Bobby, narasi pedih pencarian ratu adil ala Amerika

Saya sadar bahwa setiap orang memiliki selera tersendiri dalam menentukan film seperti apakah yang dia gemari. Secara pribadi, saya sih sangat demen dengan tipe film kriminal, craper, con man, atau yang mengumbar kekerasan. Macam film bikinan si Quentin atau Fincher gitu. Tapi belakangan, setelah agak gede (fisik maksudnya, karena otak saya masihlah terbuai dengan mimpi rock n roll), saya mulai tertarik dengan jenis sinema yang memiliki plot ganda.

Yang saya maksud disini tidak kemudian terbatas hanya pada jenis yang mengandalkan twisting time scenario macam pulp fiction, tapi juga meliputi film dengan alur tiga babak standar namun memiliki plot narasi ganda. Mengalirlah dalam katalog film saya nama – nama macam Inarritu, atawa Emilio Estevez. Khusus untuk Inarritu, saya cukup heran juga dengan sutradara Meksiko nan ganteng ini. Kenapa ya dia tampaknya begitu tergila -gila dengan konsep multiple plot. Sejak jaman Amores Perros, sampai Babel, semua filmnya pasti memuat stok karakter bejibun dengan jalinan cerita yang saling berkelindan.

Tapi tulisan ini tidak sedang berusaha bercerita mengenai Inarritu, saya sedang pengen berbagi pengalaman setelah melihat film Bobby. Ah, tapi saya nyerocos agak banyak dulu ya. Sebelumnya saya sempat melihat film Hollywood “Vantage Point” yang saya pikir kelas A dengan tema usaha pembunuhan presiden Amerika yang digdaya itu. Nyatanya film ini hanya action kelas C, murahan, dan sok – sok-an bergaya multiplot. Sempat sedih melihat Forest Whitaker yang keren itu ikutan main di film kacangan macam ini.

Nah dengan trauma pasca vantage point, saya akhirnya tidak berusaha mengusung ekspetasi apapun ketika akan menyaksikan Bobby. Yang saya tahu dari film ini hanya temanya tentang pembunuhan senator Robert F. Kennedy tahun 1968, ketika kampanye kemenangan dalam primary vote california di hotel Ambassador yang kondang itu. melihat premis yang serupa, saya agak khawatir, “Tema mirip, jangan – jangan kualitas mirip juga?” ah, tapi kekhawatiran saya terbayar dengan perasaan puas. Bukan berarti film ini sangat bagus, biasa saja, bahkan sedikit banyak tidak terlalu berkesan, namun pantaslah multiplot dipakai disini. Saya sebelumnya tidak kenal siapa itu Emilio Estevez, yang di film ini juga ikut main jadi karakter suami takut istri (yang main Demi Moore).

Selanjutnya, apa yang pantas diungkapkan disini adalah, peran multiplot, atau tepatnya multi narasi perspektif penceritaan berguna untuk menggambarkan efek dramatis dari tragedi penembakan si Robert Kennedy alias Bobby. Berbagai karakter minor sampai mayor terasa berguna ditampilkan dalam layar. Walaupun anda mengira (sori sedikit spoiler!) kisah cinta manula, atau perselingkuhan suami istri paruh baya, serta pemuda tanggung nge-drugs tidak memiliki kedekatan dengan tragedi tersebut, tapi si sutradara sekaligus merangkap penulis skenario dengan gemilang mengungkap maksud sebenarnya di akhir film.

Deretan cast yang keren (bayangkan Anthony Hopkins adu akting dengan si gaek Henry Bellafonte, William H. Macy vs Christian Slater, atau Ny. Sharon Stone lawan Demi Moore, ini deretan adegan yang saya sangat rekomendasikan untuk dilihat!) cukup berpengaruh pada chemistry film ini dari awal sampai akhir. Penyakit film multiplot adalah ada karakter yang luput tidak tereksplor lantas datar – datar saja jadinya untuk tidak menyebut sekedar tempelan. Hipotesis itu tidak sepenuhnya berlaku di film ini. Nyaris semua karakter mengalami perkembangan.

Film ini dengan pedih memotret bagaimana karakter impian memang tampak tidak pernah bisa tampil di alam nyata. Amerika yang saat ini menampilkan Obama tampaknya memang menyimpan masa lalu perih berkaitan dengan kewarasan. Saya tidak bilang bahwa Luther, JFK, atau Bobby sebagai santo atawa ratu adil, namun entah mengapa ungkapan kebaikan selalu menang memang tidak pernah berlaku di negara “maju” tersebut. Orang – orang hebat yang memperjuangkan impian sederhana dan waras selalu mati, digantikan orang “progresif dan humanis” yang memperjuangkan demokrasi dengan membunuh jutaan manusia lain lewat program ekonomi maupun perang.
Penumpang kapal Mayflower tahun 1600-an yang sering disebut pendiri bangsa Amerika, barangkali sedih melihat negara mereka di masa depan hanya berhasil mewujudkan cita – cita kebebasan dalam tataran wacana dan sosok, bukan implementasi riil.

Lewat Bobby, saya merasakan bahwa Indonesia belum ada apa -apanya dalam proses berbangsa dan bernegara. bahkan muncul secercah rasa optimisme dalam diri saya, dimana Amerika tidak kapok mencari sosok ratu adil dalam konteks mereka hingga era Obama sekarang. Walaupun Obama ternyata brengsek misalnya, setidaknya Amerika pernah merasakan ekstase ulang dengan rasa persatuan yang pernah muncul lewat Bobby, atau Luther King. Bangsa kita perlu memulai pencarian itu, tampaknya jalan memang masih panjang, kecuali kiamat datang esok pagi.

Iklan

Satu Tanggapan to “Bobby, narasi pedih pencarian ratu adil ala Amerika”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: