Arsip untuk September, 2009

Coen dan Obervasi atas Kebodohan

Posted in Review on September 24, 2009 by Ardyan M. Erlangga

Kebodohan kerap dinarasikan sebagai penanda betapa dhaif-nya manusia. Kisah – kisah yang memuat pesan sentral kebodohan senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi untuk menimbulkan impresi yang sama. Bahwa kebodohan haruslah dihindari, sebisa mungkin ditinggalkan. Pun narasi agung sekelas kitab suci telah berujar lantang, “berbeda derajat orang yang berilmu dan yang tidak!”

Di wilayah itu Joel serta Ethan Coen masuk dan membawa kita turut serta. Menikmati karya Coen bersaudara merupakan wahana identifikasi.
Mereka mengamini betul apa yang pernah dimaktubkan oleh filsuf Susanne Langer, bahwa film merupakan “a poetic composition”…“organic”, dan “creating a sense of giveness”.
burn_after_reading_poster
Semua proses identifikasi nilai estetika film setidaknya dalam mahzab Langerian, bakal mengantar kita pada satu kesimpulan: Manusia – sesuai teori mahluk simbolik Langer – akan memanfaatkan potensi manipulatif sinema agar menghasilkan identifikasi yang lebih berjarak. Ia merupakan wahana yang menjamin tertautnya jangkar tetap pada tempatnya. Dan kita dimungkinkan untuk bertahan, dari proses terombang – ambing yang biasanya menyakitkan saat melakukan refleksi diri.

Kedua Coen itu sadar betul akan potensi tersebut. Labirin pelik proses kreatif telah mereka haturkan dalam ”Barton Fink”. Irasionalitas dan sisi gelap impulsif manusia mereka sorot di ”Fargo”. Kesemuanya berpuncak dalam ”No Country for Old Men”. Dalam film peraih beragam penghargaan itu, Coen bersaudara mencipta kolase kebusukan manusia. Sebuah representasi – meminjam istilah Ayu Utami untuk menggambarkan kualitas citraan puisi Jokpin – mengenai manusia dengan ”tubuh yang compang – camping dan nyaris tak sempat memikirkan harga diri.” Baca selebihnya »

Merantau dan Tuhan bernama Evans

Posted in Review on September 24, 2009 by Ardyan M. Erlangga

Leila S. Chudori menyebutkan, saat membahas film ini di kolom hiburan majalah Tempo edisi khusus kemerdekaan lalu, bahwa setting dan tema yang klise dari ”Merantau” sepatutnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Ia menafsirkan usaha sineas Gareth Evans sebagai keinginan agar kisah dongeng itu kontekstual dengan realitas.

Namun dalam deskripsi selanjutnya, Leila memaparkan, dalam hati ia ingin menyaksikan film tersebut dikemas di sebuah dunia antah berantah, sehingga pencak silat harimau yang hadir dalam imaji penonton menjadi lebih tuntas, lantas memendarkan kemilau yang lebih murni.merantau4
Bukan sekadar tafsiran “orientalis” Gareth Evans itu.
Leila menimpali pula bahwa keasyikan silat berkurang karena pendekatan koregrafi yang mirip dengan karya – karya Shaw Brother ataupun Woo ping-Yuen. Dari beberapa scene, menurutnya, dapat diendus sedikit pengaruh koreografi pertarungan ala film – film Jackie Chan.

Namun apakah “Merantau” betul – betul kehilangan sentuhan magis pencak silat harimau Minang, dan terjatuh menjadi kisah laga generik? Dalam beberapa aspek, mungkin. “Merantau” menurut bayangan seorang Gareth Evans membebani dirinya sendiri dengan dua tujuan. Pertama melakukan representasi dari sebuah realitas.
Dalam hal ini ia berambisi mendokumentasikan artefak sosiokultural Minang, yaitu silaturahmi. Atau seperti diucapkan dalam dialek Minangkabau, menjadi silet. Kedua, membangun sebuah maujud dunia yang kaotis, jauh dari moralitas, serta mengandaikan tujuan hidup sudah ditentukan, bukan pilihan. Sudut pandang yang biasa merujuk pendekatan aliran sastra “ Naturalisme” Emile Zola. Baca selebihnya »