Sensasi WALL-E

Menyaksikan WALL-E merupakan kenikmatan luar biasa. Sebuah karya seni gaya baru. Hayao Miyazaki dari Jepang sudah memulai revolusi sinema melalui penceritaan anime dua dimensi, lewat dinasti anime produksi studio GHIBLI-nya. Dan Andrew Stanton di Pixar melanjutkan estafet tersebut lewat teknologi 3D paling mutakhir. wall-e_2 Saat Toy Story pertama kali muncul, saya tidak mengira Pixar akan maju sejauh ini hingga melampaui ekspektasi penonton di seluruh dunia. Bayangkan animasi yang bertumpu pada gambar, kembali seperti jaman Disney 50-an. Tapi kini emosi yang digambarkan tidak lagi artifisial, dan ‘cartoonish’. Lebih jauh lagi, ini adalah batas baru yang bisa ditempuh manusia melalui bahasa gambar hingga saat ini.
Kisah yang sebenarnya berpotensi klise, yaitu soal bumi yang makin kotor karena ulah manusia, menjadi luar biasa menyentuh karena dituturkan melalui kacamata sebuah robot pembersih bumi yang tinggal sendirian di planet malang ini. Stanton dengan bernas menghina segala macam rasionalitas manusia, (dan ini membuat saya curiga dia adalah seorang aktivis Greenpeace atau Zapatista hehehe), saat menggambarkan di masa depan manusia bahkan tidak mampu berjalan tegak karena sudah ada ‘kursi layang’ bagi mereka untuk bepergian. Dan yang paling keren, ia masih ‘nekat’ pula mengkritik kapitalisme (Ya, Stanton orang Amerika, antek Kapitalis, kecuali dia seorang sosialis seperti Michael Moore), lewat penggambaran presiden Amerika di masa depan, seorang CEO perusahaan bernama ‘Buy N’ Large’, yang membuat wahana antariksa penyelamat manusia untuk mengungsi di luar angkasa. what can be more cool than that!
Lupakan Dreamwork, Lupakan Disney, Lupakan Fox, karena Pixar tidak tertandingi! Saat yang lain mengaku membuat animasi untuk segala usia, padahal mereka terlalu banyak menyisipkan logika cerita bagi orang dewasa, Pixar mengajari mereka bagaimana membuat ‘Film Keluarga Betulan’. Kalau boleh membandingkan, ‘Kung Fu Panda’ tak lebih merupakan guyonan, dan ‘WALL-E’ adalah ‘Film Betulan’.
Hubungan tarik ulur WALL-E dan EVE akan membuat penonton dewasa menangis, sementara anak – anak akan tertawa dan merenung. Tingkah polah mereka yang lebih humanis dari manusia, ibarat peringatan Stanton bahwa kita kini nyaris tidak legitimate lagi menyebut diri ini ‘manusia’. Jawaban untuk menghindari bencana tersebut adalah menyingkirkan, merujuk pada konsep Mahzab Frankfurt, Rasio Instrumental dalam diri manusia. Usaha manusia untuk menundukkan bahkan mengabaikan realitas di alam, seperti yang dilakukan oleh ‘Buy N’ Large’, berakhir menjadi ketertundukan manusia pada sistem itu sendiri. Kata – kata si kapten kapal manusia terakhir pada komputer yang memberontak pada keinginannya kembali ke bumi menyiratkan pesan utama film ini, “Aku tidak ingin selamat, aku ingin hidup!”
Pujian demi pujian, saya yakin tidak akan berhenti mengalir untuk pencapaian sinematik seindah ini. Anak cucu kita akan terus membicarakannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: