Apa Lagi Yang Kau Cari Senor?

Mengapa Inarritu begitu menarik? Bagi saya sutradara Meksiko ini berupaya untuk konsisten mengusung konsep kisah bersama kompatriotnya Guillermo Ariaga, menggunakan narasi ala Arthur Miller bernuansa “Tragedy of Common Men”.alejandro-2preview Ya, tragedi yang dialami manusia kebanyakan merupakan tindak subversif pada tradisi sastra anglo saxon – bahkan mungkin kebanyakan tradisi sastra dunia lawas – yang tidak jauh berpijak pada fondasi Shakespearian. Potret kegagalan manusia, sebelum pergeseran paradigma penceritaan di abad 19, selalu berkutat pada manusia di strata sosial tinggi (tradisi sastra kita mengenalnya dengan pola cerita istana sentris). Miller, akhirnya menuntaskan apa yang telah Dickens dan Joyce upayakan, mempertegas serta memperluas batas cakrawala tragedi – yang mana layak untuk dilekatkan pada manusia yang umumnya gagal menjadi postscript sejarah, yaitu saya dan bisa jadi anda.

Menyaksikan Inarritu pertama kali di 21 Grams, cukup menyilaukan mata saya karena telaah sineas ini pada dimensi hidup manusia tidaklah umum. Siapa yang mengira alur akan dibangun dengan klimaks dan dituntaskan dengan klimaks pula (Bayangkan “Memento” karya Nolan yang memiliki dua klimaks final). Walaupun dalam beberapa hal, film ini memiliki kelemahan, namun menyaksikan Benicio Del Toro disini akan mencerahkan siapapun yang menyaksikan satu fragmen krisis iman tersebut dengan hati.

Awal kuliah barulah saya berkesempatan menyaksikan mahakaryanya, yang tak dinyana, malah film panjang debut beliau, Ammores Perros (Love’s Dog). Betapa kekalahan tiga manusia berbeda, dari strata kelas yang berbeda pula, dibumbui eksotisnya urban slump Mexico City, bisa dikemas sedemikian indah, tanpa harus melankolis (kemiripan akhirnya saya sadari pula di 21 Grams yang berporos pada kisah profesor matematika, residivis, dan ibu rumah tangga dari kelas menengah). Pastinya, jika tebakan saya tidak terlalu meleset, anda yang juga pernah menyaksikan film ini akan memuji kisah El Chivu dalam mencari cintanya pada darah daging yang tak pernah ia temui. Chivu (diperankan dengan luar biasa oleh aktor Meksiko Emilio EchevarrĂ­a) menjadi pelengkap mozaik yang ditambalkan satu – persatu dengan penuh kesabaran oleh Innaritu. Perros dalam hal ini memiliki karakteristik pula yang serupa semangat sastra metafisik abad 17 – dimana metafor dibangun pada konstruk yang tidak lazim, via pesan sentral film tersebut bahwa Cinta memang anjing! (lebih layak diucapkan dengan mengumpat lepas segala kesumpekan).

Kegemaran sineas ini dengan teknik non-linier, bagi saya dapat dirunut pada model observasinya terhadap Meksiko sebagai tanah kelahirannya yang juga kompleks. Bagi Innaritu, kompleksitas harus diterjemahkan dengan kolase pula. Liniaritas kisah barangkali hanyalah omong kosong, karena makna terdalam tidak dapat kita raih dari satu sudut pandang saja. Sayangnya, di filmnya paling anyar, Babel, tidak semua pihak menyukai gagasannya. Dalam film tersebut gagasan bahasa sebagai jejak penanda Adam jatuh kebumi, dikatai terlalu politis. Padahal, kita mengakui bahwa komunikasi deliberatif ala Habermas – yang mengandaikan kejujuran, niat tulus, dan tanpa prasangka serta kepentingan – dalam skala luas tidak akan terjadi selama perbedaan bahasa masih menjadi salah satu penghalang. Jujur saya tidak melihat ada kelemahan disana, namun setiap orang berhak memiliki pendapat bukan.

Kalaupun ada yang harus saya kritik dari seorang Alejandro Gonzales Innaritu, maka itu pada tema yang ia usung sendiri. Apa lagi yang akan ia gali – walaupun pendapat ini lebih bertumpu pada keinginan subyektif saya saja sebenarnya – dari sebuah observasi tragedi manusia. Pencariannya akan batas tragedi manusia kalah kebanyakan barangkali belum selesai, namun sudikah ia mampir sejenak dan melihat – lihat taman atau lanskap lain dari dunia, yang saya yakin akan tetap indah saat dikenai sentuhannya.

Iklan

Satu Tanggapan to “Apa Lagi Yang Kau Cari Senor?”

  1. Bravoooooooooooooo!

    Bagus sekali. Saya gak bisa nulis Inarritu sebaik ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: