Kebodohan kerap dinarasikan sebagai penanda betapa dhaif-nya manusia. Kisah – kisah yang memuat pesan sentral kebodohan senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi untuk menimbulkan impresi yang sama. Bahwa kebodohan haruslah dihindari, sebisa mungkin ditinggalkan. Pun narasi agung sekelas kitab suci telah berujar lantang, “berbeda derajat orang yang berilmu dan yang tidak!”
Di wilayah itu Joel serta Ethan Coen masuk dan membawa kita turut serta. Menikmati karya Coen bersaudara merupakan wahana identifikasi.
Mereka mengamini betul apa yang pernah dimaktubkan oleh filsuf Susanne Langer, bahwa film merupakan “a poetic composition”…“organic”, dan “creating a sense of giveness”.

Semua proses identifikasi nilai estetika film setidaknya dalam mahzab Langerian, bakal mengantar kita pada satu kesimpulan: Manusia – sesuai teori mahluk simbolik Langer – akan memanfaatkan potensi manipulatif sinema agar menghasilkan identifikasi yang lebih berjarak. Ia merupakan wahana yang menjamin tertautnya jangkar tetap pada tempatnya. Dan kita dimungkinkan untuk bertahan, dari proses terombang – ambing yang biasanya menyakitkan saat melakukan refleksi diri.
Kedua Coen itu sadar betul akan potensi tersebut. Labirin pelik proses kreatif telah mereka haturkan dalam ”Barton Fink”. Irasionalitas dan sisi gelap impulsif manusia mereka sorot di ”Fargo”. Kesemuanya berpuncak dalam ”No Country for Old Men”. Dalam film peraih beragam penghargaan itu, Coen bersaudara mencipta kolase kebusukan manusia. Sebuah representasi – meminjam istilah Ayu Utami untuk menggambarkan kualitas citraan puisi Jokpin – mengenai manusia dengan ”tubuh yang compang – camping dan nyaris tak sempat memikirkan harga diri.” Baca selebihnya »
