Mari Belajar dengan Wes

Saya terlambat mengenal seorang Wes Anderson. Sutradara muda asal Amerika ini kenyang sanjung puji melalui pendekatan filmnya yang kental nuansa serupa sineas era nouvelle vague macam Jean-Luc Godard, dan François Truffaut.

Realisme kelompok sineas pembaharu Prancis tersebut diimplementasikan dalam hal teknis, semisal pemilihan angle, dan pergerakan kamera. Contoh paling mudah akan anda dapatkan di film Royal Tennenbaum, atau film paling anyarnya, The Darjeeling Limited. Banyak outdoor shot yang mengeksploitir suasana agar menimbulkan berbagai efek bagi penontonnya. Jangan pula dilupakan penggunaan kamera handeld untuk merekam close up raut muka karakternya yang seringkali ia gambarkan blo’on.

Adegan pasar di Darjeeling, atau pertemuan keluarga di Tennenbaum, diambil dengan posisi kamera yang statis, dapat memunculkan atensi bagi penonton. Kegemarannya untuk menggunakan adegan slow motion juga menjadi penanda ciri khas film – film garapannya. Tapi cukuplah soal teknis. Wes tidak menawarkan sesuatu yang terlalu baru dalam hal sinematografis. Rata-rata filmnya tetap setia pada pola pakem tiga babak (entah dengan Bottle Rocket dan Rushmore, karena saya belum melihatnya), dan dia juga tidak berusaha menonjolkan performa akting pemain arahannya.

Lantas apa yang membuat sineas ini berbeda?

Bagi saya pendekatannya yang sangat tidak Amerika amat menarik. Dia mungkin tidak menerapkan faham ideologinya secara terang-terangan macam Ken Loach, si kiri abis asal Inggris itu, di filmnya. Toh saya juga tidak tahu ideologi apa yang dia percayai. Yang pasti, Wes amat senang bermain dengan simbolisasi. Dalam Royal Tennenbaum, pola standar drama Tragedi Shakespear-an ditampilkan dalam konflik keluarga absurd. Sementara di Life Aquatic, sekali lagi pola tragicomedy ala William Somerset Maugham muncul, hanya saja dia memanfaatkan setting absurd tim peneliti eksplorasi laut. Dan puncak pencapainnya, menurut pendapat subyektif saya, ditumpahkan dalam The Darjeeling Limited.

Menyebut Darjeeling sebagai film indie Amerika generik sangat merendahkan menurut saya. Pendekatan yang sangat sederhana di film ini akan membuat malu sineas – sineas Indonesia yang doyan sekali menyebut diri sutradara Indie, tapi hasilnya nol besar dalam penyajian karya. Tidak ada plot yang eksperimental, tidak ada kesan berlebihan, walau tidak bisa dibilang sederhana juga. Saya menyaksikan aura yang berbeda dengan rata-rata film indie yang saya lihat.

Dengan pledoi seni, sering saya dipaksa untuk tidak memahami esensi film yang saya tonton. Kasus ini tidak hanya untuk sineas Indonesia lho.
Menyaksikan film-film Wes, saya disambut oleh aura yang hangat, macam kawan lama yang mengajak anda mengobrol dengan santai. Humor keringnya selalu berjalan mulus. Tidak berpretensi untuk lucu seperti misalnya adegan ular kobra lepas di pertengahan bagian Darjeeling yang sangat slapstick, tapi nyatanya membuat saya tertawa sampai menangis.

Simbolisasinya sangat menarik, dengan sarkastis dia menampilkan prasangka ala orang Amerika ketika menggambarkan suasana kereta di India yang berjubelan manusia layaknya kereta kita saat musim lebaran tiba. Tapi penonton non Amerika tidak akan merasa direndahkan ketika menyaksikannya.
Epiphani atau pencerahan yang dialami tiap karakter, semisal rasa tanggung jawab tokoh Zizzou yang akhirnya muncul karena memiliki anak di Life aquatic, atau kesadaran untuk berani menghadapi realita hidup bagi karakter-karakter Darjeeling berjalan mulus dan wajar.

Intinya, senang melihat ada sineas Amerika baru yang mengusung absurditas tanpa membebani karyanya untuk menjadi absurd. Hal yang pikir saya di era kontemporer ini berhasil dilakukan dengan total oleh sutradara Shinichiro Watanabe asal Jepang. Di Indonesia sendiri, bagi saya belum terlihat sutradara yang mau bersusah-susah menciptakan pola pendekatan personal macam itu.

Ada Joko Anwar memang, tapi caranya menyerap pendekatan Noir terlalu berlebihan, laiknya penulis pemula macam saya yang bernafsu menunjukkan bahwa saya bisa membuat tulisan bergaya liris ala GM. Kemajuan kualitas sinema Indonesia membutuhkan sineas yang mau sedikit berusaha tampil dengan mengedepankan hati. Karena penyakit sineas muda jebolan sekolahan yang punya pengetahuan sinematografis tinggi di negara ini, adalah belum berhasil membuat karya yang tulus. Liar yang tulus, absurd yang tulus, atau realis yang tulus.
Susah mungkin, tapi toh itu bukan sesuatu yang mutahil. Gaya sinema asli Indonesia memang tidak mungkin, karena seni ini bukan kultur asli kita, tapi pendekatan Indonesia ala Nya Abbas Akub merupakan contoh yang kongkrit. Kita dapat merasa bahwa menyaksikan film macam “Kipas – kipas Cari Angin” atau “Cintaku di Rumah Susun” sebagai film Indonesia sejati. PR besar kita memang di departemen skenario, tapi sikap skeptis saya mungkin akan berubah sembari menanti Laskar Pelanginya Riri Reza. Semoga antusiasme saya terbayar lunas.

Iklan

Satu Tanggapan to “Mari Belajar dengan Wes”

  1. Wah gw juga demen sama mas Wes Anderson. Udah pernah Liat yang Rushmore blon? Keren Tuh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: