“Idiocracy” – Kebodohan masa depan dan ilusi kemajuan ala Historisisme

Saat seorang kawan mengajak nonton film di laptopnya, rasa malas awalnya memenuhi pikiran saya. Bukan apa – apa, saya terlanjur tinggi hati soal film, dan terlanjur kena sindrom “picky” dalam hal memilih film apa yang harus saya tonton. Apalagi, saya hafal betul seperti apa selera film – film kawan saya tersebut. Koleksi Judd Apatow plus segala macam film parodi ber-embel – embel “bla, bla, bla, movie” seringkali menjadi pilihan utamanya. Nyaris saya bilang saya tidak tertarik. Tapi karena dia memaksa, akibat tidak ada teman melewatkan malam minggu (saya juga hikz), apa boleh buat pikir saya waktu itu. Pada akhirnya, orang sombong memang akan kena batunya.

Film yang saya saksikan tersebut amat lucu, bahkan setelah tiga kali saya mengulang menontonnya (durasinya cukup pendek, tidak sampai 90 menit), lama – lama saya ngeri sendiri. Karya Mike Judge bertajuk “Idiocracy” ini, begitu menggelitik nalar saya. Melihat hype yang sedikit sekali terkait film tersebut, dan saya baru tahu bahwa film tersebut rilis di Amerika tahun 2006, saya yakin menyimpulkan bahwa film ini cukup underrated, padahal ide yang ditawarkan cukup segar plus menghibur.

Premis yang ditawarkan film ini sederhana. Orang pandai di dunia mulai mementingkan diri sendiri, menjauhi kegiatan prokreasi (bikin anak sederhananya, hehehe), dan melakukan penelitian untuk hal – hal yang tidak penting. Akibatnya, jumlah populasi orang dengan IQ diatas rata – rata jatuh, dan dunia didominasi orang – orang ber-IQ rendah yang memang rajin memperbesar pohon keluarga. Dus, di tahun 2505, dunia dipenuhi orang – orang yang tidak cerdas, menyukai kekerasan, banal, dan yang lebih parah, yang ada di otak mereka hanyalah sex, dan sex, dan sex.

Dalam dunia yang kaotis tersebut, bangkit dari hibernasinya, prajurit Joe, dan seorang pelacur Rita. Mereka merupakan dua kelinci percobaan Pentagon yang terlupakan, akibat proyek membekukan manusia itu ditutup saat kepala proyeknya terlibat bisnis prostitusi. Yang paling lucu, Joe dan Rita dipilih untuk dibekukan karena kemampuan intelektulitas mereka yang “rata – rata”. Nah, di masa depan yang absurd tersebut, Joe yang tertangkap polisi karena tidak memiliki barcode, diharuskan mengikuti tes IQ. Bisa dibayangkan, ia menjadi orang terpandai di seluruh dunia. Kejadian konyol pun berlanjut kemudian, hingga presiden Amerika Chamaco (Ia terpilih jadi presiden karena prestasinya sebagai juara dunia gulat bebas lima kali, dan bintang bokep sekaligus, hehehe), mengangkatnya menjadi menteri dalam negeri untuk menyelesaikan problem negara yang seabrek.

Luke Wilson tampil sebagaimana ia selalu tampil di film – film yang ia bintangi (kecuali di Royal Tennebaum, tentu). Miskin ekspresi dan datar. Untung ini bukan film yang perlu kualitas akting mumpuni (tapi jujur, pemeran manusia masa depan sangat menjiwai peran sebagai orang – orang tolol). Tapi bukan akting sebenarnya yang saya amati, namun lebih pada ide yang ditawarkan. Film ini, entah saya tidak tahu soal agenda si sineas, namun saya yakin semangat yang diusung merupakan semangat posmodern.

Serupa kritik Nietzsche, Popper, Foucault, atau Lyotard pada kecenderungan historisisme, film ini secara lugas menggambarkan bahwa pakem – pakem kisah sains fiksi yang selalu percaya masa depan akan dipenuhi gadget canggih, mobil terbang, dan segala macam hanyalah ilusi yang belum menjadi kenyataan. Paham historisisme ala Hegel misalnya, percaya bahwa gerak sejarah akan selalu maju dan bermuara pada sempurnanya “roh dunia”. Marx, di lain pihak, meramalkan bahwa masyarakat tanpa kelas akan hadir pasca keruntuhan kapitalisme. Fukuyama, secara hiperbolis, menggambarkan bahwa akhir dunia sudah terjadi, dan kapitalisme akan memperluas kemakmuran di seluruh dunia.

Well, premis film ini, sebodoh apapun ide yang ditawarkannya, sebenarnya tidak terlalu ngawur saya pikir. Kita sekarang bisa melihat bagaimana masyrakat dunia semakin tenggelam pada banalitas. Televisi meracuni kita dengan reality show yang bodoh, plus banyak mengejarkan kekerasan pada anak dibawah umur. Belum lagi konsumerisme merajalela. Dalam film ini, kritik kapitalisme juga sempat mencuat, saat digambarkan bahwa karena krisis keuangan tahun 2032, pemerintah Amerika Serikat mengijinkan departemen pangan dan kesehatan (BPOM barangkali kalau di negara kita), diakuisisi oleh perusahaan minuman energi. Belum lagi selera seni masarakat yang semakin rendahan pula (ini bagian favorit saya, karena pemenang Oscar delapan kali plus penyabet skenario terbaik adalah film bertajuk “ASS”, dan selama sembilan puluh menit hanya mempertontonkan pantat telanjang ^_^).

Saya rasa, film ini mampu memberikan refleksi pada kita betapa bahayanya jatuh pada budaya – budaya yang banal. Dan sekali lagi, saya pikir, sebetulnya masyarakat di masa kita hidup sekarang tidak jauh berbeda dengan apa yang digambarkan dalam film tersebut. Gerak sejarah memang harus diakui, tidak akan selalu sejalan dengan apa yang kita inginkan. Sebagai film komedi yang sederhana, film ini saya anggap film yang berhasil, tanpa banyak tendensi untuk menyampaikan pesan moral. And really, it is fun to watch.

So everyone, beware, we are going to be more and more stupid!

Iklan

3 Tanggapan to ““Idiocracy” – Kebodohan masa depan dan ilusi kemajuan ala Historisisme”

  1. mau linknya donk, sepertinya nggak pernah melihat dvd ini.. hehe.. terimakasih 🙂

  2. first of all, u have a nice blog!
    met kenal ya 😀
    film ini sukses pula bikin saya tertawa ngakak, remembert about museum of fart? 😀

  3. mantab ne film dah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: