Coen dan Obervasi atas Kebodohan

Kebodohan kerap dinarasikan sebagai penanda betapa dhaif-nya manusia. Kisah – kisah yang memuat pesan sentral kebodohan senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi untuk menimbulkan impresi yang sama. Bahwa kebodohan haruslah dihindari, sebisa mungkin ditinggalkan. Pun narasi agung sekelas kitab suci telah berujar lantang, “berbeda derajat orang yang berilmu dan yang tidak!”

Di wilayah itu Joel serta Ethan Coen masuk dan membawa kita turut serta. Menikmati karya Coen bersaudara merupakan wahana identifikasi.
Mereka mengamini betul apa yang pernah dimaktubkan oleh filsuf Susanne Langer, bahwa film merupakan “a poetic composition”…“organic”, dan “creating a sense of giveness”.
burn_after_reading_poster
Semua proses identifikasi nilai estetika film setidaknya dalam mahzab Langerian, bakal mengantar kita pada satu kesimpulan: Manusia – sesuai teori mahluk simbolik Langer – akan memanfaatkan potensi manipulatif sinema agar menghasilkan identifikasi yang lebih berjarak. Ia merupakan wahana yang menjamin tertautnya jangkar tetap pada tempatnya. Dan kita dimungkinkan untuk bertahan, dari proses terombang – ambing yang biasanya menyakitkan saat melakukan refleksi diri.

Kedua Coen itu sadar betul akan potensi tersebut. Labirin pelik proses kreatif telah mereka haturkan dalam ”Barton Fink”. Irasionalitas dan sisi gelap impulsif manusia mereka sorot di ”Fargo”. Kesemuanya berpuncak dalam ”No Country for Old Men”. Dalam film peraih beragam penghargaan itu, Coen bersaudara mencipta kolase kebusukan manusia. Sebuah representasi – meminjam istilah Ayu Utami untuk menggambarkan kualitas citraan puisi Jokpin – mengenai manusia dengan ”tubuh yang compang – camping dan nyaris tak sempat memikirkan harga diri.”

Terbiasa dengan pola itu, barangkali, dalam karya teranyar-nya ”Burn After Reading” kemasan yang ringan sama sekali tidak menghindarkan kita dari perjumpaan pahit dengan kenyataan. Dan kenyataan itu berbicara banyak perihal kebodohan, segala konsekuensi yang ikut serta, juga betapa fakta lain yang lebih menyakitkan berujar: Semua itu melekat secara atributif pada status kemanusiaan kita. menciptakan rasa “terberi” (giveness) yang khidmat sesuai apa kata Langer.

Deretan bintang papan atas, macam George Clooney, Tilda Swinton, Brad Pitt, hingga Frances McDormand, merupakan buah strategi awal yang diterapkan Coen Bersaudara. Strategi itu berujar ”Buat penonton tidak terjaga, agar mereka fokus pada citraan tokoh, bukan alur!”. Dalam istilah lainnya, deretan kasting wahid itu bertugas menyamarkan kodrat tipikal film yang bertipeplot driven. Dengan begitu, saat alur menukik begitu dalam, dan seharusnya orang – orang bisa dengan mudah menduganya, momen tersebut tetap aman dan audiens akan tetap tercekat karena tak mampu berjaga secara penuh.

Strategi kedua, pertahankan pakem komedi hitam. Di strategi ini, Coen bersaudara bahkan nyaris nampak seperti dua orang maestro yang sedang malas melakukan apapun. Mari kita lihat tema besarnya terlebih dahulu, agar apa yang saya maksud menjadi jelas. Empat orang pegawaifitness centre menemukan CD, berisi memoar rahasia mantan analis CIA yang sedang dalam proses dihabisi secara finansial oleh si mantan istri. Dan kerumitan itu masih ditambah pula oleh keterlibatan seorang pegawai depkeu Amerika yang selingkuh dengan istri analis CIA tadi.

Komedi hitam selalu rumit. Ia melibatkan kelihaian untuk memindahkan unsur realisme, lantas memelintirnya agar menjadi kepahitan yang menyenangkan untuk disaksikan. Sungguh Coen bersaudara amat beres untuk yang satu ini. Saking beresnya, tidak ada lagi kebaruan penyajian alur kisah. Oleh karenanya, film ini nyaris jatuh menjadi tipikal. Tapi itu pandangan yang sama malasnya dengan tidak mempertimbangkan sifat Coen bersaudara yang telah saya utarakan.

Mereka berdua, merupakan generasi paling anyar dari sineas dunia, utamanya dari Amerika, yang rela menyempatkan diri untuk melakukan spesialisasi tema. Untuk bidang observasi atas dekadensi manusia, Coen bersaudara bisa jadi mendapatkan gelar Ph.D. Dari situlah gelar maestro ”neo noir” disematkan pada mereka. Tentu noir yang dibicarakan ini jauh dari wacana teknis saja. Kita tidak tengah membahas noir yang sekadar menampilkan setting gelap, kemunculan femme fatale, ataupun kisah misteri sebagai latar cerita laiknya pakem noir klasik.

Coen membiarkan semua berjalan dalam benderang cahaya. Tapi dari sana Coen menjatuhkan kita kedalam jurang kegelapan. Bagi Coen bersaudara, kegelapan manusia sudah lebih dari cukup untuk menenggelamkan kita (baca: penonton) kedalam lautan frustrasi. Maka wajar jika kelindan kebodohan, sebagai representasi sisi gelap manusia, yang hadir dalam ”burn..” tidak perlu menjadi terlalu gelap. Sebagai komedi, film ini merupakan komedi yang terang dan jelas. Parahnya, ia bukan pula metanoia. Kisah ini tidak menuntun kita untuk turut serta menginsyafi kebodohan. Yang terdengar adalah ajakan untuk meratap, terkejut, dan menyesal.

Kini jelas, mengapa obsesi McDormand pada operasi sedot lemak, keluguan dan kebebalan Brad Pitt, sifat impulsif John Malkovich, ketidaksetiaan Clooney, sebagai beberapa contoh kebodohan yang ditampilkan dalam film ini, yang biasa mudah kita rujuk dan kita observasi sebagai medium ”meditasi reflektif ala Susanne Langer” tadi, jauh dari kesempatan untuk bisa terwujud. Coen bersaudara melakukan satu hal kecil, dan itulah rahasia terbesar film ini. Mereka melepaskan tambat yang mempertautkan jangkar bernama ”jarak” atas ”diri” dalam kisah ini. Semakin fiksional dan absurd kisah berjalan, semakin kita gagal melakukan identifikasi diri secara aman. Dan itu terjadi hanya karena beberapa aplikasi strategi diatas, yang menjauhkan penonton dari keterjagaan.

Coen bersaudara tak pernah berkhianat pada diktum Langer. Mereka merubah yang fiksi menjadi organik dalam tataran impresi. Kali ini, di ”Burn After Reading” mereka sedang meng-organik-kan wacana kebodohan. Untuk tujuan itu, mereka berani memasang tudung kamuflase bertajuk komedi, dengan risiko kesalahan interpretasi. Risiko itu toh terbayar. Di tengah lautan tawa, kita akan amat terganggu, dan semakin terganggu seusai kisah ini berakhir. Penonton akan tetap dalam kondisi “terberi”, dan menerima segala luapan emosi absurd dari Coen Bersaudara.

Strategi mereka di film ini bisa dibilang formulaik. Tapi keterpukauan akut Coen bersaudara pada sisi gelap manusia tidak terbantahkan lagi, memang mengikat. Yang formulaik pun jadi efektif. Itu karena usaha mereka mengejar hasrat agar berhasil memindai kegelapan manusia-lah, yang menjadikan film ini jauh dari kata gagal.

Iklan

Satu Tanggapan to “Coen dan Obervasi atas Kebodohan”

  1. Saya benar-benar menikmati plintiran sisi-sisi kebodohan manusia dalam komedi gelap Coen bersaudara di “Burn After Reading”. Adegan paling terakhir, menurut saya, menyimpulkan inti cerita dari film itu, sebuah percakapan antara petinggi CIA yang benar-benar have no clue on what’s happening.

    “Burn After Reading” film Coen bersaudara yang pertama kali saya tonton dan saya jadi kepingin nonton film2 mereka yang sebelumnya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: