Saya bukan penggemar sejatinya yang juga merupakan penggemar sejati itu sendiri. Paradoks kekaguman saya terhadap sesosok besar dunia perfilman Indonesia yang saya alami, mengganggu saya akhir – akhir ini. Betapa kekaguman tersebut, bisa jadi lebih merupakan cermin reflektif yang sengaja saya pergunakan untuk menelanjangi diri sendiri. Dalam menghadapi momen untuk menuliskan secuil testimoni ini, saya memilih untuk melepaskan semua pretensi, menghamburkan semua keangkuhan, dan menari dalam kondisi nyaris telanjang, tapi entah mengapa semuanya terasa macam epifani saja. Baca selebihnya »
Arsip untuk Essay kategori
Apa Lagi Yang Kau Cari Senor?
Posted in Essay on Maret 4, 2009 by Ardyan M. ErlanggaMengapa Inarritu begitu menarik? Bagi saya sutradara Meksiko ini berupaya untuk konsisten mengusung konsep kisah bersama kompatriotnya Guillermo Ariaga, menggunakan narasi ala Arthur Miller bernuansa “Tragedy of Common Men”.
Ya, tragedi yang dialami manusia kebanyakan merupakan tindak subversif pada tradisi sastra anglo saxon – bahkan mungkin kebanyakan tradisi sastra dunia lawas – yang tidak jauh berpijak pada fondasi Shakespearian. Potret kegagalan manusia, sebelum pergeseran paradigma penceritaan di abad 19, selalu berkutat pada manusia di strata sosial tinggi (tradisi sastra kita mengenalnya dengan pola cerita istana sentris). Miller, akhirnya menuntaskan apa yang telah Dickens dan Joyce upayakan, mempertegas serta memperluas batas cakrawala tragedi – yang mana layak untuk dilekatkan pada manusia yang umumnya gagal menjadi postscript sejarah, yaitu saya dan bisa jadi anda. Baca selebihnya »
Telaah Ringan Ke-Yahudi-an Lewat Film
Posted in Essay on Januari 24, 2009 by Ardyan M. ErlanggaSerangan Yahudi kepada Palestina, (atau lebih tepatnya ditujukan untuk menghancurkan Hamas) yang dilancarkan sejak pergantian tahun kemarin merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan. Ribuan orang mengutuknya, terlebih negara – negara yang memiliki afiliasi pada dunia Muslim. Untuk alasan apapun, perang–sejak era modern ini–selalu dikonotasikan sebagai perbuatan paling biadab nan keji yang mampu diproduksi oleh manusia. Untuk kasus perang di Gaza, banyak pihak menuding Yahudi selaku bangsa yang patut dipersalahkan, dihujat, maupun di caci maki. Baca selebihnya »
Tren aksi Hiperbolis
Posted in Essay on November 23, 2008 by Ardyan M. ErlanggaAction pack film is have to be mindless. Sepakatkah anda dengan pernyataan tersebut?
Kenyataannya, yang lebih sering berjaya dalam hal apresiasi nilai estetika di kancah perfilman global memang film – film yang digolongkan “drama”. Mungkin yang ingin dimaksud film ber’action pack’ adalah yang memang menekankan unsur estetika penggarapannya di bidang visual. Maksudnya, film yang menumpukan sajiannya dalam tampilan desingan peluru, kebut – kebutan, dan perkelahian penuh darah. Maka sebuah film baru sah disebut film action jika mengandung unsur tadi sebagai porsi jualan utama. Baca selebihnya »
Bobby, narasi pedih pencarian ratu adil ala Amerika
Posted in Essay on September 27, 2008 by Ardyan M. ErlanggaSaya sadar bahwa setiap orang memiliki selera tersendiri dalam menentukan film seperti apakah yang dia gemari. Secara pribadi, saya sih sangat demen dengan tipe film kriminal, craper, con man, atau yang mengumbar kekerasan. Macam film bikinan si Quentin atau Fincher gitu. Tapi belakangan, setelah agak gede (fisik maksudnya, karena otak saya masihlah terbuai dengan mimpi rock n roll), saya mulai tertarik dengan jenis sinema yang memiliki plot ganda. Baca selebihnya »
Mari Belajar dengan Wes
Posted in Essay on September 5, 2008 by Ardyan M. ErlanggaSaya terlambat mengenal seorang Wes Anderson. Sutradara muda asal Amerika ini kenyang sanjung puji melalui pendekatan filmnya yang kental nuansa serupa sineas era nouvelle vague macam Jean-Luc Godard, dan François Truffaut.
Baca selebihnya »
Tidak butuh tiga hari untuk menyesal…
Posted in Essay on Juni 14, 2008 by Ardyan M. ErlanggaKarena saya orangnya mudah percaya, maka ketika banyak media memuji-muji film garapan Riri Riza yang terbaru (saat itu 2007), “Tiga Hari untuk Selamanya”, sayapun ikut penasaran untuk segera menyaksikan. Waktu itu filmnya sudah diputar di 21. tapi karena belum punya duit, dan begitu pendeknya nafas hidupnya di Yogya, saya gagal menyaksikan film tersebut.
Singkat cerita, karena masa tayang yang begitu cepat, dengan perhitungan dan analisis yang alhamdulilah ngawur, saya pikir film ini pasti begitu beratnya, hingga orang-orang tidak tertarik nonton. Belum lagi melihat sekilas review-nya oleh Susi Ivaty di kompas, tema perjalanan yang jarang diangkat oleh sineas Indonesia ini menurut saya cukup menarik.
Namun setelah kemarin mendapatkan VCD originalnya, dengan menghabiskan seluruh sisa duit yang ada untuk meminjam di rental langganan, harapan saya yang cukup tinggi langsung musnah.
Oh tidak, film ini tidak jelek, tidak separah film aliansi setan dan demit Indonesia yang biasanya muncul sekilas itu. Baca selebihnya »
Surga dan Neraka
Posted in Essay on Juni 9, 2008 by Ardyan M. ErlanggaBetapa menerjemahkan begitu melelahkan. Terlebih kali ini saya menanggung beban berat, sebuah janji dan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Yaitu membantu seorang kawan untuk menerjemahkan naskah penting demi kepentingan skripsinya. Biasanya saya hanya melakukan pekerjaan ini dengan ikhlas. Hitung-hitung belajar. Namun karena itulah, ketika dituntut untuk profesional, maka saya pun jadi kelabakan. Entah, mungkin menerjemahkan bukan minat saya saat ini.
Baca selebihnya »
Master of Violence
Posted in Essay on Juni 7, 2008 by Ardyan M. Erlangga“For me violence is totally an aesthetic.”
Demikian Quentin Tarantino, sineas eksentrik Amerika itu, mengungkapkan pandangan dan visinya yang sering menggambarkan kekerasan secara eksplisit dalam karya-karyanya, dikutip dari wawancaranya dengan salah satu majalah hiburan AS . Bagi beberapa dari anda yang pernah menyaksikan film-filmnya, hanya “Jackie Brown” yang dapat kita kategorikan “biasa” kadar kekerasannya.
Di film komersial pertamanya “Reservoir Dogs” penonton sangat mungkin terhenyak menyaksikan acara potong kuping seorang polisi oleh aktor Michael Madsen yang memang tidak disangka-sangka. Sementara anda yang menganggap adegan orang disamurai dari belakang atau ditembak di bagian selakangan sebagai adegan standar, boleh jadi memang anda tergolong maniak sekuens kekerasan, karena adegan seperti itu juga muncul dalam karya-karyanya.
Tidak usah pula kita membicarakan “Kill Bill” baik volume 1 ataupun 2. Film ini malah karya Tarantino yang paling mengumbar adegan banjir darah.
Saya pribadi sangat menggemari semua film buatannya (tapi bukan yang diproduseri). Menyaksikan filmnya pertama kali amatlah menyakitkan. Saat itu saya masih SMA. Kakak saya pulang membawa DVD yang sampulnya menggambarkan Uma Thurman tengah merokok di kasur dengan posisi sensual.
Ya, itu adalah “Pulp Fiction”, mahakarya Quentin hingga saat ini.
Baca selebihnya »
TRIGUN
Posted in Essay on Juni 6, 2008 by Ardyan M. ErlanggaYasuhiro Nightow adalah salah satu mangaka favorit saya. Beliau punya taste yang unik dalam menggambarkan karakternya. Di satu sisi goresannya “Barat” dan “Timur” sekaligus. Yang paling utama, lewat “Trigun” dan “Trigun Maximum” beliau mengeksplorasi tema moralitas yang sebenarnya amat relatif.
Tema usaha manusia bertahan hidup di planet Smoke adalah setting utama, namun kisahnya berfokus pada segala misteri dibalik tokoh utama, Vash The Stampede.
Baca selebihnya »


