Wacana Soal Tubuh dalam Malèna

Bagaikan shabu-shabu kelas kakap, Karya sastra kelas nobel, atau taruhlah arsitektur kelas wahid, Malena merupakan sebuah representasi dari ranah karya sinematografis soal ketiga perumpamaan yang saya sebut barusan. Sebagai karya seni berwujud film, besutan Giuseppe Tornatore ini merupakan sebuah karya yang mampu menenggelamkan penonton pada jalinan cerita yang memabukkan. Efek “shabu-shabu” itu akan memaksa kita tidak melewatkan barang sedetik pun pandangan dari layar. Sementara itu, jalinan kisah yang ditawarkannya memaksa penonton melakukan retrospeksi diri yang begitu subtil, bahkan intens, untuk mengukur segenap aspek kemanusiaan yang kita miliki Kekuatan kisah macam itu khas sekali lekat dengan setiap imej yang dimiliki karya sastra berkualitas. Pun, cara bertuturnya, menerapkan sentuhan ala arsitek level maestro. Setiap bangunan scene ditata dengan detail, koheren, dan dijaga supaya setiap simbol hadir sesuai dengan keinginan sang arsitek.

Ah, kembali lagi saya melontarkan puja-puji dalam tulisan kali ini. Akan tetapi, tidak sedikit pun, saya jengah, kalau yang saya puji habis-habisan adalah karya setaraf Malèna. Kisah yang diusung terasa timeless. Film ini bicara mengenai kisah seorang Janda bernama Malèna Scordia yang mengalami beberapa problem hidup semenjak ditinggal suaminya berperang (dan dikabarkan tewas saat bertempur di Afrika Utara), melalui sudut pandang unik seorang anak yang sedang mengalami fase akil balig. Si anak yang bernama Renato Amoroso itu menjadi sedemikian terobsesi pada tubuh Malena, dan tak dinyana, usaha yang ia lakukan untuk selalu menyaksikan tubuh janda kembang di kota kecil Sisilia yang diperebutkan kaum lelaki itu, akan menghadirkan konsekuensi mengejutkan di klimaks film. Kisah utama yang sudah cukup unik itu, dibumbui pula latar kisah kondisi sosial Italia di era kepemimpinan fasis Mussolini. Tapi saya tidak bermaksud membahas semuanya. Saya berniat mengajak anda semua berbincang soal ide Tornatore perihal pahit manis usaha mencapai kedewasaan. Untuk sampai disana, sineas besar Italia kontemporer ini memanfaatkan dengan komprehensif ide mengenai “tubuh”.

Untuk aspek yang satu ini, saya terpaksa berspekulasi (dan semoga tidak terlalu ngawur), bahwa pembicaraan tentang kedewasaan tersebut mungkin akan lebih bisa dipahami oleh lelaki yang benar-benar dewasa. Tanpa bermaksud mengesampingkan kemampuan kawan-kawan perempuan memamah ide soal fase akil balig Renato sebagai tokoh utama film ini, tetapi memang simbolisme soal tubuh perempuan yang bertebaran di film ini akan lebih mengena bagi penonton laki-laki. Ketertarikan akut kita selaku penonton (atau secara khusus penonton lelaki) pada tubuh Monica Belluci alias Malèna, merupakan model ketertarikan yang akan jauh lebih memuaskan saat dibaca memanfaatkan teori perkembangan seksualitas Freud.

Mungkin yang akan saya utarakan tidak akan sejauh dan secanggih itu. Ide soal “tubuh” merupakan salah satu pesan sentral yang pasti akan muncul saat kita membicarakan film tersebut. Terdapat dua macam pembacaan soal tubuh yang bisa saya dapatkan dari Malena. Yang pertama adalah tubuh sebagai pemandu manusia untuk mencapai tahapan purgatorio (penyucian kembali dosa) – meminjam istilah Dante Alighieri. Renato awalnya hanya terpaku pada keinginan untuk diakui sebagai manusia dewasa. Tapi, berkat pertemuannya dengan Malena, ia secara tiba-tiba merubah kesadarannya untuk lebih memperhatikan potensi tubuh yang ia miliki. Perdebatan konyol mengenai ukuran penis antara ia dan kawan-kawan geng sepeda-nya, percobaan mengintip Malena, hingga masturbasi yang ia lakukan di kasur reyot hingga menimbulkan suara gaduh bagi ayah-ibunya, merupakan kesadaran akan potensi tubuh yang naïf. Kesadaran yang hanya menimbulkan kegelisahan eksistensial, atau angst jika saya diperbolehkan menyitir Kierkegaard.

Tahapan kesadaran itu kemudian berkembang seiring kisah berjalan, dan obsesi akan tubuh Malena akhirnya memuncak pada ketidakmampuannya membendung hasrat seksual. Klimaks soal “tubuh” dari perspektif ini hadir menjelang akhir film, dan membawanya meninggalkan obsesi atas tubuh yang profan untuk mencapai kesadaran suci cum transedental mengenai cinta dan kedewasaan untuk membantu Malena mendapatkan lagi harga dirinya. Inilah yang saya maksud ide “tubuh” selaku wahana penyucian diri.

Sementara itu, ide kedua soal “tubuh” yang berhasil saya temukan, adalah ide mengenai “tubuh sebagai dosa”. Pendapat ini tentu, jika ditilik dari model pembacaan yang serupa, sudah sering digunakan dalam kritik feminis. Memahami ide ini tidak terlampau pelik, saksikanlah karakter Malèna digambarkan nyaris sepanjang film, maka kita akan paham bahwa Tornatore secara brilian mengeksploitasi tubuh Monica Belluci dalam rangka melancarkan kritik keras atas dominasi patriarki. Dalam wacana feminisme, tubuh perempuan merupakan dosa yang harus ditimpakan pada pihak perempuan. Tubuh jugalah alasan utama mereka mendapatkan penindasan dari lelaki. Jangan salahkan lelaki kalau tertarik menguasai perempuan, salahkan tubuh mereka yang terlalu menarik bagi kaum lelaki – begitu mungkin narasi ini bicara dalam format yang lebih sederhana.

Pergerakan kamera, utamanya pemanfaatan sudut pandang si bocah saat mengintip Malèna di awal hingga pertengahan film merupakan pengejawantahan soal rancang bangun detail ala arsitek mumpuni yang saya sampaikan di awal tulisan. Penonton dimanipulasi untuk ikut berifikir bahwa Malena-lah yang bersalah karena memiliki tubuh seindah itu. Kita, saya yakin sebagaimana dialami juga oleh si bocah, dalam hati turut mengutuki tubuh itu yang menyebabkan setiap lelaki di kota, mulai dari perwira militer, pengacara, hingga penjual buah, terpikat dan ingin menguasai.

Tapi di akhir film, tubuh itu dipersepsikan oleh Tornatore menjadi begitu rapuh, begitu fana, dan tidak selayaknya dijadikan kambing hitam atas nafsu bejat yang sebenarnya disimpan oleh lelaki itu sendiri. Penggambaran tubuh Malèna yang hiperbolis di tiga perempat akhir film menjadi memuakkan, dan memaksa kita selaku penonton berfikir ulang perihal ide “tubuh sebagai dosa”. Teriakan Malena usai dihajar oleh ibu-ibu yang iri – yang saya anggap termasuk sebagai agen patriarki itu sendiri malah, karena penegasan motivasi rasa iri mereka yang disandarkan atas persetujuan ibu-ibu itu akan ide soal “dosa tubuh” Malèna – pada kumpulan lelaki di penghujung film merupakan momen dimana Tornatore dengan lantang turut menyumpahi kemunafikan lelaki pada umumnya.

Lelaki-lelaki itu tidak ditampakkan wajahnya di layar. Digambarkan juga kalau mereka jeri untuk membantu Malena lepas dari penyiksaan. Tapi secara khusus, teriakan itu akan sampai pada kita. Malena diposisikan oleh Tornatore untuk sekaligus mengutuki “kesadaran” penonton. Saya menggambarkan teriakan menyayat Malèna itu sebagai teriakan hewan liar yang dengan liris mengumpat (sekali lagi semoga tidak terlalu meleset), “Inilah tubuh yang kalian persalahkan sekaligus kalian puja itu…dan inilah saya, Malèna, dan tubuh saya.” Tapi adegan itu serupa sekuplet puisi yang berhasil. Ia bertenaga tanpa mengumbar kata-kata, dan merupakan puncak kemampuan Tornatore berbahasa melalui medium gambar. Ia melampui sekadar kalimat penafsiran saya diatas, lebih jauh lagi, adegan itu menyentuh wilayah peka manusia.

Dua konsep soal tubuh itu kemudian menyatu, dan saling berdialektika ketika adegan terkuat film ini hadir. Yaitu momen dimana si bocah hanya mampu menangis dalam keheningan yang berjarak sewaktu menyaksikan Malèna pasrah diperkosa oleh oknum tentara di rumahnya. Adegan yang tersaji dari perspektif kita (baca: penonton) mengintip bersama si bocah melalui lubang kecil di rumah Malena itu, melepas segala macam emosi. Begitu kaya nuansa, dan secara ekstrim mendekonstruksi wacana soal tubuh tadi untuk meluap sejadinya. Saya menafsirkannya sebagai penyadaran si bocah bahwa tubuh merupakan wilayah personal yang tidak bisa kita kuasai selain tubuh yang kita miliki sendiri. Di lain pihak anda pun dapat menafsirkan adegan tadi secara berbeda. Itulah emosi subtil nan padat dalam wujud gambar. Adegan ini merupakan kunci masuk menikmati dan memahami film bertajuk Malèna secara lebih utuh.

Dari sekian banyak kisah yang coba ditampilkan oleh Malèna, saya hanya mengambil satu aspek saja, yaitu persoalan tentang tubuh. Lewat satu ide itupun kita bisa bercengkrama tiada usai sampai besok pagi. Karena itu, apakah saya terlalu hiperbolis jika menganalogikan film ini dengan beberapa hal seperti yang saya lakukan di awal tulisan saya? Rasanya tidak. Tulisan ini pun bukan upaya mempersempit tafsir, karena Malèna berbicara melampaui apa yang saya sampaikan sejauh ini. Sudah inheren dalam Malèna, juga pada film-film berkualitas lainnya, keleluasaan tafsir bagi para penonton saat mencoba memaknainya.

Ah, saya akhiri saja review penuh puja-puji ini. Karena tanpa kita menyaksikannya sendiri, tulisan ini hanya akan menjadi kata-kata kosong tak berbunyi lagi berarti.

Iklan

2 Tanggapan to “Wacana Soal Tubuh dalam Malèna”

  1. Setuju! Aku dah nonton film ini dua kali tanpa merasa bosan sama sekali… Seharusnya Monica Belucci at least dapet nominasi best actress untuk dedikasinya disini… Filmnya sangat sangat ‘moving’ (bagi yang menonton dengan serius)..baguslah pokoknya! Oya,great review juga…..manteb mas! Kalo boleh usul review juga film ‘maria full of grace’ ya…menurutku itu film bagus. Dan aku seneng banget baca2 review dari film apapun sebagai panduan nonton….great job mas!

  2. berkunjung ke blog kawan tak baca2 isinya review film tok e…
    btw, mantab bro dirimu mengulasnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: