Hidangan Murah Meriah ala Eastwood

Dikirim Uncategorized pada Juli 4, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Boleh jadi nama besar tidak menjamin seseorang bisa terhindar dari rasa bosan. Dan kecenderungan tersebut terlihat dalam sepak terjang Clint Eastwood dalam karya terbarunya, Gran Torino. Dalam usianya, ditambah dengan beragam pencapaian yang berhasil didapatkan, barang tentu akan lebih enak jika ia santai di ranch-nya yang amat luas di Los Angeles itu. 2971452274_01f81cc37fTapi, mungkin pengaruh karakter “si tanpa nama” yang ia lakoni dalam western spaghetti klasik The Good, The Bad, and The Ugly sudah terlampau menancap erat, dan enggan melepaskannya. Proyek Changeling ternyata tidak perlu waktu yang terlalu lama untuk disusul dengan film tentang rasisme dan kultur kekerasan di Amerika ini. Hanya saja, bisa ditangkap mood personal Eastwood kali ini. Ia ingin kembali melakoni sebuah peran, setelah terakhir kali ia lakukan tahun 2004 lalu dalam filmnya sendiri pula Million Dollar Baby. Baca selebihnya »

Kisah Biseksualitas? Bukan ah, Ini Hanya Sekadar Igauan dari Simbah Yang Mulai Menyebalkan

Dikirim Review pada Juli 4, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Okay, saya memulai dengan apologi saja dulu. Sudah banyak review sebenernya yang menanti di laptop untuk dipublikasikan. Namun, maafkan saya oh, khalayak ramai, karena saya memang pandir, sehingga my document terlalu saya percayai untuk menyimpan data sedemikian berharga. Pada akhirnya, ketika penyakit kronis laptop menolak disembuhkan, ikut tewaslah data – data saya yg lumayan banyak karena
diperparah dengan kenyataan bahwa saya tidak mem-back up anak – anak pikiran itu.
vicky-christina-barcelona (1).sflb

Bicara tentang kepandiran saya tadi, setelah dipikir – pikir betul, masalahnya juga menjadi pelik karena kebebalan dilibatkan pula. Sudah banyak kawan sudi menyumbangkan nasehat, “segera back up datamu itu!” Nyatanya? Terlalu malas saya melakukannya, dan menyesal pula akhirnya. By the way, tidak hanya saya seorang saja ternyata yang pandir sekaligus bebal lho! Mbah Woody Allen ternyata memiliki problem serupa dengan saya. Baca selebihnya »

Eastwood, Kali Ini Engkau Memberi Terlalu Banyak Pertanyaan!

Dikirim Review pada April 24, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Beberapa masa sebelum hari Kartini kemarin, tanpa agenda apapun, saya menyaksikan sebuah film Eastwood bertajuk “Changeling”. Barangkali memang saya ditakdirkan untuk balajar ulang memahami hakikat “peran seorang Ibu” (dalam konteks ini kita dapat mengasosiasikannya dengan dorongan naluriah perempuan) changeling-poster-fullsize secara lebih universal. Jargon – jargon emansipasi perempuan, kasih sayang seorang ibu pada anaknya, serta lebih jauh lagi perjuangan manusia untuk mencari kebenaran tidak pernah klise dalam dunia yang ditampilkan Eastwood. Lebih menohok lagi, kisah di film tersebut berpangkal dari sebuah narasi yang benar – benar terjadi di Amerika tahun 1920-an.

Kisah berpusat pada sosok seorang single parent di Tinseltown, Los Angeles (yang diperankan dengan cukup apik oleh Angelina Jolie, setelah cukup lama ia mengubur sendiri potensi keaktoran tingkat wahidnya itu dengan bermain di beberapa film Blockbuster kacangan) Baca selebihnya »

Mengenang “Si Tukang Ejek Nomor Wahid”

Dikirim Essay pada April 6, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Saya bukan penggemar sejatinya yang juga merupakan penggemar sejati itu sendiri. Paradoks kekaguman saya terhadap sesosok besar dunia perfilman Indonesia yang saya alami, mengganggu saya akhir – akhir ini. Betapa kekaguman tersebut, bisa jadi lebih merupakan cermin reflektif yang sengaja saya pergunakan untuk menelanjangi diri sendiri. Dalam menghadapi momen untuk menuliskan secuil testimoni ini, saya memilih untuk melepaskan semua pretensi, menghamburkan semua keangkuhan, dan menari dalam kondisi nyaris telanjang, tapi entah mengapa semuanya terasa macam epifani saja. Baca selebihnya »

Maniak Seks Juara FFI

Dikirim Review pada Maret 20, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Oh Joko, Joko, Joko….

Barangkali itu yang akan saya ucapkan dihadapan seorang Joko Anwar. Seorang ateur muda Indonesia yang digadang – gadang sebagai breaktrough artist dalam dunia sinematografi Indonesia kontemporer. Bukan, saya tidak hendak membincang proyek terbarunya “Pintu Terlarang” yang posternya amat mudah disalah artikan sebagai poster film syur 80-an.

Saya hendak membahas film pemenang Festival Film Indonesia 2008 “Fiksi” yang disutradarai Mouly Surya dan ditulis skenarionya oleh Mr. Joko Anwar yang dahsyat itu.fiksi1 Baiklah, karena, mungkin, tidak memiliki dana yang memadai, atau faktor kedua saya memang tidak gaul, saya menjadi sedikit terkejut film dari negara antah berantah mana itu yang menang FFI? Bukankah FFI adalah festival film terhormat yang memenangkan “Ekskul” yang luar biasa itu? Bukankah FFI pandai membuat sensasi dengan adanya boikot insan perfilman dalam negeri?

Ehm, oke, saya sudah terlalu sinis. Sejujurnya, saya agak memandang rendah keluaran FFI sejak kasus pengembalian piala tempo hari. Dan melihat pemenang penghargaan paling prestisius adalah film “tidak jelas asalnya”, segera saja, setelah saya menyisihkan uang saku, dan ngantri untuk meminjam film itu (yang ternyata keluar juga VCD ori-nya), saya tidak sabar untuk menyaksikannya di “Home Theatre” kesayangan saya, my lovely laptop. Baca selebihnya »

Mereka Ulang Sosok Ayah

Dikirim Review pada Maret 15, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Saya gagal mengenal sosok ayah barangkali. Permasalahan serupa dialami oleh sastrawan Inggris Blake Morrison. Bedanya,ia menuangkan pengalaman yang gamang tersebut kedalam memoar. Persis seperti yang dilakukan Raimon Gaita,seorang ilmuwan Australia,and-when-did-you-last-see-your-father-poster-0 dimana pengalaman kegetiran masa kecil bersama ayahnya begitu menyentuh dan berhasil dituangkan dengan indah dalam format seluloid dalam film “Romulus My Father”. Menyaksikan “And When did You Last See Your Father” anda akan mengalami sensasi serupa. Film ini terasa amat personal, dan dalam beberapa momen terasa menohok.

Ingin sekali rasanya mengais kembali kepingan – kepingan memori masa kecil hingga sekarang – untuk kemudian meramunya menjadi sebuah memoar yang betul – betul berfungsi sebagai penanda hidup – didorong oleh nilai magis dari meoar itu sendiri. Baca selebihnya »

Apa Lagi Yang Kau Cari Senor?

Dikirim Essay pada Maret 4, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Mengapa Inarritu begitu menarik? Bagi saya sutradara Meksiko ini berupaya untuk konsisten mengusung konsep kisah bersama kompatriotnya Guillermo Ariaga, menggunakan narasi ala Arthur Miller bernuansa “Tragedy of Common Men”.alejandro-2preview Ya, tragedi yang dialami manusia kebanyakan merupakan tindak subversif pada tradisi sastra anglo saxon – bahkan mungkin kebanyakan tradisi sastra dunia lawas – yang tidak jauh berpijak pada fondasi Shakespearian. Potret kegagalan manusia, sebelum pergeseran paradigma penceritaan di abad 19, selalu berkutat pada manusia di strata sosial tinggi (tradisi sastra kita mengenalnya dengan pola cerita istana sentris). Miller, akhirnya menuntaskan apa yang telah Dickens dan Joyce upayakan, mempertegas serta memperluas batas cakrawala tragedi – yang mana layak untuk dilekatkan pada manusia yang umumnya gagal menjadi postscript sejarah, yaitu saya dan bisa jadi anda. Baca selebihnya »

Kedigdayaan Anjing Kampung Urban

Dikirim Review pada Februari 26, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Baiklah, lampu sorot telah dipadamkan, dan karpet merah telah digulung kembali. beberapa kawan saya masih bersemangat membahas rasionalisasi kemenangan kisah “anjing kampung Mumbai”slumdog_millionaire, yang dengan jumawa menghabisi drama talkshow politik (Frost/Nixon), momen kefanaan waktu (The Curious Case of Benjamin Button), Perjuangan HAM dalam perspektif Queer (Milk), dan cinta berbalut kelamnya sejarah kamp konsentrasi (The Reader). Baca selebihnya »

Pelajaran Akting Dari Rourke

Dikirim Review pada Februari 16, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Menyimak berbagai pemberitaan mengenai nominasi Oscar tahun ini membuat saya tidak sabar segera mencari film – film yang termasuk di dalamnya. Saya cukup beruntung sehingga dapat menyaksikan beberapa film yang termasuk dipuji banyak kritikus dan masuk pada beberapa kategori nominasi. Salah satunya adalah “The Wrestler”. Karya Darren Aronofsky ini memotret kegetiran hidup seorang pegulat bangkotan yang usang dimakan usia dan jantungan. Pada ajang pemanasan sebelum Oscar – yaitu Golden Globe – film tersebut berhasil memenangi dua penghargaan, yaitu aktor pria terbaik dan musik orisinil terbaik. Film ini pun telah menyabet penghargaan Golden Lion dalam festival film Venezia 2008 ke 65. Baca selebihnya »

Telaah Ringan Ke-Yahudi-an Lewat Film

Dikirim Essay pada Januari 24, 2009 oleh Ardyan M. Erlangga

Serangan Yahudi kepada Palestina, (atau lebih tepatnya ditujukan untuk menghancurkan Hamas) yang dilancarkan sejak pergantian tahun kemarin merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan. Ribuan orang mengutuknya, terlebih negara – negara yang memiliki afiliasi pada dunia Muslim. Untuk alasan apapun, perang–sejak era modern ini–selalu dikonotasikan sebagai perbuatan paling biadab nan keji yang mampu diproduksi oleh manusia. Untuk kasus perang di Gaza, banyak pihak menuding Yahudi selaku bangsa yang patut dipersalahkan, dihujat, maupun di caci maki. Baca selebihnya »