Kebodohan kerap dinarasikan sebagai penanda betapa dhaif-nya manusia. Kisah – kisah yang memuat pesan sentral kebodohan senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi untuk menimbulkan impresi yang sama. Bahwa kebodohan haruslah dihindari, sebisa mungkin ditinggalkan. Pun narasi agung sekelas kitab suci telah berujar lantang, “berbeda derajat orang yang berilmu dan yang tidak!”
Di wilayah itu Joel serta Ethan Coen masuk dan membawa kita turut serta. Menikmati karya Coen bersaudara merupakan wahana identifikasi.
Mereka mengamini betul apa yang pernah dimaktubkan oleh filsuf Susanne Langer, bahwa film merupakan “a poetic composition”…“organic”, dan “creating a sense of giveness”.

Semua proses identifikasi nilai estetika film setidaknya dalam mahzab Langerian, bakal mengantar kita pada satu kesimpulan: Manusia – sesuai teori mahluk simbolik Langer – akan memanfaatkan potensi manipulatif sinema agar menghasilkan identifikasi yang lebih berjarak. Ia merupakan wahana yang menjamin tertautnya jangkar tetap pada tempatnya. Dan kita dimungkinkan untuk bertahan, dari proses terombang – ambing yang biasanya menyakitkan saat melakukan refleksi diri.
Kedua Coen itu sadar betul akan potensi tersebut. Labirin pelik proses kreatif telah mereka haturkan dalam ”Barton Fink”. Irasionalitas dan sisi gelap impulsif manusia mereka sorot di ”Fargo”. Kesemuanya berpuncak dalam ”No Country for Old Men”. Dalam film peraih beragam penghargaan itu, Coen bersaudara mencipta kolase kebusukan manusia. Sebuah representasi – meminjam istilah Ayu Utami untuk menggambarkan kualitas citraan puisi Jokpin – mengenai manusia dengan ”tubuh yang compang – camping dan nyaris tak sempat memikirkan harga diri.” Baca selebihnya »

soal aktingnya yang menawan dalam film tersebut. Namun, tetap saja, rasa terkejut itu terjadi saat saya menyaksikan akting tersebut dengan mata kepala saya sendiri.
Ternyata ia lebih indah dari yang saya bayangkan. Karena ia berangkat dari sebuah ritus, dan ritus itu bernama kegilaan perfeksionis kolektif bertajuk Pixar. Sebagai sebuah nama, Pixar menjamin – dan itu hal yang belum mampu dicapai oleh pesaing yang lain – akan sebuah kelindan kisah dan sajian visual nan memukau.
Tapi, mungkin pengaruh karakter “si tanpa nama” yang ia lakoni dalam western spaghetti klasik The Good, The Bad, and The Ugly sudah terlampau menancap erat, dan enggan melepaskannya. Proyek Changeling ternyata tidak perlu waktu yang terlalu lama untuk disusul dengan film tentang rasisme dan kultur kekerasan di Amerika ini. Hanya saja, bisa ditangkap mood personal Eastwood kali ini. Ia ingin kembali melakoni sebuah peran, setelah terakhir kali ia lakukan tahun 2004 lalu dalam filmnya sendiri pula Million Dollar Baby. 
secara lebih universal. Jargon – jargon emansipasi perempuan, kasih sayang seorang ibu pada anaknya, serta lebih jauh lagi perjuangan manusia untuk mencari kebenaran tidak pernah klise dalam dunia yang ditampilkan Eastwood. Lebih menohok lagi, kisah di film tersebut berpangkal dari sebuah narasi yang benar – benar terjadi di Amerika tahun 1920-an.
Baiklah, karena, mungkin, tidak memiliki dana yang memadai, atau faktor kedua saya memang tidak gaul, saya menjadi sedikit terkejut film dari negara antah berantah mana itu yang menang FFI? Bukankah FFI adalah festival film terhormat yang memenangkan “Ekskul” yang luar biasa itu? Bukankah FFI pandai membuat sensasi dengan adanya boikot insan perfilman dalam negeri?
dimana pengalaman kegetiran masa kecil bersama ayahnya begitu menyentuh dan berhasil dituangkan dengan indah dalam format seluloid dalam film “Romulus My Father”. Menyaksikan “And When did You Last See Your Father” anda akan mengalami sensasi serupa. Film ini terasa amat personal, dan dalam beberapa momen terasa menohok.