Tamasya “Muram Gembira” ala Hathaway

Saya memang mudah terkejut. Tampaknya kedepan saya harus berhati – hati dengan macam kejadian yang memiliki kemungkinan untuk mengejutkan. Karena terbukti jantung saya cukup berbakat untuk berhenti mendadak dengan sedikit stimulus saja. Dan nyaris saya mengalami apa yang selama ini saya takutkan, saat menyaksikan ”Rachel Getting Married”.

Memang, sebelumnya saya sudah mendapatkan sedikit banyak informasi, perihal pujian yang dialamatkan pada Anne Hathaway, 6a00d83451e17769e201127963a2c528a4-800wisoal aktingnya yang menawan dalam film tersebut. Namun, tetap saja, rasa terkejut itu terjadi saat saya menyaksikan akting tersebut dengan mata kepala saya sendiri.

Keterkejutan sebenarnya sudah hadir saat saya membaca nominasi Academy Award lalu. Nama yang biasanya lebih identik dengan peran – peran ”sweetheart” nan cute, kok bisa – bisanya nyelonong bersaing dengan aktris – aktris ”berkelas”, dan tentunya lebih punya nama soal akting macam Meryl Streep, atau Kate Winslet.

Kemudian datanglah hari saya mendapat serangan jantung mendadak itu. Kakak saya meminjam film dari rental langganan. Dia bilang, ”bintangnya si ”Princess Diary” lho!”. Walhasil, saya langsung antusias. Saya merasakan nafsu sok ala ”movie buff” untuk membuktikan, apakah benar segala pujian itu tidak salah alamat.

Dengan pemahaman ala kadarnya soal akting, saya menilai dengan ego tinggi ala kritikus film kawakan, sejak scene pertama dimulai. Dan dari awal film itulah, saya langsung melongo. Scene yang menampilkan tiga orang yang tengah duduk terdiam itu, sempat membuat saya lupa mengamati – dan bahkan nyaris tidak sadar – kalau Anne Hathaway ada disana.

Ia tuntas dalam menampilkan aura pecandu yang tengah mengikuti rehabilitasi, bernama Kymberly. Tidak ada lagi sosok cute, dan sungguh, jauh dari kesan manis. Impulsif, dan penuh dengan character flaw. Melalui sosok kompleks itulah kita pun dipandu, pada lawatan pesta nantinya.

Kredit tersendiri pantas dialamatkan pada Jenny Lumet, sang penulis skenario. Anak kandung aktor Afro-Amerika kondang Sydney Lumet itu, memberi kita nuansa yang senafas dengan cara Shirley Jackson mengawali kisah mencekam di cerpen paling kondangnya, ”The Lottery”.

Jika ”The Lottery” memberi kita gambaran pesta rakyat nan aneh (karena tidak ada kegembiraan, laiknya perayaan tradisional seharusnya berlangsung, dan alih – alih yang nampak adalah perasaan tegang yang muncul halus disana – sini) ”Rachel…” membawa kita pada rasa kekeluargaan yang kagok, bahkan kadang mengancam.

Sikap si ayah, ( diperankan oleh Bill Irwin – dan ia bermain brilian) Paul, yang menyambutnya sekeluarnya dari panti rehabilitasi memang sewajarnya dilakukan oleh ayah pada anak. Tapi, kita akan melihat, bahwa dibalik sorot matanya, tersimpan sejumput kekhawatiran, dan kita masih harus menerka – nerka, permasalahan apa yang tengah menanti kita hingga scene berikutnya di tampilkan.

Selanjutnya tidak ada terlalu banyak kejutan, tidak muncul dramatisasi berlebih, dan anda akan melihat keceriaan keluarga yang akan melangsungkan hajatan perkawinan. Sungguh, jika bukan karena akting para pemainnya yang cukup di atas rata – rata, sayapun akan mengantuk. Tapi sekali lagi, Jenny hanya meninggalkan bolong di penggambaran pesta yang terlalu sering.

Mungkin kritikan terbesar, harus ditujukan pada sineas Jonathan Demme yang terlampau sibuk membentuk atmosfir ”gerakan neo-realis gaya baru ala handeld camera”. Asyik sih memang, cara tuturnya memanfaatkan kementahan gambar hasil handycam. Tapi, ia lebih sering membuat kita pusing, dan nyaris ia benar – benar memberi kita rangkaian gambar macam shooting manten, bukan lagi ”serasa”.

Sayangnya misi saya kan bukan mengamati rangkaian film ini secara utuh. Saya betul – betul konsentrasi untuk menyaksikan Anne Hathaway. Dan secara keseluruhan, ia memang mendapat porsi yang pas, untuk muncul dan memaksa kita, bersepakat dengan apa yang ia rasakan. Kita dipaksa untuk bersimpati, terkadang bahkan mendorong kita apabila memungkinkan terlibat, memberi ia motivasi untuk bertahan.

Ia angsa hitam aneh yang diacuhkan dalam pesta kawinan ala Hippies cum pluralis tersebut (gimana ndak gitu, lha wong yang nikah kulit putih dan kulit hitam, dan dilaksanakan dalam adat hindu). Dan karakter Kym seperti bertemu katalis yang pas untuk makin menyinarkan pesonanya, lewat permainan emosi penuh nuansa dari Rosemarie DeWitt yang berperan sebagai Rachel, si kakak yang bakal menikah.

Terakhir saya menyaksikan pertunjukan emosi yang fluktuatif dengan asyik adalah saat melihat ”Before Sunset”. Bangun emosi yang dipertontonkan Ethan Hawke dan Julie Dephly saat itu begitu rapuh, dan kita sering ikut terperosok jatuh. Begitu pula dalam penampilan Anne dan DeWitt.

Mereka sosok adik kakak klise, yang bisa tiba – tiba berubah, dan meledak menjadi dua orang musuh dengan luka dalam masing – masing yang tidak akan dapat dihapus. Belum lagi sosok ibu muram yang dimainkan ciamik oleh Debra Winger, dalam menambah kompleksitas cerita. Ia sosok yang tidak bisa disentuh, dan ia bertanggung jawab penuh atas ending film ini yang keren.

Begitulah kisah ini bermula dan berakhir. Kita yang dipandu dalam drama keluarga generik, yang biasa dalam titik pangkal permasalahan, namun dituturkan dengan teramat sabar, menanti setiap penonton untuk tidak terjaga, hingga kita dipastikan jatuh sesuai keinginan Lumet Jr. Serupa Shirley Jackson, kita dihadapkan akhirnya dengan tragedi. Bedanya, tragedi dalam ”Rachel..” berlangsung dalam kacamata audiens. Dan bukan lagi para karakter itu yang menanggungnya.

Berapa film sudah menampilkan kisah disfungsi keluarga, apalagi di Amerika. Kenyang sudah kita rasanya. Lepas dari latar kisah yang cukup berwarna (mungkin didasari juga oleh latar belakang keluarga Jenny Lumet yang memang multirasial) sebenarnya kisah ini standar – standar saja. ”American Beauty” sudah terlanjur mematok ukuran yang kelewat tinggi soal bagaimana persoalan disfungsi keluarga ditampilkan dan diinterpretasikan.

Lepas dari komparasi yang saya lakukan, melalui karakter Kym, film ini menampilkan kekuatannya yang paling besar. Anne Hathaway memandu kita untuk selalu memintal perasaan was – was, dan tidak nyaman. Memang itulah pesan sentral film ini. ”Rachel…” merupakan tamasya kedalam peristiwa yang memicu lubuk hati kita yang terdalam, untuk tidak ingin terlibat didalamnya. Karena kita akan disuguhi kenyataan pahit, bahwa luka sepedih apapun ternyata tidak bisa disembuhkan.

Yang jelas, Anne Hathaway tidak pantas disejajarkan dengan sejawat alumni Disney yang lain. Ia berada di tataran yang berbeda. Dan merupakan sebuah kesia – siaan besar apabila ia tidak menggali potensinya lebih jauh.

Setelah film usai, saya baru sadar, kakak saya tidak berada di samping saya lagi. Ia sudah ada di kamar. Sebelum saya bertanya lebih jauh, ia berkata, ”Film-e mboseni. Ga seperti yang kubayangkan, Anne Hathaway kok main serius!”

Saya jadi berpikir keras, untuk memaknai apa yang dimaksud ”serius” itu…..

Iklan

2 Tanggapan to “Tamasya “Muram Gembira” ala Hathaway”

  1. setujaaaa!
    Anne Hathaway was so fresh in this movie..
    Dari scene pertama udah bqn kaget aj mbak satu ini..

  2. sipppp!
    jeng hathaway emang “keluar” dari cangkangnya saat maen di film ini. tampilannya super keren [berantakan khas junkie, rambut oke, wayfarer gaya, merokok, meracau] dan tawa getirnya histerikal.
    sempet berkaca2 juga pas paginya doi balik lagi ke rehab diem2, tanpa sepengetahuan orang rumah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: