Kisah Biseksualitas? Bukan ah, Ini Hanya Sekadar Igauan dari Simbah Yang Mulai Menyebalkan

Okay, saya memulai dengan apologi saja dulu. Sudah banyak review sebenernya yang menanti di laptop untuk dipublikasikan. Namun, maafkan saya oh, khalayak ramai, karena saya memang pandir, sehingga my document terlalu saya percayai untuk menyimpan data sedemikian berharga. Pada akhirnya, ketika penyakit kronis laptop menolak disembuhkan, ikut tewaslah data – data saya yg lumayan banyak karena
diperparah dengan kenyataan bahwa saya tidak mem-back up anak – anak pikiran itu.
vicky-christina-barcelona (1).sflb

Bicara tentang kepandiran saya tadi, setelah dipikir – pikir betul, masalahnya juga menjadi pelik karena kebebalan dilibatkan pula. Sudah banyak kawan sudi menyumbangkan nasehat, “segera back up datamu itu!” Nyatanya? Terlalu malas saya melakukannya, dan menyesal pula akhirnya. By the way, tidak hanya saya seorang saja ternyata yang pandir sekaligus bebal lho! Mbah Woody Allen ternyata memiliki problem serupa dengan saya.

Dalam karya-nya yang paling gress, “Vicky Christina Barcelona”, simbah yang satu ini masih saja konsisten “pandir” sekaligus “bebal” dalam bertutur lewat format seluloid. Oke, saya akui “Annie Hall” itu bagus, istimewa malah, demikian pula “Manhattan”. Namun formula yang sama, yaitu eksplorasi mengenai seks dan cinta, malah membuat ia tampak seperti anak kecil yang memaksakan kehendak.
Di karya teranyarnya itu, ia menggunakan skema narasi yang setia memandu penonton untuk memahami bahwa dua orang karib, Vicky serta Christina, sedang berlibur di Barcelona. Di liburan itu nantinya dua orang sahabat tersebut akan bertemu dengan pelukis flamboyan Juan Antonio, saling jatuh cinta dalam hubungan yang aneh, dan diperparah dengan kehadiran mantan istri Juan yang bipolar dan rapuh Maria Elena.

Entah siapakah yang membisiki simbah satu ini, setan atau malaikat, tapi yang jelas keberadaan si narator tidak serta merta menjadikan film ini unik, tapi malah menyebalkan. Bagi anda yang pernah membaca novel Andre Aksana, the songong author itu (tribute to sastrawan jahat R.I.P) – Allen jadi seperti penulis “ra cetho’ macam si Aksana itu – menganggap penonton orang yang masih berada di masa jahiliyah, sehingga belum mampu mengapresiasi rangkaian gambar yang mereka lihat. Imajinasi anda dibatasi, karena suara hati tiap karakter dijelaskan dengan gamblang (di scene yg menggambarkan tokoh Vicky murung, si narrator secara sewenang – wenang menjelaskan bahwa Vicky sedang gundah karena perasaanya). Atmosirnya seperti “Hey, ini memang bukan nonton film kok, ini adalah dongeng sebelum tidur, dan Allen mendongengi kita tanpa kita boleh punya impresi yang berbeda darinya!”

Belum lagi dialog kacangan menyebalkan yang membuat actor sekaliber Javier Bardem tampak bodoh mengucapkannya, “Perasaan cinta ku itu ada yang kurang, seperti sudah ada vitamin dan kalsium, tapi, tidak ada mineral!” Oh my merciful God! Ups, ada satu yg terlupa, film ini juga membuka borok mbah Allen yg ketahuan ga apdet informasi. Hari gini ngomongin tayangan TV streaming di internet dengan antusias? (pas adegan makan malam bersama Vicky dan suami menyebalkannya Doug – akting pemerannya paling hancur di film ini – komplit sudah)

Ehm, kalau yg bicara karakter dengan latar belakang kurang berpendidikan okelah, tapi digambarkan si Doug ini pengusaha muda yang mobile, pintar, dan melek teknologi. Kelihatan sekali simbah Allen yang sebenarnya “nggumun”. Demikian pula dialog soal batasan moral umum dan semangat libertan dalam aktivitas seksual. Please deh mbah, kamu ni ngajak dialog penonton tapi malah nge-jugde duluan, gambarannya seperti berikut:
Mbah Woody: “Bagaimana menurut kalian soal biseks? Itu memang ga aneh dan sah – sah saja, hei penonton, kamu jangan menilai sepihak, ga boleh itu!” (padahal kita berkomentar saja belum)

Oke – oke, cukup sudah caci makinya, karena ada aspek yang luar biasa di film ini, yaitu akting dari Penelope Cruz, sebagai perempuan istri seniman flamboyan yang fragile, inkonsisten, kasar, bawel, posesif, bipolar (memiliki kondisi emosi yang mudah berubah secara ekstrim), serta suicidal. Komplit, dan semua itu terwakili lewat semua aspek kehadirannya di tiap adegan ia muncul. Pantaslah ia mendapat Oscar untuk perannya sebagai jembatan konflik cerita ini. Ia pula yang berhasil membangun chemistry dengan Bardem (yang tampak ikut arus akting jelek di awal hingga pertengahan film, walau stabil kemudian) dan mengajari dua aktris lainnya soal akting (kecuali kemampuan alamiah Johansson dalam membangkitkan gairah seksual lawan jenis).

Cerita boleh garing, dialog boleh hancur, tapi untungnya penilaian soal film ini tidak serta merta ikut lebur. Simbah Allen bolehlah berterima kasih pada Bardem dan Cruz karena sudah membawa filmnya naik setingkat dari neraka penghinaan. Yah, bagi pengikut fanatik Woody Allen, sori no offense, simbah yang satu ini memang sudah saatnya pensiun. Ngelanturnya sudah ga asik lagi. Dan tampaknya dia masih berminat untuk tetap memaksa kita terlibat dalam igauan personalnya itu dalam karya – karyanya yang akan datang.

Iklan

2 Tanggapan to “Kisah Biseksualitas? Bukan ah, Ini Hanya Sekadar Igauan dari Simbah Yang Mulai Menyebalkan”

  1. love Cruz!! keren bgt maennya! wuuuuuh smpe ak mkir emg gtu lah karakter aslinya seorang Cruz. wow!
    Barcelona juga amat sgt indah.. huhu

  2. hahahaha.
    tapi saya malah menikmati narasi film itu lho karena seperti dongeng, bukan dongeng sebelum tidur seperti waktu saya masih keci, tapi dongeng orang dewasa. film Vicky Christina Barcelona seolah ingin mengatakan, ini dongeng “dewasa” yang mlintir, berkonflik, dan tidak “mulus” happily ever after seperti di cerita Cinderella atau Putri Salju.

    setuju, aktingnya Penelope Cruz sangat mengangkat film ini. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: