<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Try to be Visual</title>
	<atom:link href="http://jijikbanget.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jijikbanget.wordpress.com</link>
	<description>Mari melihat selain apa yang terlihat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Sep 2009 19:49:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jijikbanget.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b8511ce90934f4d28d49dc3c22914a9c?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Try to be Visual</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Coen dan Obervasi atas Kebodohan</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/09/24/coen-dan-obervasi-atas-kebodohan/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/09/24/coen-dan-obervasi-atas-kebodohan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 19:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Kebodohan kerap dinarasikan sebagai penanda betapa dhaif-nya manusia. Kisah – kisah yang memuat pesan sentral kebodohan senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi untuk menimbulkan impresi yang sama. Bahwa kebodohan haruslah dihindari, sebisa mungkin ditinggalkan. Pun narasi agung sekelas kitab suci telah berujar lantang, “berbeda derajat orang yang berilmu dan yang tidak!”
Di wilayah itu Joel serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=123&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kebodohan kerap dinarasikan sebagai penanda betapa dhaif-nya manusia. Kisah – kisah yang memuat pesan sentral kebodohan senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi untuk menimbulkan impresi yang sama. Bahwa kebodohan haruslah dihindari, sebisa mungkin ditinggalkan. Pun narasi agung sekelas kitab suci telah berujar lantang, “berbeda derajat orang yang berilmu dan yang tidak!”</p>
<p>Di wilayah itu Joel serta Ethan Coen masuk dan membawa kita turut serta. Menikmati karya Coen bersaudara merupakan wahana identifikasi.<br />
Mereka mengamini betul apa yang pernah dimaktubkan oleh filsuf Susanne Langer, bahwa film merupakan “a poetic composition”…“organic”, dan “creating a sense of giveness”.<br />
<img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/09/burn_after_reading_poster.jpg?w=194&#038;h=300" alt="burn_after_reading_poster" title="burn_after_reading_poster" width="194" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-122" /><br />
Semua proses identifikasi nilai estetika film setidaknya dalam mahzab Langerian, bakal mengantar kita pada satu kesimpulan: Manusia &#8211; sesuai teori mahluk simbolik Langer &#8211; akan memanfaatkan potensi manipulatif sinema agar menghasilkan identifikasi yang lebih berjarak. Ia merupakan wahana yang menjamin tertautnya jangkar tetap pada tempatnya. Dan kita dimungkinkan untuk bertahan, dari proses terombang – ambing yang biasanya menyakitkan saat melakukan refleksi diri.</p>
<p>Kedua Coen itu sadar betul akan potensi tersebut. Labirin pelik proses kreatif telah mereka haturkan dalam ”Barton Fink”. Irasionalitas dan sisi gelap impulsif manusia mereka sorot di ”Fargo”. Kesemuanya berpuncak dalam ”No Country for Old Men”. Dalam film peraih beragam penghargaan itu, Coen bersaudara mencipta kolase kebusukan manusia. Sebuah representasi – meminjam istilah Ayu Utami untuk menggambarkan kualitas citraan puisi Jokpin – mengenai manusia dengan ”tubuh yang compang – camping dan nyaris tak sempat memikirkan harga diri.”<span id="more-123"></span></p>
<p>Terbiasa dengan pola itu, barangkali, dalam karya teranyar-nya ”Burn After Reading” kemasan yang ringan sama sekali tidak menghindarkan kita dari perjumpaan pahit dengan kenyataan. Dan kenyataan itu berbicara banyak perihal kebodohan, segala konsekuensi yang ikut serta, juga betapa fakta lain yang lebih menyakitkan berujar: Semua itu melekat secara atributif pada status kemanusiaan kita. menciptakan rasa &#8220;terberi&#8221; (giveness) yang khidmat sesuai apa kata Langer.</p>
<p>Deretan bintang papan atas, macam George Clooney, Tilda Swinton, Brad Pitt, hingga Frances McDormand, merupakan buah strategi awal yang diterapkan Coen Bersaudara. Strategi itu berujar ”Buat penonton tidak terjaga, agar mereka fokus pada citraan tokoh, bukan alur!”. Dalam istilah lainnya, deretan kasting wahid itu bertugas menyamarkan kodrat tipikal film yang bertipeplot driven. Dengan begitu, saat alur menukik begitu dalam, dan seharusnya orang – orang bisa dengan mudah menduganya, momen tersebut tetap aman dan audiens akan tetap tercekat karena tak mampu berjaga secara penuh.</p>
<p>Strategi kedua, pertahankan pakem komedi hitam. Di strategi ini, Coen bersaudara bahkan nyaris nampak seperti dua orang maestro yang sedang malas melakukan apapun. Mari kita lihat tema besarnya terlebih dahulu, agar apa yang saya maksud menjadi jelas. Empat orang pegawaifitness centre menemukan CD, berisi memoar rahasia mantan analis CIA yang sedang dalam proses dihabisi secara finansial oleh si mantan istri. Dan kerumitan itu masih ditambah pula oleh keterlibatan seorang pegawai depkeu Amerika yang selingkuh dengan istri analis CIA tadi.</p>
<p>Komedi hitam selalu rumit. Ia melibatkan kelihaian untuk memindahkan unsur realisme, lantas memelintirnya agar menjadi kepahitan yang menyenangkan untuk disaksikan. Sungguh Coen bersaudara amat beres untuk yang satu ini. Saking beresnya, tidak ada lagi kebaruan penyajian alur kisah. Oleh karenanya, film ini nyaris jatuh menjadi tipikal. Tapi itu pandangan yang sama malasnya dengan tidak mempertimbangkan sifat Coen bersaudara yang telah saya utarakan.</p>
<p>Mereka berdua, merupakan generasi paling anyar dari sineas dunia, utamanya dari Amerika, yang rela menyempatkan diri untuk melakukan spesialisasi tema. Untuk bidang observasi atas dekadensi manusia, Coen bersaudara bisa jadi mendapatkan gelar Ph.D. Dari situlah gelar maestro ”neo noir” disematkan pada mereka. Tentu noir yang dibicarakan ini jauh dari wacana teknis saja. Kita tidak tengah membahas noir yang sekadar menampilkan setting gelap, kemunculan femme fatale, ataupun kisah misteri sebagai latar cerita laiknya pakem noir klasik.</p>
<p>Coen membiarkan semua berjalan dalam benderang cahaya. Tapi dari sana Coen menjatuhkan kita kedalam jurang kegelapan. Bagi Coen bersaudara, kegelapan manusia sudah lebih dari cukup untuk menenggelamkan kita (baca: penonton) kedalam lautan frustrasi. Maka wajar jika kelindan kebodohan, sebagai representasi sisi gelap manusia, yang hadir dalam ”burn..” tidak perlu menjadi terlalu gelap. Sebagai komedi, film ini merupakan komedi yang terang dan jelas. Parahnya, ia bukan pula metanoia. Kisah ini tidak menuntun kita untuk turut serta menginsyafi kebodohan. Yang terdengar adalah ajakan untuk meratap, terkejut, dan menyesal.</p>
<p>Kini jelas, mengapa obsesi McDormand pada operasi sedot lemak, keluguan dan kebebalan Brad Pitt, sifat impulsif John Malkovich, ketidaksetiaan Clooney, sebagai beberapa contoh kebodohan yang ditampilkan dalam film ini, yang biasa mudah kita rujuk dan kita observasi sebagai medium ”meditasi reflektif ala Susanne Langer” tadi, jauh dari kesempatan untuk bisa terwujud. Coen bersaudara melakukan satu hal kecil, dan itulah rahasia terbesar film ini. Mereka melepaskan tambat yang mempertautkan jangkar bernama ”jarak” atas ”diri” dalam kisah ini. Semakin fiksional dan absurd kisah berjalan, semakin kita gagal melakukan identifikasi diri secara aman. Dan itu terjadi hanya karena beberapa aplikasi strategi diatas, yang menjauhkan penonton dari keterjagaan.</p>
<p>Coen bersaudara tak pernah berkhianat pada diktum Langer. Mereka merubah yang fiksi menjadi organik dalam tataran impresi. Kali ini, di ”Burn After Reading” mereka sedang meng-organik-kan wacana kebodohan. Untuk tujuan itu, mereka berani memasang tudung kamuflase bertajuk komedi, dengan risiko kesalahan interpretasi. Risiko itu toh terbayar. Di tengah lautan tawa, kita akan amat terganggu, dan semakin terganggu seusai kisah ini berakhir. Penonton akan tetap dalam kondisi &#8220;terberi&#8221;, dan menerima segala luapan emosi absurd dari Coen Bersaudara.</p>
<p>Strategi mereka di film ini bisa dibilang formulaik. Tapi keterpukauan akut Coen bersaudara pada sisi gelap manusia tidak terbantahkan lagi, memang mengikat. Yang formulaik pun jadi efektif. Itu karena usaha mereka mengejar hasrat agar berhasil memindai kegelapan manusia-lah, yang menjadikan film ini jauh dari kata gagal.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=123&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/09/24/coen-dan-obervasi-atas-kebodohan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/09/burn_after_reading_poster.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">burn_after_reading_poster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merantau dan Tuhan bernama Evans</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/09/24/merantau-dan-tuhan-bernama-evans/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/09/24/merantau-dan-tuhan-bernama-evans/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 18:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Leila S. Chudori menyebutkan, saat membahas film ini di kolom hiburan majalah Tempo edisi khusus kemerdekaan lalu, bahwa setting dan tema yang klise dari ”Merantau” sepatutnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Ia menafsirkan usaha sineas Gareth Evans sebagai keinginan agar kisah dongeng itu kontekstual dengan realitas. 
Namun dalam deskripsi selanjutnya, Leila memaparkan, dalam hati ia ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=118&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Leila S. Chudori menyebutkan, saat membahas film ini di kolom hiburan majalah Tempo edisi khusus kemerdekaan lalu, bahwa setting dan tema yang klise dari ”Merantau” sepatutnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Ia menafsirkan usaha sineas Gareth Evans sebagai keinginan agar kisah dongeng itu kontekstual dengan realitas. </p>
<p>Namun dalam deskripsi selanjutnya, Leila memaparkan, dalam hati ia ingin menyaksikan film tersebut dikemas di sebuah dunia antah berantah, sehingga pencak silat harimau yang hadir dalam imaji penonton menjadi lebih tuntas, lantas memendarkan kemilau yang lebih murni.<img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/09/merantau4.jpg?w=229&#038;h=300" alt="merantau4" title="merantau4" width="229" height="300" class="alignright size-medium wp-image-119" /><br />
 Bukan sekadar tafsiran “orientalis” Gareth Evans itu.<br />
Leila menimpali pula bahwa keasyikan silat berkurang karena pendekatan koregrafi yang mirip dengan karya – karya Shaw Brother ataupun Woo ping-Yuen. Dari beberapa scene, menurutnya, dapat diendus sedikit pengaruh koreografi pertarungan ala film – film Jackie Chan.</p>
<p>Namun apakah “Merantau” betul – betul kehilangan sentuhan magis pencak silat harimau Minang, dan terjatuh menjadi kisah laga generik? Dalam beberapa aspek, mungkin. “Merantau” menurut bayangan seorang Gareth Evans membebani dirinya sendiri dengan dua tujuan. Pertama melakukan representasi dari sebuah realitas.<br />
Dalam hal ini ia berambisi mendokumentasikan artefak sosiokultural Minang, yaitu silaturahmi. Atau seperti diucapkan dalam dialek Minangkabau, menjadi silet. Kedua, membangun sebuah maujud dunia yang kaotis, jauh dari moralitas, serta mengandaikan tujuan hidup sudah ditentukan, bukan pilihan. Sudut pandang yang biasa merujuk pendekatan aliran sastra “ Naturalisme” Emile Zola.<span id="more-118"></span></p>
<p>Untuk usaha yang pertama, Evans nyaris gagal karena memang usaha semacam itu berisiko terdistorsi oleh beragam hal. Pendekatan Evans untuk menghadirkan sebuah aksi laga bernuansa baru, dengan jargon memperkenalkan silat, akhirnya ia korbankan dengan imbalan pemacu adrenalin dosis tinggi. Sebagaimana dijelaskan Stuart Hall, representasi ‘memang’ kerap beroperasi untuk tidak obyektif. “Rather than objectively reflecting the world as it is, thus construct shifting realities as they perceived trough various, ideologically informed filters and channels.” urai Hall. </p>
<p>Oleh sebab itu representasi tidak akan pernah mampu menghadirkan rupa realitas sebagaimana adanya. Evans pun sebenarnya mahfum bagaimana pola itu berjalan. Ia juga tidak mengusahakan hadirnya penyimpangan pakem set list adegan laga. Jika silat harimau menjadi sedikit kung fu, yang perlu dinilai bukan lagi orisinalitas gerakan tubuh, namun harus lebih kepada esensi nilai. Berpijak dari titik itulah representasi yang dianggap berhasil, selalu berasal. Kurosawa tidak akan dilirik jika hanya bernaung di bawah panji – panji artistik kendo. Ia memilih jalur lain, dengan cara mendesain “Shicinin no Samurai” serta “Yojimbo” sebagai monumen nilai filosofis kultur samurai. Juga Zhang Yimou, yang menuntaskan nilai – nilai beladiri tiongkok dalam epik megah berlatar sejarah penyatuan peradaban Tiongkok, bertajuk “Hero”. </p>
<p>Karena itulah pendapat Leila belum menyasar pada pembahasan kualitas representasi nilai kehadiran dari budaya silat dalam “Merantau”. Yang dimaksud oleh Leila barangkali kurangnya aktualisasi nilai yang terlihat dari semua laku Yuda (diperankan dengan cukup baik oleh Iko Uwais). Sudahkah peran seorang Yuda menjembatani sikap seorang pesilaturahmi Minang dalam segala lakunya, agar tersampaikan potongan mozaik utuh di kepala penonton? </p>
<p>Ia mengajari Adit, si maling kecil, bahwa silat tidak sepatutnya ditujukan untuk berkelahi, apalagi untuk melakukan tindak kejahatan. Ia menolak untuk bekerja bersama Erik, sejawat barunya di Jakarta, saat muncul penawaran menjadi tukang pukul bayaran. Beberapa contoh tadi masih serupa dengan konsepsi tentang pendekar dalam banyak kebudayaan. Belum ada yang baru.</p>
<p>Ia pun jujur, namun adakalanya ia menaklukan moralnya untuk berbohong pada orang yang paling ia cintai, mak-nya (Christine Hakim tidak terlalu cemerlang sebetulnya, namun ia tetap berhasil memaksa kita menanti kehadirannya). Terutama saat ia merasa gagal memenuhi impian sementaranya mengajar silat. </p>
<p>Satu ironi muncul, karena di awal cerita si Mak sudah mengingatkan Yuda untuk tidak memaksakan diri, menjadi seseorang yang sempurna selama merantau. Kebohongan kecil lewat  adegan percakapan telepon, barangkali puncak konflik terbesar film ini. Dalam titik tersebut, Evans terlihat berambisi memanusiakan representasi pendekar. Ia memanusiakan Yuda, menjadi seseorang yang gagal menaklukan egonya sendiri. </p>
<p>Sayangnya Yuda belum menjadi sosok. Ia baru sekadar tokoh. Ia hanya pion, dengan kuasa ragawi lebih, dibandingkan karakter lain dalam kisah ini. Penyebabnya bisa kita alamatkan pada tujuan kedua Gareth Evans dalam membangun konflik. Evans percaya, supaya konflik hadir tanpa banyak pertanyaan lagi, dunia “Merantau” harus muncul sebagai model dunia yang terdeterminasi dan mutlak berwarna abu – abu. Semua terjadi dengan ia menjadi tuhannya. Lewat jalan itu, ia leluasa menghadirkan konflik, yang barangkali dalam perspektif berbeda tampak dibuat – buat, menjurus konyol. </p>
<p>Namun dalam dunia tanpa moral dan penuh kebetulan seperti itulah, para karakter coba dihadirkan. Imbasnya Yuda kurang punya kendali. Ia hadir tidak untuk menguasai ruang imaji, namun ia melengkapinya. Maka dari itu, kita menemukan pembenaran atas kutuk Yuda pada Astri yang menurutnya, “Selalu muncul di depan saya”, dan memaksa ia untuk menolong gadis kasar itu dari gangguan para begundal.</p>
<p>Dari sana pula pijakan untuk menilai karya ini berasal. Pretensi Leila terbukti berlebihan karena film ini sudah berbicara maksimal untuk kepentingan artistiknya. Selebihnya merupakan area dari ekspektasi tiap kepala. Baik itu ide mengenai perlunya imajinasi yang lebih total, ataupun kehendak pribadi saya agar karakter “Yuda” yang lain nantinya punya nilai “ikonik” sebagai representasi orisinalitas karya laga Indonesia, sudah tak penting lagi dilibatkan dalam pembahasan “Merantau”. Malah wacana – wacana itu membuktikan satu hal, film ini tuntas menunaikan tugasnya. </p>
<p>Pendek kata, sebagai karya yang sedikit kedodoran mengupayakan representasi yang maksimal, serta mengonstruk dunia baru yang hiperbolis dari kenyataan, “Merantau” tetap layak dekat pada sanjung puji. Lepas dari negara manapun sineasnya, karya ini memang menawarkan banyak kebaruan dalam satu paket kisah. Cukup berlimpah eksperimentasi konflik serta aspek teknis yang belum banyak dicoba oleh sineas negara ini. “Merantau” memandu kita untuk terus percaya, bahwa yang lain, yang berbeda, itu mungkin untuk diupayakan.  </p>
<p>N.B: Sejak parade film summer kemarin, baru Up dan film ini yang membuat saya tidak merasa sia – sia membuang duit. Omong – omong, sejak sekarang, segera saja dinventarisir budaya silat harimau Minang itu, karena takutnya ntar diembat sama Malaysia juga, hehehehehehe&#8230;.    </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=118&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/09/24/merantau-dan-tuhan-bernama-evans/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/09/merantau4.jpg?w=229" medium="image">
			<media:title type="html">merantau4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamasya &#8220;Muram Gembira&#8221; ala Hathaway</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/08/09/tamasya-muram-gembira-ala-hathaway/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/08/09/tamasya-muram-gembira-ala-hathaway/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 18:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/2009/08/09/tamasya-muram-gembira-ala-hathaway/</guid>
		<description><![CDATA[Saya memang mudah terkejut. Tampaknya kedepan saya harus berhati – hati dengan macam kejadian yang memiliki kemungkinan untuk mengejutkan. Karena terbukti jantung saya cukup berbakat untuk berhenti mendadak dengan sedikit stimulus saja. Dan nyaris saya mengalami apa yang selama ini saya takutkan, saat menyaksikan ”Rachel Getting Married”. 
Memang, sebelumnya saya sudah mendapatkan sedikit banyak informasi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=115&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya memang mudah terkejut. Tampaknya kedepan saya harus berhati – hati dengan macam kejadian yang memiliki kemungkinan untuk mengejutkan. Karena terbukti jantung saya cukup berbakat untuk berhenti mendadak dengan sedikit stimulus saja. Dan nyaris saya mengalami apa yang selama ini saya takutkan, saat menyaksikan ”Rachel Getting Married”. </p>
<p>Memang, sebelumnya saya sudah mendapatkan sedikit banyak informasi, perihal pujian yang dialamatkan pada Anne Hathaway, <img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/08/6a00d83451e17769e201127963a2c528a4-800wi.jpg?w=201&#038;h=300" alt="6a00d83451e17769e201127963a2c528a4-800wi" title="6a00d83451e17769e201127963a2c528a4-800wi" width="201" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-114" />soal aktingnya yang menawan dalam film tersebut. Namun, tetap saja, rasa terkejut itu terjadi saat saya menyaksikan akting tersebut dengan mata kepala saya sendiri.</p>
<p>Keterkejutan sebenarnya sudah hadir saat saya membaca nominasi Academy Award lalu. Nama yang biasanya lebih identik dengan peran – peran ”sweetheart” nan cute, kok bisa – bisanya nyelonong bersaing dengan aktris &#8211; aktris ”berkelas”, dan tentunya lebih punya nama soal akting macam Meryl Streep, atau Kate Winslet.</p>
<p>Kemudian datanglah hari saya mendapat serangan jantung mendadak itu. Kakak saya meminjam film dari rental langganan. Dia bilang, ”bintangnya si ”Princess Diary” lho!”. Walhasil, saya langsung antusias. Saya merasakan nafsu sok ala ”movie buff” untuk membuktikan, apakah benar segala pujian itu tidak salah alamat. <span id="more-115"></span></p>
<p>Dengan pemahaman ala kadarnya soal akting, saya menilai dengan ego tinggi ala kritikus film kawakan, sejak scene pertama dimulai. Dan dari awal film itulah, saya langsung melongo. Scene yang menampilkan tiga orang yang tengah duduk terdiam itu, sempat membuat saya lupa mengamati &#8211; dan bahkan nyaris tidak sadar – kalau Anne Hathaway ada disana. </p>
<p>Ia tuntas dalam menampilkan aura pecandu yang tengah mengikuti rehabilitasi, bernama Kymberly. Tidak ada lagi sosok cute, dan sungguh, jauh dari kesan manis. Impulsif, dan penuh dengan character flaw. Melalui sosok kompleks itulah kita pun dipandu, pada lawatan pesta nantinya.</p>
<p>Kredit tersendiri pantas dialamatkan pada Jenny Lumet, sang penulis skenario. Anak kandung aktor Afro-Amerika kondang Sydney Lumet itu, memberi kita nuansa yang senafas dengan cara Shirley Jackson mengawali kisah mencekam di cerpen paling kondangnya, ”The Lottery”. </p>
<p>Jika ”The Lottery” memberi kita gambaran pesta rakyat nan aneh (karena tidak ada kegembiraan, laiknya perayaan tradisional seharusnya berlangsung, dan alih – alih yang nampak adalah perasaan tegang yang muncul halus disana – sini) ”Rachel&#8230;” membawa kita pada rasa kekeluargaan yang kagok, bahkan kadang mengancam. </p>
<p>Sikap si ayah, ( diperankan oleh Bill Irwin – dan ia bermain brilian) Paul, yang menyambutnya sekeluarnya dari panti rehabilitasi memang sewajarnya dilakukan oleh ayah pada anak. Tapi, kita akan melihat, bahwa dibalik sorot matanya, tersimpan sejumput kekhawatiran, dan kita masih harus menerka – nerka, permasalahan apa yang tengah menanti kita hingga scene berikutnya di tampilkan.</p>
<p>Selanjutnya tidak ada terlalu banyak kejutan, tidak muncul dramatisasi berlebih, dan anda akan melihat keceriaan keluarga yang akan melangsungkan hajatan perkawinan. Sungguh, jika bukan karena akting para pemainnya yang cukup di atas rata – rata, sayapun akan mengantuk. Tapi sekali lagi, Jenny hanya meninggalkan bolong di penggambaran pesta yang terlalu sering. </p>
<p>Mungkin kritikan terbesar, harus ditujukan pada sineas Jonathan Demme yang terlampau sibuk membentuk atmosfir ”gerakan neo-realis gaya baru ala handeld camera”. Asyik sih memang, cara tuturnya memanfaatkan kementahan gambar hasil handycam. Tapi, ia lebih sering membuat kita pusing, dan nyaris ia benar – benar memberi kita rangkaian gambar macam shooting manten, bukan lagi ”serasa”. </p>
<p>Sayangnya misi saya kan bukan mengamati rangkaian film ini secara utuh. Saya betul – betul konsentrasi untuk menyaksikan Anne Hathaway. Dan secara keseluruhan, ia memang mendapat porsi yang pas, untuk muncul dan memaksa kita, bersepakat dengan apa yang ia rasakan. Kita dipaksa untuk bersimpati, terkadang bahkan mendorong kita apabila memungkinkan terlibat, memberi ia motivasi untuk bertahan. </p>
<p>Ia angsa hitam aneh yang diacuhkan dalam pesta kawinan ala Hippies cum pluralis tersebut (gimana ndak gitu, lha wong yang nikah kulit putih dan kulit hitam, dan dilaksanakan dalam adat hindu). Dan karakter Kym seperti bertemu katalis yang pas untuk makin menyinarkan pesonanya, lewat permainan emosi penuh nuansa dari Rosemarie DeWitt yang berperan sebagai Rachel, si kakak yang bakal menikah.</p>
<p>Terakhir saya menyaksikan pertunjukan emosi yang fluktuatif dengan asyik adalah saat melihat ”Before Sunset”. Bangun emosi yang dipertontonkan Ethan Hawke dan Julie Dephly saat itu begitu rapuh, dan kita sering ikut terperosok jatuh. Begitu pula dalam penampilan Anne dan DeWitt. </p>
<p>Mereka sosok adik kakak klise, yang bisa tiba – tiba berubah, dan meledak menjadi dua orang musuh dengan luka dalam masing &#8211; masing yang tidak akan dapat dihapus. Belum lagi sosok ibu muram yang dimainkan ciamik oleh Debra Winger, dalam menambah kompleksitas cerita. Ia sosok yang tidak bisa disentuh, dan ia bertanggung jawab penuh atas ending film ini yang keren.</p>
<p>Begitulah kisah ini bermula dan berakhir. Kita yang dipandu dalam drama keluarga generik, yang biasa dalam titik pangkal permasalahan, namun dituturkan dengan teramat sabar, menanti setiap penonton untuk tidak terjaga, hingga kita dipastikan jatuh sesuai keinginan Lumet Jr. Serupa Shirley Jackson, kita dihadapkan akhirnya dengan tragedi. Bedanya, tragedi dalam ”Rachel..” berlangsung dalam kacamata audiens. Dan bukan lagi para karakter itu yang menanggungnya.</p>
<p>Berapa film sudah menampilkan kisah disfungsi keluarga, apalagi di Amerika. Kenyang sudah kita rasanya. Lepas dari latar kisah yang cukup berwarna (mungkin didasari juga oleh latar belakang keluarga Jenny Lumet yang memang multirasial) sebenarnya kisah ini standar – standar saja. ”American Beauty” sudah terlanjur mematok ukuran yang kelewat tinggi soal bagaimana persoalan disfungsi keluarga ditampilkan dan diinterpretasikan. </p>
<p>Lepas dari komparasi yang saya lakukan, melalui karakter Kym, film ini menampilkan kekuatannya yang paling besar. Anne Hathaway memandu kita untuk selalu memintal perasaan was – was, dan tidak nyaman. Memang itulah pesan sentral film ini. ”Rachel&#8230;” merupakan tamasya kedalam peristiwa yang memicu lubuk hati kita yang terdalam, untuk tidak ingin terlibat didalamnya. Karena kita akan disuguhi kenyataan pahit, bahwa luka sepedih apapun ternyata tidak bisa disembuhkan.</p>
<p>Yang jelas, Anne Hathaway tidak pantas disejajarkan dengan sejawat alumni Disney yang lain. Ia berada di tataran yang berbeda. Dan merupakan sebuah kesia – siaan besar apabila ia tidak menggali potensinya lebih jauh. </p>
<p>Setelah film usai, saya baru sadar, kakak saya tidak berada di samping saya lagi. Ia sudah ada di kamar. Sebelum saya bertanya lebih jauh, ia berkata, ”Film-e mboseni. Ga seperti yang kubayangkan, Anne Hathaway kok main serius!”</p>
<p>Saya jadi berpikir keras, untuk memaknai apa yang dimaksud ”serius” itu&#8230;..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=115&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/08/09/tamasya-muram-gembira-ala-hathaway/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/08/6a00d83451e17769e201127963a2c528a4-800wi.jpg?w=201" medium="image">
			<media:title type="html">6a00d83451e17769e201127963a2c528a4-800wi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UP dan Mite Sisifus</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/08/08/up-dan-mite-sisifus/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/08/08/up-dan-mite-sisifus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 15:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/2009/08/08/up-dan-mite-sisifus/</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang anda cari dari sebuah hiburan? Pun jika hiburan memberikan lebih dari sekadar hiburan, maka anggap saja itu bonus. Namun benarkah kita berhasrat sebanal itu dalam memandang hiburan?
Itulah yang coba Pixar tantang pada kita. Jika sekali waktu sebuah rancang bangun karya bertajuk “animasi” pernah berhasil membawa kita ke sebuah tawaran pelik bernama “keindahan” serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=104&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Apa yang anda cari dari sebuah hiburan? Pun jika hiburan memberikan lebih dari sekadar hiburan, maka anggap saja itu bonus. Namun benarkah kita berhasrat sebanal itu dalam memandang hiburan?</p>
<p>Itulah yang coba Pixar tantang pada kita. Jika sekali waktu sebuah rancang bangun karya bertajuk “animasi” pernah berhasil membawa kita ke sebuah tawaran pelik bernama “keindahan” serta “kedalaman” sebelumnya, akankah kita menolak tawaran serupa yang datang? </p>
<p>Berangkat persis dari pertanyaan yang muncul seperti diatas itulah, sikap saya dalam mengantisipasi UP. <img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/08/up-pixar-poster2.jpg?w=202&#038;h=300" alt="up-pixar-poster" title="up-pixar-poster" width="202" height="300" class="alignright size-medium wp-image-109" />Ternyata ia lebih indah dari yang saya bayangkan. Karena ia berangkat dari sebuah ritus, dan ritus itu bernama kegilaan perfeksionis kolektif bertajuk Pixar. Sebagai sebuah nama, Pixar menjamin – dan itu hal yang belum mampu dicapai oleh pesaing yang lain – akan sebuah kelindan kisah dan sajian visual nan memukau.</p>
<p>Untuk itulah orang mengeluh. Mengapa ekspektasi yang saya bangun selalu berhasil dilampaui? Mengapa saya  ingin sekali tidak memuji film ini, namun, apa daya?<span id="more-104"></span></p>
<p>Ya apa daya seorang tua yang cuma memiliki kenangan masa lalu?</p>
<p>Seorang sepuh yang sudah melepaskan semua harapan. Manusiawi sekali. Dan kalau saya hendak mencemooh ’UP’, di titik tersebut saya akan melakukannya. Karena UP tidak membatasi batas kemenangan. Kisah macam UP jelas sekali musuh bagi semua kisah – kisah nan kelam, naturalis ala Emile Zola, atau bisa juga tipikal nihilistik macam kisah dari Sartre. </p>
<p>Carl Fredericksen tidak seharusnya melepaskan diri dari bayang – bayang kelemahan dirinya. Mengapa kulminasi semangat untuk menjadi, pinjam Nietzsche, seorang Ubermensch (dalam konteks mewujudkan impian berpetualang di masa kecilnya) itu hadir di waktu yang terlambat? Bisa jadi kalangan skeptis ala Sophis Athena bakal mentertawakan gagasan duo sineas Pete Doctor dan Bob Peterson ini. Mana bisa seorang proletar (dalam konteks kisah ini penjual balon) mampu menjaga impiannya tetap hidup, ditengah himpitan kesulitan hidup sehari – hari? </p>
<p>Tapi alih – alih terperosok ke lubang kehinaan produk pikiran dewasa, UP dengan lincah memperolok kedewasaan itu sendiri. Manakala anda berfikir bahwa Pixar sering membuat animasi yang terlalu rumit bagi anak – anak. Saya berani bilang, anda keliru! Baru kali inilah Pixar menekankan aspek cerita dengan sasaran tembak terang benderang: ”alam pikiran dewasa”. </p>
<p>Impian Carl dan Ellie adalah tipikal kisah yang meminjam narasi Sisifus. Untuk fragmen pahit Charles Muntz, tengoklah kisah Ikarus atau Macbeth. Anda serasa menemui epigon. Dan jalinan kisah besar yang disasar Pixar tidak sesederhana petualangan seorang sepuh bersama pramuka cilik peranakan Cina – Amerika, anjing yang bisa berbicara, beserta hewan langka yang mengingatkan audiens pada Icon Warner Bros, sang penakluk tokoh ironis Willy Coyote, Roadrunner itu.    </p>
<p>Ia bercerita mengenai celah kemungkinan menghancurkan narasi Sisifus yang nyaris serupa kutuk tak terhindarkan. Ia menghadirkan tafsir baru atas kesederhanaan. Secara garis besar, setiap penutur kisah yang baik, bolehlah merujuk pada UP untuk mempelajari bagaimana &#8220;willing suspension of disbelief,&#8221; ala Tolkien diterapkan dalam menuturkan kisah. Dan meminjam ajaran Tokien mengenai metoda penceritaan fiksi tersebut untuk diterapkan dalam kaidah sinematografi, seorang sineas harus bisa membuat setiap orang percaya dan sepakat dengan dunia yang dihadirkannya. Analogi kebalikannya adalah mengandaikan Saussure tidak yakin bahwa bahasa itu arbitrer. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana rapuhnya sebuah bangun pemikiran yang tidak yakin dengan apa yang coba ia bangun.</p>
<p>UP berdiri dengan gagah, mencoba membuktikan, bahwa tiada relevan saat ini untuk tetap mendikotomikan manusia dan non-manusia. Disini dunia yang menjadi tujuan utama tamasya. Dan tidak ada dalam kesepakatan sebelumnya dunia ini harus maujud sebagai dunia manusia yang penuh kekalahan. Namun yang kalah pun hadir disini – dalam karakter seperti Carl, Muntz, atau bahkan Alpha (saya amat suka karakter anjing dengan kalung suara rusak ini), untuk sekadar memberi aksen, bahwa setidaknya anda masih bisa menemukan referensi mengenai dunia yang tengah anda hidupi sekarang. </p>
<p>Maka anda bisa bandingkan narasi serumit itu dengan Kisah persahabatan di Monster Inc., Kesetiaan dan cinta kasih natural dalam Finding Nemo dan The Incredibles? Jelas UP jauh lebih rumit secara substansial untuk anak &#8211; anak. </p>
<p>Mungkin jika Pete Docter mengikuti langkah Andrew Stanton untuk tidak terlalu ambisius seperti hal-nya di WALL-E, UP akan mampu melampaui ”Wizard of Oz” atau ”Alice in Wonderland” dari segi kisah. Sayangnya Docter tidak berhasil memberikan kita identifikasi pada tipe karakter yang hadir di kisah ini. Kalau mereka memang dimaksudkan sebagai refleksi manusia kebanyakan, maka keringlah emosi yang tergali saat Docter menggambarkan konflik antara Carl dengan Russel (saat bertengkar perihal rencana penyelamatan Kevin), atau saat Russel mengalami momen kehampaan karena kehilangan sosok ayah yang dahulu kerap menemaninya dalam momen &#8211; momen minor semisal berlomba menghitung warna mobil yang lewat. Tidak ada dramatisasi di sana. Dan sayangnya ini bukan kisah realis, karenanya, unsur penekanan seperti itu amat dibutuhkan.</p>
<p>Sebenarnya momen itu hadir, namun karena demikian indah, barangkali lacur semua energi dicurahkan oleh segenap dalang di Pixar untuk menyempurnakan fragmen minim kata di flashback kisah &#8220;Carl dan Ellie&#8221;. Hanya yang bukan manusia yang tidak menemukan dirinya terpapar disana, dan oleh karenanya tersentuh.</p>
<p>Untuk itulah saya bersorak. Setidaknya saya berusaha keras, dan mampu menghindarkan diri dari menulis sanjung puji. Namun apalah kritikan saya ini, dihadapan efektivitas slapstick (humor kalung suara rusak, atau kevin menelan bola tenis di tongkat berjalan milik Carl), innocent-nya suara Jordan Nagai (Russel bahkan dalam beberap momen lebih menggemaskan dari si imut ”Boo” dalam Monster Inc., dan tentu saja seperti saya sudah sampaikan sebelumnya, konsistensi menghadirkan peluang menghabisi tradisi Sisifus. UP menyadarkan setiap orang, bahwa tidak ada ketidakmungkinan atau kemungkinan, karena semua berkelindan dalam satu sisi mata uang yang sama. Dan dari sudut pandang itu, UP melantunkan sembah dan puji bagi Brahma.</p>
<p>Atau bisa juga diringkas semua yang telah saya tulis menjadi berbunyi: ”Jika anda malas memaknai kisah ini, setidaknya anda tetap mendapat ganjaran yang setimpal untuk kemalasan anda itu, yaitu anda akan terus mengingat film ini sesudah anda menonton, mungkin untuk waktu yang cukup lama.”</p>
<p>Oh, tapi sudahkah saya bilang bahwa WALL-E masih jauh lebih bagus?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=104&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/08/08/up-dan-mite-sisifus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/08/up-pixar-poster2.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">up-pixar-poster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidangan Murah Meriah ala Eastwood</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/07/04/hidangan-murah-meriah-ala-eastwood/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/07/04/hidangan-murah-meriah-ala-eastwood/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 14:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Boleh jadi nama besar tidak menjamin seseorang bisa terhindar dari rasa bosan. Dan kecenderungan tersebut terlihat dalam sepak terjang Clint Eastwood dalam karya terbarunya, Gran Torino. Dalam usianya, ditambah dengan beragam pencapaian yang berhasil didapatkan, barang tentu akan lebih enak jika ia santai di ranch-nya yang amat luas di Los Angeles itu. Tapi, mungkin pengaruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=100&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Boleh jadi nama besar tidak menjamin seseorang bisa terhindar dari rasa bosan. Dan kecenderungan tersebut terlihat dalam sepak terjang Clint Eastwood dalam karya terbarunya, Gran Torino. Dalam usianya, ditambah dengan beragam pencapaian yang berhasil didapatkan, barang tentu akan lebih enak jika ia santai di ranch-nya yang amat luas di Los Angeles itu. <img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/07/2971452274_01f81cc37f.jpg?w=202&#038;h=300" alt="2971452274_01f81cc37f" title="2971452274_01f81cc37f" width="202" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-101" />Tapi, mungkin pengaruh karakter “si tanpa nama” yang ia lakoni dalam western spaghetti klasik The Good, The Bad, and The Ugly sudah terlampau menancap erat, dan enggan melepaskannya. Proyek Changeling ternyata tidak perlu waktu yang terlalu lama untuk disusul dengan film tentang rasisme dan kultur kekerasan di Amerika ini. Hanya saja, bisa ditangkap mood personal Eastwood kali ini. Ia ingin kembali melakoni sebuah peran, setelah terakhir kali ia lakukan tahun 2004 lalu dalam filmnya sendiri pula Million Dollar Baby.<span id="more-100"></span></p>
<p>Bosan mungkin satu kata yang terlalu spekulatif. Karena hanya Eastwood seorang yang tahu alasan ia tetap melanjutkan tradisi kemaruk dengan mengambil porsi aktor utama dan sutradara sekaligus. Namun, pendekatan itu tetap ia secara berani ambil karena dua kali berhasil dengan gemilang. Baik Unforgiven maupun Million Dollar Baby memang mampu memadukan kegemilangan visi Eastwood dengan kecermatan pengarahan akting setiap karakternya. Namun ada satu hal yang barangkali terlupa olehnya. Dalam dua film terdahulu, ia – sebagai salah satu pemeran utama – terbantu untuk tetap fokus pada porsi perannya, karena aktor pendukung yang lain juga tuntas memagari porsi kehadiran masing – masing di tiap adegan.<br />
Jika di Unforgiven, Gene Hackman dan Morgan Freeman bermain apik, dan sebaliknya Eastwood malah bermain terlalu biasa, maka Million Dollar Baby berhutang budi pada karisma Hillary Swank. Nah, apabila pengimbang di sektor akting macam mereka tidak ada, maka “keberanian” Eastwood kali ini bisa dibilang gagal dalam wilayah tersebut. Nyatanya Gran Torino memang menyedihkan dalam soal akting. Eastwood satu – satunya yang menjulang sepanjang film, dengan melakoni peran seorang veteran perang Korea, kulit putih yang tidak terlalu berpendidikan, bekerja di pabrik Ford, anti barang impor – utamanya mobil jepang, dan gagal berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Namun Eastwood jadi terlihat istimewa karena pemeran yang lain terlalu menyedihkan untuk disaksikan.<br />
Saya membayangkan bahwa Eastwood harus bekerja ekstra keras dengan mengoptimalkan kapasitasnya sebagai aktor dan menyelamatkan filmnya, dan akibatnya peran sebagai sutradara tidak optimal. Padahal ia terkenal sebagai sineas yang sedikit banyak fokus pada sisi peran, dan sukses mengantarkan tiap pemeran filmnya mendapatkan penghargaan, diantaranya Tim Robbin, Sean Penn, atau yang paling akhir kemarin adalah Angelina Jolie. Dan kenyataan memang pahit. Nyaris tidak ada scene stealer di karyanya kali ini. Bee Van, aktor muda keturunan Vietnam, yang ditandemkan dengannya bahkan gagal hanya untuk memerankan diri sendiri.<br />
Dengan setting di Michigan atau sekitarnya – karena memang tidak disebutkan – yang jelas di Amerika bagian ndeso, Walt Kowalski si veteran perang yang baru ditinggal mati sang istri, tiba &#8211; tiba harus membiasakan diri dengan kehadiran imigran Hmong (etnis mayoritas di daerah Segitiga emas, dan sebagian Vietnam) di lingkungan RT-nya. Sikap rasisnya yang awalnya sangat ditunjukkan malah menghilang pelan – pelan, setelah ia membantu keluarga Hmong tetangganya mengusir geng Hmong (yah, salah satu nilai plus film ini karena menambah pengetahuan kita bahwa di Amerika ada geng etnis lain diluar Hispanik, Italia, dan kulit hitam) yang memaksa anak bernama Thao masuk ke kelompok mereka. Dan maunya sih, akar masalah dan konflik berkutat di mobil kesayangan Walt, yaitu Ford Gran Torino tahun 1965. Tapi cerita kemudian kehilangan arah, dan lebih fokus mengksplorasi hubungan persahabatan antara Walt dan Thao, dan sampai akhir film, mobil Gran Torino itu tidak memiliki signifikansi yang terlalu kuat pada cerita, dan sebenarnya cuma jadi tempelan saja.<br />
Parahnya, semua pemeran Hmong di film ini kaku sekali. Padahal mereka memerankan diri sendiri, yah, tapi mungkin itu memang bagian yang paling susah. Dan Eastwood gagal mengarahkan mereka, karena ia sendiri kesusahan untuk membuat dirinya fokus. Walt sudah berusaha membangun chemistry sewajar mungkin dengan si Thao yang diperankan Bee Van, atau dengan karakter Sue, namun kedua peran Hmong utama tersebut menghancurkan chemistry itu begitu saja. Namun untuk urusan membangun emosi, kapasitas Eastwood sebagai sineas kawakan terbukti belum menghilang. Entah magis apa yang ia gunakan, cerita yang sebenarnya cukup klise itu, terbukti mampu saya lewati dua jam kurang tanpa ada momen bosan.<br />
Persahabatan orang tua menyebalkan dengan anak polos, dan relasi antara mereka mungkin memang memiliki nilai jual tersendiri. Finding Forrester, Scent of Woman, atau animasi Pixar yang terbaru Up juga berhasil dengan tema – tema macam itu. Bedanya, jika ada proses take and give dalam hubungan antar karakter utama, maka konsep itu yang tidak ada dalam Gran Torino. Eastwood menghegemoni semuanya, namun tampaknya ia mengejar sesuatu yang lain. Yaitu proses penebusan dosa, dan kesadaran eksistensi, ditabalkan melalui jalan yang relatif baru dalam karyanya kali ini. Saya pun baru menyadari hal ini setelah membandingkan ending film ini dengan ending film &#8211; filmnya terdahulu, semisal Fistfull of Dollar, Dirty Harry, atau Unforgiven.<br />
Ada perubahan pola, dari kesadaran eksistensial yang hadir melalui kekerasan an sich, kini Eastwood memakai sudut pandang yang berbeda dalam memandang kekerasan – yang ironisnya ditujukan untuk memutus mata rantai kekerasan – dan ia tampaknya akan sering mengulang formula itu di masa depan. Jika anda sedang luang, film ini adalah pilihan yang ibaratnya “Murah meriah”. Tidak istimewa, namun kadang anda bisa terkejut melihat hasil akhirnya. Dan memang disitu letak keistimewaan Eastwood. Tapi saya berharap ia esok memilih salah satu tugas saja, dan tidak kemaruk macam sekarang agar kualitas karyanya naik menjadi hidangan mewah dan berkelas. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=100&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/07/04/hidangan-murah-meriah-ala-eastwood/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/07/2971452274_01f81cc37f.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">2971452274_01f81cc37f</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Biseksualitas? Bukan ah, Ini Hanya Sekadar Igauan dari Simbah Yang Mulai Menyebalkan</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/07/04/kisah-biseksualitas-bukan-ah-ini-hanya-sekadar-igauan-dari-simbah-yang-mulai-menyebalkan/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/07/04/kisah-biseksualitas-bukan-ah-ini-hanya-sekadar-igauan-dari-simbah-yang-mulai-menyebalkan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 14:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Okay, saya memulai dengan apologi saja dulu. Sudah banyak review sebenernya yang menanti di laptop untuk dipublikasikan. Namun, maafkan saya oh, khalayak ramai, karena saya memang pandir, sehingga my document terlalu saya percayai untuk menyimpan data sedemikian berharga. Pada akhirnya, ketika penyakit kronis laptop menolak disembuhkan, ikut tewaslah data – data saya yg lumayan banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=94&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Okay, saya memulai dengan apologi saja dulu. Sudah banyak review sebenernya yang menanti di laptop untuk dipublikasikan. Namun, maafkan saya oh, khalayak ramai, karena saya memang pandir, sehingga my document terlalu saya percayai untuk menyimpan data sedemikian berharga. Pada akhirnya, ketika penyakit kronis laptop menolak disembuhkan, ikut tewaslah data – data saya yg lumayan banyak karena<br />
diperparah dengan kenyataan bahwa saya tidak mem-back up anak &#8211; anak pikiran itu.<br />
<img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/07/vicky-christina-barcelona-1-sflb.jpeg?w=202&#038;h=300" alt="vicky-christina-barcelona (1).sflb" title="vicky-christina-barcelona (1).sflb" width="202" height="300" class="alignright size-medium wp-image-95" /></p>
<p>Bicara tentang kepandiran saya tadi, setelah dipikir – pikir betul, masalahnya juga menjadi pelik karena kebebalan dilibatkan pula. Sudah banyak kawan sudi menyumbangkan nasehat, “segera back up datamu itu!” Nyatanya? Terlalu malas saya melakukannya, dan menyesal pula akhirnya. By the way, tidak hanya saya seorang saja ternyata yang pandir sekaligus bebal lho! Mbah Woody Allen ternyata memiliki problem serupa dengan saya.<span id="more-94"></span></p>
<p>Dalam karya-nya yang paling gress, “Vicky Christina Barcelona”, simbah yang satu ini masih saja konsisten “pandir” sekaligus “bebal” dalam bertutur lewat format seluloid. Oke, saya akui “Annie Hall” itu bagus, istimewa malah, demikian pula “Manhattan”. Namun formula yang sama, yaitu eksplorasi mengenai seks dan cinta, malah membuat ia tampak seperti anak kecil yang memaksakan kehendak.<br />
Di karya teranyarnya itu, ia menggunakan skema narasi yang setia memandu penonton untuk memahami bahwa dua orang karib, Vicky serta Christina, sedang berlibur di Barcelona. Di liburan itu nantinya dua orang sahabat tersebut akan bertemu dengan pelukis flamboyan Juan Antonio, saling jatuh cinta dalam hubungan yang aneh, dan diperparah dengan kehadiran mantan istri Juan yang bipolar dan rapuh Maria Elena.</p>
<p>Entah siapakah yang membisiki simbah satu ini, setan atau malaikat, tapi yang jelas keberadaan si narator tidak serta merta menjadikan film ini unik, tapi malah menyebalkan. Bagi anda yang pernah membaca novel Andre Aksana, the songong author itu (tribute to sastrawan jahat R.I.P) – Allen jadi seperti penulis &#8220;ra cetho&#8217; macam si Aksana itu &#8211; menganggap penonton orang yang masih berada di masa jahiliyah, sehingga belum mampu mengapresiasi rangkaian gambar yang mereka lihat. Imajinasi anda dibatasi, karena suara hati tiap karakter dijelaskan dengan gamblang (di scene yg menggambarkan tokoh Vicky murung, si narrator secara sewenang – wenang menjelaskan bahwa Vicky sedang gundah karena perasaanya). Atmosirnya seperti “Hey, ini memang bukan nonton film kok, ini adalah dongeng sebelum tidur, dan Allen mendongengi kita tanpa kita boleh punya impresi yang berbeda darinya!”</p>
<p>Belum lagi dialog kacangan menyebalkan yang membuat actor sekaliber Javier Bardem tampak bodoh mengucapkannya, “Perasaan cinta ku itu ada yang kurang, seperti sudah ada vitamin dan kalsium, tapi, tidak ada mineral!” Oh my merciful God! Ups, ada satu yg terlupa, film ini juga membuka borok mbah Allen yg ketahuan ga apdet informasi. Hari gini ngomongin tayangan TV streaming di internet dengan antusias? (pas adegan makan malam bersama Vicky dan suami menyebalkannya Doug – akting pemerannya paling hancur di film ini – komplit sudah)</p>
<p>Ehm, kalau yg bicara karakter dengan latar belakang kurang berpendidikan okelah, tapi digambarkan si Doug ini pengusaha muda yang mobile, pintar, dan melek teknologi. Kelihatan sekali simbah Allen yang sebenarnya “nggumun”. Demikian pula dialog soal batasan moral umum dan semangat libertan dalam aktivitas seksual. Please deh mbah, kamu ni ngajak dialog penonton tapi malah nge-jugde duluan, gambarannya seperti berikut:<br />
Mbah Woody: “Bagaimana menurut kalian soal biseks? Itu memang ga aneh dan sah – sah saja, hei penonton, kamu jangan menilai sepihak, ga boleh itu!” (padahal kita berkomentar saja belum)</p>
<p>Oke – oke, cukup sudah caci makinya, karena ada aspek yang luar biasa di film ini, yaitu akting dari Penelope Cruz, sebagai perempuan istri seniman flamboyan yang fragile, inkonsisten, kasar, bawel, posesif, bipolar (memiliki kondisi emosi yang mudah berubah secara ekstrim), serta suicidal. Komplit, dan semua itu terwakili lewat semua aspek kehadirannya di tiap adegan ia muncul. Pantaslah ia mendapat Oscar untuk perannya sebagai jembatan konflik cerita ini. Ia pula yang berhasil membangun chemistry dengan Bardem (yang tampak ikut arus akting jelek di awal hingga pertengahan film, walau stabil kemudian) dan mengajari dua aktris lainnya soal akting (kecuali kemampuan alamiah Johansson dalam membangkitkan gairah seksual lawan jenis).</p>
<p>Cerita boleh garing, dialog boleh hancur, tapi untungnya penilaian soal film ini tidak serta merta ikut lebur. Simbah Allen bolehlah berterima kasih pada Bardem dan Cruz karena sudah membawa filmnya naik setingkat dari neraka penghinaan. Yah, bagi pengikut fanatik Woody Allen, sori no offense, simbah yang satu ini memang sudah saatnya pensiun. Ngelanturnya sudah ga asik lagi. Dan tampaknya dia masih berminat untuk tetap memaksa kita terlibat dalam igauan personalnya itu dalam karya – karyanya yang akan datang. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=94&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/07/04/kisah-biseksualitas-bukan-ah-ini-hanya-sekadar-igauan-dari-simbah-yang-mulai-menyebalkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/07/vicky-christina-barcelona-1-sflb.jpeg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">vicky-christina-barcelona (1).sflb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Eastwood, Kali Ini Engkau Memberi Terlalu Banyak Pertanyaan!</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/04/24/eastwood-kali-ini-engkau-memberi-terlalu-banyak-pertanyaan/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/04/24/eastwood-kali-ini-engkau-memberi-terlalu-banyak-pertanyaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 17:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa masa sebelum hari Kartini kemarin, tanpa agenda apapun, saya menyaksikan sebuah film Eastwood bertajuk &#8220;Changeling&#8221;. Barangkali memang saya ditakdirkan untuk balajar ulang memahami hakikat &#8220;peran seorang Ibu&#8221; (dalam konteks ini kita dapat mengasosiasikannya dengan dorongan naluriah perempuan)  secara lebih universal. Jargon &#8211; jargon emansipasi perempuan, kasih sayang seorang ibu pada anaknya, serta lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=88&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa masa sebelum hari Kartini kemarin, tanpa agenda apapun, saya menyaksikan sebuah film Eastwood bertajuk &#8220;Changeling&#8221;. Barangkali memang saya ditakdirkan untuk balajar ulang memahami hakikat &#8220;peran seorang Ibu&#8221; (dalam konteks ini kita dapat mengasosiasikannya dengan dorongan naluriah perempuan) <img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/04/changeling-poster-fullsize.jpg?w=202&#038;h=300" alt="changeling-poster-fullsize" title="changeling-poster-fullsize" width="202" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-90" /> secara lebih universal. Jargon &#8211; jargon emansipasi perempuan, kasih sayang seorang ibu pada anaknya, serta lebih jauh lagi perjuangan manusia untuk mencari kebenaran tidak pernah klise dalam dunia yang ditampilkan Eastwood. Lebih menohok lagi, kisah di film tersebut berpangkal dari sebuah narasi yang benar &#8211; benar terjadi di Amerika tahun 1920-an. </p>
<p>Kisah berpusat pada sosok seorang single parent di Tinseltown, Los Angeles (yang diperankan dengan cukup apik oleh Angelina Jolie, setelah cukup lama ia mengubur sendiri potensi keaktoran tingkat wahidnya itu dengan bermain di beberapa film Blockbuster kacangan)<span id="more-88"></span> bernama Christine Collins. Penyelia sambungan telepon itu nyaris tanpa cela dalam hidupnya. Berprestasi di tempat kerja (karena mampu bersaing dengan sejawat lelaki &#8211; hal yang belum terlalu lazim pada masa itu), mampu merawat anak semata wayangnya, serta menarik secara fisik. </p>
<p>Kesempurnaan itu runtuh saat anaknya secara mendadak menghilang dari rumah. Kepanikan mulai ditampilkan pada penonton secara pelan &#8211; pelan. Kisah pencarian anak hilang ini, tidak dibangun sedramatis Ben Affleck saat menyodorkan kisah serupa di &#8220;Gone Baby Gone&#8221;. Konflik secara perlahan datang, silih berganti, mulai dari tanggapan pihak kepolisian Los Angeles yang lamban, masuknya advokasi pihak gereja yang berusaha membuktikan borok LAPD yang dituduh korup dan kejam, hingga berpuncak pada gerakan massal melawan ketidakadilan jender. Pertanyaan perihal moralitas dan ambiguitas hukuman mati juga sedikit banyak ditampilkan disini, melalui sosok Arthur Hutchinson, pedofil maniak penyebab kasus ini bermula. </p>
<p>Begitu banyak hal diungkap oleh Eastwood, dan sayangnya itulah kelemahan teknis film ini. Barangkali usaha itu ditempuh untuk menjaga akurasi sesuai kisah nyata yang terjadi, namun dibanding film &#8211; filmnya yang lain &#8211; dengan ciri khas emosional, gelap, dan kadang bergelora, namun fokus &#8211; &#8220;Changeling&#8221; terasa sedikit datar, dan terlalu &#8220;dingin&#8221; serta kadang tidak memebri pijakan bagi penonton untuk memamah pesan yang disampaikan. Aspek yang paling kuat justru muncul bukan dari fragmen perjuangan Christine yang tidak kenal lelah mendapatkan kembali sang buah hati, namun pada betapa banyak kepentingan ingin bermain dari perasaan seorang individu. </p>
<p>Baik kepolisian (dengan menjalankan skandal pemalsuan dan mengirim Collins &#8211;  yang bersikeras bahwa anak yang ditemukan polisi bukanlah anaknya yang sebenarnya &#8211; ke rumah sakit jiwa demi menjaga citra), hingga pihak gereja lewat representasi pendeta Gustav Briegleb (diperankan dengan cemerlang oleh John Malkovich) yang amat bernafsu menghabisi integritas kepolisian dan secara tidak sadar memaksakan Christine menjadi pion ambisinya menyulut aksi massa menentang kesewenang &#8211; wenangan birokrasi kota.</p>
<p>Salah satu aspek yang kuat pula dari film ini adalah kebersahajaannya mengusung isu kesetaraan jender. Memang, di film ini digambarkan perlawanan perempuan yang di&#8221;institusioanlisasi&#8221;kan karena melawan dominasi patriarki. Namun, apa yang dilakukan Christine menentang tindakan aparat di rumah sakit jiwa pada perempuan jauh dari cita &#8211; cita luhur feminis kontemporer. Apa yang ia lakukan lebih menyerupai kisah Christine Perkins dalam &#8220;The Yellow Wallpaper&#8221;. Sebuah memoar istri yang di &#8220;gila&#8221; kan oleh kuasa medis patriarki. Jauh dari kesadaran akan kesetaraan dan jargon &#8211; jargon mewah lainnya, kedua perempuan tersebut menyerang titik pusat keangkuhan patriarki lewat kesadaran epistemologis dan afektif mengenai rasa sakit pada pengekangan hak hidup seorang manusia. Fitrah manusia memang tidak rela dikebiri ruang hidupnya oleh manusia lain, lepas dari apakah ia laki &#8211; laki atau perempuan.</p>
<p>Karya ini bukan yang terbaik dari katalog Clint Eastwood, terlebih karena ia membebani kita terlampau banyak momen untuk berkontemplasi. Namun jika kita menyisihkan beberapa aspek, dan fokus pada peran Angelina Jolie saja, mungkin ada jalan yang lebih lapang &#8211; bagi kita untuk merefleksikan posisi &#8211; ditengah hiruk &#8211; pikuk psikologi massa sepanjang film. Dimana kita dipaksa secara halus untuk memberi ruang padanya bercerita, dan balik menanyai diri kita sendiri, apakah keberpihakan kita pada perempuan memang tulus, ataupun masih banyak diboncengi tujuan lain. Di hadapan dua macam muara pilihan pilihan itupun, kita masih harus berfikir keras mencari jawaban yang paling jujur. </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=88&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/04/24/eastwood-kali-ini-engkau-memberi-terlalu-banyak-pertanyaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/04/changeling-poster-fullsize.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">changeling-poster-fullsize</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenang “Si Tukang Ejek Nomor Wahid”</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/04/06/mengenang-%e2%80%9csi-tukang-ejek-nomor-wahid%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/04/06/mengenang-%e2%80%9csi-tukang-ejek-nomor-wahid%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 17:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Saya bukan penggemar sejatinya yang juga merupakan penggemar sejati itu sendiri. Paradoks kekaguman saya terhadap sesosok besar dunia perfilman Indonesia yang saya alami, mengganggu saya akhir – akhir ini.  Betapa kekaguman tersebut, bisa jadi lebih merupakan cermin reflektif yang sengaja saya pergunakan untuk menelanjangi diri sendiri. Dalam menghadapi momen untuk menuliskan secuil testimoni ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=84&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya bukan penggemar sejatinya yang juga merupakan penggemar sejati itu sendiri. Paradoks kekaguman saya terhadap sesosok besar dunia perfilman Indonesia yang saya alami, mengganggu saya akhir – akhir ini.  Betapa kekaguman tersebut, bisa jadi lebih merupakan cermin reflektif yang sengaja saya pergunakan untuk menelanjangi diri sendiri. Dalam menghadapi momen untuk menuliskan secuil testimoni ini, saya memilih untuk melepaskan semua pretensi, menghamburkan semua keangkuhan, dan menari dalam kondisi nyaris telanjang, tapi entah mengapa semuanya terasa macam epifani saja.<span id="more-84"></span> saya tidak malu mengakui bahwa saya tidak terlalu mengenalnya, karya – karyanya, ataupun segala macam atribut personal yang melekat di belakang namanya. Dengan sedikit kilas balik – melalui perjumpaan dengan dirinya pula – saya serasa mengamini dosa dalam ketidaktekunan menyuntuki ragam karya perfilman Indonesia. Tidak, bukan berarti saya menumbuhkan bibit chauvinisme rendahan dengan menganggap tidak menonton film Indonesia sebagai kontrarevolusi, ataupun, pinjam frasa paling menyebalkan bagi saya, “tidak nasionalis”. Perasaan bersalah tersebut muncul melalui kesadaran yang timbul, bahwa saya telah melewatkan banyak momen kemanusiaan dahsyat yang pernah tercatat dalam rangkaian sejarah panjang dunia perfilman Indonesia. </p>
<p>Sekali lagi saya ingin gagah berucap, saya tidak pernah mengklaim diri sebagai almanak film berjalan, saya tidak pernah mengangkangi hati kecil saya bahwa saya tidak tahu apapun perihal film, dan itu selalu muncul selepas saya berjumpa kembali dengan “guru spiritual” personal saya ini. Barangkali ada diantara anda yang gemas berucap, “Apa capaian orang yang engkau kagumi itu?”, “Bukankah banyak dari ateur orisinil Indonesia yang lebih laik dikenang?”, atau mungkin “Bukankah ia tidak seagung seniman lain yang menciptakan tonggak estetis dunia film Indonesia?” Kecenderungan fanatisme buta tersebut bahkan oleh saya sendiri tidak dapat dijelaskan secara rigid, ataupun rasional.  Dan ajaibnya, saya tidak mendapatkan ekstase tersebut melalui perjuangan yang pantas. Saya tidak selevel orang – orang lain yang mendapatkan ilham melalui usaha keras menggali makna. Saya tidak kesulitan seperti Heidegger yang mengais – ais konsepsi “ada” lewat pembacaan telatennya akan Nitzsche. Namun saya yakin, bahwa saya cukup berterima kasih atas perluasan cakarawala pandang pikiran sempit saya akibat ketidaksengajaan bersinggungan dengan beliau. Yah, beliau, kata yang ikhlas saya ucapkan seakaan saya telah mereguk nikmat serta karunia darinya. Apabila hiperbola ini tidak terkendali, mohon pengertian anda semua bahwa saya sendiri mengalami momen lepas kendali tersebut secara sadar. Dan sebuncah bualan jauh dari absurd ini akan saya tambah dengan fakta, bahwa permulaan kecintaan saya padanya berawal dari hanya tiga film karyanya yang pernah saya tonton.</p>
<p>Banyak “penggemar film” yang merasa tuntas laiknya pergi haji, apabila telah rampung menyuntuki karya seorang sineas, lengkap dari semua katalog yang ia hasilkan. Tidak dengan saya. Saya sudah cukup puas dengan tiga tersebut. Saya masih SMP saat itu, tidak diragukan lagi. Berkat bantuan RCTI-lah, saya yang tinggal di kampung terpencil jauh dari fasilitas nonton film layak, berhasil menyaksikan dengan suksesnya karya sineas yang sering disebut “Bapak film komedi Indonesia” itu. Apabila saya ingat lebih detil lagi, kecintaan saya pada aktivitas “nonton film” bertumbuh pertama kali bukan dari keluarga, namun benar – benar terpantik dari karya beliau. Sebelum saya menyaksikan karya sinematografisnya, saya menganggap film sekadar benda mati. Berkat sentuhan beliau, saya mampu melihat film dengan lebih hidup, sebagai subyek yang otonom, dapat berkelindan di dalam relung hati, dapat murung sekali – kali, dan bisa penuh vitalitas di lain waktu. Ia, sukses luar biasa menyentuh wilayah saya yang paling tidak sadar, menghidupkan tombol ‘on’ di otak, dan mengasah ketumpulan estetis saya. </p>
<p>Hanya dengan “Inem Pelayan Seksi”, “Cintaku dirumah Susun”, serta “ Kipas – kipas Cari Angin” saya mampu mendapatkan lompatan spiritual dan imajinatif dahsyat akan keberadaan ironi, paradoks, serta satir dalam hidup. Bayangkan seorang anak SMP, masih terbata – bata dalam mengeja realitas harus disodori dengan konflik kompleks akan wacana feminisme dan perang atas dominasi kapital akan tubuh lewat kisah di “Kipas – Kipas Cari Angin”. Saya tidak pernah tahu bahwa segala macam lomba kecantikan memiliki problem ideologis yang pantas dilawan, dan selanjutnya menuntun saya untuk belajar semiotika, jika tidak diawali menyaksikan film tersebut di masa puber saya. Saya pun tidak akan peka terhadap obervasi segala hal renik disekitar saya, yang terbukti amat membantu dalam latihan memahami fenomena sosial, jika tidak dibantu ketelatenan untuk mengobservasi mikrokosmos rumah susun dengan segala keruwetan dan absurditas dalam karya besarnya “Cintaku di Rumah susun”. Tidak sampai pada nalar saya waktu itu, bahwa ihwal mengembalikan dompet yang jatuh dijalan, dapat diolah menjadi konflik yang getir namun mengusik hasrat untuk tertawa. Dan saya diajarkan pula pada pentingnya impresi bagi karya sinematografis bahkan sejak momen awalnya. Saya belum menemukan adegan pembuka dalam film Indonesia yang monumental dalam kadar absurditas yang serupa. Bayangkan awal adegan kereta bertubi – tubi secara repetitif melintas didekat tulisan “Selamat datang di kota”, langsung dihantam kita dengan scene rumah susun, disusul adegan nenek bangkotan mencuri botol limun, dan waria naik tangga dicabuti bulu kakinya oleh anak kecil yang tengah belajar mengaji di anak – anak tangga tersebut. </p>
<p>Dan ledakan sensasi akan anda saksikan di film-nya yang sangat menggurui, sangat anarkis, dan sangat komedik sekaligus, “Inem Pelayan sexy.” Saya kurang paham, apakah latar belakang pendidikan formalnya di bidang perfilman di Amerika turut menuntunnya pada wacana posmodernisme, namun Ia membuktikan telah berusaha mempermainkan metanarasi, serta melecehkan logika cartesian, lewat tuturan kisah seorang babu dan taipan mantan tukang sate. Permainan simbolnya barangkali sekarang amat mudah didedah dengan segala macam pisau baik struktural maupun pos-struktural. Ia juga mengahadirkan realitas yang paling getir, macam realitas keberadaan kaum transeksual hingga arisan sosialita dalam satu bingkai yang sama (Nia Dinata jadi terlihat macam pengekor patuh saja), dan jangan lupa, ia hadir tanpa menghiraukan represi struktur Orde baru pula. Tidak ada pretensi berlebihan, dialog bernas, dan minimalnya slapstik yang memuakkan. Lewat beberapa literatur, dan juga sumber blog lain, saya juga baru menyadari bahwa ia telah sering bermain juxtaposisi (Drakula Mantu), mewacanakan kepribadian terbelah manusia modern (A.M.B.I.S.I), ataupun parodi habis – habisan (Koboi Cengeng). Seperti pengakuan saya diawal, saya belum tuntas melihat semua karya – karyanya. Dan saya baru sekadar berusaha melengkapi pengalaman sinematik dengannya saya lebih jauh. Saya jarang menjadi amat personal. Namun rasa berterimakasih ini mengalahkan segalanya. Karena dialah, saya memahami ada banyak orang hebat di dunia perfilman Indonesia masa lalu. Lewat ialah saya dituntun belajar merekam akar sinema Indonesia di diri Usmar Ismail, Sjuman Djaya, Wim Umboh, Asrul Sani, ataupun Teguh Karya. Melalui dialah saya menyadari bahwa dimensi komedi ternyata memiliki wilayah yang amat luas. Gerbang petualangan itu terbuka karenanya. Dan sejumput catatan kecil ini adalah memoar untuk melukiskan rasa hutang budi saya yang amat personal, dan ingin saya bagi ini. Bisa jadi saya tidak cukup pantas untuk menuliskan perihal beliau, dengan ceteknya pengetahuan saya akan segala hal tentang sineas besar ini. Tapi ia juga mengajari bahwa apa yang pantas dan tidak pantas, belum dapat hadir saat belum diperjuangkan. Hadiah kecil ini adalah yang paling maksimal mampu saya berikan untuk mengenang beliau. Sebuah nama yang menjadi tonggak personal saya dalam memandang dunia lewat karya sinematografis. Karena sebuah nama itu, saya berjuang untuk jujur.</p>
<p>Sebuah nama itu adalah Nya’ Abbas Akub. </p>
<p>Dan sampai saat ini saya belum merasa cukup bersyukur pernah mengenal dirinya.               </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=84&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/04/06/mengenang-%e2%80%9csi-tukang-ejek-nomor-wahid%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maniak Seks Juara FFI</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/03/20/maniak-seks-juara-ffi/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/03/20/maniak-seks-juara-ffi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 03:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Oh Joko, Joko, Joko&#8230;.
Barangkali itu yang akan saya ucapkan dihadapan seorang Joko Anwar. Seorang ateur muda Indonesia yang digadang &#8211; gadang sebagai breaktrough artist dalam dunia sinematografi Indonesia kontemporer. Bukan, saya tidak hendak membincang proyek terbarunya &#8220;Pintu Terlarang&#8221; yang posternya amat mudah disalah artikan sebagai poster film syur 80-an.
Saya hendak membahas film pemenang Festival Film [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=75&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oh Joko, Joko, Joko&#8230;.</p>
<p>Barangkali itu yang akan saya ucapkan dihadapan seorang Joko Anwar. Seorang ateur muda Indonesia yang digadang &#8211; gadang sebagai breaktrough artist dalam dunia sinematografi Indonesia kontemporer. Bukan, saya tidak hendak membincang proyek terbarunya &#8220;Pintu Terlarang&#8221; yang posternya amat mudah disalah artikan sebagai poster film syur 80-an.</p>
<p>Saya hendak membahas film pemenang Festival Film Indonesia 2008 &#8220;Fiksi&#8221; yang disutradarai Mouly Surya dan ditulis skenarionya oleh Mr. Joko Anwar yang dahsyat itu.<img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/03/fiksi1.jpg?w=197&#038;h=300" alt="fiksi1" title="fiksi1" width="197" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-81" /> Baiklah, karena, mungkin, tidak memiliki dana yang memadai, atau faktor kedua saya memang tidak gaul, saya menjadi sedikit terkejut film dari negara antah berantah mana itu yang menang FFI? Bukankah FFI adalah festival film terhormat yang memenangkan &#8220;Ekskul&#8221; yang luar biasa itu? Bukankah FFI pandai membuat sensasi dengan adanya boikot insan perfilman dalam negeri?</p>
<p>Ehm, oke, saya sudah terlalu sinis. Sejujurnya, saya agak memandang rendah keluaran FFI sejak kasus pengembalian piala tempo hari. Dan melihat pemenang penghargaan paling prestisius adalah film &#8220;tidak jelas asalnya&#8221;, segera saja, setelah saya menyisihkan uang saku, dan ngantri untuk meminjam film itu (yang ternyata keluar juga VCD ori-nya), saya tidak sabar untuk menyaksikannya di &#8220;Home Theatre&#8221; kesayangan saya, my lovely laptop.<span id="more-75"></span> </p>
<p>Setelah kurang lebih dua jam, dengan segala hambatan dan rintangan, saya berhasil menyelesaikan perjuangan menyaksikan &#8220;film juara&#8221; tersebut.</p>
<p>Nah, komentar saya cukup satu saja &#8220;Lumayan&#8230;&#8221;, Bung Joko dan non Mouly ternyata bercerita tentang seorang anak gadis kaya penyendiri yang jatuh cinta secara ekstrim pada seorang pemuda pengangguran &#8211; hingga membuntutinya ke rumah susun tempat ia tinggal &#8211; dan melakukan segala cara untuk dapat masuk kedalam kehidupan cowok penganggur tersebut (diperankan oleh Donny Alamsyah dengan cukup baik, walau belum natural).</p>
<p>Overall, secara teknis film ini cukup lemah, karena gaya bertutur Mouly tidak terlalu nyaman dilihat. Pertama adegan repetitif di film ini kurang jelas maksudnya, misal adegan Alisha keluar masuk kamar di rusun, atau saat dia main cello (yang melodinya kok juga tidak enak didengar &#8211; maaf mungkin saya tidak peka seni). Belum lagi efek kamera yang bukan seluloid membuat rasa menonton film ini macam sinetron saja (walau tidak terlalu penting juga sih, hehehe).</p>
<p>Poin plusnya, ide cerita film ini amat kuat. Perkembangan karakter Alisha dari cewek Nerd hingga menjadi pecinta pria brutal maniak seks, cukup meyakinkan. Belum lagi keberanian mengeksplor setting rumah susun yang cukup menarik (ingat kedahsyatan Nya&#8217; Abbas Akub dalam &#8220;Cintaku di Rumah Susun&#8221;), walau belum begitu mendalam. Tema kegilaan manusia urban di lanskap Jakarta, memang potensial digarap. Bung Joko, sebagai penulis skenario pastinya punya andil besar dalam menciptakan kisah nan absurd ini. Rekam jejak beliau yang gigih menggali tema &#8211; tema baru untuk dunia sinema Indonesia (kisah pengantar rol film, perburuan harta karun Soekarno, dan absurditas aborsi) patut diacungi jempol. Mungkin yang masih kurang adalah belum terlalu naturalnya dialog  serta masih terlalu &#8220;barat&#8221;nya gaya tutur beliau. Bagi saya, &#8220;Fiksi.&#8221; patut menang atas keberanian idenya.</p>
<p>Dan ide memang lebih bernilai dibanding kesempurnaan teknis. Selamat!   </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=75&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/03/20/maniak-seks-juara-ffi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/03/fiksi1.jpg?w=197" medium="image">
			<media:title type="html">fiksi1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Ulang Sosok Ayah</title>
		<link>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/03/15/mereka-ulang-sosok-ayah/</link>
		<comments>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/03/15/mereka-ulang-sosok-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 10:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ardyan M. Erlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jijikbanget.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Saya gagal mengenal sosok ayah barangkali. Permasalahan serupa dialami oleh sastrawan Inggris Blake Morrison. Bedanya,ia menuangkan pengalaman yang gamang tersebut kedalam memoar. Persis seperti yang dilakukan Raimon Gaita,seorang ilmuwan Australia, dimana pengalaman kegetiran masa kecil bersama ayahnya begitu menyentuh dan berhasil dituangkan dengan indah dalam format seluloid dalam film &#8220;Romulus My Father&#8221;. Menyaksikan &#8220;And When [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=71&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya gagal mengenal sosok ayah barangkali. Permasalahan serupa dialami oleh sastrawan Inggris Blake Morrison. Bedanya,ia menuangkan pengalaman yang gamang tersebut kedalam memoar. Persis seperti yang dilakukan Raimon Gaita,seorang ilmuwan Australia,<img src="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/03/and-when-did-you-last-see-your-father-poster-0.jpg?w=202&#038;h=300" alt="and-when-did-you-last-see-your-father-poster-0" title="and-when-did-you-last-see-your-father-poster-0" width="202" height="300" class="alignright size-medium wp-image-72" /> dimana pengalaman kegetiran masa kecil bersama ayahnya begitu menyentuh dan berhasil dituangkan dengan indah dalam format seluloid dalam film &#8220;Romulus My Father&#8221;. Menyaksikan &#8220;And When did You Last See Your Father&#8221; anda akan mengalami sensasi serupa. Film ini terasa amat personal, dan dalam beberapa momen terasa menohok.</p>
<p>Ingin sekali rasanya mengais kembali kepingan &#8211; kepingan memori masa kecil hingga sekarang &#8211; untuk kemudian meramunya menjadi sebuah memoar yang betul &#8211; betul berfungsi sebagai penanda hidup &#8211; didorong oleh nilai magis dari meoar itu sendiri.<span id="more-71"></span> Saya mencoba berfikir berulang kali, bahwasanya setiap orang memiliki &#8220;ada&#8221;nya sendiri yang membuat ia begitu &#8220;otentik&#8221;, meminjam konsepsi Heidegger, ditengah perjalanan hidup yang seringkali membuat kita bagaikan buih kecil di lautan &#8220;das man&#8221; &#8211; sekumpulan manusia yang tidak memiliki otentisitas &#8211; dan cenderung tenggelam dalam ritme hidup kebanyakan.</p>
<p>Oleh karenanya, menarik sekali mencermati bahwa kisah hidup Edward Said ataupun Blake Morrison yang sebetulnya serupa dengan pengalaman hidup berjuta &#8211; juta manusia lainnya, dengan kualitas kisah masing -masing, bisa diramu sedemikian rupa sehingga dapat membuat kita terpukau. premis kisah &#8220;AWDLYSYF&#8221; (maaf apabila tidak nyaman melihatnya, karena judul film ini terlampau panjang) sebenarnya amat sederhana. Blake Morrison mengenang kembali segala momen yang pernah ia alami bersama sang ayah &#8211; yang entah mengapa amat ia puja sekaligus benci. Di satu sisi ia mengagumi kemampuan ayahnya untuk berinteraksi dengan orang lain, serta karisma kuat yang selalu terpancar dari segala gerak &#8211; geriknya ( Arthur Morrison yang karismatis ini diperankan dengan luar biasa oleh aktor senior Inggris, Jim Broadbent). Sementara, figur ayah yang begitu menonjol, membuat Blake berada di bawah bayang- bayang yang amat menekan. konfilk klise masalah sekolah misalnya (si ayah ingin ia menjadi dokter agar punya jaminan hidup dimasa depan, sementara Blake lebih memilih kuliah sastra,dan nantinya menjadi penyair kondang), masih memiliki relevansi untuk diolah menjadi konflik batin yang menyentuh dan amat manusiawi.</p>
<p>Terlepas dari gaya penceritaan Anand Tucker (sutradara muda Inggris berdarah jerman India, dan film ini merupakan film keempatnya) yang amat lambat, dan potensial untuk ditinggalkan penonton awam ditengah cerita, detail yang dibangun memang kokoh untuk kemudian menjelaskan pada kita, bagaimana hubungan rindu dendam Blake sepanjang film pada sosok ayahnya sebenarnya merupakan perjuangan untuk berdamai dengan segala masa lalunya. Sebuah perjalanan ulang alik untuk mengakhiri segala pengalaman pahit (pangalaman seksual, cintanya yang terlarang, dan kecemburuan pada sosok bibi).</p>
<p>Ihwal yang paling menyentuh,dan momen inilah yang paling dekat dengan pengalaman saya sendiri, saat Blake mengharapkan ayahnya mengakui segala pencapaian yang ia dapatkan (sebagai seorang penyair). Ia amat ingin,diujung hidup ayahnya, agar orang tua itu memandangnya sebagai pria dewasa dengan jalan hidup sendiri. Jujur saya pun mengalami hal semacam itu, dimana kegamangan seorang anak adalah kegamangan untuk memilih. Apakah ia akan menuruti orang tua, ataukah dengan sadar memilih laku hidupnya sendiri, dan dua &#8211; duanya tidaklah mulus dari terjalnya halangan. namun satu hal yang pasti, masalah itu akan selesai saat kita tahu orang tua bangga dengan kita apa adanya. Saya pribadi tidak mengetahui apakah orang tua saya, terutama ayah saya, bisa membanggakan sesuatu dari seorang anak bodoh macam saya ini. Namun saya tidak pernah berhenti berharap.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jijikbanget.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jijikbanget.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jijikbanget.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jijikbanget.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jijikbanget.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jijikbanget.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jijikbanget.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jijikbanget.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jijikbanget.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jijikbanget.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jijikbanget.wordpress.com&blog=3910430&post=71&subd=jijikbanget&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jijikbanget.wordpress.com/2009/03/15/mereka-ulang-sosok-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/28951153f96b7c3949e27a74829f3b05?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jijikbanget</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jijikbanget.files.wordpress.com/2009/03/and-when-did-you-last-see-your-father-poster-0.jpg?w=202" medium="image">
			<media:title type="html">and-when-did-you-last-see-your-father-poster-0</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>