Kedigdayaan Anjing Kampung Urban

Baiklah, lampu sorot telah dipadamkan, dan karpet merah telah digulung kembali. beberapa kawan saya masih bersemangat membahas rasionalisasi kemenangan kisah “anjing kampung Mumbai”slumdog_millionaire, yang dengan jumawa menghabisi drama talkshow politik (Frost/Nixon), momen kefanaan waktu (The Curious Case of Benjamin Button), Perjuangan HAM dalam perspektif Queer (Milk), dan cinta berbalut kelamnya sejarah kamp konsentrasi (The Reader).
Jujur saja, saya awalnya berniat posting tulisan setelah menyaksikan semua film yang masuk dalam nominasi Oscar tahun ini. Sayangnya, beberapa kesibukan menghalangi niatan tersebut. Dan baru beberapa hari kemarin saya akhirnya dapat menyaksikan “Slumdog Millionaire” – salah satu judul yang cukup cepat menyodok atensi – via bantuan tak terduga dari kawan yang berkata “Eh aku ada film India lho”.
Bangsa Indonesia masa kini, termasuk saya seringkali mencemooh karya sinematografis negara tetangga itu. Belum lagi kutukan dan sumpah serapah yang, barangkali, masih sering anda alamatkan pada penghancur kualitas film Indonesia – The Godfather Raam Punjabi – lewat sinetron2 dan filmnya yang berkualitas tak jauh beda. (Semoga anda tenang nun disana bung Raam, karena saya masih bersepakat dengan rencana pembunuhan anda sampai hari ini).
Oke, cukup membicarakan soal bisul sinema kita itu, karena kita seharusnya diam tafakur melihat kenyataan betapa jauh tertinggal kita dari sejawat di daerah Hindustan sana. Kita sering lupa, dikala “Tjoek Njak Dien” atau “Daun di Atas Bantal” selalu kita gembar – gemborkan menang festival, India sudah punya maestro sekelas Satyajit Ray yang dihormati sineas seluruh dunia melalui “Pather Pachaali”-nya, belum lagi Mira Nair dengan “Moonson Wedding” yang cemerlang, serta “Salam Bombay” Yang menyentuh.
Terlepas dari sentuhan Danny Boyle, beserta kru Celador Film asal UK itu, kita tidak bisa melupakan ratusan pemain dan kru yang asli direkrut dari Mumbai sana. Film ini, dengan atmosfir yang dibangunnya, bagi saya patut dianggap 70% karya India.
Lantas apa yang harus saya komentari? Film ini memang layak dipuji, bila kita menafikan beberapa unsur yang secara subyektif kurang saya sepakati. Boyle memang berkehendak menjadikan film ini melodramatis. Oleh karenanya, jika kisah cinta Jamal dan Latika terlalu mudah berjalan tanpa aral berliku – yang berbanding terbalik dengan kerasnya kehidupan mereka – serta kadang terlalu melecehkan nalar (misal adegan Jamal menyamar menjadi koki untuk menemui Latika yang disekap bos gangster Mumbai, ataupun alur penemuan kembali keduanya di Stasiun Kereta yang padat manusia), film ini harus diakui memancarkan aura positif untuk menatap hidup. Kisah yang dibangun Boyle ini akan meninggalkan impresi serupa kita setelah habis membaca karya James Redfield “The Celestine Prophecy” atau Paolo Coelho “The Alchemist”. Saya bayangkan apabila eksekusinya sedikit lebih buruk, maka film ini macam pesanan para motivator Self Help yang rutin menyuruh kita hidup positif dan bekerja keras di toko – toko buku itu.
Saya menyayangkan terlalu drastisnya perubahan mood film ini, dari realis menjadi sedikit ajaib cum melodramatis secara tiba – tiba di tengah film (dan Beaufoy si penulis skenario memberi apologi melalui tagline bahwa hidup itu memang sudah digariskan). Untungnya tidak ada drama berlebih di scene syuting kuis, karena bila iya, ketegangan di adegan Jamal berjuang meraih hadiah 20 juta rupee itu akan menyiksa nalar dan turun derajat jadi kacangan. Boleh jadi, melihat rekam jejak film – film Boyle yang cenderung kelam dan nanar (Trainspotting, 28 Days Later), saya jadi mahfum karena sutradara Inggris ini pernah melakukan formula “Keajaiban pada hidup” dalam filmnya tentang anak kecil yang mendapat hadiah sekarung uang lewat film keluarga “Millions” (Lihat juga kemiripan judulnya, entah disengaja atau tidak).
Saran saya, bagi anda yang hobi berjudi, dan tahun ini kalah dalam menebak judul yang menang Oscar kategori utama, perhatikanlah mood Amerika sebagai pihak penyelenggara saat ajang ini berlangsung. Oscar jelas kental subyektifitas Amerika, termasuk penilaian artistik didalamnya. Oleh karena itu, ukuran Oscar berbeda dengan Venezia Film festival yang lebih memihak kualitas artistik film realis, atau Cannes yang condong pada isu politik. Oscar betul – betul bergantung mood. Perlu kita ingat, atmosfir Amerika saat ini masih dalam aroma perayaan Obama, dan perayaan multikulturalisme. Dan tentu mood yang terbangun adalah mood bahagia. Hemat saya, itulah faktor utama kegembiraan “Slumdog” menaklukkan enigma politik “Frost”, Kegamangan cinta “Reader”, ataupun puitisnya “Button”. Bisa anda buktikan lewat menyaksikan ulang ajang sebelumnya, misal pemenang Oscar post 11/9. Rata – rata film yang menang adalah film yang menggambarkan kerasnya hidup dan perjuangan menghadapinya, dan ketika Amerika makin kacau dibawah Bush, tone yang dipilih selalu bernuansa moralitas (sekadar memberi contoh: Million Dollar Baby, The Departed, Atau No Country For Old Men). Ditambah syarat lainnya, jangan politis, atau pro Israel saja bila ingin melakukannya (Babel sudah kena batunya).
Anda barangkali bertanya, bukankah “Slumdog” juga memiliki tendensi serupa? Yah, tapi tidak menyinggung Amerika bukan? Ukuran estetika memang erat dengan kondisi sosiologis manusia dimana makna diproduksi. Dan tanpa bermaksud merendahkan, film ini memang cemerlang memotret sisi terang kemanusiaan, walau tidak sekemilau yang dikabarkan. Toh hajatan Oscar memang tidak pernah diperuntukkan bagi semua bangsa. Itu yang kadang kita lupakan. Dan omong – omong, ada adegan di “Slumdog”, yang mirip kondisi bawah jalan layang Jakarta plus segala hingar bingarnya, sebenarnya punya potensi yang sama untuk diolah menjadi kisah sekelas. Sayang mata sineas dan produser manstream kita masih terpukau dengan alam imajiner material semata. Tapi saya masih berani berharap, selama oknum “itu – itu saja” yang bercokol di perputaran uang industri kita, maaf, tidur nyeyak dan semoga tidak mengganggu lagi. Tabik!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: