The Road dan Kebebasan Manusia paska Faktisitas

Apakah kemanusiaan itu sebenarnya? Pertanyaan yang tampaknya klise itu coba kembali ditanyakan dalam film besutan John Hillcoat “The Road”, yang diadaptasi dari novel peraih Pulitzer berjudul sama karya Cormac McCarthy. Apabila kita memperhatikan dengan seksama, McCarthy membicarakan hal yang tidak jauh berbeda dengan tema yang ia sodorkan di “No Country for Old Men”. Premis awal berangkat dari titik tolak yang serupa. Seberapa berhargakah mempertahankan kemanusiaan, di tengah dunia yang makin menepikan kemanusiaan?

Jawaban, kalaupun itu memang coba diberikan McCarthy dalam karya-karyanya, nyaris senada pula dengan yang terdahulu dalam kisahnya kali ini. Jawaban itu dengan tegas diucapkan oleh karakter orang tua anonim yang diperankan oleh Robert Duvall, “Orang-orang yang dulu memikirkan kemanusiaan, tidak akan menemukan kemanusiaan lagi disini.” Cukup pesimis memang. Tidak ada yang tersisa dari ide abstrak bernama kemanusiaan. Dalam pernyataan yang sedikit berbeda, dari karakter Sheriff yang diperankan Tommy Lee Jones, di” No Country…”, kemanusiaan itu tinggal dipercayai oleh oran tua sepertinya. Ide lama yang sudah lama ditanggalkan. McCarthy sepertinya belum bosan mengeksplorasi problem-problem semacam itu.

Saya rasa setiap film bertemakan pasca-bencana, menawarkan kemiripan tema semacam ini. Tapi, harus diakui, pendekatan Hillcoat berbeda dengan kebanyakan sineas yang menggarap tema kiamat sesuai pakem Hollywood. Tidak ada penjelasan soal bencana. Tidak ada dramatisasi berlebihan ketakutan akan masa depan yang suram membentang dialami oleh karakater-karakter didalamnya. Yang utama hadir adalah jarak, karena saya merasakan jarak menganga antara pengalaman para karakter di dalamnya, dengan saya sebagai penonton. Jika film pasca bencana biasanya berusaha mengajak penonton terlibat, lain hal-nya dengan film ini. Kita menyaksikan dengan khidmat bencana itu dari jauh. Lamat-lamat, serta liris.

Tidak ada harapan, ya memang, sedikitpun film ini tidak bicara harapan. Ia berbicara sesuai semangat Martin Heidegger perihal faktisitas (Faktizität), yaitu kenyataan bahwa manusia telah ada begitu saja di dunia. Soal alasan mengapa manusia terlempar, itu tidaklah relevan, dan tidak perlu dipertanyakan.

Yang ada hanyalah kehampaan, kesepian, dan nihil tujuan. Siapapun yang pernah membaca Sartre akan menyaksikan film ini sebagai representasi sempurna soal konsep “manusia dikutuk untuk bebas”. Dua karakter utama tanpa nama, ayah dan anak (Viggo Mortenssen bermain cemerlang seperti biasanya), memulai perjalanan panjang menuju arah Selatan berbekal trolley berisi makanan, dan sepucuk pistol yang menyisakan dua peluru. Tujuan mereka berjalan sederhana, yaitu untuk menemukan pantai yang dipercayai masih memiliki kehidupan.

Dunia saat itu sudah berubah menjadi pucat. Tidak ada hewan hidup, tumbuhan telah berhenti tumbuh. Yang ada hanyalah sisa-sisa peradaban. Sepanjang perjalanan, sang Ayah berulang kali mengatakan pada anaknya, bahwa mereka harus mencoba untuk tetap waras, mempertahakan nurani, dan menjadi “the good guy”.

Jika kita kembali pada konsep faktisitas Heidegger tadi, keinginan sang ayah untuk mempertahankan moralitas adalah sebuah hal yang tidak beralasan sama sekali. Apa alasan ia begitu percaya pada moralitas? Apakah manusia masih berharga untuk tetap hidup? Dan Hillcoat menampilkan manusia-manusia kanibal, seorang tua nihilis, dan istri si Ayah tanpa nama yang diperankan oleh Charlize Theron yang fatalistik, sebagai antitesis karakter utama, sebagaimana Coen Brothers menampilkan Anton Chigurgh di “No Country for Old Men”. Dan terbukti sepanjang film, usaha mempertahankan moralitas bukanlah usaha yang mudah, bahkan boleh dibilang mustahil.

Film ini eksistensialis sekali. Pilihan yang dimiliki manusia, di saat seusai kiamat pun, hanyalah menjadi bebas. Jalannya adalah dengan memilih, entah itu menjadi bermoral, ataupun menjadi pembantai sesama. Kebebasan adalah naluriah, ia tidak perlu dipikirkan. Ia dilakukan. Sayangnya, karena film ini memberi porsi utama pada pembahasan naluri manusia, soal jarak yang sudah saya sampaikan sebelumnya melemahkan penyampaiannya. Film ini begitu kering emosi, dan datar sepanjang narasinya. Kita selaku penonton hanya diberi problem filsafat, tapi tidak diajak merasakan relevansinya pada diri kita.

Untuk memungkasi review ini, saya berniat meminjam narasi Morgan Freeman di akhir film “Seven” yang senada dengan apa yang saya rasakan seusai menyaksikan film “The Road”. Di adegan klimaks “Seven” ia berkisah bahwa Hemmingway pernah berujar, “dunia merupakan tempat yang indah, dan pantas untuk diperjuangkan.” – lantas ia menambahkan pendapatnya, bahwa ia hanya percaya pada poin kedua.

Dunia terbukti bukanlah tempat yang indah, namun kita tidak tahu mengapa kita terus berjuang mempertahankan kehidupan, bukan? Semangat itulah yang saya tangkap dari The Road di pungkasan film tersebut.

Iklan

3 Tanggapan to “The Road dan Kebebasan Manusia paska Faktisitas”

  1. Halo, tertarik nih dengan ulasan2 filmnya… Ditunggu kontribusinya untuk Indonesia Seni 😀 Ada kontakan/email? Thks. Marin – Redaksi Indonesia Seni

  2. Paska?
    Dari bahasa apakah asalnya, Inggris?

    Menulis istilah tsb dg “paska” berarti harus konsisten menggunakan “pakul” untuk memberi nama “pacul”.

    Kudune “pasca”, nDha…

    Dan sebagaimana “nir”, “non”, “pra”, “a”, penulisannya pun digabung dg kata berikutnya yg diterangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: