Eastwood, Kali Ini Engkau Memberi Terlalu Banyak Pertanyaan!

Beberapa masa sebelum hari Kartini kemarin, tanpa agenda apapun, saya menyaksikan sebuah film Eastwood bertajuk “Changeling”. Barangkali memang saya ditakdirkan untuk balajar ulang memahami hakikat “peran seorang Ibu” (dalam konteks ini kita dapat mengasosiasikannya dengan dorongan naluriah perempuan) changeling-poster-fullsize secara lebih universal. Jargon – jargon emansipasi perempuan, kasih sayang seorang ibu pada anaknya, serta lebih jauh lagi perjuangan manusia untuk mencari kebenaran tidak pernah klise dalam dunia yang ditampilkan Eastwood. Lebih menohok lagi, kisah di film tersebut berpangkal dari sebuah narasi yang benar – benar terjadi di Amerika tahun 1920-an.

Kisah berpusat pada sosok seorang single parent di Tinseltown, Los Angeles (yang diperankan dengan cukup apik oleh Angelina Jolie, setelah cukup lama ia mengubur sendiri potensi keaktoran tingkat wahidnya itu dengan bermain di beberapa film Blockbuster kacangan) bernama Christine Collins. Penyelia sambungan telepon itu nyaris tanpa cela dalam hidupnya. Berprestasi di tempat kerja (karena mampu bersaing dengan sejawat lelaki – hal yang belum terlalu lazim pada masa itu), mampu merawat anak semata wayangnya, serta menarik secara fisik.

Kesempurnaan itu runtuh saat anaknya secara mendadak menghilang dari rumah. Kepanikan mulai ditampilkan pada penonton secara pelan – pelan. Kisah pencarian anak hilang ini, tidak dibangun sedramatis Ben Affleck saat menyodorkan kisah serupa di “Gone Baby Gone”. Konflik secara perlahan datang, silih berganti, mulai dari tanggapan pihak kepolisian Los Angeles yang lamban, masuknya advokasi pihak gereja yang berusaha membuktikan borok LAPD yang dituduh korup dan kejam, hingga berpuncak pada gerakan massal melawan ketidakadilan jender. Pertanyaan perihal moralitas dan ambiguitas hukuman mati juga sedikit banyak ditampilkan disini, melalui sosok Arthur Hutchinson, pedofil maniak penyebab kasus ini bermula.

Begitu banyak hal diungkap oleh Eastwood, dan sayangnya itulah kelemahan teknis film ini. Barangkali usaha itu ditempuh untuk menjaga akurasi sesuai kisah nyata yang terjadi, namun dibanding film – filmnya yang lain – dengan ciri khas emosional, gelap, dan kadang bergelora, namun fokus – “Changeling” terasa sedikit datar, dan terlalu “dingin” serta kadang tidak memebri pijakan bagi penonton untuk memamah pesan yang disampaikan. Aspek yang paling kuat justru muncul bukan dari fragmen perjuangan Christine yang tidak kenal lelah mendapatkan kembali sang buah hati, namun pada betapa banyak kepentingan ingin bermain dari perasaan seorang individu.

Baik kepolisian (dengan menjalankan skandal pemalsuan dan mengirim Collins – yang bersikeras bahwa anak yang ditemukan polisi bukanlah anaknya yang sebenarnya – ke rumah sakit jiwa demi menjaga citra), hingga pihak gereja lewat representasi pendeta Gustav Briegleb (diperankan dengan cemerlang oleh John Malkovich) yang amat bernafsu menghabisi integritas kepolisian dan secara tidak sadar memaksakan Christine menjadi pion ambisinya menyulut aksi massa menentang kesewenang – wenangan birokrasi kota.

Salah satu aspek yang kuat pula dari film ini adalah kebersahajaannya mengusung isu kesetaraan jender. Memang, di film ini digambarkan perlawanan perempuan yang di”institusioanlisasi”kan karena melawan dominasi patriarki. Namun, apa yang dilakukan Christine menentang tindakan aparat di rumah sakit jiwa pada perempuan jauh dari cita – cita luhur feminis kontemporer. Apa yang ia lakukan lebih menyerupai kisah Christine Perkins dalam “The Yellow Wallpaper”. Sebuah memoar istri yang di “gila” kan oleh kuasa medis patriarki. Jauh dari kesadaran akan kesetaraan dan jargon – jargon mewah lainnya, kedua perempuan tersebut menyerang titik pusat keangkuhan patriarki lewat kesadaran epistemologis dan afektif mengenai rasa sakit pada pengekangan hak hidup seorang manusia. Fitrah manusia memang tidak rela dikebiri ruang hidupnya oleh manusia lain, lepas dari apakah ia laki – laki atau perempuan.

Karya ini bukan yang terbaik dari katalog Clint Eastwood, terlebih karena ia membebani kita terlampau banyak momen untuk berkontemplasi. Namun jika kita menyisihkan beberapa aspek, dan fokus pada peran Angelina Jolie saja, mungkin ada jalan yang lebih lapang – bagi kita untuk merefleksikan posisi – ditengah hiruk – pikuk psikologi massa sepanjang film. Dimana kita dipaksa secara halus untuk memberi ruang padanya bercerita, dan balik menanyai diri kita sendiri, apakah keberpihakan kita pada perempuan memang tulus, ataupun masih banyak diboncengi tujuan lain. Di hadapan dua macam muara pilihan pilihan itupun, kita masih harus berfikir keras mencari jawaban yang paling jujur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: