Sudah cukup banyak usaha yang dilakukan seorang sineas untuk merefleksikan kecintaannya pada sinema dan segala aspek yang melingkupinya, melalui karya yang mereka hasilkan. Contoh terbaik yang berhasil terdokumentasikan adalah karya Giuseppe Tornatore “Nuovo Cinema Paradiso” tahun 1988, yang dengan indah dan sublim menggambarkan alasan seseorang bisa terpukau secara akut pada citraan hasil proyeksi pita seluloid 35mm tersebut. Pun, dalam ranah kekinian, sineas yang konsisten mengusung hasrat semacam itu adalah Quentin Tarantino. Karena itulah, karya teranyarnya “Inglorious Basterds” tidak mengusung ide yang baru sama sekali.
Dalam beberapa review yang saya perhatikan, banyak muncul perdebatan soal begitu abainya Tarantino pada fakta historis. Baiklah, mari kita daftar beberapa peristiwa penting yang muncul dalam kisah berlatar belakang perang dunia dua ini.
Adanya selusin pasukan khusus Amerika yang memiliki tugas sederhana, membantai dan menguliti kulit kepala tiap anggota Nazi yang mereka temui. Ada juga rencana pembunuhan Hitler saat menghadiri gala premier pemutaran film propaganda Nazi di Paris, hingga mantan kritikus film dari Inggris yang turut terjun ke medan perang dalam rangka menyukseskan misi pembunuhan tadi. Kesemuanya dari tinjauan sejarah bisa jadi ngawur. Beberapa kritikus bahkan menyebut Tarantino melakukan kesalahan karena membelokkan fakta sejarah.
Saya tidak akan turut serta dalam pusaran perdebatan tersebut. Saya pun tidak akan latah menyebut Tarantino sedang memaksakan ego pribadinya dalam kisah absurdnya ini. Hal itu disebabkan karena Tarantino memang tidak pernah keluar dari usaha untuk membuat sebuah fiksionalitas yang utuh. Baca selebihnya »


soal aktingnya yang menawan dalam film tersebut. Namun, tetap saja, rasa terkejut itu terjadi saat saya menyaksikan akting tersebut dengan mata kepala saya sendiri.
Ternyata ia lebih indah dari yang saya bayangkan. Karena ia berangkat dari sebuah ritus, dan ritus itu bernama kegilaan perfeksionis kolektif bertajuk Pixar. Sebagai sebuah nama, Pixar menjamin – dan itu hal yang belum mampu dicapai oleh pesaing yang lain – akan sebuah kelindan kisah dan sajian visual nan memukau.
secara lebih universal. Jargon – jargon emansipasi perempuan, kasih sayang seorang ibu pada anaknya, serta lebih jauh lagi perjuangan manusia untuk mencari kebenaran tidak pernah klise dalam dunia yang ditampilkan Eastwood. Lebih menohok lagi, kisah di film tersebut berpangkal dari sebuah narasi yang benar – benar terjadi di Amerika tahun 1920-an.
Baiklah, karena, mungkin, tidak memiliki dana yang memadai, atau faktor kedua saya memang tidak gaul, saya menjadi sedikit terkejut film dari negara antah berantah mana itu yang menang FFI? Bukankah FFI adalah festival film terhormat yang memenangkan “Ekskul” yang luar biasa itu? Bukankah FFI pandai membuat sensasi dengan adanya boikot insan perfilman dalam negeri?
dimana pengalaman kegetiran masa kecil bersama ayahnya begitu menyentuh dan berhasil dituangkan dengan indah dalam format seluloid dalam film “Romulus My Father”. Menyaksikan “And When did You Last See Your Father” anda akan mengalami sensasi serupa. Film ini terasa amat personal, dan dalam beberapa momen terasa menohok.
, yang dengan jumawa menghabisi drama talkshow politik (Frost/Nixon), momen kefanaan waktu (The Curious Case of Benjamin Button), Perjuangan HAM dalam perspektif Queer (Milk), dan cinta berbalut kelamnya sejarah kamp konsentrasi (The Reader).