Merantau dan Tuhan bernama Evans

Leila S. Chudori menyebutkan, saat membahas film ini di kolom hiburan majalah Tempo edisi khusus kemerdekaan lalu, bahwa setting dan tema yang klise dari ”Merantau” sepatutnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Ia menafsirkan usaha sineas Gareth Evans sebagai keinginan agar kisah dongeng itu kontekstual dengan realitas.

Namun dalam deskripsi selanjutnya, Leila memaparkan, dalam hati ia ingin menyaksikan film tersebut dikemas di sebuah dunia antah berantah, sehingga pencak silat harimau yang hadir dalam imaji penonton menjadi lebih tuntas, lantas memendarkan kemilau yang lebih murni.merantau4
Bukan sekadar tafsiran “orientalis” Gareth Evans itu.
Leila menimpali pula bahwa keasyikan silat berkurang karena pendekatan koregrafi yang mirip dengan karya – karya Shaw Brother ataupun Woo ping-Yuen. Dari beberapa scene, menurutnya, dapat diendus sedikit pengaruh koreografi pertarungan ala film – film Jackie Chan.

Namun apakah “Merantau” betul – betul kehilangan sentuhan magis pencak silat harimau Minang, dan terjatuh menjadi kisah laga generik? Dalam beberapa aspek, mungkin. “Merantau” menurut bayangan seorang Gareth Evans membebani dirinya sendiri dengan dua tujuan. Pertama melakukan representasi dari sebuah realitas.
Dalam hal ini ia berambisi mendokumentasikan artefak sosiokultural Minang, yaitu silaturahmi. Atau seperti diucapkan dalam dialek Minangkabau, menjadi silet. Kedua, membangun sebuah maujud dunia yang kaotis, jauh dari moralitas, serta mengandaikan tujuan hidup sudah ditentukan, bukan pilihan. Sudut pandang yang biasa merujuk pendekatan aliran sastra “ Naturalisme” Emile Zola.

Untuk usaha yang pertama, Evans nyaris gagal karena memang usaha semacam itu berisiko terdistorsi oleh beragam hal. Pendekatan Evans untuk menghadirkan sebuah aksi laga bernuansa baru, dengan jargon memperkenalkan silat, akhirnya ia korbankan dengan imbalan pemacu adrenalin dosis tinggi. Sebagaimana dijelaskan Stuart Hall, representasi ‘memang’ kerap beroperasi untuk tidak obyektif. “Rather than objectively reflecting the world as it is, thus construct shifting realities as they perceived trough various, ideologically informed filters and channels.” urai Hall.

Oleh sebab itu representasi tidak akan pernah mampu menghadirkan rupa realitas sebagaimana adanya. Evans pun sebenarnya mahfum bagaimana pola itu berjalan. Ia juga tidak mengusahakan hadirnya penyimpangan pakem set list adegan laga. Jika silat harimau menjadi sedikit kung fu, yang perlu dinilai bukan lagi orisinalitas gerakan tubuh, namun harus lebih kepada esensi nilai. Berpijak dari titik itulah representasi yang dianggap berhasil, selalu berasal. Kurosawa tidak akan dilirik jika hanya bernaung di bawah panji – panji artistik kendo. Ia memilih jalur lain, dengan cara mendesain “Shicinin no Samurai” serta “Yojimbo” sebagai monumen nilai filosofis kultur samurai. Juga Zhang Yimou, yang menuntaskan nilai – nilai beladiri tiongkok dalam epik megah berlatar sejarah penyatuan peradaban Tiongkok, bertajuk “Hero”.

Karena itulah pendapat Leila belum menyasar pada pembahasan kualitas representasi nilai kehadiran dari budaya silat dalam “Merantau”. Yang dimaksud oleh Leila barangkali kurangnya aktualisasi nilai yang terlihat dari semua laku Yuda (diperankan dengan cukup baik oleh Iko Uwais). Sudahkah peran seorang Yuda menjembatani sikap seorang pesilaturahmi Minang dalam segala lakunya, agar tersampaikan potongan mozaik utuh di kepala penonton?

Ia mengajari Adit, si maling kecil, bahwa silat tidak sepatutnya ditujukan untuk berkelahi, apalagi untuk melakukan tindak kejahatan. Ia menolak untuk bekerja bersama Erik, sejawat barunya di Jakarta, saat muncul penawaran menjadi tukang pukul bayaran. Beberapa contoh tadi masih serupa dengan konsepsi tentang pendekar dalam banyak kebudayaan. Belum ada yang baru.

Ia pun jujur, namun adakalanya ia menaklukan moralnya untuk berbohong pada orang yang paling ia cintai, mak-nya (Christine Hakim tidak terlalu cemerlang sebetulnya, namun ia tetap berhasil memaksa kita menanti kehadirannya). Terutama saat ia merasa gagal memenuhi impian sementaranya mengajar silat.

Satu ironi muncul, karena di awal cerita si Mak sudah mengingatkan Yuda untuk tidak memaksakan diri, menjadi seseorang yang sempurna selama merantau. Kebohongan kecil lewat adegan percakapan telepon, barangkali puncak konflik terbesar film ini. Dalam titik tersebut, Evans terlihat berambisi memanusiakan representasi pendekar. Ia memanusiakan Yuda, menjadi seseorang yang gagal menaklukan egonya sendiri.

Sayangnya Yuda belum menjadi sosok. Ia baru sekadar tokoh. Ia hanya pion, dengan kuasa ragawi lebih, dibandingkan karakter lain dalam kisah ini. Penyebabnya bisa kita alamatkan pada tujuan kedua Gareth Evans dalam membangun konflik. Evans percaya, supaya konflik hadir tanpa banyak pertanyaan lagi, dunia “Merantau” harus muncul sebagai model dunia yang terdeterminasi dan mutlak berwarna abu – abu. Semua terjadi dengan ia menjadi tuhannya. Lewat jalan itu, ia leluasa menghadirkan konflik, yang barangkali dalam perspektif berbeda tampak dibuat – buat, menjurus konyol.

Namun dalam dunia tanpa moral dan penuh kebetulan seperti itulah, para karakter coba dihadirkan. Imbasnya Yuda kurang punya kendali. Ia hadir tidak untuk menguasai ruang imaji, namun ia melengkapinya. Maka dari itu, kita menemukan pembenaran atas kutuk Yuda pada Astri yang menurutnya, “Selalu muncul di depan saya”, dan memaksa ia untuk menolong gadis kasar itu dari gangguan para begundal.

Dari sana pula pijakan untuk menilai karya ini berasal. Pretensi Leila terbukti berlebihan karena film ini sudah berbicara maksimal untuk kepentingan artistiknya. Selebihnya merupakan area dari ekspektasi tiap kepala. Baik itu ide mengenai perlunya imajinasi yang lebih total, ataupun kehendak pribadi saya agar karakter “Yuda” yang lain nantinya punya nilai “ikonik” sebagai representasi orisinalitas karya laga Indonesia, sudah tak penting lagi dilibatkan dalam pembahasan “Merantau”. Malah wacana – wacana itu membuktikan satu hal, film ini tuntas menunaikan tugasnya.

Pendek kata, sebagai karya yang sedikit kedodoran mengupayakan representasi yang maksimal, serta mengonstruk dunia baru yang hiperbolis dari kenyataan, “Merantau” tetap layak dekat pada sanjung puji. Lepas dari negara manapun sineasnya, karya ini memang menawarkan banyak kebaruan dalam satu paket kisah. Cukup berlimpah eksperimentasi konflik serta aspek teknis yang belum banyak dicoba oleh sineas negara ini. “Merantau” memandu kita untuk terus percaya, bahwa yang lain, yang berbeda, itu mungkin untuk diupayakan.

N.B: Sejak parade film summer kemarin, baru Up dan film ini yang membuat saya tidak merasa sia – sia membuang duit. Omong – omong, sejak sekarang, segera saja dinventarisir budaya silat harimau Minang itu, karena takutnya ntar diembat sama Malaysia juga, hehehehehehe….

Iklan

Satu Tanggapan to “Merantau dan Tuhan bernama Evans”

  1. etapi bener omongan leila. sbg penonton, saya bosan kalo ada adegan cakap yang berlama-lama. wes tah, kesuwen, ndang bak bik buk ngono loh.

    :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: