Sudah cukup banyak usaha yang dilakukan seorang sineas untuk merefleksikan kecintaannya pada sinema dan segala aspek yang melingkupinya, melalui karya yang mereka hasilkan. Contoh terbaik yang berhasil terdokumentasikan adalah karya Giuseppe Tornatore “Nuovo Cinema Paradiso” tahun 1988, yang dengan indah dan sublim menggambarkan alasan seseorang bisa terpukau secara akut pada citraan hasil proyeksi pita seluloid 35mm tersebut. Pun, dalam ranah kekinian, sineas yang konsisten mengusung hasrat semacam itu adalah Quentin Tarantino. Karena itulah, karya teranyarnya “Inglorious Basterds” tidak mengusung ide yang baru sama sekali.
Dalam beberapa review yang saya perhatikan, banyak muncul perdebatan soal begitu abainya Tarantino pada fakta historis. Baiklah, mari kita daftar beberapa peristiwa penting yang muncul dalam kisah berlatar belakang perang dunia dua ini.
Adanya selusin pasukan khusus Amerika yang memiliki tugas sederhana, membantai dan menguliti kulit kepala tiap anggota Nazi yang mereka temui. Ada juga rencana pembunuhan Hitler saat menghadiri gala premier pemutaran film propaganda Nazi di Paris, hingga mantan kritikus film dari Inggris yang turut terjun ke medan perang dalam rangka menyukseskan misi pembunuhan tadi. Kesemuanya dari tinjauan sejarah bisa jadi ngawur. Beberapa kritikus bahkan menyebut Tarantino melakukan kesalahan karena membelokkan fakta sejarah.
Saya tidak akan turut serta dalam pusaran perdebatan tersebut. Saya pun tidak akan latah menyebut Tarantino sedang memaksakan ego pribadinya dalam kisah absurdnya ini. Hal itu disebabkan karena Tarantino memang tidak pernah keluar dari usaha untuk membuat sebuah fiksionalitas yang utuh. Baca selebihnya »
Karena sinema memang eksplosif dalam “Inglorious Basterds”
Posted in Review on November 15, 2009 by Ardyan M. ErlanggaCoen dan Obervasi atas Kebodohan
Posted in Review on September 24, 2009 by Ardyan M. ErlanggaKebodohan kerap dinarasikan sebagai penanda betapa dhaif-nya manusia. Kisah – kisah yang memuat pesan sentral kebodohan senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi untuk menimbulkan impresi yang sama. Bahwa kebodohan haruslah dihindari, sebisa mungkin ditinggalkan. Pun narasi agung sekelas kitab suci telah berujar lantang, “berbeda derajat orang yang berilmu dan yang tidak!”
Di wilayah itu Joel serta Ethan Coen masuk dan membawa kita turut serta. Menikmati karya Coen bersaudara merupakan wahana identifikasi.
Mereka mengamini betul apa yang pernah dimaktubkan oleh filsuf Susanne Langer, bahwa film merupakan “a poetic composition”…“organic”, dan “creating a sense of giveness”.

Semua proses identifikasi nilai estetika film setidaknya dalam mahzab Langerian, bakal mengantar kita pada satu kesimpulan: Manusia – sesuai teori mahluk simbolik Langer – akan memanfaatkan potensi manipulatif sinema agar menghasilkan identifikasi yang lebih berjarak. Ia merupakan wahana yang menjamin tertautnya jangkar tetap pada tempatnya. Dan kita dimungkinkan untuk bertahan, dari proses terombang – ambing yang biasanya menyakitkan saat melakukan refleksi diri.
Kedua Coen itu sadar betul akan potensi tersebut. Labirin pelik proses kreatif telah mereka haturkan dalam ”Barton Fink”. Irasionalitas dan sisi gelap impulsif manusia mereka sorot di ”Fargo”. Kesemuanya berpuncak dalam ”No Country for Old Men”. Dalam film peraih beragam penghargaan itu, Coen bersaudara mencipta kolase kebusukan manusia. Sebuah representasi – meminjam istilah Ayu Utami untuk menggambarkan kualitas citraan puisi Jokpin – mengenai manusia dengan ”tubuh yang compang – camping dan nyaris tak sempat memikirkan harga diri.” Baca selebihnya »
Merantau dan Tuhan bernama Evans
Posted in Review on September 24, 2009 by Ardyan M. ErlanggaLeila S. Chudori menyebutkan, saat membahas film ini di kolom hiburan majalah Tempo edisi khusus kemerdekaan lalu, bahwa setting dan tema yang klise dari ”Merantau” sepatutnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Ia menafsirkan usaha sineas Gareth Evans sebagai keinginan agar kisah dongeng itu kontekstual dengan realitas.
Namun dalam deskripsi selanjutnya, Leila memaparkan, dalam hati ia ingin menyaksikan film tersebut dikemas di sebuah dunia antah berantah, sehingga pencak silat harimau yang hadir dalam imaji penonton menjadi lebih tuntas, lantas memendarkan kemilau yang lebih murni.
Bukan sekadar tafsiran “orientalis” Gareth Evans itu.
Leila menimpali pula bahwa keasyikan silat berkurang karena pendekatan koregrafi yang mirip dengan karya – karya Shaw Brother ataupun Woo ping-Yuen. Dari beberapa scene, menurutnya, dapat diendus sedikit pengaruh koreografi pertarungan ala film – film Jackie Chan.
Namun apakah “Merantau” betul – betul kehilangan sentuhan magis pencak silat harimau Minang, dan terjatuh menjadi kisah laga generik? Dalam beberapa aspek, mungkin. “Merantau” menurut bayangan seorang Gareth Evans membebani dirinya sendiri dengan dua tujuan. Pertama melakukan representasi dari sebuah realitas.
Dalam hal ini ia berambisi mendokumentasikan artefak sosiokultural Minang, yaitu silaturahmi. Atau seperti diucapkan dalam dialek Minangkabau, menjadi silet. Kedua, membangun sebuah maujud dunia yang kaotis, jauh dari moralitas, serta mengandaikan tujuan hidup sudah ditentukan, bukan pilihan. Sudut pandang yang biasa merujuk pendekatan aliran sastra “ Naturalisme” Emile Zola. Baca selebihnya »
Tamasya “Muram Gembira” ala Hathaway
Posted in Review on Agustus 9, 2009 by Ardyan M. ErlanggaSaya memang mudah terkejut. Tampaknya kedepan saya harus berhati – hati dengan macam kejadian yang memiliki kemungkinan untuk mengejutkan. Karena terbukti jantung saya cukup berbakat untuk berhenti mendadak dengan sedikit stimulus saja. Dan nyaris saya mengalami apa yang selama ini saya takutkan, saat menyaksikan ”Rachel Getting Married”.
Memang, sebelumnya saya sudah mendapatkan sedikit banyak informasi, perihal pujian yang dialamatkan pada Anne Hathaway,
soal aktingnya yang menawan dalam film tersebut. Namun, tetap saja, rasa terkejut itu terjadi saat saya menyaksikan akting tersebut dengan mata kepala saya sendiri.
Keterkejutan sebenarnya sudah hadir saat saya membaca nominasi Academy Award lalu. Nama yang biasanya lebih identik dengan peran – peran ”sweetheart” nan cute, kok bisa – bisanya nyelonong bersaing dengan aktris – aktris ”berkelas”, dan tentunya lebih punya nama soal akting macam Meryl Streep, atau Kate Winslet.
Kemudian datanglah hari saya mendapat serangan jantung mendadak itu. Kakak saya meminjam film dari rental langganan. Dia bilang, ”bintangnya si ”Princess Diary” lho!”. Walhasil, saya langsung antusias. Saya merasakan nafsu sok ala ”movie buff” untuk membuktikan, apakah benar segala pujian itu tidak salah alamat. Baca selebihnya »
UP dan Mite Sisifus
Posted in Review on Agustus 8, 2009 by Ardyan M. ErlanggaApa yang anda cari dari sebuah hiburan? Pun jika hiburan memberikan lebih dari sekadar hiburan, maka anggap saja itu bonus. Namun benarkah kita berhasrat sebanal itu dalam memandang hiburan?
Itulah yang coba Pixar tantang pada kita. Jika sekali waktu sebuah rancang bangun karya bertajuk “animasi” pernah berhasil membawa kita ke sebuah tawaran pelik bernama “keindahan” serta “kedalaman” sebelumnya, akankah kita menolak tawaran serupa yang datang?
Berangkat persis dari pertanyaan yang muncul seperti diatas itulah, sikap saya dalam mengantisipasi UP.
Ternyata ia lebih indah dari yang saya bayangkan. Karena ia berangkat dari sebuah ritus, dan ritus itu bernama kegilaan perfeksionis kolektif bertajuk Pixar. Sebagai sebuah nama, Pixar menjamin – dan itu hal yang belum mampu dicapai oleh pesaing yang lain – akan sebuah kelindan kisah dan sajian visual nan memukau.
Untuk itulah orang mengeluh. Mengapa ekspektasi yang saya bangun selalu berhasil dilampaui? Mengapa saya ingin sekali tidak memuji film ini, namun, apa daya? Baca selebihnya »
Hidangan Murah Meriah ala Eastwood
Posted in Uncategorized on Juli 4, 2009 by Ardyan M. ErlanggaBoleh jadi nama besar tidak menjamin seseorang bisa terhindar dari rasa bosan. Dan kecenderungan tersebut terlihat dalam sepak terjang Clint Eastwood dalam karya terbarunya, Gran Torino. Dalam usianya, ditambah dengan beragam pencapaian yang berhasil didapatkan, barang tentu akan lebih enak jika ia santai di ranch-nya yang amat luas di Los Angeles itu.
Tapi, mungkin pengaruh karakter “si tanpa nama” yang ia lakoni dalam western spaghetti klasik The Good, The Bad, and The Ugly sudah terlampau menancap erat, dan enggan melepaskannya. Proyek Changeling ternyata tidak perlu waktu yang terlalu lama untuk disusul dengan film tentang rasisme dan kultur kekerasan di Amerika ini. Hanya saja, bisa ditangkap mood personal Eastwood kali ini. Ia ingin kembali melakoni sebuah peran, setelah terakhir kali ia lakukan tahun 2004 lalu dalam filmnya sendiri pula Million Dollar Baby. Baca selebihnya »
Kisah Biseksualitas? Bukan ah, Ini Hanya Sekadar Igauan dari Simbah Yang Mulai Menyebalkan
Posted in Review on Juli 4, 2009 by Ardyan M. ErlanggaOkay, saya memulai dengan apologi saja dulu. Sudah banyak review sebenernya yang menanti di laptop untuk dipublikasikan. Namun, maafkan saya oh, khalayak ramai, karena saya memang pandir, sehingga my document terlalu saya percayai untuk menyimpan data sedemikian berharga. Pada akhirnya, ketika penyakit kronis laptop menolak disembuhkan, ikut tewaslah data – data saya yg lumayan banyak karena
diperparah dengan kenyataan bahwa saya tidak mem-back up anak – anak pikiran itu.

Bicara tentang kepandiran saya tadi, setelah dipikir – pikir betul, masalahnya juga menjadi pelik karena kebebalan dilibatkan pula. Sudah banyak kawan sudi menyumbangkan nasehat, “segera back up datamu itu!” Nyatanya? Terlalu malas saya melakukannya, dan menyesal pula akhirnya. By the way, tidak hanya saya seorang saja ternyata yang pandir sekaligus bebal lho! Mbah Woody Allen ternyata memiliki problem serupa dengan saya. Baca selebihnya »
Eastwood, Kali Ini Engkau Memberi Terlalu Banyak Pertanyaan!
Posted in Review on April 24, 2009 by Ardyan M. ErlanggaBeberapa masa sebelum hari Kartini kemarin, tanpa agenda apapun, saya menyaksikan sebuah film Eastwood bertajuk “Changeling”. Barangkali memang saya ditakdirkan untuk balajar ulang memahami hakikat “peran seorang Ibu” (dalam konteks ini kita dapat mengasosiasikannya dengan dorongan naluriah perempuan)
secara lebih universal. Jargon – jargon emansipasi perempuan, kasih sayang seorang ibu pada anaknya, serta lebih jauh lagi perjuangan manusia untuk mencari kebenaran tidak pernah klise dalam dunia yang ditampilkan Eastwood. Lebih menohok lagi, kisah di film tersebut berpangkal dari sebuah narasi yang benar – benar terjadi di Amerika tahun 1920-an.
Kisah berpusat pada sosok seorang single parent di Tinseltown, Los Angeles (yang diperankan dengan cukup apik oleh Angelina Jolie, setelah cukup lama ia mengubur sendiri potensi keaktoran tingkat wahidnya itu dengan bermain di beberapa film Blockbuster kacangan) Baca selebihnya »
Mengenang “Si Tukang Ejek Nomor Wahid”
Posted in Essay on April 6, 2009 by Ardyan M. ErlanggaSaya bukan penggemar sejatinya yang juga merupakan penggemar sejati itu sendiri. Paradoks kekaguman saya terhadap sesosok besar dunia perfilman Indonesia yang saya alami, mengganggu saya akhir – akhir ini. Betapa kekaguman tersebut, bisa jadi lebih merupakan cermin reflektif yang sengaja saya pergunakan untuk menelanjangi diri sendiri. Dalam menghadapi momen untuk menuliskan secuil testimoni ini, saya memilih untuk melepaskan semua pretensi, menghamburkan semua keangkuhan, dan menari dalam kondisi nyaris telanjang, tapi entah mengapa semuanya terasa macam epifani saja. Baca selebihnya »
Maniak Seks Juara FFI
Posted in Review on Maret 20, 2009 by Ardyan M. ErlanggaOh Joko, Joko, Joko….
Barangkali itu yang akan saya ucapkan dihadapan seorang Joko Anwar. Seorang ateur muda Indonesia yang digadang – gadang sebagai breaktrough artist dalam dunia sinematografi Indonesia kontemporer. Bukan, saya tidak hendak membincang proyek terbarunya “Pintu Terlarang” yang posternya amat mudah disalah artikan sebagai poster film syur 80-an.
Saya hendak membahas film pemenang Festival Film Indonesia 2008 “Fiksi” yang disutradarai Mouly Surya dan ditulis skenarionya oleh Mr. Joko Anwar yang dahsyat itu.
Baiklah, karena, mungkin, tidak memiliki dana yang memadai, atau faktor kedua saya memang tidak gaul, saya menjadi sedikit terkejut film dari negara antah berantah mana itu yang menang FFI? Bukankah FFI adalah festival film terhormat yang memenangkan “Ekskul” yang luar biasa itu? Bukankah FFI pandai membuat sensasi dengan adanya boikot insan perfilman dalam negeri?
Ehm, oke, saya sudah terlalu sinis. Sejujurnya, saya agak memandang rendah keluaran FFI sejak kasus pengembalian piala tempo hari. Dan melihat pemenang penghargaan paling prestisius adalah film “tidak jelas asalnya”, segera saja, setelah saya menyisihkan uang saku, dan ngantri untuk meminjam film itu (yang ternyata keluar juga VCD ori-nya), saya tidak sabar untuk menyaksikannya di “Home Theatre” kesayangan saya, my lovely laptop. Baca selebihnya »