Hidangan Murah Meriah ala Eastwood

Boleh jadi nama besar tidak menjamin seseorang bisa terhindar dari rasa bosan. Dan kecenderungan tersebut terlihat dalam sepak terjang Clint Eastwood dalam karya terbarunya, Gran Torino. Dalam usianya, ditambah dengan beragam pencapaian yang berhasil didapatkan, barang tentu akan lebih enak jika ia santai di ranch-nya yang amat luas di Los Angeles itu. 2971452274_01f81cc37fTapi, mungkin pengaruh karakter “si tanpa nama” yang ia lakoni dalam western spaghetti klasik The Good, The Bad, and The Ugly sudah terlampau menancap erat, dan enggan melepaskannya. Proyek Changeling ternyata tidak perlu waktu yang terlalu lama untuk disusul dengan film tentang rasisme dan kultur kekerasan di Amerika ini. Hanya saja, bisa ditangkap mood personal Eastwood kali ini. Ia ingin kembali melakoni sebuah peran, setelah terakhir kali ia lakukan tahun 2004 lalu dalam filmnya sendiri pula Million Dollar Baby.

Bosan mungkin satu kata yang terlalu spekulatif. Karena hanya Eastwood seorang yang tahu alasan ia tetap melanjutkan tradisi kemaruk dengan mengambil porsi aktor utama dan sutradara sekaligus. Namun, pendekatan itu tetap ia secara berani ambil karena dua kali berhasil dengan gemilang. Baik Unforgiven maupun Million Dollar Baby memang mampu memadukan kegemilangan visi Eastwood dengan kecermatan pengarahan akting setiap karakternya. Namun ada satu hal yang barangkali terlupa olehnya. Dalam dua film terdahulu, ia – sebagai salah satu pemeran utama – terbantu untuk tetap fokus pada porsi perannya, karena aktor pendukung yang lain juga tuntas memagari porsi kehadiran masing – masing di tiap adegan.
Jika di Unforgiven, Gene Hackman dan Morgan Freeman bermain apik, dan sebaliknya Eastwood malah bermain terlalu biasa, maka Million Dollar Baby berhutang budi pada karisma Hillary Swank. Nah, apabila pengimbang di sektor akting macam mereka tidak ada, maka “keberanian” Eastwood kali ini bisa dibilang gagal dalam wilayah tersebut. Nyatanya Gran Torino memang menyedihkan dalam soal akting. Eastwood satu – satunya yang menjulang sepanjang film, dengan melakoni peran seorang veteran perang Korea, kulit putih yang tidak terlalu berpendidikan, bekerja di pabrik Ford, anti barang impor – utamanya mobil jepang, dan gagal berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Namun Eastwood jadi terlihat istimewa karena pemeran yang lain terlalu menyedihkan untuk disaksikan.
Saya membayangkan bahwa Eastwood harus bekerja ekstra keras dengan mengoptimalkan kapasitasnya sebagai aktor dan menyelamatkan filmnya, dan akibatnya peran sebagai sutradara tidak optimal. Padahal ia terkenal sebagai sineas yang sedikit banyak fokus pada sisi peran, dan sukses mengantarkan tiap pemeran filmnya mendapatkan penghargaan, diantaranya Tim Robbin, Sean Penn, atau yang paling akhir kemarin adalah Angelina Jolie. Dan kenyataan memang pahit. Nyaris tidak ada scene stealer di karyanya kali ini. Bee Van, aktor muda keturunan Vietnam, yang ditandemkan dengannya bahkan gagal hanya untuk memerankan diri sendiri.
Dengan setting di Michigan atau sekitarnya – karena memang tidak disebutkan – yang jelas di Amerika bagian ndeso, Walt Kowalski si veteran perang yang baru ditinggal mati sang istri, tiba – tiba harus membiasakan diri dengan kehadiran imigran Hmong (etnis mayoritas di daerah Segitiga emas, dan sebagian Vietnam) di lingkungan RT-nya. Sikap rasisnya yang awalnya sangat ditunjukkan malah menghilang pelan – pelan, setelah ia membantu keluarga Hmong tetangganya mengusir geng Hmong (yah, salah satu nilai plus film ini karena menambah pengetahuan kita bahwa di Amerika ada geng etnis lain diluar Hispanik, Italia, dan kulit hitam) yang memaksa anak bernama Thao masuk ke kelompok mereka. Dan maunya sih, akar masalah dan konflik berkutat di mobil kesayangan Walt, yaitu Ford Gran Torino tahun 1965. Tapi cerita kemudian kehilangan arah, dan lebih fokus mengksplorasi hubungan persahabatan antara Walt dan Thao, dan sampai akhir film, mobil Gran Torino itu tidak memiliki signifikansi yang terlalu kuat pada cerita, dan sebenarnya cuma jadi tempelan saja.
Parahnya, semua pemeran Hmong di film ini kaku sekali. Padahal mereka memerankan diri sendiri, yah, tapi mungkin itu memang bagian yang paling susah. Dan Eastwood gagal mengarahkan mereka, karena ia sendiri kesusahan untuk membuat dirinya fokus. Walt sudah berusaha membangun chemistry sewajar mungkin dengan si Thao yang diperankan Bee Van, atau dengan karakter Sue, namun kedua peran Hmong utama tersebut menghancurkan chemistry itu begitu saja. Namun untuk urusan membangun emosi, kapasitas Eastwood sebagai sineas kawakan terbukti belum menghilang. Entah magis apa yang ia gunakan, cerita yang sebenarnya cukup klise itu, terbukti mampu saya lewati dua jam kurang tanpa ada momen bosan.
Persahabatan orang tua menyebalkan dengan anak polos, dan relasi antara mereka mungkin memang memiliki nilai jual tersendiri. Finding Forrester, Scent of Woman, atau animasi Pixar yang terbaru Up juga berhasil dengan tema – tema macam itu. Bedanya, jika ada proses take and give dalam hubungan antar karakter utama, maka konsep itu yang tidak ada dalam Gran Torino. Eastwood menghegemoni semuanya, namun tampaknya ia mengejar sesuatu yang lain. Yaitu proses penebusan dosa, dan kesadaran eksistensi, ditabalkan melalui jalan yang relatif baru dalam karyanya kali ini. Saya pun baru menyadari hal ini setelah membandingkan ending film ini dengan ending film – filmnya terdahulu, semisal Fistfull of Dollar, Dirty Harry, atau Unforgiven.
Ada perubahan pola, dari kesadaran eksistensial yang hadir melalui kekerasan an sich, kini Eastwood memakai sudut pandang yang berbeda dalam memandang kekerasan – yang ironisnya ditujukan untuk memutus mata rantai kekerasan – dan ia tampaknya akan sering mengulang formula itu di masa depan. Jika anda sedang luang, film ini adalah pilihan yang ibaratnya “Murah meriah”. Tidak istimewa, namun kadang anda bisa terkejut melihat hasil akhirnya. Dan memang disitu letak keistimewaan Eastwood. Tapi saya berharap ia esok memilih salah satu tugas saja, dan tidak kemaruk macam sekarang agar kualitas karyanya naik menjadi hidangan mewah dan berkelas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: