Arsip untuk Agustus, 2009

Tamasya “Muram Gembira” ala Hathaway

Posted in Review on Agustus 9, 2009 by Ardyan M. Erlangga

Saya memang mudah terkejut. Tampaknya kedepan saya harus berhati – hati dengan macam kejadian yang memiliki kemungkinan untuk mengejutkan. Karena terbukti jantung saya cukup berbakat untuk berhenti mendadak dengan sedikit stimulus saja. Dan nyaris saya mengalami apa yang selama ini saya takutkan, saat menyaksikan ”Rachel Getting Married”.

Memang, sebelumnya saya sudah mendapatkan sedikit banyak informasi, perihal pujian yang dialamatkan pada Anne Hathaway, 6a00d83451e17769e201127963a2c528a4-800wisoal aktingnya yang menawan dalam film tersebut. Namun, tetap saja, rasa terkejut itu terjadi saat saya menyaksikan akting tersebut dengan mata kepala saya sendiri.

Keterkejutan sebenarnya sudah hadir saat saya membaca nominasi Academy Award lalu. Nama yang biasanya lebih identik dengan peran – peran ”sweetheart” nan cute, kok bisa – bisanya nyelonong bersaing dengan aktris – aktris ”berkelas”, dan tentunya lebih punya nama soal akting macam Meryl Streep, atau Kate Winslet.

Kemudian datanglah hari saya mendapat serangan jantung mendadak itu. Kakak saya meminjam film dari rental langganan. Dia bilang, ”bintangnya si ”Princess Diary” lho!”. Walhasil, saya langsung antusias. Saya merasakan nafsu sok ala ”movie buff” untuk membuktikan, apakah benar segala pujian itu tidak salah alamat. Baca selebihnya »

UP dan Mite Sisifus

Posted in Review on Agustus 8, 2009 by Ardyan M. Erlangga

Apa yang anda cari dari sebuah hiburan? Pun jika hiburan memberikan lebih dari sekadar hiburan, maka anggap saja itu bonus. Namun benarkah kita berhasrat sebanal itu dalam memandang hiburan?

Itulah yang coba Pixar tantang pada kita. Jika sekali waktu sebuah rancang bangun karya bertajuk “animasi” pernah berhasil membawa kita ke sebuah tawaran pelik bernama “keindahan” serta “kedalaman” sebelumnya, akankah kita menolak tawaran serupa yang datang?

Berangkat persis dari pertanyaan yang muncul seperti diatas itulah, sikap saya dalam mengantisipasi UP. up-pixar-posterTernyata ia lebih indah dari yang saya bayangkan. Karena ia berangkat dari sebuah ritus, dan ritus itu bernama kegilaan perfeksionis kolektif bertajuk Pixar. Sebagai sebuah nama, Pixar menjamin – dan itu hal yang belum mampu dicapai oleh pesaing yang lain – akan sebuah kelindan kisah dan sajian visual nan memukau.

Untuk itulah orang mengeluh. Mengapa ekspektasi yang saya bangun selalu berhasil dilampaui? Mengapa saya ingin sekali tidak memuji film ini, namun, apa daya? Baca selebihnya »