Surga dan Neraka

Betapa menerjemahkan begitu melelahkan. Terlebih kali ini saya menanggung beban berat, sebuah janji dan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Yaitu membantu seorang kawan untuk menerjemahkan naskah penting demi kepentingan skripsinya. Biasanya saya hanya melakukan pekerjaan ini dengan ikhlas. Hitung-hitung belajar. Namun karena itulah, ketika dituntut untuk profesional, maka saya pun jadi kelabakan. Entah, mungkin menerjemahkan bukan minat saya saat ini.

Dan pengalaman kemarin adalah yang paling menantang. Saya memang sering menerjemahkan teks, tapi baru kali itulah saya menerjemahkan teks yang lumayan panjang. Belum lagi topiknya yang menyangkut teks sejarah, memaksa saya untuk banyak belajar perihal tersebut. Berulang kali hasil terjemahan itu saya hapus, tulis ulang, kemudian saya hapus lagi, demikian berulang kali. Hal itu saya lakukan agar hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Saya merasakan, betapa proses menerjemahkan sebenarnya memerlukan pihak ketiga, yaitu editor. Tulisan kemarin menurut saya sangat tidak enak keterbacaannya. Masih banyak pilihan diksi yang membingungkan, karena gaya penulis buku tersebut juga sering menggunakan kalimat kompleks.
Pendekatan yang dipakai akhirnya penerjemahan kontekstual saja. Toh bagian yang detail dan penting tidak saya rubah. Namun ketika kemarin saya membaca buku Rudolph Mrazek “Engineers of Happy Land”, terbitan Obor, saya menyaksikan terjemahan yang buruk sekali. Bukan bermaksud membanggakan diri sendiri, namun banyak kalimat yang sangat kabur artinya. Pembaca dipaksa untuk meraba-raba maksud disetiap paragraf, dan itu sangat melelahkan. Sempat muncul pertanyaan dalam hati saya, bagaimana bisa penerbit sekelas Obor meloloskan draf seperti itu.
Kualitas penerjamahan seperti itu yang menyebabkan banyak pihak skeptis pada setiap hasil terjemahan. Saya tidak hendak berpolemik lagi masalah etis atau tidak etis. Tapi demi kepentingan transfer pengetahuan, saya pikir, menerjemahkan seharusnya bisa menjadi jembatan penghubung antara dunia ide yang belum terhubung. Namun landasan utamanya tetaplah kebenaran, akurasi, dan keterbacaan. Selebihnya untuk isi tulisan adalah domain pengarang. Dan kami, kaum penerjemah berdosa pada semua aspek yang menyebabkan pembaca tidak memahami detail yang paling kecil sekalipun. Betapa menerjemahkan begitu berat. Kami ada di antara dua sisi surga dan neraka saat melakukannya.

Iklan

Satu Tanggapan to “Surga dan Neraka”

  1. selamat datang di blogospher. akhirnya ngeblog lagi. baguslah pake WP, jadi beragam deh penganut agama blog, ndak cm blogspot. oya, buatlah review film buat blog film itu. buat jadi satire dan dikit2 konyol. hehehehe…

    *blogmu sudah ku masukkan ke agregator, jadi tiap posting, pasti langsung ngapdet sendiri di agregator ekspresi*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: