Tren aksi Hiperbolis

Action pack film is have to be mindless. Sepakatkah anda dengan pernyataan tersebut? shoot_em_upKenyataannya, yang lebih sering berjaya dalam hal apresiasi nilai estetika di kancah perfilman global memang film – film yang digolongkan “drama”. Mungkin yang ingin dimaksud film ber’action pack’ adalah yang memang menekankan unsur estetika penggarapannya di bidang visual. Maksudnya, film yang menumpukan sajiannya dalam tampilan desingan peluru, kebut – kebutan, dan perkelahian penuh darah. Maka sebuah film baru sah disebut film action jika mengandung unsur tadi sebagai porsi jualan utama.

Yang mengaku dirinya penggemar film sejati biasanya enggan menyapa film beginian. Banyak alasan mengemuka, mulai dari tidak logis, promosi kekerasan dan amoralitas, dan untuk penggemar berkebangsaan non Amerika, film macam ini seringkali menjadi kampanye supremasi Amerika di dunia dan simbol banalitas bangsa itu.

Dalam beberapa hal saya bersepakat. Entah mengapa, namun sedari kecil dulu saya memang sudah tidak menggemari film pop corn macam Rambo, Commando, atau Universal Soldiers. Silly sekali kelihatnnya. Untuk masalah moralitas? Hmm, hal macam ini dilema semua karya seni, jadi saya tidak berniat ikut – ikutan, ntar digrebek mas – mas yang niatnya tulus memberantas kezaliman menggunakan pentungan dan parang.

Untuk alasan terakhir, saya sepakat, tapi jaman sekarang tampaknya semakin jarang film Hollywood mengumbarnya secara terang – terangan. Tampaknya sineas disana mulai merasakan dampak menurunnya pamor negara sok adidaya tersebut di mata dunia. Tengoklah film – film macam Body of Lies, atau Syriana, arogansi itu sedikit banyak mulai digantikan oleh usaha untuk tidak mengedepankan prasangka.

Nah, kembali fokus pada premis yang saya tekankan di awal tulisan saya tadi, entah mengapa, saat ini sedang gencar – gencarnya film action yang betul – betul nihil logika. Silahkan cek Shoot Em Up, atau yang paling gress, garapan dari Timur Bekmabetov “Wanted”. Taburan adegan aksi absurd bisa anda saksikan dalam film tersebut. Menusuk mata orang dengan wortel? Tembak menembak sambil terjun payung dan tetap presisi? Atau tembak menembak sambil membantu persalinan?

Jika hal – hal tersebut belum membuat anda ternganga, berarti anda perlu melihat adegan peluru dibelokkan dengan ‘insting’ atau tembakan tepat sasaran seorang sniper dari jarak berkilo – kilometer. Bejibun contoh absurd tadi hanya saya comotkan dari dua film saja lho. Dan keduanya adalah film yang dimaksudkan sebagai film blockbuster, atau mesin keruk duit Hollywood. Dengan contoh kasus dua film tadi, apakah film action makin teguh memegang prinsip mindless pack?

Saya melihat tren saat ini, sineas sengaja mengumbar ketidakrasionalan dengan dalih memanjakan mata. Ada yang mengatakan, Matrix juga tidak rasional, tapi ada beberapa alasan dimana kualitas film – film action saat ini tidak bisa dibandingkan dengan Terminator 2 atau trilogi Matrix misalnya. JRR Tolkien pernah mengemukakan ide “willing suspenstion of disbelief” untuk semua gaya bertutur penceritaan. Adalah tugas seorang juru cerita,jika diaplikasikan dalam konteks sinematografis maka itu adalah tugas penulis script dan sutradara, untuk membuat pembaca atau pemirsanya menerima realitas internal teks tersebut.

Nah, Matrix dengan semangat estetiks kreatornya berhasil meyakinkan pemirsa akan kemampuan terbang Neo atau keahlian Trinity mengendarai motor karena dengan gemilang mengolah persepsi penonton bahwa semua itu terjadi dalam program komputer. Demikian halnya dengan Enemy of The State sebagai contoh kasus lain. Penonton seolah sepakat bahwa memang demikian adanya dominasi negara dalam kehidupan sehari – hari di Amerika dimana rakyat diawasi lewat semua piranti teknologi dalam bingkai menjaga demokrasi.

Namun apakah kecenderungan film ‘action’ saat ini bisa disebut kebodohan semata? Entah. Tapi saya merasakan adanya keinginan untuk menyajikan realitas secara hiperbolis sebagai sindiran atas pakem universal film action yang sok rasional dan serius, sayangnya saya tidak punya referensi bagaimana sebenarnya agenda si sineas di balik pembuatan film – film yang cukup ‘bodoh’ tersebut.

Apa yang harus kita lakukan, terima sajakah, toh ini hanya hiburan? Bagi saya jika film tidak berhasil membuat pemirsanya bersepakat pada apa yang dia sajikan maka dia hanya karya seni yang bodoh. Entah caranya hiperbolis atau tidak. Tapi kalau penilaian yang dipakai adalah moral, wah film action hiperbolis itu merupakan sindiran yang telak untuk film dan sinetron kita yang selalu berusaha santun namun jelas sekali mengampanyekan kekerasan baik verbal maupun non verbal, serta agen dari pelaku kekerasan aktif yang bisa menurunkan kadar kecerdasan audiens. Pilihan ada di tangan anda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: