Pelajaran Akting Dari Rourke

Menyimak berbagai pemberitaan mengenai nominasi Oscar tahun ini membuat saya tidak sabar segera mencari film – film yang termasuk di dalamnya. Saya cukup beruntung sehingga dapat menyaksikan beberapa film yang termasuk dipuji banyak kritikus dan masuk pada beberapa kategori nominasi. Salah satunya adalah “The Wrestler”. Karya Darren Aronofsky ini memotret kegetiran hidup seorang pegulat bangkotan yang usang dimakan usia dan jantungan. Pada ajang pemanasan sebelum Oscar – yaitu Golden Globe – film tersebut berhasil memenangi dua penghargaan, yaitu aktor pria terbaik dan musik orisinil terbaik. Film ini pun telah menyabet penghargaan Golden Lion dalam festival film Venezia 2008 ke 65. Walaupun di Golden Globe hanya memenangi dua (biasanya pemenang Golden Globe hampir pasti memenangi nominasi serupa di Oscar), dan tidak semua termasuk dalam penghargaan elit, namun film sederhana ini memancarkan aura yang luar biasa untuk kategori film indie berbujet murah.

Maka sampaikanlah pujian tersebut, bagi siapapun anda yang tersentuh menyaksikan film ini, pada kekuatan akting Mickey Rourke dan Marisa Tomei. Chemistry keduanya sungguh memukau, mereka dengan meyakinkan memberikan gambaran bagi kita sebuah penghayatan yang unik pada tipikal karakter yang sebenarnya klise dan berpotensi membosankan. Rourke berperan sebagai Randy “The Ramp” Robinson, seorang atlit gulat profesional era 80-an (tentunya gulat disini bukanlah cabang olahraga serius yang dipertandingkan di Olimpiade itu, barangkali anda lebih familier dengan gulat yang dimaksud merujuk acara “Smack Down” yang dulu bikin heboh jagad televisi Indonesia) yang berencana pensiun pada pertandingan terakhirnya 20 tahun kemudian, karena ia ketahuan memiliki penyakit jantung akut.

Menyaksikan kualitas akting semacam ini (setara dengan apa yang dilakukan Daniel Day-Lewis dalam “My Left Foot” ataupun Sir Ben Kingsley di “House of Sand and Fog”) membuat saya harus mengakui bahwa akting favorit saya tahun ini dari mendiang Heath Ledger sebagai Joker, kalah dalam beberapa hal, yaitu ketersampaian emosi pada audiens, selain karena porsi peran keduanya yang memang berbeda (Ledger dinominasikan sebagai aktor pendukung pria, bukan aktor utama). Lebih mengejutkan lagi, karena Rourke bukan aktor yang terkenal sebagai pemain watak. Kebanyakan filmnya adalah film laga, yang seringkali jauh dari kebutuhan menampilkan akting penuh penjiwaan dan emosi.

Telah banyak karakter semacam ini – seorang yang hanya memiliki pekerjaan sebagai jalan hidup, dan menghadapi kenyataan harus berpisah darinya – diangkat dalam karya sinematografi ala Holywood. Anda dapat menyaksikan “Rocky” atau “Raging Bull” sebagai pembanding. Amat riskan sebenarnya saat seorang sineas mencoba mengangkat cerita semacam ini, tanpa memberi sentuhan yang berbeda. Beruntung Aronofsky menciptakan atmosfir semi-dokumenter pada film ini, sehingga kesan yang akan ditangkap penonton adalah benar – benar dunia di belakang panggung dunia gulat yang gemerlap. Rourke hadir dengan segala kepahitan yang terbungkus dalam aura maskulin yang ia selalu paksakan hadir karena tuntutan karir.

Sakit yang ia tampilkan adalah rasa letih menjalani keterbuangan, dan tidak ada kesan dibuat – buat hanya untuk kepentingan dramatisasi. Saat ia harus tampil dengan emosi yang datar maka datarlah ia, seperti ketika ia memaksakan diri untuk membuat tubuhnya berdarah – darah di panggung untuk menciptakan kesan dramatis dan heroik demi penonton. Demikian pula dengan emosi yang membuncah saat ia menangis di hadapan putrinya yang tidak pernah ia rawat, begitu meyakinkan. Namun tidak ada fragmen yang lebih menyentuh saat ia berjuang menjalin relasi (bukan cinta, karena ia sendiri tidak yakin akan hal itu) dengan seorang penari telanjang Cassidy, yang diperankan tidak kalah cemerlang oleh Marisa Tomei.

Tomei berperan menjadi penari telanjang, dengan dua orang anak, dan sebenarnya menikmati hubungan yang muncul dengan pegulat langganan di klub yang sering mendatanginya hanya untuk curhat. Keduanya merupakan orang biasa, dan hanya berjuang untuk hidup. Randy berusaha mendapatkan kembali cinta dari anak maupun perempuan yang ia sukai saat kebosanan masa pensiun menerpa, sementara Cassidy berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa hanya pikirannyalah yang membuat ia selalu menjadikan hubungannya bersama Randy sebagai relasi profesional dengan klien semata.

Selebihnya, penggambaran kelamnya dunia belakang layar gulat profesional hanya menjadi latar. Sepanjang durasinya, aktinglah yang menjadi sumbu ledak utama film ini. Sangat direkomendasikan untuk ditonton oleh mereka yang tengah belajar akting, utamanya untuk mendapatkan gambaran akting realis. Sebuah pelajaran seni peran kelas wahid dalam menampilkan emosi yang berwarna, dan menyampaikannya pada penonton tanpa bertumpu di dialog, namun lebih pada bahasa tubuh.

Saya akan menutup resensi ini pada satu adegan yang amat menyentuh, dan akan selalu saya ingat. Yaitu, saat Randy mengajak seorang anak bermain ke trailer tempat ia tinggal, untuk bermain nintendo bersama. Yah nintendo, bukan Playstation atau Xbox yang lebih canggih. Alasannya sederhana, hanya di console itulah, terdapat game yang memuat karakternya saat masih jaya dahulu. Dan melihat ekspresinya yang katrok saat mendengarkan penjelasan si bocah mengenai beragam game baru yang mutakhir, entah mengapa nyaris membuat pertahanan saya jebol, sehingga saya harus berjuang keras untuk tidak meneteskan air mata (maklum banyak orang, hehehe). Dalam pertimbangan subyektif saya, film yang mampu menggerakan hati, entah karena alasan apapun, merupakan film yang layak tonton berulang – ulang. Bagaimana dengan anda?

Iklan

6 Tanggapan to “Pelajaran Akting Dari Rourke”

  1. setuju nyet! Asu lah film itu!

  2. resensi bagus, saya jadi ingin nonton dan mo cari dulu filmnya

  3. bagus resensinya, saya mo cari filmnya. thank, sering2 aja kasih resensi buat panduan cari film bagus.

  4. Boss, tulisan reviewnya bagus2. Tp sayang pelit amat sih postingannya. Masa sebulan cuma sebiji dua biji doang? 😈

    Saya link ke blog saya yah.

  5. tolong aku, aku ditawarin oleh salah satu produser tuk akting atau main film tapi aku ga tau sama sekali tentang akting perfilman, aku minta saran dong, tuk belajar akting itu gimana? supaya aku ada persiapan?
    terima kasih di tunggu.

    • Ardyan M. Erlangga Says:

      Maaf telat, kasih comment….sebaiknya yg dimantabkan sih hati, karena itu yg paling penting. Kualitas akan mengikuti saat anda percaya bahwa usaha yang anda lakukan untuk mencapai yg terbaik.

      Untuk saran yang lebih teknikal, anda tahu blocking, gestur, atau jenis2 shot dalam film? Kalau iya, aku yakin anda akan selamat. Kalau tidak, segera browsing tentang itu ya….banyak yang lebih berkompeten menjawab soal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: