Mengenang “Si Tukang Ejek Nomor Wahid”

Saya bukan penggemar sejatinya yang juga merupakan penggemar sejati itu sendiri. Paradoks kekaguman saya terhadap sesosok besar dunia perfilman Indonesia yang saya alami, mengganggu saya akhir – akhir ini. Betapa kekaguman tersebut, bisa jadi lebih merupakan cermin reflektif yang sengaja saya pergunakan untuk menelanjangi diri sendiri. Dalam menghadapi momen untuk menuliskan secuil testimoni ini, saya memilih untuk melepaskan semua pretensi, menghamburkan semua keangkuhan, dan menari dalam kondisi nyaris telanjang, tapi entah mengapa semuanya terasa macam epifani saja. saya tidak malu mengakui bahwa saya tidak terlalu mengenalnya, karya – karyanya, ataupun segala macam atribut personal yang melekat di belakang namanya. Dengan sedikit kilas balik – melalui perjumpaan dengan dirinya pula – saya serasa mengamini dosa dalam ketidaktekunan menyuntuki ragam karya perfilman Indonesia. Tidak, bukan berarti saya menumbuhkan bibit chauvinisme rendahan dengan menganggap tidak menonton film Indonesia sebagai kontrarevolusi, ataupun, pinjam frasa paling menyebalkan bagi saya, “tidak nasionalis”. Perasaan bersalah tersebut muncul melalui kesadaran yang timbul, bahwa saya telah melewatkan banyak momen kemanusiaan dahsyat yang pernah tercatat dalam rangkaian sejarah panjang dunia perfilman Indonesia.

Sekali lagi saya ingin gagah berucap, saya tidak pernah mengklaim diri sebagai almanak film berjalan, saya tidak pernah mengangkangi hati kecil saya bahwa saya tidak tahu apapun perihal film, dan itu selalu muncul selepas saya berjumpa kembali dengan “guru spiritual” personal saya ini. Barangkali ada diantara anda yang gemas berucap, “Apa capaian orang yang engkau kagumi itu?”, “Bukankah banyak dari ateur orisinil Indonesia yang lebih laik dikenang?”, atau mungkin “Bukankah ia tidak seagung seniman lain yang menciptakan tonggak estetis dunia film Indonesia?” Kecenderungan fanatisme buta tersebut bahkan oleh saya sendiri tidak dapat dijelaskan secara rigid, ataupun rasional. Dan ajaibnya, saya tidak mendapatkan ekstase tersebut melalui perjuangan yang pantas. Saya tidak selevel orang – orang lain yang mendapatkan ilham melalui usaha keras menggali makna. Saya tidak kesulitan seperti Heidegger yang mengais – ais konsepsi “ada” lewat pembacaan telatennya akan Nitzsche. Namun saya yakin, bahwa saya cukup berterima kasih atas perluasan cakarawala pandang pikiran sempit saya akibat ketidaksengajaan bersinggungan dengan beliau. Yah, beliau, kata yang ikhlas saya ucapkan seakaan saya telah mereguk nikmat serta karunia darinya. Apabila hiperbola ini tidak terkendali, mohon pengertian anda semua bahwa saya sendiri mengalami momen lepas kendali tersebut secara sadar. Dan sebuncah bualan jauh dari absurd ini akan saya tambah dengan fakta, bahwa permulaan kecintaan saya padanya berawal dari hanya tiga film karyanya yang pernah saya tonton.

Banyak “penggemar film” yang merasa tuntas laiknya pergi haji, apabila telah rampung menyuntuki karya seorang sineas, lengkap dari semua katalog yang ia hasilkan. Tidak dengan saya. Saya sudah cukup puas dengan tiga tersebut. Saya masih SMP saat itu, tidak diragukan lagi. Berkat bantuan RCTI-lah, saya yang tinggal di kampung terpencil jauh dari fasilitas nonton film layak, berhasil menyaksikan dengan suksesnya karya sineas yang sering disebut “Bapak film komedi Indonesia” itu. Apabila saya ingat lebih detil lagi, kecintaan saya pada aktivitas “nonton film” bertumbuh pertama kali bukan dari keluarga, namun benar – benar terpantik dari karya beliau. Sebelum saya menyaksikan karya sinematografisnya, saya menganggap film sekadar benda mati. Berkat sentuhan beliau, saya mampu melihat film dengan lebih hidup, sebagai subyek yang otonom, dapat berkelindan di dalam relung hati, dapat murung sekali – kali, dan bisa penuh vitalitas di lain waktu. Ia, sukses luar biasa menyentuh wilayah saya yang paling tidak sadar, menghidupkan tombol ‘on’ di otak, dan mengasah ketumpulan estetis saya.

Hanya dengan “Inem Pelayan Seksi”, “Cintaku dirumah Susun”, serta “ Kipas – kipas Cari Angin” saya mampu mendapatkan lompatan spiritual dan imajinatif dahsyat akan keberadaan ironi, paradoks, serta satir dalam hidup. Bayangkan seorang anak SMP, masih terbata – bata dalam mengeja realitas harus disodori dengan konflik kompleks akan wacana feminisme dan perang atas dominasi kapital akan tubuh lewat kisah di “Kipas – Kipas Cari Angin”. Saya tidak pernah tahu bahwa segala macam lomba kecantikan memiliki problem ideologis yang pantas dilawan, dan selanjutnya menuntun saya untuk belajar semiotika, jika tidak diawali menyaksikan film tersebut di masa puber saya. Saya pun tidak akan peka terhadap obervasi segala hal renik disekitar saya, yang terbukti amat membantu dalam latihan memahami fenomena sosial, jika tidak dibantu ketelatenan untuk mengobservasi mikrokosmos rumah susun dengan segala keruwetan dan absurditas dalam karya besarnya “Cintaku di Rumah susun”. Tidak sampai pada nalar saya waktu itu, bahwa ihwal mengembalikan dompet yang jatuh dijalan, dapat diolah menjadi konflik yang getir namun mengusik hasrat untuk tertawa. Dan saya diajarkan pula pada pentingnya impresi bagi karya sinematografis bahkan sejak momen awalnya. Saya belum menemukan adegan pembuka dalam film Indonesia yang monumental dalam kadar absurditas yang serupa. Bayangkan awal adegan kereta bertubi – tubi secara repetitif melintas didekat tulisan “Selamat datang di kota”, langsung dihantam kita dengan scene rumah susun, disusul adegan nenek bangkotan mencuri botol limun, dan waria naik tangga dicabuti bulu kakinya oleh anak kecil yang tengah belajar mengaji di anak – anak tangga tersebut.

Dan ledakan sensasi akan anda saksikan di film-nya yang sangat menggurui, sangat anarkis, dan sangat komedik sekaligus, “Inem Pelayan sexy.” Saya kurang paham, apakah latar belakang pendidikan formalnya di bidang perfilman di Amerika turut menuntunnya pada wacana posmodernisme, namun Ia membuktikan telah berusaha mempermainkan metanarasi, serta melecehkan logika cartesian, lewat tuturan kisah seorang babu dan taipan mantan tukang sate. Permainan simbolnya barangkali sekarang amat mudah didedah dengan segala macam pisau baik struktural maupun pos-struktural. Ia juga mengahadirkan realitas yang paling getir, macam realitas keberadaan kaum transeksual hingga arisan sosialita dalam satu bingkai yang sama (Nia Dinata jadi terlihat macam pengekor patuh saja), dan jangan lupa, ia hadir tanpa menghiraukan represi struktur Orde baru pula. Tidak ada pretensi berlebihan, dialog bernas, dan minimalnya slapstik yang memuakkan. Lewat beberapa literatur, dan juga sumber blog lain, saya juga baru menyadari bahwa ia telah sering bermain juxtaposisi (Drakula Mantu), mewacanakan kepribadian terbelah manusia modern (A.M.B.I.S.I), ataupun parodi habis – habisan (Koboi Cengeng). Seperti pengakuan saya diawal, saya belum tuntas melihat semua karya – karyanya. Dan saya baru sekadar berusaha melengkapi pengalaman sinematik dengannya saya lebih jauh. Saya jarang menjadi amat personal. Namun rasa berterimakasih ini mengalahkan segalanya. Karena dialah, saya memahami ada banyak orang hebat di dunia perfilman Indonesia masa lalu. Lewat ialah saya dituntun belajar merekam akar sinema Indonesia di diri Usmar Ismail, Sjuman Djaya, Wim Umboh, Asrul Sani, ataupun Teguh Karya. Melalui dialah saya menyadari bahwa dimensi komedi ternyata memiliki wilayah yang amat luas. Gerbang petualangan itu terbuka karenanya. Dan sejumput catatan kecil ini adalah memoar untuk melukiskan rasa hutang budi saya yang amat personal, dan ingin saya bagi ini. Bisa jadi saya tidak cukup pantas untuk menuliskan perihal beliau, dengan ceteknya pengetahuan saya akan segala hal tentang sineas besar ini. Tapi ia juga mengajari bahwa apa yang pantas dan tidak pantas, belum dapat hadir saat belum diperjuangkan. Hadiah kecil ini adalah yang paling maksimal mampu saya berikan untuk mengenang beliau. Sebuah nama yang menjadi tonggak personal saya dalam memandang dunia lewat karya sinematografis. Karena sebuah nama itu, saya berjuang untuk jujur.

Sebuah nama itu adalah Nya’ Abbas Akub.

Dan sampai saat ini saya belum merasa cukup bersyukur pernah mengenal dirinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: