UP dan Mite Sisifus

Apa yang anda cari dari sebuah hiburan? Pun jika hiburan memberikan lebih dari sekadar hiburan, maka anggap saja itu bonus. Namun benarkah kita berhasrat sebanal itu dalam memandang hiburan?

Itulah yang coba Pixar tantang pada kita. Jika sekali waktu sebuah rancang bangun karya bertajuk “animasi” pernah berhasil membawa kita ke sebuah tawaran pelik bernama “keindahan” serta “kedalaman” sebelumnya, akankah kita menolak tawaran serupa yang datang?

Berangkat persis dari pertanyaan yang muncul seperti diatas itulah, sikap saya dalam mengantisipasi UP. up-pixar-posterTernyata ia lebih indah dari yang saya bayangkan. Karena ia berangkat dari sebuah ritus, dan ritus itu bernama kegilaan perfeksionis kolektif bertajuk Pixar. Sebagai sebuah nama, Pixar menjamin – dan itu hal yang belum mampu dicapai oleh pesaing yang lain – akan sebuah kelindan kisah dan sajian visual nan memukau.

Untuk itulah orang mengeluh. Mengapa ekspektasi yang saya bangun selalu berhasil dilampaui? Mengapa saya ingin sekali tidak memuji film ini, namun, apa daya?

Ya apa daya seorang tua yang cuma memiliki kenangan masa lalu?

Seorang sepuh yang sudah melepaskan semua harapan. Manusiawi sekali. Dan kalau saya hendak mencemooh ’UP’, di titik tersebut saya akan melakukannya. Karena UP tidak membatasi batas kemenangan. Kisah macam UP jelas sekali musuh bagi semua kisah – kisah nan kelam, naturalis ala Emile Zola, atau bisa juga tipikal nihilistik macam kisah dari Sartre.

Carl Fredericksen tidak seharusnya melepaskan diri dari bayang – bayang kelemahan dirinya. Mengapa kulminasi semangat untuk menjadi, pinjam Nietzsche, seorang Ubermensch (dalam konteks mewujudkan impian berpetualang di masa kecilnya) itu hadir di waktu yang terlambat? Bisa jadi kalangan skeptis ala Sophis Athena bakal mentertawakan gagasan duo sineas Pete Doctor dan Bob Peterson ini. Mana bisa seorang proletar (dalam konteks kisah ini penjual balon) mampu menjaga impiannya tetap hidup, ditengah himpitan kesulitan hidup sehari – hari?

Tapi alih – alih terperosok ke lubang kehinaan produk pikiran dewasa, UP dengan lincah memperolok kedewasaan itu sendiri. Manakala anda berfikir bahwa Pixar sering membuat animasi yang terlalu rumit bagi anak – anak. Saya berani bilang, anda keliru! Baru kali inilah Pixar menekankan aspek cerita dengan sasaran tembak terang benderang: ”alam pikiran dewasa”.

Impian Carl dan Ellie adalah tipikal kisah yang meminjam narasi Sisifus. Untuk fragmen pahit Charles Muntz, tengoklah kisah Ikarus atau Macbeth. Anda serasa menemui epigon. Dan jalinan kisah besar yang disasar Pixar tidak sesederhana petualangan seorang sepuh bersama pramuka cilik peranakan Cina – Amerika, anjing yang bisa berbicara, beserta hewan langka yang mengingatkan audiens pada Icon Warner Bros, sang penakluk tokoh ironis Willy Coyote, Roadrunner itu.

Ia bercerita mengenai celah kemungkinan menghancurkan narasi Sisifus yang nyaris serupa kutuk tak terhindarkan. Ia menghadirkan tafsir baru atas kesederhanaan. Secara garis besar, setiap penutur kisah yang baik, bolehlah merujuk pada UP untuk mempelajari bagaimana “willing suspension of disbelief,” ala Tolkien diterapkan dalam menuturkan kisah. Dan meminjam ajaran Tokien mengenai metoda penceritaan fiksi tersebut untuk diterapkan dalam kaidah sinematografi, seorang sineas harus bisa membuat setiap orang percaya dan sepakat dengan dunia yang dihadirkannya. Analogi kebalikannya adalah mengandaikan Saussure tidak yakin bahwa bahasa itu arbitrer. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana rapuhnya sebuah bangun pemikiran yang tidak yakin dengan apa yang coba ia bangun.

UP berdiri dengan gagah, mencoba membuktikan, bahwa tiada relevan saat ini untuk tetap mendikotomikan manusia dan non-manusia. Disini dunia yang menjadi tujuan utama tamasya. Dan tidak ada dalam kesepakatan sebelumnya dunia ini harus maujud sebagai dunia manusia yang penuh kekalahan. Namun yang kalah pun hadir disini – dalam karakter seperti Carl, Muntz, atau bahkan Alpha (saya amat suka karakter anjing dengan kalung suara rusak ini), untuk sekadar memberi aksen, bahwa setidaknya anda masih bisa menemukan referensi mengenai dunia yang tengah anda hidupi sekarang.

Maka anda bisa bandingkan narasi serumit itu dengan Kisah persahabatan di Monster Inc., Kesetiaan dan cinta kasih natural dalam Finding Nemo dan The Incredibles? Jelas UP jauh lebih rumit secara substansial untuk anak – anak.

Mungkin jika Pete Docter mengikuti langkah Andrew Stanton untuk tidak terlalu ambisius seperti hal-nya di WALL-E, UP akan mampu melampaui ”Wizard of Oz” atau ”Alice in Wonderland” dari segi kisah. Sayangnya Docter tidak berhasil memberikan kita identifikasi pada tipe karakter yang hadir di kisah ini. Kalau mereka memang dimaksudkan sebagai refleksi manusia kebanyakan, maka keringlah emosi yang tergali saat Docter menggambarkan konflik antara Carl dengan Russel (saat bertengkar perihal rencana penyelamatan Kevin), atau saat Russel mengalami momen kehampaan karena kehilangan sosok ayah yang dahulu kerap menemaninya dalam momen – momen minor semisal berlomba menghitung warna mobil yang lewat. Tidak ada dramatisasi di sana. Dan sayangnya ini bukan kisah realis, karenanya, unsur penekanan seperti itu amat dibutuhkan.

Sebenarnya momen itu hadir, namun karena demikian indah, barangkali lacur semua energi dicurahkan oleh segenap dalang di Pixar untuk menyempurnakan fragmen minim kata di flashback kisah “Carl dan Ellie”. Hanya yang bukan manusia yang tidak menemukan dirinya terpapar disana, dan oleh karenanya tersentuh.

Untuk itulah saya bersorak. Setidaknya saya berusaha keras, dan mampu menghindarkan diri dari menulis sanjung puji. Namun apalah kritikan saya ini, dihadapan efektivitas slapstick (humor kalung suara rusak, atau kevin menelan bola tenis di tongkat berjalan milik Carl), innocent-nya suara Jordan Nagai (Russel bahkan dalam beberap momen lebih menggemaskan dari si imut ”Boo” dalam Monster Inc., dan tentu saja seperti saya sudah sampaikan sebelumnya, konsistensi menghadirkan peluang menghabisi tradisi Sisifus. UP menyadarkan setiap orang, bahwa tidak ada ketidakmungkinan atau kemungkinan, karena semua berkelindan dalam satu sisi mata uang yang sama. Dan dari sudut pandang itu, UP melantunkan sembah dan puji bagi Brahma.

Atau bisa juga diringkas semua yang telah saya tulis menjadi berbunyi: ”Jika anda malas memaknai kisah ini, setidaknya anda tetap mendapat ganjaran yang setimpal untuk kemalasan anda itu, yaitu anda akan terus mengingat film ini sesudah anda menonton, mungkin untuk waktu yang cukup lama.”

Oh, tapi sudahkah saya bilang bahwa WALL-E masih jauh lebih bagus?

Iklan

2 Tanggapan to “UP dan Mite Sisifus”

  1. Pixar memang menjadi sebuah tradisi akan kesempurnaan, sebuah oase ditengah makin banalnya hollywood dengan franchise dan sequel, yang melahirkan easy money yang penghargaan akan sebuah karya.

  2. brontosaurus Says:

    PIXAR make a “heart” animation!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: