi utopis, serta asyik merayakan pengasingan diri dengan nostalgia yang diusung. Lepas film usai, saya juga tanpa sadar berucap, “seandainya…”, entah mengapa.

Mungkin saya juga mulai merayakan nostalgia.

Iklan

Satu Tanggapan to “Allende dan Dokumenter yang Merayakan Sepenuhnya Nostalgia”

  1. Info yang luar biasa.. Makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: