Karena saya orangnya mudah percaya, maka ketika banyak media memuji-muji film garapan Riri Riza yang terbaru (saat itu 2007), “Tiga Hari untuk Selamanya”, sayapun ikut penasaran untuk segera menyaksikan. Waktu itu filmnya sudah diputar di 21. tapi karena belum punya duit, dan begitu pendeknya nafas hidupnya di Yogya, saya gagal menyaksikan film tersebut.
Singkat cerita, karena masa tayang yang begitu cepat, dengan perhitungan dan analisis yang alhamdulilah ngawur, saya pikir film ini pasti begitu beratnya, hingga orang-orang tidak tertarik nonton. Belum lagi melihat sekilas review-nya oleh Susi Ivaty di kompas, tema perjalanan yang jarang diangkat oleh sineas Indonesia ini menurut saya cukup menarik.
Namun setelah kemarin mendapatkan VCD originalnya, dengan menghabiskan seluruh sisa duit yang ada untuk meminjam di rental langganan, harapan saya yang cukup tinggi langsung musnah.
Oh tidak, film ini tidak jelek, tidak separah film aliansi setan dan demit Indonesia yang biasanya muncul sekilas itu. Baca selebihnya »
Arsip untuk Juni, 2008
Tidak butuh tiga hari untuk menyesal…
Posted in Essay on Juni 14, 2008 by Ardyan M. ErlanggaSurga dan Neraka
Posted in Essay on Juni 9, 2008 by Ardyan M. ErlanggaBetapa menerjemahkan begitu melelahkan. Terlebih kali ini saya menanggung beban berat, sebuah janji dan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Yaitu membantu seorang kawan untuk menerjemahkan naskah penting demi kepentingan skripsinya. Biasanya saya hanya melakukan pekerjaan ini dengan ikhlas. Hitung-hitung belajar. Namun karena itulah, ketika dituntut untuk profesional, maka saya pun jadi kelabakan. Entah, mungkin menerjemahkan bukan minat saya saat ini.
Baca selebihnya »
Master of Violence
Posted in Essay on Juni 7, 2008 by Ardyan M. Erlangga“For me violence is totally an aesthetic.”
Demikian Quentin Tarantino, sineas eksentrik Amerika itu, mengungkapkan pandangan dan visinya yang sering menggambarkan kekerasan secara eksplisit dalam karya-karyanya, dikutip dari wawancaranya dengan salah satu majalah hiburan AS . Bagi beberapa dari anda yang pernah menyaksikan film-filmnya, hanya “Jackie Brown” yang dapat kita kategorikan “biasa” kadar kekerasannya.
Di film komersial pertamanya “Reservoir Dogs” penonton sangat mungkin terhenyak menyaksikan acara potong kuping seorang polisi oleh aktor Michael Madsen yang memang tidak disangka-sangka. Sementara anda yang menganggap adegan orang disamurai dari belakang atau ditembak di bagian selakangan sebagai adegan standar, boleh jadi memang anda tergolong maniak sekuens kekerasan, karena adegan seperti itu juga muncul dalam karya-karyanya.Tidak usah pula kita membicarakan “Kill Bill” baik volume 1 ataupun 2. Film ini malah karya Tarantino yang paling mengumbar adegan banjir darah.
Saya pribadi sangat menggemari semua film buatannya (tapi bukan yang diproduseri). Menyaksikan filmnya pertama kali amatlah menyakitkan. Saat itu saya masih SMA. Kakak saya pulang membawa DVD yang sampulnya menggambarkan Uma Thurman tengah merokok di kasur dengan posisi sensual.
Ya, itu adalah “Pulp Fiction”, mahakarya Quentin hingga saat ini.
Baca selebihnya »
TRIGUN
Posted in Essay on Juni 6, 2008 by Ardyan M. ErlanggaYasuhiro Nightow adalah salah satu mangaka favorit saya. Beliau punya taste yang unik dalam menggambarkan karakternya. Di satu sisi goresannya “Barat” dan “Timur” sekaligus. Yang paling utama, lewat “Trigun” dan “Trigun Maximum” beliau mengeksplorasi tema moralitas yang sebenarnya amat relatif.
Tema usaha manusia bertahan hidup di planet Smoke adalah setting utama, namun kisahnya berfokus pada segala misteri dibalik tokoh utama, Vash The Stampede.
Baca selebihnya »
Memulai Baru
Posted in Uncategorized on Juni 6, 2008 by Ardyan M. ErlanggaSelamat datang di welcome to!
Wah saya cukup asing dengan WordPress. Baru kali ini coba make. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.
Ardyan: Gunung
Mohamad: Kearifan tertinggi manusia
Erlangga: Bijaksana
Berarti apapun makna dibalik nama saya , maksudnya saya itu diharapkan menjadi orang yang memiliki kebijaksanaan yang amat luar biasa untuk ukuran manusia, Hwuehehehehehe. Itu maunya.
Toh nama adalah doa.
Grazie!
