“Sherlock Holmes” dan Upaya Merayu Pelanggan Baru

Baiklah, saya sudah menyaksikan banyak komentar, dan pandangan – baik mengutuk ataupun memuji adaptasi kesekian mahakarya Conan Doyle dalam format sinema – yang bertajuk “Sherlock Holmes”. Sebagai sebuah brand, merek dagang, “Holmes” sudah menawarkan sebuah konsep jadi. Sebuah paket utuh misteri, ketegangan, lika – liku pengungkapan kasus, dan tentu, pencerahan atas sebuah labirin pertanyaan di akhir kisah. Dari sana kita sedang menyaksikan kekuatan sebuah merk dagang. Kita tidak membeli sekadar kualitas, tapi juga membeli sensasi. Garansi yang dikultuskan. Sensasi yang kita perkirakan.

Jika Guy Ritchie menolak memberi kita sensasi yang biasa kita dapatkan, bisakah tindakan itu kita analogikan serupa dengan Coca Cola menjual soda yang tidak “krenyes – krenyes”, atau Levi’s yang baru kita beli tiba – tiba sobek dalam waktu tiga hari saja?

Kalau film ini dibuat paling tidak satu dekade yang lalu, mungkin analogi itu benar. Tapi, pun, analogi itu tidak salah seratus persen. Perubahan sebuah merk dagang, sangat mungkin menimbulkan resistensi dari pelanggan lama. Namun itu diperlukan untuk menjaring pelanggan baru. Sayangnya, yang dirubah memang elemen paling fundamental dari sebuah merk dagang. Kalau Coca Cola tidak lagi mewakili merk minuman ringan, apa kata dunia? Kalau Sherlock Holmes tidak lagi jualan misteri, lantas?

Yupz, itulah kelemahan mendasar film adaptasi Guy Ritchie ini, dengan catatan, saat film ini dibaca dari kacamata fundamentalis pemuja kisah misteri, detektif, dan kemurnian thriller yang mengasah otak. Atau kalau boleh lebih ekstrim, itu perspektif pemuja brand “Sherlock Holmes” sendiri. Dan saya agak jemu melihat orang masih terpancing oleh strategi Hollywood yang sebenarnya mentok sejak awal millenia kemarin dipergunakan lewat interpretasi Sam Raimi atas Spiderman. Perdebatan soal hilangnya aura “Sherlock” tidak ada bedanya dengan wacana salah seorang fans Batman yang ngamuk – ngamuk di IMDB, karena Nolan merubah fiksi kartun kesayangannya menjadi “Law and Order” ^_^. (Walaupun saya akui, LOTR atau Golden Compass, atau semua adaptasi Dan Brown, tidak memakai formula serupa)

Hollywood yang bisa kita prediksi tengah kering ide, tampaknya percaya betul pada satu trik ampuh agar orang – orang masih menoleh pada mereka. Ubah brand yang sudah mapan. Superhero menjadi tidak super lagi. Jadikan mereka punya anak, ditolak cintanya, alias, jadikan mereka manusia. Di sisi lain, ubah manusia biasa yang cerdas dan cermat, berintelektual tinggi, menjadi superhero.

Karena itulah, memperdebatkan film ini bukan dari kualitas keseluruhan bagi saya sia – sia. Kita hanya akan memperkarakan mahadaya interpretasi. Tidak, saya sudah muak Roland Barthez dikutip untuk mendukung “kematian pengarang”, dan melahirkan pengarang – pengarang yang baru. Karena memang itu yang terjadi, dan bukan sebuah fenomena yang mencengangkan, lagi baru. Yang saya tahu, sebagai sebuah film pop corn, “Sherlock Holmes” menarik disaksikan, tapi tidak layak disimpan dan disaksikan berkali – kali. Dengan jualan utama-nya yang menawarkan sensasi perubahan, film ini memang disiapkan untuk menjebak kita dengan interpretasi yang berbeda, dan memaksa kita untuk membicarakannya, bahkan kalau perlu berdebat, seusai kita menyaksikannya.

Mari mulai dengan melihat apa yang ditawarkan film ini. Robert Downey Jr berperan sebagai dirinya sendiri. Ritchie mempersiapkan dia untuk menjadi dirinya, sepanjang film, dan nyatanya berhasil. Karena ia memang menarik untuk disaksikan. Jude Law, terlepas dari analisis kawan – kawan yang lebih fanatik “Holmes”, dan merasa ia kurang tambun ataupun cerdas, disiapkan untuk menjaga keberadaan chemistry dua karakter utama. Dan strategi ini juga berhasil. Yang paling berhasil adalah pembuktian Guy Rithcie membelanjakan jutaan dollar dengan benar, dan pas. Film ini bertutur secara lancar lagi encer, pas sekali dengan trademark apapun yang disebut film komersial untuk kepentingan blockbuster. Kostum, tata musik, dan setting muram London, plus London Bridge yang belum tuntas dibangun, semua mengena dengan kompak. Juga aksi di dok pembuatan kapal, rumah jagal, ataupun di gedung parlemen Inggris, semuanya merupakan kejutan bagi saya, karena Ritchie berhasil memberikan visual suspense yang dramatis dan efektif, paling tidak untuk membuat kita sedikit lebih cepat memacu jantung. Itu satu – satunya pendekatan yang belum pernah diupayakan Ritchie di film – filmnya yang dulu.

Selebihnya, kita harus ingat, Guy Ritchie merupakan sineas yang berjihad untuk mengutamakan style diatas segalanya. Sekuens putar ulang kejadian atau foreshadowing kejadian berikutnya sudah ia terapkan di “Rock N’ Rolla”. Adegan tinju Sherlock akan kita bandingkan dengan aksi serupa Brad Pitt di “Snatch”. Apalagi, kalau hanya twist scenario dan slow motion yang bejibun membajiri film – film karyanya. Secara agak kasar, saya akan menyebut “Sherlock Holmes” sebagai “Lock, Stock, and Two Smoking Barrels” yang bepretensi agar lebih cerdas dan lucu. Memang film ini lucu, dan menyegarkan, tapi memang harus kita akui tidak cerdas. Kecerdasan itu ditempelkan, di sela – sela kebutuhan karakter yang terbukti secara motivasional, hanya perlu menyelesaikan permasalahan yang menimpa mereka lewat berjibaku dengan ledakan, pedang, peluru, juga tongkat listrik bedaya kejut tinggi.

Saya sepakat dengan mbak Sabai, bahwa ini landmark Guy Ritchie yang lain. Tidak lebih. Karena itulah, dari tawaran – tawaran anyar film ini soal “Sherlock Holmes”, saya rasa pendekatan untuk menghadirkan sensasi penghilangan total nuansa detektif, akan jatuh jadi agak picisan saat dibandingkan dengan karya yang memiliki pendekatan mirip. Ambil contoh, interpretasi Nolan di “The Dark Knight”. Ia tidak serta merta membuang pelanggan Batman lama. Cita rasa Batman diperlukan untuk menjaga perasaan pelanggan yang mungkin kadung terbiasa pada tawaran sensasi lama. Dan “Sherlock Holmes” harus diakui, betul – betul melupakan pelanggan lama tadi.

Tapi, inilah yang saya tangkap sebagai momen utama film ini. Dalam pesan singkat Guy Ritchie kepada kita semua, para penonton. Pesan itu terwakili dalam adegan saat Holmes dan Watson berangkat menuju lokasi Blackwood bangkit dari kubur. Di dalam kereta kuda Watson meninju muka Holmes karena kekesalannya pada sobatnya yang merusak malam lamaran Watson. Namun, secara simbolis, saya menangkapnya sebagai satu pesan, Downey ataupun ide soal Sherlock Holmes yang dilekatkan padanya, adalah ide – ide usang. Sementara Jude Law, sebagai “separuh” Watson, merupakan representasi Guy Ritchie itu sendiri. Dan secara simbolis, ide lama dipukul tepat dihidung. Ini ide yang baru kawan. Wheter you like it or not. Adegan yang bisa kitan baca sebagai pesan yang cukup sentral dalam film ini.

Saya sih memang bukan penggemar Conan Doyle, atau cerita – cerita detektif. Jadi saya tidak keberatan. Saya adalah audiens baru, pelanggan baru, yang tidak mempersoalkan ketiadaan detail sebagaimana konsep lama memilikinya. Lha wong saya memang tidak paham, Sherlock Holmes yang “asli” itu seperti apa. Jawaban saya, oke, tawaran menarik, tapi cukup sekali aja ya. Kalau kedepan Sherlock Holmes bakal jadi rockstar pemabuk senang berkelahi, dan sudah tidak menyisakan ruang kecerdasan intelektual diatas rata – rata, jangan salahkan Guy Ritchie semata. Kita lihat saja seberapa banyak massa pendukung dan penolak tawaran ide baru itu.

Bagi anda Sherlock Holmes mania “asli”, apa mau dikata, silahkan tunggu adaptasi film yang sesuai selera, atau bikin saja tandingan intepretasinya yang anda anggap lebih sahih.

Senada ujaran kondang Gus Dur, “Gitu aja kok repot!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: