Laskar Wong Kito Lebih Menarik Perhatian Saya Dibandingkan Apa yang Dilakukan Saudara Kecilnya, Sungguh!

Contoh terbaik, dari ekspetasi yang tidak berbanding lurus dengan kenyataan adalah “Laskar Pelangi” . Seandainya saya tidak tahu menahu perihal buku tersebut, ataupun tidak bersedia mendengar berbagai informasi simpang siur tentangnya, boleh jadi saya tidak akan terlalu kecewa dengan apa yang dihasilkan oleh Riri Reza kemarin.
laskar-pelangi-the-movie1
Massa boleh jadi menerimanya dengan baik, Muhammadiyah boleh saja memborong seluruh tiket bioskopnya, namun ada beberapa kelemahan yang gagal ditangani dengan baik oleh Riri beserta kawan-kawan Miles.
Apa itu?
Jelas aspek Cerita. Entah apa yang dikehendaki oleh Salman Aristo, sehingga dia nekat memasukkan sebanyak – banyaknya unsur novel yang menarik untuk difilmkan. Bagaikan bocah rakus, beliau menangkapi semua unsur filmis dari novel, dan dimasukkan begitu saja kedalam skenario. Penilaian ini berdasarkan film lho ya, bukan karena saya sudah baca novelnya.
Andaikan diri anda seorang yang buta dengan sebuah karya bertajuk Laskar Pelangi, maka begitu banyak informasi yang dijejalkan pada anda, hingga anda tidak akan sempat mencernanya dengan baik, dan mungkin mempertanyakan maksud adegan tersebut.
Samson membesarkan dada dengan bola tenis, kedekatan tiba –tiba antara Flo dan Mahar, adegan menari dan menyayi ala produk Karam Johar (puji tuhan, bang Rhoma lebih mahir melakukan yang beginian), dan tiba – tiba anak – anak Belitong tersebut naik kapal dan sampai ke pulau dihuni dukun tidak terlihat.
Menghibur? Jelas, tapi kalau hanya mengharapkan anak – anak itu membuat anda tertawa maka saya balik mempertanyakan misi Andrea Hirata mengatakan bahwa skenario filmnya lebih bagus dari novelnya. Menilai panjang lebar pun, maka sebagai bocoran, nilai yang saya berikan layaknya dosen killer bagi film ini hanyalah lumayan.
Saya membayangkan cerita fokus pada satu sudut pandang saja, misal perjuangan Lintang, dan interaksinya dengan anak – anak Muhammadiyah lainnya, atau benar – benar fokus pada sudut pandang Ikal saja, boleh jadi film ini punya posisi tawar yang lebih kuat di mata pemirsa yang lebih luas. Kalau boleh usul bukankah aspek kelucuan itu akan lebih bersinar jika diselipkan dalam konteks realisme sosial yang getir di tanah Belitong.
Saat saya bandingkan dengan Children of Heaven (film Iran soal anak sekolah kere yang ga punya sepatu buat ikut lomba lari itu lho), atmosfer film ini malah menegaskan sikap menangisi kemiskinan.
Jujur saja, jumlah penonton kemarin pastinya dihasilkan oleh hype serta promosi gagah berani sokongan PERTAMINA. Tapi bayangkan yang nonton orang Amerika, atau Zimbabwe, atau Uzbekistan, boleh jadi mereka tidak akan tertawa renyah macam kita disini. Dan saya yang orang Indonesia, mohon maaf, sama sekali tidak tertawa ataupun terharu menyaksikan film ini.

Iklan

6 Tanggapan to “Laskar Wong Kito Lebih Menarik Perhatian Saya Dibandingkan Apa yang Dilakukan Saudara Kecilnya, Sungguh!”

  1. dalam menilai karya sastra yang divisualkan memang sejatinya dipisahkan. Tidak membandingkan keduanya karena npovel dan film memang jauh berbeda. tapi apresiasi saya terhadap film laskar pelangi cukup bagus karena penggamabaran tokoh tidak dibuat bertele-tele seperti novelnta yang menurut saya banyak yang tidak lgis. Seperte materi-materi pelajaran yang pada zaman itu, tentu saja tidak serumit yang ada dalam novel. Setidaknya film laskar pelangi berhasil membuat improvisasi alias tidakj menjuplak secara utuh isi novelu. Hal itu trelihat dari adfegan pak mahmadu yang membela lintang dan jatuh cinta pada bu muslimah dan kemunculan tokoh pak zul.

    OK, up date terus blogmu, bagus lho bisa jadi refernsi nonton kalau kamu aktifkan terus blogmu.
    Btw, link balik ya

  2. penilaian yg kejam! sungguh.

  3. Ardyan M. Erlangga Says:

    Well, pada intinya, premis awal promosi film ini yang dengan bombastis mengatakan bahwa eksplorasi cerita akan banyak berkutat dengan kondisi getir Belitong tidak terwujud. Hal itu yang mendorong saya untuk, katakanlah, kejam memberi penilaian. Belum lagi kesan guru yang tegar dan tahan banting seorang bu Muslimah di awal film tiba – tiba secara terlalu melodramatis hilang dengan meninggalnya pak kepsek. Saya tetap percaya, film ini lumayan sebagai film keluarga, tapi statusnya tidak akan beranjak lebih dari itu.

  4. bukankah penggambaran kehidupan keluarga lintang yang ayahnya nelayan single parent ber-anak banyak, kucai yang harus jadi kuli di penambangan sudah cukup memberitahukan kita keadaan belitong?
    lagipula menurut saya film ini lebih ditujukan pada pembaca novel laskar pelangi. kalau blm baca novel tapi ikut2an nonton, jangan salahkan sutradara dan produser yang sudah mati2an membuat film ini ketika tidak mengerti jalan ceritanya.
    maaf bila kata2 saya ada yg tak mengenakkan. jujur,menurut saya untuk ukuran film yang diangkat dari novel best-seller dengan alur panjang dan detail seperti LP, sudah luar biasa, sehingga saya tidak bisa menerima penilaian anda yang memojokkan film ini.hahaha

  5. Hehehe, memang kejanggalan2 film yg anda bilang itu benar adanya. LP memang film bagus, tapi bukan film istimewa.
    Satu2nya yang paling saya angkat jempol justru para pemain ciliknya yg bisa akting natural, pdhl baru sekali main film.

    Yg bikin bingung tuh judul postingan. laskar wong kito tuh apa artinya? Ada versi palembang yah?

  6. ha..ha.. mungkin sedikit koreksi. wong kito itu istilah palembang. kalau diterjemahkan dalam bahasa belitung jadi urang kite.
    btw, novelnya sendiri menurutku juga tidak istimewa. terlalu fragmented tanpa satu alur cerita dengan benang merah yang tampak. kalau filmnya mau bagus sih emang harus berani keluar dari novelnya dan memilih satu sudut pandang. aku setuju dengan anda.
    review yang bagus. aku link ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: