“Amores Perros” – Sebuah Elegi Modern yang Unik

Seorang karakter yang saya jamin akan langsung menarik perhatian setiap penonton yang menyaksikan “Amores Perros”, adalah seorang lelaki tua lusuh, berperawakan serta sekilas terlihat begitu mirip dengan Karl Marx. Ia menyusuri jalanan Mexico City ditemani sekawanan anjing juga sebuah gerobak penuh dengan rongsokan barang yang setia ia dorong tanpa arah atau tujuan. Imej awal yang terbangun oleh karakter itu dengan mudah kita stereotip-kan kepada segala asosiasi yang mengacu pada satu profesi khas di wilayah urban: “gelandangan”. Namun, seberapa sering kita menyaksikan seorang gelandangan membunuh orang, setidaknya orang dari kalangan menengah yang sedang menikmati sajian sushi, menggunakan pistol?Penggambaran lanjutan dari karakter tadi, akan membuat kita bertanya – tanya, atau paling tidak memaksa kita menunda keputusan melabeli karakter “Pseudo-Karl Marx” tadi sebagai sekadar “gelandangan”.

Dalam perkembangan kisah selanjutnya, kita akan mengetahui nama panggilannya, yaitu “El Chivu”. Atau dalam panggilan versi karakter polisi korup yang memperkerjakannya sebagai pembunuh bayaran, “Si Kambing (The Goat)”. El Chivu adalah Batu Rosetta film ini, yang akan membantu kita menerjemahkan makna dari karya sinematografis tersebut. Tanpanya, karya monumental Alejandro Gonzales Innaritu itu terancam menampilkan keterputusan alur yang kronis, karena terdapat missing link dalam fungsi naratif di dalam kisahnya. Tokoh inilah yang akan mempersatukan tiga cerita berbeda yang terangkum dalam sebuah tajuk besar bernama “Amores Perros (Love’s Dog) – atau saya lebih senang menerjemahkannya secara bebas sebagai ‘cinta itu memang anjing!’ -”. Struktur kronologis alur cerita yang kacau dari film tersebut memang perlu sebuah benang merah, dan karakter “El Chivu” tadi dipersiapkan sejak awal untuk melakoni peran itu. <

Penceritaan dimulai dengan kisah orang – orang “proletariat” Mexico City, yang menjalani hidup selaiknya stereotipe dalam banyak karya sastra yang sudah lebih dahulu muncul. Sebuah patron yang dahulu banyak melekat pada karya sastra naturalis, semacam kasus keluarga Maggie, dalam novel “Maggie, The Girl of The Street” karya Stephen Crane. Model keluarga yang melekat pada stereotipe kelas sosial bawah dalam kacamata kelaziman, biasanya berupa gambaran keluarga yang gagal berfungsi (dysfunctional family), kehamilan anak tanpa persiapan, kekerasan dalam rumah tangga. Urusan bertahan hidup seringkali bergantung pada aktivitas menjurus kriminal – yang dalam studi ekonomi mutakhir dikategorisasikan sebagai illegal economies –, serta banyak masalah sosial yang menambah rumit keadaan karakter lainnya.

Film ini tidak berikhtiar merubah stereotipe macam itu. Sudah nyaris dua abad sejak Stephen Crane, ataupun Emile Zola – selaku pelopor aliran sastra naturalisme – mengisahkan sebuah dunia yang deterministik tanpa bisa diubah oleh entitas didalamnya. Terbukti kisah ini masih menopang ide yang serupa muncul dua abad lalu. Guillermo Ariaga sebagai penulis skenario, hanya menambah variabelnya. Tidak cukup kehidupan keras itu ditopang oleh model pekerjaan sampingan sebagai perampok, maka karakter – karakter dalam fragmen kisah pertama, harus pula bertahan dengan mengikuti pertaruhan di arena adu anjing.

Tapi, problem kelas bawah tadi, sengaja disandingkan dengan dunia yang berkebalikan seratus delapan puluh derajat. Dari segmen pertama bertajuk “Octavio y Susana” yang getir, lagi muram, kita langsung dihadapkan segmen “Daniel y Valeria” yang glamour. Dunia yang hadir berikutnya adalah dunia media, dunia selebritas. Dunia dimana orang – orang yang “lebih beruntung”, dan mungkin jarang ditemui bahkan dikenal masyarakat kelas bawah di kehidupan sehari – hari, yaitu supermodel dan editor majalah fashion hidup. Perpindahan setting yang tentunya menyisakan jarak, namun bukan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Inarritu sudah memberi foreshadowing pada penonton, lewat adegan dimana kita dibiarkan lama menyaksikan TV menyala tanpa ditonton di kamar Octavio. Kita bisa merasakan kekosongan, seakan – akan TV dan tayangan didalamnya berada di wilayah yang tidak bisa kita jangkau. Boleh dibilang Innaritu membiasakan kita dengan efek jarak yang tercipta dari adegan tersebut. Saat perpindahan kisah terjadi, jarak yang menganga antara dua macam setting kisah tadi tidak jadi persoalan lagi.

Dalam segmen kisah kedua, isu mengenai keluarga masih tetap mengemuka sebagai isu utama. Tapi tentu pemantik masalah bukan lagi masalah ekonomi, ataupun problem – problem survivalitas. Problem yang melingkupi karakter di segmen kedua disesuaikan dengan aspirasi kelas borjuis selaku representasi karakter yang terpapar dalam segmen tersebut. Tema yang mengemuka berporos pada persoalan ketidakpuasan akan hidup dan cinta, ataupun loyalitas pada keluarga. Sekali lagi, pola penceritaan seperti itu tetap tipikal untuk merepresentasikan kalangan borjuis. Dari sana bayangkanlah jika tidak ada segmen ketiga, atau kisah “El Chivu y Maru”.

Kisah yang berbeda tadi perlu dijembatani, dan kapasitas karakter bernama El Chivu adalah memediasi dua struktur cerita yang tidak berkaitan sama sekali tadi secara natural. Segmen ketiga secara gamblang memberitahukan pada kita siapa sebenarnya El Chivu. Si “gelandangan” sebenarnya seorang kaya, namun cita – cita revolusioner membuatnya rela meninggalkan anak istri, dan menjadi teroris. Ia gagal, ditangkap polisi, dan malah berakhir menjadi pembantai kapitalisme secara harfiah, lewat profesinya sebagai pembunuh bayaran spesialis pengusaha – pengusaha di Meksiko City. Ia nyaris terasa sebagai karakter parodi belaka, dimana eks-Sandinista yang terbuang, dianggap sudah mati, atau dalam istilah Ariaga “hantu hidup” itu dengan senang hati membantai agen rezim ekonomi baru di Meksiko yang tengah bertumbuh dalam alam kapitalisme pasar bebas.

Tapi untunglah ia dilekatkan pula dengan masalah, sebagaimana dua karakter sentral di segmen sebelumnya juga miliki. Rasa bersalah pada putrinya, Maru, yang tidak pernah ia temui sejak umur dua tahun, mendorongnya untuk menerabas semua beban yang ia miliki, sekaligus memulai perang besarnya terhadap diri sendiri. El Chivu merupakan representasi dua dunia sekaligus. Berasal dari kalangan borjuis, namun meninggalkannya dengan sengaja untuk masuk ke dalam kubangan proletariat. Ia meninggalkan salah satu, sekaligus tetap menegosiasikan keduanya.

Jika sejauh ini motif dibalik struktur naratif sudah coba dikemukakan, selanjutnya aspek tema bisa kita jadikan pembahasan pula. Banyak referensi Biblikal yang akan kita identifikasi pada persoalan – persoalan yang ditampilkan dalam film ini. Dari yang jelas terlihat seperti pengkhianatan dua sahabat di segmen ketiga yang bisa kita sandingkan dengan narasi Kain dan Abel, atau yang tersirat pada kasus bahayanya “buah terlarang” antara Octavio dan Susana di segmen pertama. Penggambaran itu makin ironis, karena simbol agama melulu ditampilkan, setidaknya dalam setiap adegan dalam ruangan di ketiga segmen, selalu muncul salib di dinding. Hal itu tentu ditujukan untuk menggambarkan derajat kesalehan para karakter di dalamnya. Agama, dengan pesan implisit dari Inarritu akhirnya coba dipertanyakan ulang relevansinya.

Membicarakan film ini, tentu kita sedikit banyak harus menyinggung sang sutradara, Alejandro González Iñárritu. Ia seorang sineas yang menikmati peran menjadi tuhan dalam dunia fiksinya, tidak diragukan lagi. Tapi gaya “menjadi tuhan” tadi berbeda dengan pendekatan serupa yang diusung oleh Paul Thomas Anderson di “Magnolia” misalnya. Iñárritu menikmati peran sebagai tuhan, namun ia tidak menyadarinya, atau dalam pengistilahan yang lebih tepat, tidak mengumumkannya secara terbuka pada penonton seperti dilakukan Anderson. “Jejak tuhan” Iñárritu yang paling kentara sudah tentu terlacak dari jalinan struktur kisah yang ia hadirkan untuk menggabungkan tiga lingkungan di tiga segmen yang berbeda agar “seakan” punya keterkaitan. Yang jelas, ia melakukannya dengan memandang negatif prinsip kausalitas.

Dalam hokum alam ala “tuhan Iñárritu”, hubungan antara dua entitas akan selalu menimbulkan kerusakan, baik fisik, material, bahkan spiritual (silahkan perhatikan sekuens tabrakan mobil yang saya pikir bisa menjelaskan argumen tersebut secara lebih gamblang). Saya memberanikan diri untuk menebak – nebak, bahwa Inarritu dengan setumpuk referensi alkitabiahnya, akhirnya cukup terpengaruh dan mengadopsi ide Tuhan di Kitab Perjanjian Lama dalam gaya penyutradaraan yang ia bangun. Tuhan Perjanjian Lama adalah Tuhan yang pemarah, dan siap menghukum siapapun yang cukup sombong sehingga berani merencanakan masa depan, persis seperti yang dialami karakter Octavio atau Valeria misalnya.

Retorika kamera yang ia pergunakan juga bisa kita maknai sebagai wahana proyeksi tiap – tiap karakter di dalam struktur kisah tersebut, untuk memancarkan kondisi psikologis masing – masing. Ia pun seakan menambah legitimasinya sebagai sutradara melalui pendekatan tersebut. Karena mengontrol sudut pandang, berarti pula Inarritu tengah menciptakan kesadaran universal kita sebagai penonton. Ia mempersempit batas interpretasi, karena sejak awal, walaupun tampak lapang kita jelajahi, adegan – adegan dalam “Amores Perros” tidak akan membuat kita tersesat terlalu jauh dari keinginan sang sutradara. Interpretasi itupun nyaris melulu negatif, karena seperti sudah dijelaskan sebelumnya, dalam film ini, setiap karakter ataupun entitas yang bersinggungan akan hancur pada akhirnya.

“Amores Perros” tentu bukan sebuah mahakarya yang betul – betul baru, atau secara menyebalkan sering dijuluki sebagai “modern classic”. Ia harus diakui repetitif, dan malah kental terpengaruh sebuah karya lama bertajuk “Bible” sebagai sumber referensinya. Tiga cerita yang terhubung secara naratif maupun simbolis dalam film ini terlalu berbeda satu sama lain sekaligus berjarak, terlepas dari usaha Inarritu memangkas jarak tadi untuk kita, para penonton.

Kisah pertama bisa kita rangkum sebagai campuran film bertema gangster dan romansa percintaan terlarang ala B-movie. Segmen kedua bisa kita analogikan cerpen liris mengenai hadirnya cobaan dalam cinta (yang juga terlarang), dan segmen ketiga adalah perjalanan spiritual yang melewati secara tidak sengaja kedua lanskap yang berbeda tadi. Bisa kita simpulkan bahwa “Amores Perros” menerapkan plot figuratif, dengan menumpukan pergerakan kisah pada gambar, simbol, dan ide, dibandingkan mengadopsi pola narasi film yang bercerita secara eksplisit maupun implisit melalui dialog. Mungkin karena itu pula, kehadiran anjing yang cukup sentral di setiap segmen, bisa menjadi pengantar yang bagus bagi para penonton untuk memahami esensi film ini.

“Amores Perros” akhirnya, berbicara banyak bukan karena cara penyajian konflik yang tidak terlalu kreatif itu, namun karena ia berbicara dengan lantang menggunakan bahasa jamannya yang kontemporer. Saya pernah menyebutkan di tulisan lain mengenai profil Iñárritu, bahwa pola penceritaan yang ia bangun bersama Ariaga merupakan tindak subversif pada tradisi sastra Istana Sentris yang banyak menghegemoni kebudayaan dunia.

Pendekatannya di film ini, di lain pihak, sekaligus merupakan sebuah aksi sabotase retorika kamera ala MTV. Mise-en-scene cepat, dinamis, dan amat bertumpu pada editing (rapid editing), itu sekilas tidak ada bedanya dengan kebanyakan pendekatan sineas di masanya (film ini diproduksi tahun 1999). Di awal Milennium, semua didesain serba cepat, termasuk di dalamnya editing film, maupun pergerakan kamera. Namun retorika kamera tadi, tidak banyak menawarkan sesuatu, karena satu alasan, yaitu pendekatan – pendekatan tadi sama sekali tidak membicarakan sesuatu. Dalam istilah lain, mereka terasa kosong, karena tidak ada substansi yang perlu disampaikan.

Akhirnya bahasa sekadar menjadi bahasa. Retorika sekadar menjadi retorika, tanpa mampu keluar dari penjara universe of discourse. Disanalah letak perbedaan visi Iñárritu. Ia memberi landasan motivasional yang cukup untuk alasannya memakai teknik nonlinier. Di saat sineas yang lain percaya bahwa sekadar menguasai teknik untuk mencengkram perhatian penonton saja, kita sudah bisa mengukur kepantasan sebuah karya disebut “masterpiece”, dan seolah tugas sudah usai. Sinema modern dunia nyaris bernuansa seragam. Asalkan penonton bisa tertarik menyaksikan apa yang terpampang di layar, maka sebuah film sudah dapat dikatakan berhasil. Iñárritu menolak ide semacam itu, dan juga mengingatkan bahwa itu semua tidaklah cukup. Style tidak akan membawa kita kemana – mana. Ia membuktikannya, melalui film ini, bahwa style hanyalah alat pendukung, tak lebih dari variasi teknik penulisan saja jika kita menggunakan analogi dunia sastra.

“Amores Perros” terbukti tak lekang oleh waktu karena ide di dalamnya yang secara konsisten menggugah kesadaran kita. Dan yang paling penting, ia berkisah mengenai sesuatu yang dekat, yaitu soal manusia dan kemanusiaan, dan karena konsistensi itulah, ia tidak sekadar bercerita soal abstrak. Film ini mengajak kita membicarakan sesuatu yang kongkrit. Sepanjang pengetahuan saya, selama sebuah karya mampu mengundang setiap penikmatnya untuk singgah dan berbagi tafsir, maka karya tersebut merupakan karya yang telah tunai tugasnya. “Amores Perros” dalam tataran itu berhasil, dan saya lebih suka menyebutnya – alih alih menggunakan penyebutan “modern classic” yang menjemukan – sebagai “ sebuah elegi unik di era modern”.

N.B: Sebagai salah satu film yang masuk dalam kategori favorit saya, “Amores Perros” belum pernah sekalipun saya coba tulis ulasannya, kecuali sekilas dalam tulisan mengenai profil Alejandro Gonzales Iñárritu untuk kepentingan blog tempo hari. Sekalian saja, dalam rangka memperingati hari ulang tahun nenek saya yang bertepatan dengan pengalaman saya menyaksikan film ini kedua puluh kalinya, saya buatlah tulisan ini.
Jujur, karena menyaksikan film inilah, saya memberanikan diri belajar tentang tetek bengek sinematografi dan film studies. Atas dasar itu pula, saya anggap tulisan ini sebagai ungkapan terima kasih pada film yang berpengaruh cukup besar bagi hidup saya ini. Tabik!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: