Telaah Ringan Ke-Yahudi-an Lewat Film

Serangan Yahudi kepada Palestina, (atau lebih tepatnya ditujukan untuk menghancurkan Hamas) yang dilancarkan sejak pergantian tahun kemarin merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan. Ribuan orang mengutuknya, terlebih negara – negara yang memiliki afiliasi pada dunia Muslim. Untuk alasan apapun, perang–sejak era modern ini–selalu dikonotasikan sebagai perbuatan paling biadab nan keji yang mampu diproduksi oleh manusia. Untuk kasus perang di Gaza, banyak pihak menuding Yahudi selaku bangsa yang patut dipersalahkan, dihujat, maupun di caci maki.

Jujur, saya sampai sekarang masih bingung, bagaimana membedakan antara Yahudi sebagai identitas etnis, cabang agama samawi, sistem sikap dan nilai, dengan Zionisme, selaku gerakan politik yang mengacaukan konstelasi panggung kekuasaan Timur Tengah. Kalau saya berkehendak menyamaratakan semua Yahudi sebagai Zionis, bisa jadi saya melakukan kesalahan laiknya menyamakan semua orang Arab sebagai Islam. Oleh karena itu, beberapa hari ini, saya intens melakukan usaha untuk mengenal apa itu “Yahudi”. Maklum saya cukup buta mengenainya.

Berbekal pengetahuan yang minim, saya mengakses banyak situs, buku, dan juga arsip kebudayaan favorit saya, film. Saya cukup mahfum apabila film tidak lepas dari bias kepentingan. Tapi karena itulah, saya mencoba untuk mempergunakannya sebagai sarana belajar. Dan kacamata Holywood cukup ter’distorsi’ untuk dijadikan sebuah sampel bagaimana kepentingan yahudi dimasukkan dalam karya – karya sinematografis tersebut. Anda semua tentunya sedikit banyak mengetahui bahwa kelangan Yahudi banyak mengisi pos – pos penting dalam industri perfilman Amerika, mulai dari kelompok produser kelas kakap sebesar Jerry Bruckheimer, hingga artis cantik favorit senior saya, Natalie Portman.

Mari kita ingat kembali bagaimana karya Spielberg “Schindler List” demikian melakonlis dalam menggambarkan penderitaan yang dialami oleh kaum Yahudi dalam teror biadab Nazi di Warsawa. Atau perjuangan pianis Polandia, Szpilman, untuk menyelamatkan diri dalam pengasingan dalam karya sutradara Roman Polanski “The Pianist”. Dalam dua contoh tersebut, Yahudi digambarkan sebagai kaum yang mengalami penindasan dan pantas untuk mendapatkan simpati atas usaha mereka bertahan hidup.

Pengalaman sebagai bangsa Paria selama berabad – abad di Eropa menjadikan mereka memiliki kesetiakawanan yang luar biasa bagi sebangsanya. Hal itu pula yang mendasari, barangkali, pemikiran Theodore Herzl lewat proyek “Zionisme” untuk menciptakan sebuah Ghetto yang dijanjikan, melebihi apapun, sebagaimana termaktub dalam Perjanjian baru. Justifikasi akan hak – hak Yahudi lewat berbagai arsip–terlebih film–dapat kita saksikan dalam konteks yang lebih jauh lagi, yakni berusaha meyakinkan setiap audiens untuk percaya bahwa kembali ke Zion adalah hak kelompok tersebut, dan tidak ada yang salah terhadapnya. Sehingga amatlah wajar apabila Mel Gibson dihujat karena dianggap membuat penggambaran menyerempet anti-semit, dalam “The Passion of The Christ”-nya. ‘Dosa’ serupa dibuat sutradara favorit saya, Martin Scorsese, hingga ia tidak pernah sukses diganjar Oscar untuk kategori sutradara terbaik, hingga kutuk itu berakhir 2007 kemarin.

Oleh karenanya dalam realitas modern, sedikit sekali film yang menggambarkan Yahudi sebagai penindas. Bangsa yang culas, licik–dengan berbagai stereotipe, mungkin–tapi bukan kejam. Kemarin lusa saya menyaksikan Sixty Six, sebuah film yang sederhana menggambarkan usaha seorang anak Yahudi di Inggris menyukseskan perayaan Barmisthvah-nya (sebuah ritual perayan kedewasaan bagi Yahudi), dikala semua kerabat dan kawannya hanya peduli dengan perjuangan timnas Inggris di Piala Dunia 1966. Berbagai sikap hidup Yahudi akan dapat kita saksikan dalam karya apik tersebut. Dengan ide besar bahwa, Yahudi juga manusia biasa.

Namun ada suara lain yang diluar kebiasan muncul saat karya Ari Folman “Valm Im Bashir” (Waltz with Basir) memenangi piala Golden Globe 2009 untuk kategori film berbahasa Asing terbaik. Kisah berpusat pada karakter Ari Folman, yang juga bertindak selaku penulis skenario serta sutradara film semi animasi ini, dalam pencariannya akan memori yang hilang, saat dia menjalani tugas sebagai tentara dalam penyerbuan Israel ke wilayah Libanon awal 80-an. Kengerian perang dimuat dari perspektif seorang serdadu Israel, bukan dari kacamata penduduk Palestina yang lebih wajar muncul. Tapi, film ini saya yakin lebih bisa diterima karena ia moderat, dengan tetap menawarkan premis serupa Film perang lain bahwa perang hanya akan menimbulkan tragedi kemanusiaan.

Lantas apakah saya sendiri menghujat serangan Israel? Sebelumnya, Ijinkan saya mencomot sebuah anekdot rasis namun lucu dari buku “Mati Ketawa ala Yahudi” milik kawan saya. Tiga orang anak – anak masuk kedalam sebuah gereja di London utara, kebetulan mereka semua bukan keturunan Anglo saxon totok. Anak pertama imigran Cina, anak kedua berdarah Yaman, dan anak ketiga berdarah yahudi. Seorang pastur melihat mereka, dan kemudian menghampiri. Sembari membawakan permen, ia menyalami dan kemudian memberi pertanyaan pada ketiganya. “Halo anak – anak, paman pastur memiliki permen disini, dan akan paman beri gratis untuk kalian, syaratnya jawab dengan benar dulu pertanyaan dari paman ya.” Ketiga anak tersebut kegirangan.
“Coba jawab, siapakah tokoh terhebat dalam sejarah?” tanya si pastur.
Anak Cina menjawab cepat, ”Mao Zedong”. “Ah bukan” tukas pastur cepat.
Anak Yaman ganti menjawab, “Muhammad?” “Kurang sedikit” ujar pastur sambil tersenyum.
Terakhir anak Yahudi menjawab dengan yakin “Yesus”.
Pastur dengan gembira membenarkan jawabannya dan memberi ia permen.
Sambil mengambil permen, si anak yahudi kemudian berbalik, dan berkata “Sebenarnya pak, saya percaya kalau orang itu adalah Musa, tapi bisnis tetap bisnis!”

Guyonan tersebut jelas akan menyinggung banyak pihak. Dan jika guyonan semacam itu sudah membuat telingan anda merah, maka menyaksikan sanak saudara dibantai dengan bom dan peluru tentu lebih dari memerahkan telinga, lebih jauh lagi anda akan terbakar dendam. Terlepas dari segala propaganda untuk membedakan secara tegas antara Yahudi dengan Zionis di berbagai media moderat, termasuk film, saya percaya bahwa bangsa Yahudi merupakan manusia juga, dan jelas memiliki hak untuk hidup. Namun kategori itu tidak akan pernah cocok untuk Ehud Olmert dan jajaran petinggi Israel serta anggota parlemen Knesset di Tel Aviv yang terhormat, saat mereka membantai ribuan manusia lain demi kepentingan politik seperti sekarang. Saya bertanya – tanya, apakah memang ini yang dinginkan filsuf Nathan Birnbaum saat mencetuskan konsep Zionisme tahun 1890?

Bila jawabannya adalah iya, maka meluruhlah semua atribut kemanusiaan tadi. Dan premis John Lennon bahwa “war is over, if we want it” mungkin tidak akan pernah terwujud.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: