Mengapa Inarritu begitu menarik? Bagi saya sutradara Meksiko ini berupaya untuk konsisten mengusung konsep kisah bersama kompatriotnya Guillermo Ariaga, menggunakan narasi ala Arthur Miller bernuansa “Tragedy of Common Men”.
Ya, tragedi yang dialami manusia kebanyakan merupakan tindak subversif pada tradisi sastra anglo saxon – bahkan mungkin kebanyakan tradisi sastra dunia lawas – yang tidak jauh berpijak pada fondasi Shakespearian. Potret kegagalan manusia, sebelum pergeseran paradigma penceritaan di abad 19, selalu berkutat pada manusia di strata sosial tinggi (tradisi sastra kita mengenalnya dengan pola cerita istana sentris). Miller, akhirnya menuntaskan apa yang telah Dickens dan Joyce upayakan, mempertegas serta memperluas batas cakrawala tragedi – yang mana layak untuk dilekatkan pada manusia yang umumnya gagal menjadi postscript sejarah, yaitu saya dan bisa jadi anda. Baca selebihnya »
Apa Lagi Yang Kau Cari Senor?
Posted in Essay on Maret 4, 2009 by Ardyan M. ErlanggaKedigdayaan Anjing Kampung Urban
Posted in Review on Februari 26, 2009 by Ardyan M. ErlanggaBaiklah, lampu sorot telah dipadamkan, dan karpet merah telah digulung kembali. beberapa kawan saya masih bersemangat membahas rasionalisasi kemenangan kisah “anjing kampung Mumbai”
, yang dengan jumawa menghabisi drama talkshow politik (Frost/Nixon), momen kefanaan waktu (The Curious Case of Benjamin Button), Perjuangan HAM dalam perspektif Queer (Milk), dan cinta berbalut kelamnya sejarah kamp konsentrasi (The Reader). Baca selebihnya »
Pelajaran Akting Dari Rourke
Posted in Review on Februari 16, 2009 by Ardyan M. ErlanggaMenyimak berbagai pemberitaan mengenai nominasi Oscar tahun ini membuat saya tidak sabar segera mencari film – film yang termasuk di dalamnya. Saya cukup beruntung sehingga dapat menyaksikan beberapa film yang termasuk dipuji banyak kritikus dan masuk pada beberapa kategori nominasi. Salah satunya adalah “The Wrestler”. Karya Darren Aronofsky ini memotret kegetiran hidup seorang pegulat bangkotan yang usang dimakan usia dan jantungan. Pada ajang pemanasan sebelum Oscar – yaitu Golden Globe – film tersebut berhasil memenangi dua penghargaan, yaitu aktor pria terbaik dan musik orisinil terbaik. Film ini pun telah menyabet penghargaan Golden Lion dalam festival film Venezia 2008 ke 65. Baca selebihnya »
Telaah Ringan Ke-Yahudi-an Lewat Film
Posted in Essay on Januari 24, 2009 by Ardyan M. ErlanggaSerangan Yahudi kepada Palestina, (atau lebih tepatnya ditujukan untuk menghancurkan Hamas) yang dilancarkan sejak pergantian tahun kemarin merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan. Ribuan orang mengutuknya, terlebih negara – negara yang memiliki afiliasi pada dunia Muslim. Untuk alasan apapun, perang–sejak era modern ini–selalu dikonotasikan sebagai perbuatan paling biadab nan keji yang mampu diproduksi oleh manusia. Untuk kasus perang di Gaza, banyak pihak menuding Yahudi selaku bangsa yang patut dipersalahkan, dihujat, maupun di caci maki. Baca selebihnya »
Sensasi WALL-E
Posted in Review on Desember 26, 2008 by Ardyan M. ErlanggaMenyaksikan WALL-E merupakan kenikmatan luar biasa. Sebuah karya seni gaya baru. Hayao Miyazaki dari Jepang sudah memulai revolusi sinema melalui penceritaan anime dua dimensi, lewat dinasti anime produksi studio GHIBLI-nya. Dan Andrew Stanton di Pixar melanjutkan estafet tersebut lewat teknologi 3D paling mutakhir.
Saat Toy Story pertama kali muncul, saya tidak mengira Pixar akan maju sejauh ini hingga melampaui ekspektasi penonton di seluruh dunia. Bayangkan animasi yang bertumpu pada gambar, kembali seperti jaman Disney 50-an. Tapi kini emosi yang digambarkan tidak lagi artifisial, dan ‘cartoonish’. Lebih jauh lagi, ini adalah batas baru yang bisa ditempuh manusia melalui bahasa gambar hingga saat ini. Baca selebihnya »
Tren aksi Hiperbolis
Posted in Essay on November 23, 2008 by Ardyan M. ErlanggaAction pack film is have to be mindless. Sepakatkah anda dengan pernyataan tersebut?
Kenyataannya, yang lebih sering berjaya dalam hal apresiasi nilai estetika di kancah perfilman global memang film – film yang digolongkan “drama”. Mungkin yang ingin dimaksud film ber’action pack’ adalah yang memang menekankan unsur estetika penggarapannya di bidang visual. Maksudnya, film yang menumpukan sajiannya dalam tampilan desingan peluru, kebut – kebutan, dan perkelahian penuh darah. Maka sebuah film baru sah disebut film action jika mengandung unsur tadi sebagai porsi jualan utama. Baca selebihnya »
Laskar Wong Kito Lebih Menarik Perhatian Saya Dibandingkan Apa yang Dilakukan Saudara Kecilnya, Sungguh!
Posted in Review on November 15, 2008 by Ardyan M. ErlanggaContoh terbaik, dari ekspetasi yang tidak berbanding lurus dengan kenyataan adalah “Laskar Pelangi” . Seandainya saya tidak tahu menahu perihal buku tersebut, ataupun tidak bersedia mendengar berbagai informasi simpang siur tentangnya, boleh jadi saya tidak akan terlalu kecewa dengan apa yang dihasilkan oleh Riri Reza kemarin.

Massa boleh jadi menerimanya dengan baik, Muhammadiyah boleh saja memborong seluruh tiket bioskopnya, namun ada beberapa kelemahan yang gagal ditangani dengan baik oleh Riri beserta kawan-kawan Miles. Baca selebihnya »
Bobby, narasi pedih pencarian ratu adil ala Amerika
Posted in Essay on September 27, 2008 by Ardyan M. ErlanggaSaya sadar bahwa setiap orang memiliki selera tersendiri dalam menentukan film seperti apakah yang dia gemari. Secara pribadi, saya sih sangat demen dengan tipe film kriminal, craper, con man, atau yang mengumbar kekerasan. Macam film bikinan si Quentin atau Fincher gitu. Tapi belakangan, setelah agak gede (fisik maksudnya, karena otak saya masihlah terbuai dengan mimpi rock n roll), saya mulai tertarik dengan jenis sinema yang memiliki plot ganda. Baca selebihnya »
Mari Belajar dengan Wes
Posted in Essay on September 5, 2008 by Ardyan M. ErlanggaSaya terlambat mengenal seorang Wes Anderson. Sutradara muda asal Amerika ini kenyang sanjung puji melalui pendekatan filmnya yang kental nuansa serupa sineas era nouvelle vague macam Jean-Luc Godard, dan François Truffaut.
Baca selebihnya »
Ada Cahaya Untuk Hollywood
Posted in Uncategorized on Juli 19, 2008 by Ardyan M. ErlanggaKemalasan adalah salah satu musuh utama saya saat ini. Momen dimana saya menyebutnya “disorientasi”. Kuliah masuk masa liburan, sementara kerjaan di majalah entah mengapa antara hidup dan mati.
Tapi hal itu ternyata tidak cukup kuat untuk mendorong saya masuk kedalam jurang keputusasaan yang terdalam, hingga kemudian melupakan blog saya. Dan yang paling penting, tidak membuat saya merasa terlalu tinggi hati hingga membuat asumsi bahwa membikin opini tentang film “The Dark Knight” sebagai suatu hype atau ikut tren semata.
Lantas yang ingin saya kemukakan berkaitan dengan film ini adalah “BANGSAT, FILM INI SANGAT BAGUS!!!!” Baca selebihnya »
