Maniak Seks Juara FFI

Oh Joko, Joko, Joko….

Barangkali itu yang akan saya ucapkan dihadapan seorang Joko Anwar. Seorang ateur muda Indonesia yang digadang – gadang sebagai breaktrough artist dalam dunia sinematografi Indonesia kontemporer. Bukan, saya tidak hendak membincang proyek terbarunya “Pintu Terlarang” yang posternya amat mudah disalah artikan sebagai poster film syur 80-an.

Saya hendak membahas film pemenang Festival Film Indonesia 2008 “Fiksi” yang disutradarai Mouly Surya dan ditulis skenarionya oleh Mr. Joko Anwar yang dahsyat itu.fiksi1 Baiklah, karena, mungkin, tidak memiliki dana yang memadai, atau faktor kedua saya memang tidak gaul, saya menjadi sedikit terkejut film dari negara antah berantah mana itu yang menang FFI? Bukankah FFI adalah festival film terhormat yang memenangkan “Ekskul” yang luar biasa itu? Bukankah FFI pandai membuat sensasi dengan adanya boikot insan perfilman dalam negeri?

Ehm, oke, saya sudah terlalu sinis. Sejujurnya, saya agak memandang rendah keluaran FFI sejak kasus pengembalian piala tempo hari. Dan melihat pemenang penghargaan paling prestisius adalah film “tidak jelas asalnya”, segera saja, setelah saya menyisihkan uang saku, dan ngantri untuk meminjam film itu (yang ternyata keluar juga VCD ori-nya), saya tidak sabar untuk menyaksikannya di “Home Theatre” kesayangan saya, my lovely laptop.

Setelah kurang lebih dua jam, dengan segala hambatan dan rintangan, saya berhasil menyelesaikan perjuangan menyaksikan “film juara” tersebut.

Nah, komentar saya cukup satu saja “Lumayan…”, Bung Joko dan non Mouly ternyata bercerita tentang seorang anak gadis kaya penyendiri yang jatuh cinta secara ekstrim pada seorang pemuda pengangguran – hingga membuntutinya ke rumah susun tempat ia tinggal – dan melakukan segala cara untuk dapat masuk kedalam kehidupan cowok penganggur tersebut (diperankan oleh Donny Alamsyah dengan cukup baik, walau belum natural).

Overall, secara teknis film ini cukup lemah, karena gaya bertutur Mouly tidak terlalu nyaman dilihat. Pertama adegan repetitif di film ini kurang jelas maksudnya, misal adegan Alisha keluar masuk kamar di rusun, atau saat dia main cello (yang melodinya kok juga tidak enak didengar – maaf mungkin saya tidak peka seni). Belum lagi efek kamera yang bukan seluloid membuat rasa menonton film ini macam sinetron saja (walau tidak terlalu penting juga sih, hehehe).

Poin plusnya, ide cerita film ini amat kuat. Perkembangan karakter Alisha dari cewek Nerd hingga menjadi pecinta pria brutal maniak seks, cukup meyakinkan. Belum lagi keberanian mengeksplor setting rumah susun yang cukup menarik (ingat kedahsyatan Nya’ Abbas Akub dalam “Cintaku di Rumah Susun”), walau belum begitu mendalam. Tema kegilaan manusia urban di lanskap Jakarta, memang potensial digarap. Bung Joko, sebagai penulis skenario pastinya punya andil besar dalam menciptakan kisah nan absurd ini. Rekam jejak beliau yang gigih menggali tema – tema baru untuk dunia sinema Indonesia (kisah pengantar rol film, perburuan harta karun Soekarno, dan absurditas aborsi) patut diacungi jempol. Mungkin yang masih kurang adalah belum terlalu naturalnya dialog serta masih terlalu “barat”nya gaya tutur beliau. Bagi saya, “Fiksi.” patut menang atas keberanian idenya.

Dan ide memang lebih bernilai dibanding kesempurnaan teknis. Selamat!

Iklan

7 Tanggapan to “Maniak Seks Juara FFI”

  1. belum nonton. nanti saya komentar lagi setelah nonton vcd-nya. untuk film dalam negeri gue gak pernah nonton bajakan :p

  2. damned good post..
    check this privatamateure

    see you

  3. Kok aku gak nangkep kesan maniak seks ya. Apa yang dilakukan Ladya Cheryl kepada Donny kok menurutku lebih ke nafsu menguasai, karena dia begitu ingin dan terpesonanya akan gaya hidup yang dipilih oleh Donny.
    Nafsu ini awalnya dia tunjukkan lewat kesenangannya akan boneka.
    Dialog yang dipilih memang patutnya dibikin gak natural layaknya bahasa sastra. Ingat judulnya saja Fiksi.
    Film-film psikologis macam Fiksi ini memang paling pas dibingkai dengan gambar-gambar zoom. Kalau pernah menyaksikan Psycho nya Alfred Hitchcock pasti paham dengan pendekatan yang Mouly pilih. Karena banyaknya gambar-gambar jarak dekat, hasilnya jadi terkesan sinetron banget.
    Dibandingkan Pintu terlarang, Fiksi jauh lebih padat dan utuh (untuk kelemahan Pintu Terlarang bisa dibaca di blog saya heheehhe)
    Salam kenal

  4. Ardyan M. Erlangga Says:

    Yupz, dalam hal teknis anda lebih jeli dibanding saya. Well, utk pilihan diksi bagi dialognya saya masih belum sepakat. Even maksudnya psikologis, tapi Hitchcok ndak berlebihan juga kok dialognya. Bahkan “rear window” biasa saja dialognya, as well as “Psycho”. Mungkin karena saya lebih gemar realis approach yah……

  5. awsome post.
    check this willige weiber

    good night,sleep tight and dont let the bad bugs bite

  6. klo mnurutku sich……..trllu picik klo menilai film ini buruk,memang klo dari segi apa tuh….sinematografi atw apalah yg sejenisnya blm sempurna.tp klo dr segi crita sarat akan makna bgt,dan byk petikan hikmah yg bsa gw ambil.klo dr singkatnya…yg bsa gw tangkap ni crita tntang cwe yg posesif bgt ma tuh cwo sampe2 terobsesi dgn smua crita yg tlah dtulis ma cwo tsb.dgn naluri “pycho”dy ngbunuh smua karakter yg ada di tulisan krya cwo itu. dan film ni layak jd jawara FFII,para juri jg pnya pnilaian yg lbh detail dr yg kita fkirkan.

  7. Nunggu bajakannya, ah!
    Dialog film Indonesia emang selalu kaku dan konyol,
    tapi ini lebih dikarenakan oleh munafiknya para cendikiwan Indonesia yang berusaha mengembangkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang sempurna, sehingga menyerap berbagai kata dari bahasa-bahasa asing, yang sayangnya tidak disertai dengan penerapan dan aplikasi yang memadai di kehidupan sehari-hari, sehingga bahasa yang diajarkan kepada kita tidak pernah dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa sehari-hari tetap menjadi bahasa paling nyaman untuk melaksanakan obrolan-obrolan yang mengalir. Dan sialnya, justru penerapan bahasa baku terhadap pendidikan kita membuat kita terlatih untuk BERPIKIR dalam bentuk “baku”, sementara BERBICARA dengan bentuk bahasa “gaul”. Dan ketidaksingkronan ini tercermin dari dialog-dialog dalam film-film Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: