Oh Joko, Joko, Joko….
Barangkali itu yang akan saya ucapkan dihadapan seorang Joko Anwar. Seorang ateur muda Indonesia yang digadang – gadang sebagai breaktrough artist dalam dunia sinematografi Indonesia kontemporer. Bukan, saya tidak hendak membincang proyek terbarunya “Pintu Terlarang” yang posternya amat mudah disalah artikan sebagai poster film syur 80-an.
Saya hendak membahas film pemenang Festival Film Indonesia 2008 “Fiksi” yang disutradarai Mouly Surya dan ditulis skenarionya oleh Mr. Joko Anwar yang dahsyat itu.
Baiklah, karena, mungkin, tidak memiliki dana yang memadai, atau faktor kedua saya memang tidak gaul, saya menjadi sedikit terkejut film dari negara antah berantah mana itu yang menang FFI? Bukankah FFI adalah festival film terhormat yang memenangkan “Ekskul” yang luar biasa itu? Bukankah FFI pandai membuat sensasi dengan adanya boikot insan perfilman dalam negeri?
Ehm, oke, saya sudah terlalu sinis. Sejujurnya, saya agak memandang rendah keluaran FFI sejak kasus pengembalian piala tempo hari. Dan melihat pemenang penghargaan paling prestisius adalah film “tidak jelas asalnya”, segera saja, setelah saya menyisihkan uang saku, dan ngantri untuk meminjam film itu (yang ternyata keluar juga VCD ori-nya), saya tidak sabar untuk menyaksikannya di “Home Theatre” kesayangan saya, my lovely laptop. Baca selebihnya »
dimana pengalaman kegetiran masa kecil bersama ayahnya begitu menyentuh dan berhasil dituangkan dengan indah dalam format seluloid dalam film “Romulus My Father”. Menyaksikan “And When did You Last See Your Father” anda akan mengalami sensasi serupa. Film ini terasa amat personal, dan dalam beberapa momen terasa menohok.
Ya, tragedi yang dialami manusia kebanyakan merupakan tindak subversif pada tradisi sastra anglo saxon – bahkan mungkin kebanyakan tradisi sastra dunia lawas – yang tidak jauh berpijak pada fondasi Shakespearian. Potret kegagalan manusia, sebelum pergeseran paradigma penceritaan di abad 19, selalu berkutat pada manusia di strata sosial tinggi (tradisi sastra kita mengenalnya dengan pola cerita istana sentris). Miller, akhirnya menuntaskan apa yang telah Dickens dan Joyce upayakan, mempertegas serta memperluas batas cakrawala tragedi – yang mana layak untuk dilekatkan pada manusia yang umumnya gagal menjadi postscript sejarah, yaitu saya dan bisa jadi anda.