Master of Violence

“For me violence is totally an aesthetic.”
Demikian Quentin Tarantino, sineas eksentrik Amerika itu, mengungkapkan pandangan dan visinya yang sering menggambarkan kekerasan secara eksplisit dalam karya-karyanya, dikutip dari wawancaranya dengan salah satu majalah hiburan AS . Bagi beberapa dari anda yang pernah menyaksikan film-filmnya, hanya “Jackie Brown” yang dapat kita kategorikan “biasa” kadar kekerasannya.

Di film komersial pertamanya “Reservoir Dogs” penonton sangat mungkin terhenyak menyaksikan acara potong kuping seorang polisi oleh aktor Michael Madsen yang memang tidak disangka-sangka. Sementara anda yang menganggap adegan orang disamurai dari belakang atau ditembak di bagian selakangan sebagai adegan standar, boleh jadi memang anda tergolong maniak sekuens kekerasan, karena adegan seperti itu juga muncul dalam karya-karyanya.Tidak usah pula kita membicarakan “Kill Bill” baik volume 1 ataupun 2. Film ini malah karya Tarantino yang paling mengumbar adegan banjir darah.

Saya pribadi sangat menggemari semua film buatannya (tapi bukan yang diproduseri). Menyaksikan filmnya pertama kali amatlah menyakitkan. Saat itu saya masih SMA. Kakak saya pulang membawa DVD yang sampulnya menggambarkan Uma Thurman tengah merokok di kasur dengan posisi sensual.

Ya, itu adalah “Pulp Fiction”, mahakarya Quentin hingga saat ini.

Demikian kalau boleh saya gambarkan momen ketika pertama kali melihat kakak saya masuk rumah dengan meneteng DVD asing tersebut ditangan.
Saya : “Bawa apaan?”
Kakak : “iki, film apik.”
Saya : “mosok?”
Kakak : “iyo, neng Amerika, iki sutradarane dipuja-puja.”
Saya : “apike opo se’, iku film action ta’?
Kakak : “yo ga’ action banget, koen apene nontok? nonto’ ae po’o, tapi nek muntah-muntah ojo nyalahno aku”

Dua setengah jam berikutnya, saya memang mengalami muntah-muntah sebagaimana prediksi jenial kakak saya. Bukan karena unsur kekerasannya, namun karena saya kaget menyaksikan pola non linier yang belum pernah sepanjang hidup saya diterapkan dalam film manapun yang pernah saya tonton.

Saya pernah lihat Coppola maju mundur lewat Godfather sebelumnya, atau menyaksikan Forrest Gump yang tidak banyak memberi saya kesempatan untuk dong maksudnya. Tapi film ini beda, dalam pikiran saya waktu itu tentunya, karena ada dua, bahkan tiga cerita, atau kalau mau dipaksakan bisa jadi semua titik cerita dapat menjadi film tersendiri.

Dalam katalog film yang pernah saya tonton, DVD itu amatlah ajaib. Dan saya jadi semakin shock setelah tahu bahwa film itu buatan tahun 1994 (saat itu 2003). Walau kemudian tahu bahwa konsep itu tidak seratus persen orisinil, saya akan tetap menganggap karya Inarritu, Nolan, atau siapapun yang datang belakangan setelah Quentin sebagai epigon. Dari situ pencarian saya dimulai. Saya kemudian mendapatkan Kill Bill, lantas Reservoir, Four rooms, sin city, dan terakhir Jackie yang mana memang sangat susah dicari.

Dan kembali kepada tema kekerasan diawal, setiap orang akan dengan mudah mengidentifikasikan kekerasan sebagai salah satu simbol yang mengingatkan kita pada karyanya. Jujur, saya tidak menikmati kekerasan. Saya bukan fanatik film buatan Asia Argento, Eli Roth atau Ryuhei kitamura yang jualan adegan berdarah nan sadis dan tidak manusiawi.

Namun saya memang tertarik dengan penggambaran kekerasan. Bukan hanya fisik, namun juga secara psikologi. Apakah saya butuh pelampiasan sifat agresif yang saya miliki? Entah tapi saya cukup percaya teori dari Neurobiolog Jan Volavka yang menekankan bahwa kekerasan sangat dilandasi oleh keinginan bersikap agresif terhadap orang lain. Dorongan phsyce superego saya barangkali memang didominasi represi kebencian saya terhadap dunia sekitar.

Media, dalam hal ini film selalu mengeksplorasi kekerasan sebagai tema. Nah, untuk kasus Quentin, kita entah kenapa, terutama bagi penggemarnya, akan selalu memaafkan kadar kekerasan yang ia tampilkan. Melihat kepala orang pecah ditembak di filmnya Scorsese akan terasa berbeda dengan melihatnya di Pulp. Quentin sekali lagi, lewat pernyataannya diatas, entah kenapa seakaan dengan lugasmemperlihatkan banalitas manusia.

Dia dengan cerdas memfasilitasi hasrat manusia melampiaskan agresifitas, dengan representaasi simbolik. Dia memang sutradara brilian, pun cerdas.

Dan menghayati kekerasan dalam karyanya maka saya menyaksikan parodi atas naluri purba manusia, yang selama hidup selalu kita pendam. Sebuah pilihan sikap, yang seperti Ann petry dalam cerpennya “Like a winding Sheets”, menghasilkan efek buruk ketika meledak secara brutal melebihi awal mulanya.

Melalui kekerasan simbolik dari film Quentin, kita barangkali diajak melihat cermin nurani kita, mempertanyakan ulang apa itu moral. Atau malah kita akan mendapat negasi atas kemunafikan kita, bahwa kita memang menikmati kekerasan. Quentin adalah ahli eksploitasi kekerasan, dan di dunianya, semua kekerasan tersebut tampak amat relevan.

Iklan

4 Tanggapan to “Master of Violence”

  1. coba kamu tekuni soal pelem sebagai jualan uatama blog mu ini. sayang tontonanmu yg banyak itu kalo jadi tumpukan file di otak.

  2. Ardyan M. Erlangga Says:

    Thanks buat sarannya mas. Biasalah, dulu bikin blog cuma buat diari sih, masih kebawa deh paradigma lama, hehehe.

  3. Hiks hiks hiks, merupakan salah satu penyesalan terbesarku sepanjang 21 tahun aku hidup di dunia karena aku kenal sama film2nya Tarantino baru2 ini… nyesel aku baru bener2 ‘seneng’ nonton 1 tahun belakangan. anyway, walo aku dah jatuh cinta sama sineas satu ini, tapi aku baru nonton Kill Bill 1&2, Inglorious Basterds, sama Pulp Fiction (yang ini aku pinjem dari Puter yang hasil pinjeman juga dari kamu). eh, aku juga dah pernah nonton Sin City dulu jaman SMA tapi gak tau nek dia ikut terlibat bikinnya…so far, aku paling suka Pulp Fiction. dan aku juga suka blog mu…i really do wait for the next posting…

  4. Eh, aku nyilih DVD Tarantino mu sing liyane Pulp Fiction, Kill Bill, Inglorious dong…ono ga? ono lah yo…entuk to? hakakakak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: