Ada Cahaya Untuk Hollywood

Kemalasan adalah salah satu musuh utama saya saat ini. Momen dimana saya menyebutnya “disorientasi”. Kuliah masuk masa liburan, sementara kerjaan di majalah entah mengapa antara hidup dan mati.
Tapi hal itu ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong saya masuk kedalam jurang keputusasaan yang terdalam, hingga kemudian melupakan blog saya. Dan yang paling penting, tidak membuat saya merasa terlalu tinggi hati hingga membuat asumsi bahwa membikin opini tentang film “The Dark Knight” sebagai suatu hype atau ikut tren semata.
Lantas yang ingin saya kemukakan berkaitan dengan film ini adalah “BANGSAT, FILM INI SANGAT BAGUS!!!!”
Saya sedari dulu percaya bahwa sebenarnya tidak ada alasan apapun untuk menganggap naskah film yang diangkat dari komik, atau novel grafis sebagai subordinat dan tidak sepadan dengan yang diangkat dengan naskah yang berasal dari novel atau “seni sebenarnya” yang lain.
Nolan dengan luar biasa membuktikan bahwa film memang harus diposisikan sebagai karya sinematografis, bukannya hasil pemindahan naskah ke dalam format seluloid semata. Hal yang pernah dibuktikan oleh Coppola empat dasawarsa silam lewat Godfather. Perlu saya tegaskan, bahwa saya bukan penggemar Batman, walaupun setidaknya saya familiar dengan karya fenomenal Bob Kane tersebut.
Kemudian anggapan absurd lain bahwa film action ‘tidak akan pernah berkualitas’. Yah, bagi anda yang punya pendapat semacam itu, apakah anda berasal dari jaman batu? Genre itu ilusi bos. Tolong sebutkan satu film saja yang hanya memuat satu genre sepanjang film. Aih, yang jelas, film ini memang tidak sempurna, namun bisakah film ini disebut bagus? JELAS SEKALI DONG!
Yang bagus-bagus saya yakin sudah diulas oleh jutaan entri dari blog lain. Jadi saya hanya akan menyoroti hal selain berikut ini:
1. Akting Heath Ledger sebagai Joker yang “Subhanallah dahsyatnya”.
2. Angle kamera Nolam yang ciamik.
3. naskah orisinil dan penuh twist serta sangat psikologis.

Pertama, saya ingin berkata bahwa “Nolan thank God, you’re not using too much CGI shit!!”, karena bagi saya muasal kebusukan film modern mau produk Holywood atau bukan adalah teknologi ‘bullshit’ digital. Oke jaman James Cameron dahulu di Terminator 2 memakai efek agar Robert Patrick bisa meleleh memang yahud, tapi sekarang semua terlalu berlebihan. Akhirnya, hasilnya sangat banal. Mana ada sekarang film yang efeknya bikin orang terkencing-kencing saking kagumnya seperti saat Jurassic Park atau Star Wars. Kesalahan bukan pada special effect, tapi pada naskah dan sutradara.
Tolong jangan berasumsi dahulu bahwa saya satu aliran dengan Feyerabend, si filsuf anti teknologi asal Austria itu, tapi dari dulu teori ekonomi saja sudah bilang bahwa kalau terlalu banyak itu memuakkan.
Kedua, semua elemen terasa pas. Film ini bukan tipikal film yang mencoba pura-pura cerdas, sok intelek dan sebagainya. Chaos yang dimaksudkan Joker adalah sebenar-benarnya chaos dalam bayangan saya yang mungkin tidak imajinatif. Bayangkan ide anarkisnya bahwa rencana-rencana serta rules dalam hidup itu tidak perlu, betapa chaos dunia jika hal tersebut diimplementasikan. Kekalahan trium virat Gotham, yaitu Batman, Komisaris Gordon, dan Jaksa Harvey Dent (Aaron Eckhart bermain bagus lagi akhirnya setelah thank you for smoking) pun, adalah sesuatu yang wajar sebagai harga mempertahankan nurani di era dekadensi manusia ini. Tema serupa sudah ditampilkan Coen bersaudara dalam film pemenang oscar tahun ini “No Country For Old Men”. Jujur saja, menyaksikan film ini bukan sebagai penggemar yang bernafsu menyaksikannya malah memosisikan saya kembali menjadi seorang penikmat film yang fun. Seakan keasyikan melihat film sebagai ‘penonton’ ada kembali. Karena terlalu lama saya menggabungkan proses menilai film bersamaan dengan proses menikmatinya.
Jadi, hal yang perlu dipermasalahkan selanjutnya apa? Ehm, ada lho kekurangan film ini, banyak juga. Namun sebagian besar hal teknis, seperti goofs2 standar, serta durasi. Tapi elemen buruk prediksi saya akan muncul pertama dari segi penonton. Maksudnya film ini bukan film anak-anak (please deh..!), jadi jangan salahkan film atau bioskop Indonesia kalau anak anda menangis ketakutan melihat film ini. Kedua, dark knight akan dapat nilai buruk dari orang yang tetap beriman pada dogma, “komik, selamanya diadaptasi dalam bentuk apapun, akan menjadi sampah”.
Nah orang berpikiran sempit yang apriori dan tidak mencoba menikmati film ini (atau yang merasa beradab kalau hanya melihat film festival) bagi saya yang akan bersikukuh menilai buruk sekali film ini. Again saya bilang, film ini bukan film yang ultimately perfect. Cukuplah kata bagus sekali dipakai, karena anda akan melihat seberkas cahaya harapan akan kembalinya kualitas film Hollywood yang cenderung busuk akhir-akhir ini, kembali berpijar.

Iklan

4 Tanggapan to “Ada Cahaya Untuk Hollywood”

  1. asulah!

  2. Ardyan M. Erlangga Says:

    Hehehehe kenapa asu bos? Kasihanilah hewan yang terlanjur nista tersebut.

  3. review terbaikmu dari sekian naskah sebelumnya. keliatan kamu cukup tahu soal pelem. ada bagian2 yg rasanya ditujukan pada saya. hahahaha. nice, bro. kendati ini terlalu serius untuk saya “angkut” ke blog pelem katrok itu.

    […mencampuradukkan memahami dan menikmati pelem…]

  4. saya penggemar betmen,..
    dan tidak pernah melewatkan sekuel nya sekalipun,.

    tapi untuk yang satu ini,.. saya harus bersulang dengan Alm. Ledger di nirwana 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: