Petualangan lewat ribuan aksara

Posted in Uncategorized on November 12, 2013 by Ardyan M. Erlangga

 

Beruntunglah orang-orang yang sejak dini diajak berakrab-akrab dengan aksara. Aku salah satu dari yang sedikit itu di nusantara ini.  Baca lebih lanjut

“Batas” Rupanya Hanya Berisi Masalah Demi Masalah

Posted in Review on Juni 8, 2011 by Ardyan M. Erlangga

Bila tema-tema seperti lokalitas, multikulturalisme, serta pendidikan sempat terpinggirkan di belantara sinema tanah air yang menggeliat lagi awal tahun 2000-an, maka tak pelak, kita perlu berterima kasih pada Andrea Hirata dan buku fenomenalnya, “Laskar Pelangi”. Tak kurang juga, perlu kita ingat perjuangan Ari Sihasale menguak dunia pendidikan Papua dalam film “Denias: Senandung di Atas Awan” 2006 lampau. Kedua karya tadi berpadu menciptakan momen. Akibatnya jalan menyandingkan tema-tema di atas dengan nalar industri terbuka lebar. Kini, saat seorang sineas ingin bicara perjuangan anak di pedalaman Sumatera misalnya, idenya tak bakal ditampik pemilik modal.

Nah, sejauh ini cukup beragam tafsir muncul menyikapi isu-isu pendidikan, multikulturalisme, maupun lokalitas. Baca lebih lanjut

Memandang Cermin, Memandang Diri

Posted in Review on Juni 8, 2011 by Ardyan M. Erlangga

Sang peneliti lumba-lumba dari Jakarta bernama Tudo (Reza Rahadian) melontarkan pertanyaan pada Lumo (Eko), si anak lelaki Bajo sembari mereka berdua membersihkan sampah anorganik di salah satu pantai Wakatobi, Sulawesi Tenggara nan elok . Ketika ditanya apakah ia punya impian, dijawablah oleh Lumo, “aku sering bermimpi menjadi penyu!”

Sontak, Tudo dan sebagian besar penonton tertawa. Kebetulan, gaya bicara karakter Lumo ini (sebutan lumba-lumba dalam Bahasa Bajo) memang dibawakan dengan cerkas oleh Eko, tak jarang ia menjadi scene stealer yang mengangkat tensi cerita. Apa alasannya memimpikan penyu? Menurut Lumo: “karena penyu mampu membawa rumahnya kemanapun.” Sepersekian detik setelahnya, saya menyadari bahwa percakapan keduanya merupakan momen paling tulus yang muncul di sepanjang film “The Mirror Never Lies” (selanjutnya akan ditulis ‘Mirror’ saja) besutan sutradara muda Kamila Andini. Apa pasal? Baca lebih lanjut

Membaca Inception, Nolan, dan Kegemarannya Berbicara Soal Kenangan

Posted in Review on Juli 20, 2010 by Ardyan M. Erlangga

Barangkali tidak ada sutradara manapun saat ini yang terpukau teramat akut pada kenangan sebagaimana dialami oleh Christopher Nolan. Untuk pemirsa yang telah menyempatkan diri menyaksikan katalog Nolan sebelumnya, maka adegan-adegan yang dijalin begitu rumit oleh Nolan dalam karya terbarunya, “Inception”, tak lebih dari penegasan bahwa sejauh ini ia hanya menggarap satu tema, satu benang merah, dalam tiap karyanya.

Pesan itu berbunyi cukup jernih tentang luar biasanya kenangan. Menyadari keberadaan konflik yang dibangun dengan melibatkan wacana kenangan, adalah bingkai untuk menikmati film-film garapan Nolan dan menerka pesan yang ingin ia sampaikan.

Saya pribadi belum pernah melihat karya independennya sebelum ia menggarap “Memento”. Untuk itu mohon dimaklumi apabila karya itulah yang saya jadikan acuan pertama untuk memulai upaya penelusuran kembali ini. Lagipula berkat “Memento”-lah Nolan bisa dikenal dalam percaturan sineas dunia. Baiklah, ijinkan saya mengajak anda mengingat lagi “Memento” barang sejenak sebelum beranjak pada pembahasan utama lebih lanjut. Tentu ada yang jauh lebih esensial sehingga ia mau bersusah-susah membuat kronologi mundur bagi kisah orang yang punya masalah hilang ingatan sesaat itu.

Setiap adegan di “Memento” merupakan penggambaran begitu rapuhnya ingatan memberi kesempatan kita berpijak. Kalaupun ada landasan yang bisa menyelematkan kita, maka jawabannya adalah kenangan. Resolusi di klimaks “Memento” yang getir tak lebih dari sebuah penambatan jangkar agar kita (baca: penonton) pada akhirnya mampu menyerap pesan utama di balik rangkaian kilas balik yang kemudian diuputar ulang kembali tersebut. Baca lebih lanjut

Allende dan Dokumenter yang Merayakan Sepenuhnya Nostalgia

Posted in Review on Mei 13, 2010 by Ardyan M. Erlangga

Tanggal 11 September harus kita akui, ternyata tidak menyimpan sebuah kenangan pahit bagi bangsa Amerika saja. Jauh sebelumnya, yaitu di tahun 1973, Bangsa Chili juga memiliki trauma kolektif yang terpahat di tanggal tersebut. Laiknya Bangsa Amerika, trauma kolektif Chili ini melibatkan pula peristiwa yang berdarah-darah, pun trauma kolektif Chili tersebut menorehkan luka yang sanggup merubah kultur sebuah negara selaiknya yang terjadi pada rezim Bush pasca runtuhnya gedung kembar WTC. Dari memori getir itu, terpacaklah sebuah nama Salvador Allende.

Salvador Allende adalah figur yang terlupakan, atau dalam bahasa Patricio Guzmán, dilupakan dari arena memori kolektif sebuah bangsa. Akibatnya, kita, manusia yang hidup dalam belahan dunia yang berbeda juga lamat-lamat mendengar nama tersebut. Ketika kita sedang membicarakan figur pemimpin gerakan so-called “kiri” di Amerika Latin, barangkali nama-nama seperti Fidel Castro, Ernesto “Che” Guevara, hingga yang paling kontemporer seperti Evo Morales ataupun Hugo Chavez akan lebih mendominasi topik pembicaraan. Oleh karena itu, ketika seorang sineas eksil asal Chili menyuguhkan pada kita kisah Presiden ke-29 Republik Chili tersebut, saya sebagai seorang yang awam dengan sejarah Amerika Latin mendapatkan sebuah eksplanasi yang cukup berbeda untuk membaca ulang peta pemikiran gerakan kiri Amerika Latin, bahkan dunia pula akhirnya.

Karya dokumenter Guzmán produksi tahun 2004 ini bergerak bagaikan sebuah upaya eskavasi artefak berharga yang lama terkubur. Baca lebih lanjut

Memaknai 100 Tahun Narasi Besar Bernama “Akira Kurosawa”

Posted in Essay on Maret 24, 2010 by Ardyan M. Erlangga

Dalam hati kecil saya, sempat muncul sebersit keraguan saat saya memberanikan diri menulis sebuah catatan kecil mengenai Akira Kurosawa. Siapakah saya ini, berani menyoal nama sebesar itu dalam sebuah coretan remeh? Tapi saya menemukan jalan. Alih-alih tak punya kompetensi keilmuan memadai untuk menakar posisi seorang Akira Kurosawa, saya pinjam saja beragam pengalaman dan kisah mengenai sineas besar Jepang itu yang bisa saya pungut dari berbagai sumber, ditambah pengalaman saya sendiri bertemu dengan karya-karya beliau. Salah satu yang saya cuplik adalah kisah seorang Zhang Yimou. Sineas pilih tanding dari China ini, pernah menyampaikan sebuah fragmen kisah yang menarik mengenai pengalamannya bersinggungan dengan Kurosawa, pada esai-nya untuk Majalah Time edisi 23 Agustus 1999 dalam rangka menghormati Kurosawa yang masuk ke dalam daftar 100 orang berpengaruh versi majalah itu. Medio 80-an, dalam perjalanan bisnis ke Jepang, Yimou ditawari kesempatan untuk bersua Kurosawa di lokasi syuting Ran yang tengah berlangsung waktu itu. Apa kata Yimou selaku penggemar berat Kurosawa perihal kesempatan bertemu idolanya tersebut?

Memikirkan tawaran itu saja ia tidak berani, akunya. “Ia (Kurosawa) sudah menjadi dashi (maha guru) dengan reputasi kelas dunia. Sedangkan saya? Saya hanya kentang kecil dibandingkan dirinya.” Jika bukan sebuah pujian melangit dengan tujuan menjilat, maka ucapan Yimou merupakan keseganan yang natural antara guru dan murid yang bahkan tidak perlu bersinggungan langsung secara fisik. Posisi Kurosawa bagi banyak sineas di seluruh dunia bolehlah kita padankan dengan pengaruh Bisma bagi Pandawa dan Kurawa. Baca lebih lanjut

Wacana Soal Tubuh dalam Malèna

Posted in Review on Februari 16, 2010 by Ardyan M. Erlangga

Bagaikan shabu-shabu kelas kakap, Karya sastra kelas nobel, atau taruhlah arsitektur kelas wahid, Malena merupakan sebuah representasi dari ranah karya sinematografis soal ketiga perumpamaan yang saya sebut barusan. Sebagai karya seni berwujud film, besutan Giuseppe Tornatore ini merupakan sebuah karya yang mampu menenggelamkan penonton pada jalinan cerita yang memabukkan. Efek “shabu-shabu” itu akan memaksa kita tidak melewatkan barang sedetik pun pandangan dari layar. Sementara itu, jalinan kisah yang ditawarkannya memaksa penonton melakukan retrospeksi diri yang begitu subtil, bahkan intens, untuk mengukur segenap aspek kemanusiaan yang kita miliki Kekuatan kisah macam itu khas sekali lekat dengan setiap imej yang dimiliki karya sastra berkualitas. Pun, cara bertuturnya, menerapkan sentuhan ala arsitek level maestro. Setiap bangunan scene ditata dengan detail, koheren, dan dijaga supaya setiap simbol hadir sesuai dengan keinginan sang arsitek.

Ah, kembali lagi saya melontarkan puja-puji dalam tulisan kali ini. Akan tetapi, tidak sedikit pun, saya jengah, kalau yang saya puji habis-habisan adalah karya setaraf Malèna. Kisah yang diusung terasa timeless. Film ini bicara mengenai kisah seorang Janda bernama Malèna Scordia yang mengalami beberapa problem hidup semenjak ditinggal suaminya berperang (dan dikabarkan tewas saat bertempur di Afrika Utara), melalui sudut pandang unik seorang anak yang sedang mengalami fase akil balig. Si anak yang bernama Renato Amoroso itu menjadi sedemikian terobsesi pada tubuh Malena, dan tak dinyana, usaha yang ia lakukan untuk selalu menyaksikan tubuh janda kembang di kota kecil Sisilia yang diperebutkan kaum lelaki itu, akan menghadirkan konsekuensi mengejutkan di klimaks film. Kisah utama yang sudah cukup unik itu, dibumbui pula latar kisah kondisi sosial Italia di era kepemimpinan fasis Mussolini. Tapi saya tidak bermaksud membahas semuanya. Saya berniat mengajak anda semua berbincang soal ide Tornatore perihal pahit manis usaha mencapai kedewasaan. Untuk sampai disana, sineas besar Italia kontemporer ini memanfaatkan dengan komprehensif ide mengenai “tubuh”. Baca lebih lanjut