Memaknai 100 Tahun Narasi Besar Bernama “Akira Kurosawa”

Dalam hati kecil saya, sempat muncul sebersit keraguan saat saya memberanikan diri menulis sebuah catatan kecil mengenai Akira Kurosawa. Siapakah saya ini, berani menyoal nama sebesar itu dalam sebuah coretan remeh? Tapi saya menemukan jalan. Alih-alih tak punya kompetensi keilmuan memadai untuk menakar posisi seorang Akira Kurosawa, saya pinjam saja beragam pengalaman dan kisah mengenai sineas besar Jepang itu yang bisa saya pungut dari berbagai sumber, ditambah pengalaman saya sendiri bertemu dengan karya-karya beliau. Salah satu yang saya cuplik adalah kisah seorang Zhang Yimou. Sineas pilih tanding dari China ini, pernah menyampaikan sebuah fragmen kisah yang menarik mengenai pengalamannya bersinggungan dengan Kurosawa, pada esai-nya untuk Majalah Time edisi 23 Agustus 1999 dalam rangka menghormati Kurosawa yang masuk ke dalam daftar 100 orang berpengaruh versi majalah itu. Medio 80-an, dalam perjalanan bisnis ke Jepang, Yimou ditawari kesempatan untuk bersua Kurosawa di lokasi syuting Ran yang tengah berlangsung waktu itu. Apa kata Yimou selaku penggemar berat Kurosawa perihal kesempatan bertemu idolanya tersebut?

Memikirkan tawaran itu saja ia tidak berani, akunya. “Ia (Kurosawa) sudah menjadi dashi (maha guru) dengan reputasi kelas dunia. Sedangkan saya? Saya hanya kentang kecil dibandingkan dirinya.” Jika bukan sebuah pujian melangit dengan tujuan menjilat, maka ucapan Yimou merupakan keseganan yang natural antara guru dan murid yang bahkan tidak perlu bersinggungan langsung secara fisik. Posisi Kurosawa bagi banyak sineas di seluruh dunia bolehlah kita padankan dengan pengaruh Bisma bagi Pandawa dan Kurawa. Ia berpengaruh hingga level “tak sadar” seorang sineas, yang bisa jadi hanya mengenal sang maestro lewat karya-karyanya saja. Bahkan saya merasa merendahkan Kurosawa jika sampai harus menyebutkan siapa saja sineas besar dunia yang – baik mengakui secara terbuka maupun tidak – mendapatkan pengaruh dalam hal teknik bercerita dan penyutradaraan oleh dirinya.

Sering dikutip bahwa Kurosawa merupakan sineas yang amat perfeksionis, bahkan dalam beberapa catatan yang berhasil saya temukan, Ia – oleh kalangan pers Jepang sendiri – tak jarang digambarkan laiknya tiran. Lagi-lagi, mengutip esei dari Yimou, penggambaran itu tak sepenuhnya salah, namun tak benar juga sebetulnya. Disaksikan oleh Yimou melalui medium rekaman dokumenter, Kurosawa masuk ke salah satu set film-nya untuk memberikan pengarahan, dan tak lama, ratusan aktor dan kru yang tengah bersiap segera berbaris dan membungkuk di hadapan Kurosawa, lantas penuh takzim mendengar setiap perintah yang keluar dari mulut maestro itu. Bagi saya pribadi, penggambaran Yimou itu amatlah filmis.

Dengan irit kata, Yimou secara brillian memberi kita goresan spontan yang pas untuk menampung seluruh wacana yang bernaung di bawah panji Akira Kurosawa. Kejadian nyata yang terekam dengan nuansa filmis itu bagi saya terlalu cetek jika ditafsirkan hanya sebagai bukti Kurosawa merupakan tiran. Ia, lebih tepat disebut memiliki kharisma yang bersifat tiran, kebapakan, bahkan secara hiperbolis, menyiratkan keagungan sekaligus. Walau mungkin nanti banyak yang akan memprotes saya, tapi untuk mudahnya, saya akan menyebut Kurosawa sebagai “Narasi Besar” itu sendiri. Pada kenyataannya, memang begitu mudah untuk melekatkan banyak hal-hal besar pada nama yang satu ini.

Ada fakta penting yang bisa membantu kita memahami, apa sebetulnya yang ingin dibicarakan oleh sang maestro lewat karya-karyanya. Kurosawa adalah pengagum Dostoevsky (juga banyak sastrawan besar dunia lainnya) yang bisa menerjemahkan semangat karya sastrawan besar Rusia itu ke dalam format seluloid. Dalam banyak hal pun, Kurosawa bicara perkara yang sama dengan Dostoevsky. Ia bicara soal nilai, dan sebagai konsekuensi pembicaraan macam itu, ia harus intens berurusan dengan subyek bernama manusia. Padahal cita-cita sinematografi, pada mulanya, sempat menjurus melulu pada penyajian pengalaman sinematik yang belum pernah dicecap manusia. Kurosawa merupakan salah satu sineas yang memilih untuk menarik semuanya kembali ke bumi.

Tak sekadar humanis, bahkan bagi saya yang baru berkenalan dengan segelintir karyanya, ia sudah nampak mendekati pakar anatomi emosi manusia. Tanpa banyak beraneh-aneh, dengan lancar ia bicara soal-soal abstrak. Kesunyian nan sendu – ditambah esensi penyatuan manusia dengan kosmos, yang tak bisa digantikan oleh peradaban modern sekalipun – dengan padanan yang susah anda temukan di karya sinematografis manapun, dapat dengan mudah ia gambarkan melalui karakter dahsyat si pemburu tua eksentrik dalam Derzu Uzala.

Sementara Rashomon bisa membawa kita bertamasya dengan jujur, sekaligus merekonstruksi lagi makna dari sebuah kata bertajuk “perspektif”. Dari perspektif-lah penilaian bermula, untuk kemudian menelurkan tindakan yang akan dilekati nilai-nilai macam moralitas dan semacamnya. Kurosawa tanpa jumawa sedikitpun pada penontonnya menampilkan secara gamblang kerapuhan manusia untuk memahami segala sesuatu secara holistik. Rashomon adalah contoh karya yang menuntun penikmatnya memahami, melalui langkah sadar bahwa “memahami” itu sendiri merupakan upaya musykil. Jalan melakoninya adalah lewat pemaparan eksperimental yang terlalu maju untuk zamannya menggunakan skema sudut pandang berbeda dari tiap karakter terhadap satu permasalahan yang sama, yaitu pembunuhan absurd di tengah hutan belantara.

Bahkan walau cukup banyak berbalut humor sekalipun, Yojimbo yang menyoal pilihan tindakan seorang samurai di antara dua klan yang mencoba memanfaatkannya, bicara dengan semangat individual sefasih sajak “Aku”-nya Chairil Anwar. Sebagai pengingat saja, tipikal samurai dalam karya Kurosawa sebetulnya berbeda dengan samurai yang seringkali kita pahami, bahkan berbeda dengan pendekatan sineas Jepang lain kebanyakan. Ia kerap kali menggambarkan kisah ronin, alias samurai tak bertuan yang menentukan nasib tidak melalui tangan lain, melainkan tangannya sendiri. Padahal setting yang ia cuplik banyak berasal dari lanskap Jepang abad 16 atau 17, ketika negeri itu bergolak dengan kaotis dalam era feodal, dan samurai lebih sering menjadi alat bantu kekuasaan tanpa kehendak, dan sudah tentu mustahil menjadi subyek yang mandiri. Apakah representasi samurai ala Kurosawa bisa kita jadikan salah satu contoh manifesto kesenian yang ingin ia sampaikan kepada khalayak luas? Sebaiknya saya serahkan urusan itu pada anda semua yang lebih menguasai karya-karyanya saja dibanding saya.

Satu hal yang pasti, saya yang betul-betul ingusan soal film bisa turut mengamini kalau tiga jam lebih pengalaman saya menikmati Seven Samurai, merupakan pengalaman menikmati sinema yang tak ternilai. Dalam sebutan yang klise namun tetap menggetarkan, pengalaman itu dinamai “a True Cinematic Experience”. Kurosawa, dalam film tersebut, menangkap dengan jitu getaran emosi budaya Jepang. Ia membawa kita masuk, langsung menuju pusat kesadaran manusia-manusianya yang khas. Jika Yukio Mishima merasa perlu membelah perutnya sendiri – sebelum selanjutnya merelakan kepalanya ditebas – hanya untuk menyampaikan sebuah pesan kemanusiaan khas bagi manusia Jepang kontemporer, maka film ini sebetulnya punya kualitas pesan setara.

Pesan itu berbunyi sebagai berikut: akar segala heroisme adalah harga diri. Jika kita tidak merawat harga diri – dengan contoh kasus penduduk desa yang di awal film Seven Samurai hampir tidak memilikinya sedikit pun – apalagi yang bisa kita anggap manusia dari diri kita. Penggambaran tujuh samurai tanpa pamrih yang melindungi penduduk desa pelosok yang terancam dibantai para perampok itu, meniupkan pesan yang kencang menghantam setiap kepala penonton. Penggambaran itu bicara mengenai beratnya usaha merawat harga diri sekaligus kemanusiaan. Dengan menawarkan snapshot esensi budaya Jepang, Kurosawa mengajak kita membawa wacana itu menuju arena yang lebih luas. Arena kemanusiaan universal itu sendiri.

Apa yang diungkapkan oleh catatan kecil ini akhirnya mengakhiri keinginan ambisius saya, pada mulanya, untuk mencari-cari dan menuliskan ihwal renik yang jarang diangkat dari seorang Kurosawa. Dalam “narasi besar” macam dirinya, kosmos besar dan kecil sudah menyatu sedemikian rupa. Akhirnya, tidak ada yang benar-benar besar, atau sebaliknya, benar-benar renik dari tawaran seorang Akira Kurosawa.

Melalui peringatan anumerta 100 tahun pasca kelahiran Akira Kurosawa, tepatnya tanggal 23 Maret 2010 tempo hari, kita semua, baik penikmat maupun kreator seni, harus duduk dengan takzim laiknya para kru maupun aktornya dulu lakukan terhadapnya. Bukan sekadar memuja, tapi agar kita menyadari bahwa yang “besar” ternyata mampu tak menjadi klise, karena sampai kini pun, dunia seni, atau secara spesifik dunia sinema, masih sering dicerai-beraikan oleh perkara yang dianggap besar, namun secara esensial sebetulnya begitu mini saat dihadapkan pada sebuah konsep bernama supremasi seni dan lebih jauh lagi, kemanusiaan. Menyitir kata-kata sang maestro sendiri, “di semua film saya, selalu ada tiga hingga empat menit (pengalaman) sinema sesungguhnya.”

Jika sudah seperti itu, konsep macam barat-timur, sutradara Asia vs Sutradara Amerika/Eropa, Penghargaan film mainstream vs Indie, Holywood vs Non-Holywood, FFI vs sineas pembangkang FFI, serta tetek bengek politis semacamnya menjadi sangat remeh temeh. Tawaran sang maestro sederhana saja, mari mencoba lebih memahami apa itu manusia. Dan kita semua patut mengakui, Kurosawa nyaris mendekati sempurna jika sudah berbicara mengenainya.

Iklan

4 Tanggapan to “Memaknai 100 Tahun Narasi Besar Bernama “Akira Kurosawa””

  1. excelent job, tulisanmu yng spesifik makin bagus ndri, wah bisalah buat rekomen kalo mau tau review film hehe

    btw link blogku yang ada di blogmu masih yang lama pow

  2. JAPAN FOUNDATION JAKARTA akan menyelenggarakan ulang tahun 100 tahun Akira Kurosawa di akhir Oktober~awal November 2010 ( di Jakarta & Bandung ) . Master film karya-karyanya sedang dalam perjalanan menuju Indonesia, bila ingin tahu kabar acara ini silakan bergabung dalam Face Book – NUANSA, The Japan Foundation, Jakarta

    Yoroshiku!
    Diana

  3. karya keren dari orang keren dan di riview dengan tulisan sangat keren oleh seorang second class scumbag. 😀

  4. Seperti yang ditulis Pak Mantri.., review keren untuk seorang figur keren.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: